تسجيل الدخولPeraturan dibuat untuk dilanggar, bukan? Hidup Nayara yang semula baik-baik saja, berubah drastis ketika dihadapkan dengan Arkana. Cowok bad boy dan ngeselin abis. Nayara yang biasanya hanya pasrah lama kelamaan mulai terbiasa dengan hadirnya sosok Arkana dalam hidupnya. Sementara Arkana yang terbiasa hidup dengan sikap angkuhnya, mulai mencari sosok Nayara setiap kali gadis itu tak berada di dekatnya. Hubungan mereka berkembang secara bertahap. Dan untuk mendapatkan cinta yang manis, tentu saja hubungan mereka tidak selalu berjalan mulus. Akankah mereka menemukan ending dari kisah cinta mereka?
عرض المزيدWajahnya cantik. Bukan cantik yang berlebihan. Penampilannya sederhana. Rambutnya sering dibiarkan tergerai atau kadang diikat seadanya.
Wajahnya tenang, dingin, dan jarang senyum bila tidak perlu. Ia terbiasa mengenakan kaos, celana jeans, dan hoodie yang hampir menjadi seragam hidupnya. Ia bukanlah tipe gadis yang hidupnya dikelilingi oleh hal-hal seperti pesta, nongkrong, atau kumpul-kumpul nggak penting yang biasanya dilakukan anak SMA seusianya. Ia lebih suka duduk sendirian, dengerin lagu, dan melakukan hal-hal yang ia suka sendirian. Namanya Nayara. Dan hari itu, setelah bel pulang sekolah berbunyi, ketua kelas mereka berdiri dari kursi dan maju ke depan kelas untuk menyampaikan sebuah pengumuman. "Besok malam ada undangan acara ulang tahun dari salah satu siswa kelas sebelah. Semua orang diundang." Kelas mendadak jadi ramai dengan suara orang-orang yang membicarakan siswa yang dimaksud. "Arkan ya?" "Arkana Dewangga?" "Yang ortunya tajir itu?" "Iya, cowok populer itu, loh." Nama siswa itu seketika menjadi topik obrolan seisi kelas. Cowok populer, tampan, dan kaya. Siapa yang tidak tertarik padanya? Sementara, Nayara hanya bersandar malas di kursi. Alias, tidak terlihat tertarik sama sekali. ~~ Besok malamnya, Ponsel Nayara kerap berdering. Ia sampai menghela napas berkali-kali sambil bersandar di ranjang kosannya. Ia melihat banyaknya notifikasi di ponselnya yang datang dari group chat. "Kalian harus pada ikut, ya." "Jangan ada yang sok misterius." "Minimal setor muka aja." Nayara menghela napas pasrah. Baiklah, ia akan ikut asal tidak berhadapan dengan hal yang ribet. Termasuk pada pakaian yang ia kenakan. Malam itu semua murid datang dengan gaun mewah, setelan jas, makeup sempurna, dan banyak hal-hal mencolok lainnya, ala pesta ulang tahun yang megah. Dan di antara semuanya, Nayara datang dengan hanya mengenakan outfit andalannya. Yaitu kaos tipis dan hoodie big size. Untungnya, tidak ada satupun yang memandangnya aneh karena memang mereka sudah terbiasa dengan penampilannya yang seadanya. Rumah itu memang besar dan megah. Lampu gemerlap, musik berdentum di mana-mana, dan orang-orang sibuk lalu lalang. Masalahnya, Nayara tidak menemukan satupun teman sekelasnya bahkan setelah hampir lima belas menit mengitari ruangan pesta di gedung tersebut. Akhirnya setelah capek muter-muter, ia berhenti di aula yang menyediakan berbagai macam camilan. Tangannya reflek meraih satu cookies mungil yang terlihat enak. Ia mengambil satu gigitan. Dan sesuai tampilannya, cookies itu juga memiliki aroma dan rasa yang lezat. "Enak juga." Gumamnya. "Lu tau nggak berapa harga cookies yang lu makan itu?" Suara seorang cowok datang dari samping. Suaranya tengil, pede, dan sombong kebangetan. Nayara menoleh ke arah sumber suara. Cowok itu terlihat tampan, tinggi, dan memiliki aura seseorang yang terbiasa diidolakan. "Seratus lima puluh ribu untuk satu cookiesnya." Tanpa diminta, cowok itu menjawab sendiri pertanyaan yang diajukannya. Nayara berhenti mengunyah karena kaget. Tapi ekspresinya kembali datar saat ia menaruh cookies yang sudah setengah digigitnya itu kembali ke tempatnya. Nayara menatap cowok itu tanpa gentar. "Lebih baik gue jadi pembantu, daripada harus makan kue dari orang sombong kayak lu." Ucapnya dingin. Suasana hening seketika. Setelah beberapa detik, muncul bisik-bisik dari orang-orang yang berdiri di belakang cowok itu. Dan di situlah Nayara baru sadar bahwa cowok yang sedang berhadapan dengannya adalah si tuan rumah. Lebih tepatnya, orang yang berulang tahun. Cowok pemilik pesta yang bernama Arkana tersebut hanya diam menatap Nayara. Terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Sementara Nayara menarik napas panjang, sebelum membalikkan tubuh dan pergi dari sana dengan cepat. Ia tidak ingin kehadirannya menjadi pusat perhatian semua orang dan membuat suasana ramai. Ia sempat berpapasan dengan salah satu teman sekelasnya yang hanya ia sapa secara singkat tanpa menghentikan langkah. Nayara berhasil keluar dari rumah dan suasana mewah itu. Ia segera memesan gocar untuk kembali ke kosannya. Yang penting, ia sudah datang meski hanya setor muka seperti yang salah satu teman sekelasnya katakan di group.Nayara berpikir urusan kemarin sudah selesai. Ternyata masalah seakan tak ada habis untuknya. Karena besoknya, gosip liar yang entah berasal dari mana, memenuhi sekolah dengan gaduh. "Ravin kok ngikutin Nayara mulu, ya?""Jangan-jangan, dia suka sama Nayara dan mau rebut Nayara dari Arkana?""Wah, fix. Cinta segitiga sih ini." Gosip tak masuk akal itu menyebar cepat. Saking cepatnya, Nayara mendengarnya dari orang lain lebih dulu. Bukan dari pelaku gosipnya. Dan tentu saja bahkan hanya Nayara yang mendengarnya. Gosip itu juga sudah sampai ke telinga Arkana. Siang itu, Arkana buru-buru mengejar langkah Nayara di koridor belakang sekolah. "Akhir-akhir ini seru banget, ya." Ujarnya setelah berhasil menyamai langkah Nayara. Nayara menghentikan langkah dan menoleh malas. "Maksud lu apa?" Ia mengerutkan kening gusar. Hanya Arkana satu-satunya yang berhasil membuatnya memberikan respon lebih daripada sekadar bersikap datar. "Ck, lu sadar nggak, sekarang orang-orang ngomong apa tentang
Semakin lama memendam rasa, Ravin merasa semakin tidak kuat menahan gejolak di hatinya itu sendirian. Hari ini, ia akhirnya benar-benar nekat Nayara sedang jalan seorang diri ke arah taman belakang sekolah, tempat favoritnya untuk menenggelamkan diri dari keramaian. Telinganya dengan jelas menangkap suara langkah seseorang mengikuti ritme langkahnya dari belakang. Pelan, dan hati-hati. Terlalu hati-hati untuk disebut kebetulan. "Nayara." Panggil Ravin pelan. Nayara menghentikan langkah. Ia sebenarnya sudah tahu kalau Ravin membuntutinya sedari tadi. Dan kali ini, ia membalikkan tubuh dengan wajah datar. Tak lagi pura-pura tak sadar. "Kenapa?" Ravin mendekat dua langkah. "Gue cuma mau ngobrol sebentar." Nayara menghela napas pelan. "Ngobrol apa lagi?" Ravin hendak membuka mulut. Tapi belum sempat ia berbicara, Nayara sudah keburu mengatakan sesuatu. Nada suaranya datar dan tenang seperti biasa. "Kenapa lu masih deketin gue? Lu belum confess ke Keisha? Kenapa? Ngga
Koridor terlihat ramai seperti pagi biasanya. Pagi ini pun sama. Nayara berjalan seorang diri di antara kerumunan orang-orang di koridor. "Oi." Suara itu membuat Nayara menghentikan langkah tapi tak langsung menatap sosok tersebut. "Beliin gue minum." Arkana berdiri di depannya dengan ekspresi tengil dan tangan dimasukkan ke saku celana. Ekspresi santai seolah tak sedang memberi perintah seenaknya. Beberapa orang yang tadi hanya sibuk dengan circle masing-masing langsung menoleh dan berbisik satu sama lain. "Bener kan mereka pacaran.""Ih lucu banget. Disuruh beli minum dong." "Gitu aja gue salting." Nayara menatap Arkana dingin. "Kenapa harus gue? Emang lu nggak bisa beli minum sendiri?" Ia tentu tak terima. Arkana mendekat sedikit. "Kalau lu nurut, gue akan bilang ke semua orang kalau kita nggak pacaran dan rumor itu nggak benar." Ia berbisik pelan. Nayara mengatupkan rahang. Ia benci posisi ini. Tapi akhirnya ia memilih tak menolak. "Minuman apa?"Arkana nyengir kecil. "N
Nayara mulai sering melihat sosok yang sama hampir di manapun ia berada. Sosok itu bukan Arkana. Melainkan cowok lain yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya. Awalnya Nayara berpikir itu hanya kebetulan. Tapi setelah tiga hari berturut-turut, Nayara mulai merasa bahwa itu bukan hanya sebuah kebetulan. Masalahnya cowok itu hampir selalu ada di setiap sudut yang Nayara pijak. Di hari keempat, saat Nayara baru keluar kelas dengan ransel yang menggantung di satu pundak, ia kembali melihat Ravin tak jauh dari sana. Ekspresi Nayara tetap datar saat Ravin sengaja menyamakan langkah. Langkah mereka sejajar dengan hening yang tercipta sejenak. Sampai Ravin membuka suara. Untuk pertama kalinya. Untuk seorang gadis. "Lu... Nayara, kan?" Nayara melirik sekilas dengan kerutan di keningnya. "Iya." Sahutnya singkat. "Gue Ravin. Ketua ekstrakurikuler fotografi kalau lu belum tau." Ravin berusaha tidak terlihat kikuk. Hening. Tak ada sahutan lagi dari Nayara karena memang ia sendiri merasa t


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.