Suara knalpot motor matic berhenti di depan kosan. Tek. Dari dalam, Fiona langsung nyelonong keluar. Rambut dikeriting, memakai blazer dan celana pendek, lipstik merah nyala. Putra masih duduk santai di atas jok motor. Helm di tangan. Senyum paling palsu yang dia punya. "Pagi... sayangku," sapa Fiona sambil langsung bergelendot. Tangannya melingkar di leher Putra. Wangi parfumnya nyegat. "Pagi juga, sayang," jawab Putra. Ia menurunkan kantong plastik. "Aku bawain sarapan. Roti bakar keju favorit kamu." "Waah... makasih banyak," Fiona nyengir. Matanya langsung ngelirik kantong itu. "Kamu emang paling ngerti aku. Eh tapi... kapan kamu putus sama Nadin? Aku capek jadi yang kedua terus!" Senyum Putra menghilang sedetik. Lalu balik lagi. Ia mengusap pipi Fiona. "Sabar ya, sayangku. Untuk sekarang kita nikmatin aja dulu kayak gini. Nadin... masih aku butuhkan." "Masih butuh apanya?" Fiona cemberut. Manja. "Dia uang berjalan, Fi," bisik Putra pelan. Ketawa kecil. "Gaji nya
Last Updated : 2026-07-27 Read more