DULU DI INJAK-INJAK SEKARANG MANTANKU MENGEMIS CINTA

DULU DI INJAK-INJAK SEKARANG MANTANKU MENGEMIS CINTA

last updateLast Updated : 2026-08-17
By:  2 harapan Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Nadin sudah bukan gadis yang dulu. Dia CEO muda, cantik, dan punya segalanya. Kecuali satu hal... keadilan. Waktunya membalas. Dengan cara yang tidak pernah mereka duga. Dari gadis yang diremehkan, menjadi wanita yang dikagumi. Karena setiap wanita punya hak untuk bersinar. ---

View More

Chapter 1

Bab 1. RATU DI DAPUR, SAMPAH DI RUMAH

"PRANGG!!"

Pecahan piring keramik menghantam lantai dapur. Suaranya nyaring, memantul ke seluruh ruangan.

Nadin langsung menutup mulut. "Astaghfirullah..."

Lantainya licin. Tadi dia ngepel buru-buru sebelum berangkat kerja. Niat bantu Tante Debi, malah petaka.

Dari ruang tamu terdengar suara hak tinggi mendekat. Tak... tak... tak...

Tante Debi muncul dengan daster batik dan wajah siap meledak. Matanya langsung melotot melihat pecahan piring biru bermotif di lantai. Piring "limited edition" kesayangannya.

"NADIN!!" bentaknya. "Apa-apaan ini ha?!"

Nadin refleks menunduk. Tangannya gemetar. "M-maaf Tante... Nadin kepleset. Lantainya licin."

"Licin?!" Debi menunjuk wajah Nadin. "Kamu tahu ini piring berapa? Satu set 3 juta! Limited edition dari luar negeri!"

"Aku ganti, Tante," gumam Nadin. Dadanya sesak. "Nanti dari gaji di cafe."

Debi langsung tertawa sinis. "Hahaha! Ganti? Pakai apa? Pakai daun? Kamu pikir anak konglomerat? Kamu itu numpang, Nadin. Numpang hidup di rumahku. Ngerti?"

Nadin mengepalkan tangan di belakang. "Nadin serius. Gaji Nadin cukup."

Debi mendengus. "Ngomongin gaji... kamu tahu kenapa orangtuamu ngilang?"

Jantung Nadin copot. "Ke-kenapa, Tante?"

"Karena lari dari utang!" Debi menyembur. "Banyak utang di mana-mana! Makanya kamu dititipin ke saya. Tanpa uang sepeser pun. Ngerepotin!"

Nadin menggeleng. Air matanya naik. "Nggak mungkin. Ayah sama Ibu orang baik. Nggak mungkin ninggalin aku karena utang."

"Baik? Kalau baik nggak akan ninggalin anak kayak sampah!"

Tok. Tok. Tok.

Ketukan pintu menyelamatkan Nadin.

"Eh, ada tamu," kata Debi cepat. "Kamu sana! Buka! Nggak usah bahas orangtuamu yang pengecut!"

Nadin mengusap pipinya. "I-iya, Tante."

Begitu pintu dibuka, senyum Nadin mengembang. Putra berdiri di depan. Kemeja putih, celana jeans, tampan sempurna. Pacarnya.

"Pagi, sayangku," sapa Putra lembut. "Udah siap berangkat?"

Dalam hati Putra: Cewek gendut ini gampang dibodohin. Cocok jadi ATM berjalan.

"Pagi, Putra. Masuk dulu yuk!" ajak Nadin.

Belum sempat duduk, Debi sudah muncul. Senyumnya langsung berubah 180 derajat.

"Oh... selamat pagi, Putra. Tumben rajin nganterin," ledeknya.

"Pagi, Tante. Saya anterin Nadin biar aman," jawab Putra canggung.

Debi menatap Putra dari atas sampai bawah. "Putra... jujur. Kamu polos atau pura-pura bego?"

"Maksud Tante?"

"Kamu lihat tuh," Debi menunjuk Nadin. "Tampan, tinggi, modis. Masa mau sama si gendut ini? Jelek, gendut, makannya banyak. Di kampus dijuluki 'kulkas berjalan'."

"Tante!" Nadin menahan tangis. "Jangan di depan Putra..."

"Diam! saya ngomong sama calon mantu idaman!"

Putra diam. Dalam hati setuju, tapi di depan Nadin harus akting.

"Eh... Nadin itu baik, Tante. Tulus. Itu yang penting."

"Hah! Tulus nggak bikin orang bangkrut," sahut Debi. "Kamu beruntung, Nadin. Cowok lain udah kabur liat badan segede gajah."

Nadin menunduk. Pipinya panas. Malu. Sakit. Tapi dia nggak bisa melawan. Ini rumah Tante. Dia numpang.

"Udah, Sayang," Putra menyelamatkan. "Kamu siap-siap. Nanti telat."

Nadin mengangguk. Suaranya serak. "Iya... tunggu ya."

Dia lari ke kamar, mengunci pintu, lalu menangis. Tiga menit kemudian keluar. Wajah sudah bersih, pakai baju kerja, rambut dikuncir.

"Putra, ayo," ucapnya pelan.

"Permisi, Tante," kata Putra.

Debi melipat tangan. "Iya. Hati-hati. Jangan sampai Nadin jatuh dari motor. Nanti kamu encok ketiban kulkas."

Putra tertawa canggung. Nadin hanya diam.

Di perjalanan, Nadin memeluk pinggang Putra. Angin menerpa wajahnya, tapi hatinya dingin.

Tak ada yang sayang. Ibu pergi. Ayah pergi. Tante benci. Apa Putra juga sama?

"Sayang, diem aja," kata Putra.

"Cuma mikir... kamu beneran sayang sama aku, kan?"

Putra mengerem pelan. Ia menoleh, memasang wajah tulus. "Sayang banget. Kamu satu-satunya, Nadin."

Nadin mengangguk. Dia butuh percaya.

Tak lama sampai di Aurora Cafe.

"Sayang, nanti malam aku nggak bisa jemput ya. Ada meeting," kata Putra lepas helm.

"Oh iya, nggak apa-apa. Kamu makan ya," jawab Nadin.

Putra menggaruk kepala. "Iya... tapi gajiku belum turun. Dompet kosong. Buat makan sore aja nggak ada."

Nadin langsung merogoh saku. Mengeluarkan 400 ribu. "Ini. Buat kamu makan."

Mata Putra berbinar. "Serius? Makasih, Sayang! Kamu terbaik!" Ia memeluk Nadin. Dalam hati: Gampang banget.

"Iya, sama-sama. Aku masuk dulu ya," pamit Nadin.

Begitu Nadin masuk, senyum Putra hilang. Ia langsung tancap gas. Tujuannya bukan kantor. Tapi apartemen Fiona. Sepupunya Nadin. Selingkuhannya.

---

Di dalam Aurora Cafe, auranya berubah 180 derajat.

"Dorrr... Chef Nadin datang!!" teriak Dimas.

"Selamat pagi, Chef! Hari ini bikin dessert apa?" sahut Mbak Rina.

Staff menoleh, senyum, hormat.

Nadin mengangguk. Badannya gendut. Bajunya kaos polos. Tapi di dapur ini, dia ratu.

Omelette buatannya bikin pelanggan nangis. Steak wagyu sold out 15 menit. Lava cake antri sampai parkiran.

Pak Hendra pernah bilang: "Nadin, kamu aset paling mahal. Aku bayar 20 juta sebulan bukan karena kasihan. Kalau kamu resign, cafe bisa tutup seminggu."

20 juta.

Tapi yang Nadin pegang tiap tanggal 1 cuma 4 juta. Sisanya 16 juta langsung ke rekening Tante Debi. Alasannya: "Buat bayar utang orangtuamu."

Padahal Nadin nggak pernah lihat bukti sepeser pun.

Tiap bulan dia ngirit. Nasi 15 ribu. Jalan kaki. Tapi giliran Putra minta "pinjem 2 juta buat servis moge", Nadin langsung kasih. Rela ngutang ke Tante, pakai bunga.

Ironi. Gaji 20 juta, hidup pas-pasan.

Nadin menarik napas. Mengikat celemek erat.

Di dapur ini dia Ratu. Di luar dia sampah.

Tapi saat pisau menghantam talenan, tak, dalam hati dia bergumam:

Suatu hari... kalian yang nginjak aku hari ini, akan berlutut minta maaf.

Kamu denger, Putra... Kamu juga, Tante Debi...

Tunggu tanggal mainnya.

[Bersambung]

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status