INICIAR SESIÓN
"PRANGG!!"
Pecahan piring keramik menghantam lantai dapur. Suaranya nyaring, memantul ke seluruh ruangan. Nadin langsung menutup mulut. "Astaghfirullah..." Lantainya licin. Tadi dia ngepel buru-buru sebelum berangkat kerja. Niat bantu Tante Debi, malah petaka. Dari ruang tamu terdengar suara hak tinggi mendekat. Tak... tak... tak... Tante Debi muncul dengan daster batik dan wajah siap meledak. Matanya langsung melotot melihat pecahan piring biru bermotif di lantai. Piring "limited edition" kesayangannya. "NADIN!!" bentaknya. "Apa-apaan ini ha?!" Nadin refleks menunduk. Tangannya gemetar. "M-maaf Tante... Nadin kepleset. Lantainya licin." "Licin?!" Debi menunjuk wajah Nadin. "Kamu tahu ini piring berapa? Satu set 3 juta! Limited edition dari luar negeri!" "Aku ganti, Tante," gumam Nadin. Dadanya sesak. "Nanti dari gaji di cafe." Debi langsung tertawa sinis. "Hahaha! Ganti? Pakai apa? Pakai daun? Kamu pikir anak konglomerat? Kamu itu numpang, Nadin. Numpang hidup di rumahku. Ngerti?" Nadin mengepalkan tangan di belakang. "Nadin serius. Gaji Nadin cukup." Debi mendengus. "Ngomongin gaji... kamu tahu kenapa orangtuamu ngilang?" Jantung Nadin copot. "Ke-kenapa, Tante?" "Karena lari dari utang!" Debi menyembur. "Banyak utang di mana-mana! Makanya kamu dititipin ke saya. Tanpa uang sepeser pun. Ngerepotin!" Nadin menggeleng. Air matanya naik. "Nggak mungkin. Ayah sama Ibu orang baik. Nggak mungkin ninggalin aku karena utang." "Baik? Kalau baik nggak akan ninggalin anak kayak sampah!" Tok. Tok. Tok. Ketukan pintu menyelamatkan Nadin. "Eh, ada tamu," kata Debi cepat. "Kamu sana! Buka! Nggak usah bahas orangtuamu yang pengecut!" Nadin mengusap pipinya. "I-iya, Tante." Begitu pintu dibuka, senyum Nadin mengembang. Putra berdiri di depan. Kemeja putih, celana jeans, tampan sempurna. Pacarnya. "Pagi, sayangku," sapa Putra lembut. "Udah siap berangkat?" Dalam hati Putra: Cewek gendut ini gampang dibodohin. Cocok jadi ATM berjalan. "Pagi, Putra. Masuk dulu yuk!" ajak Nadin. Belum sempat duduk, Debi sudah muncul. Senyumnya langsung berubah 180 derajat. "Oh... selamat pagi, Putra. Tumben rajin nganterin," ledeknya. "Pagi, Tante. Saya anterin Nadin biar aman," jawab Putra canggung. Debi menatap Putra dari atas sampai bawah. "Putra... jujur. Kamu polos atau pura-pura bego?" "Maksud Tante?" "Kamu lihat tuh," Debi menunjuk Nadin. "Tampan, tinggi, modis. Masa mau sama si gendut ini? Jelek, gendut, makannya banyak. Di kampus dijuluki 'kulkas berjalan'." "Tante!" Nadin menahan tangis. "Jangan di depan Putra..." "Diam! saya ngomong sama calon mantu idaman!" Putra diam. Dalam hati setuju, tapi di depan Nadin harus akting. "Eh... Nadin itu baik, Tante. Tulus. Itu yang penting." "Hah! Tulus nggak bikin orang bangkrut," sahut Debi. "Kamu beruntung, Nadin. Cowok lain udah kabur liat badan segede gajah." Nadin menunduk. Pipinya panas. Malu. Sakit. Tapi dia nggak bisa melawan. Ini rumah Tante. Dia numpang. "Udah, Sayang," Putra menyelamatkan. "Kamu siap-siap. Nanti telat." Nadin mengangguk. Suaranya serak. "Iya... tunggu ya." Dia lari ke kamar, mengunci pintu, lalu menangis. Tiga menit kemudian keluar. Wajah sudah bersih, pakai baju kerja, rambut dikuncir. "Putra, ayo," ucapnya pelan. "Permisi, Tante," kata Putra. Debi melipat tangan. "Iya. Hati-hati. Jangan sampai Nadin jatuh dari motor. Nanti kamu encok ketiban kulkas." Putra tertawa canggung. Nadin hanya diam. Di perjalanan, Nadin memeluk pinggang Putra. Angin menerpa wajahnya, tapi hatinya dingin. Tak ada yang sayang. Ibu pergi. Ayah pergi. Tante benci. Apa Putra juga sama? "Sayang, diem aja," kata Putra. "Cuma mikir... kamu beneran sayang sama aku, kan?" Putra mengerem pelan. Ia menoleh, memasang wajah tulus. "Sayang banget. Kamu satu-satunya, Nadin." Nadin mengangguk. Dia butuh percaya. Tak lama sampai di Aurora Cafe. "Sayang, nanti malam aku nggak bisa jemput ya. Ada meeting," kata Putra lepas helm. "Oh iya, nggak apa-apa. Kamu makan ya," jawab Nadin. Putra menggaruk kepala. "Iya... tapi gajiku belum turun. Dompet kosong. Buat makan sore aja nggak ada." Nadin langsung merogoh saku. Mengeluarkan 400 ribu. "Ini. Buat kamu makan." Mata Putra berbinar. "Serius? Makasih, Sayang! Kamu terbaik!" Ia memeluk Nadin. Dalam hati: Gampang banget. "Iya, sama-sama. Aku masuk dulu ya," pamit Nadin. Begitu Nadin masuk, senyum Putra hilang. Ia langsung tancap gas. Tujuannya bukan kantor. Tapi apartemen Fiona. Sepupunya Nadin. Selingkuhannya. --- Di dalam Aurora Cafe, auranya berubah 180 derajat. "Dorrr... Chef Nadin datang!!" teriak Dimas. "Selamat pagi, Chef! Hari ini bikin dessert apa?" sahut Mbak Rina. Staff menoleh, senyum, hormat. Nadin mengangguk. Badannya gendut. Bajunya kaos polos. Tapi di dapur ini, dia ratu. Omelette buatannya bikin pelanggan nangis. Steak wagyu sold out 15 menit. Lava cake antri sampai parkiran. Pak Hendra pernah bilang: "Nadin, kamu aset paling mahal. Aku bayar 20 juta sebulan bukan karena kasihan. Kalau kamu resign, cafe bisa tutup seminggu." 20 juta. Tapi yang Nadin pegang tiap tanggal 1 cuma 4 juta. Sisanya 16 juta langsung ke rekening Tante Debi. Alasannya: "Buat bayar utang orangtuamu." Padahal Nadin nggak pernah lihat bukti sepeser pun. Tiap bulan dia ngirit. Nasi 15 ribu. Jalan kaki. Tapi giliran Putra minta "pinjem 2 juta buat servis moge", Nadin langsung kasih. Rela ngutang ke Tante, pakai bunga. Ironi. Gaji 20 juta, hidup pas-pasan. Nadin menarik napas. Mengikat celemek erat. Di dapur ini dia Ratu. Di luar dia sampah. Tapi saat pisau menghantam talenan, tak, dalam hati dia bergumam: Suatu hari... kalian yang nginjak aku hari ini, akan berlutut minta maaf. Kamu denger, Putra... Kamu juga, Tante Debi... Tunggu tanggal mainnya. [Bersambung]Bandara Soekarno-Hatta, Terminal 3 Internasional. Pukul 09.15 WIB.Pesawat ANA NH-872 dari Haneda mendarat dengan mulus. Penumpang lain turun dengan koper besar dan wajah ceria habis liburan.Nadin turun paling terakhir. Tidak bawa koper. Hanya tas ransel hitam berisi laptop, berkas skripsi CEO yang belum selesai, dan dompet dengan sisa uang 2 juta.Matanya sembab. Semalaman di pesawat ia tidak tidur. Hanya menatap jendela dan berdoa.Begitu masuk ke arrival hall, ia langsung melihat sosok yang sudah menunggu di ujung dengan wajah panik.Pak Hendra. Dengan kacamata hitam dan masker, berusaha menyamar."Nona Nadin!" Pak Hendra setengah berlari.Nadin tidak memeluk. Ia langsung menatap tajam. Tatapan yang selama ini tidak pernah Pak Hendra lihat dari Nadin yang lembut."Papa di mana, Pak?" tanya Nadin, suaranya dingin dan bergetar.Pak Hendra menunduk. Tidak bisa bohong lagi. "Di... di Wijaya International Hospital, Nona. Lantai 12. Ruang ICU VIP 1."Dunia Nadin berhenti.Tanpa berkata
Tokyo, Asrama Shibuya. Pukul 23.40 waktu Tokyo. Nadin tidak bisa tidur. Sejak video call dengan Mama Rosa tadi jam 19.00, hatinya aneh. Tidak enak. Seperti ada yang mengganjal. Wajah Mama Rosa tadi pucat. Matanya sembab. Senyumnya dipaksakan. Dan yang paling aneh, background di belakang Mama Rosa bukan ruang tamu rumah yang mewah dengan lukisan besar. Tapi tembok putih polos dengan tulisan kecil "Dilarang Berisik - Zona Steril" yang sempat tertangkap kamera sebelum Mama matikan blur. Nadin memeluk gulingnya. Foto keluarga di meja belajarnya ia tatap. Foto itu diambil 6 bulan lalu, sebelum ia berangkat ke Tokyo Business School. Papa Frans memeluknya dari belakang. Mama Rosa di samping. Senyum Papa Frans lebar, gagah dengan jas biru navy kesayangannya. "Papa..." bisik Nadin. Ia mengambil HP. Membuka chat WA Papa. Chat terakhir Papa Frans: 2 hari lalu. Papa Frans: Semangat ujian CEO nya ya, Putri Papa yang hebat. Papa bangga. Jaga kesehatan di Tokyo. Jangan begadang. Nadin memb
Jakarta, Indonesia. Rumah Sakit Wijaya International Hospital, lantai 12, ruang VIP. Pukul 02.00 dini hari. Lampu rumah sakit yang biasanya terang, malam ini terasa sangat mencekam dan sepi. Di dalam ruang ICU VIP nomor 1, terbaring seorang pria paruh baya yang biasanya terlihat gagah berwibawa dengan jas miliaran rupiah. Kini ia terbaring lemah dengan selang oksigen di hidung dan infus di tangannya. Frans Wijaya Hutomo. Wajahnya pucat, matanya terpejam, napasnya sesak. Di samping mesin detak jantungnya berbunyi pelan. "Beep... beep... beep..." Di luar ruang ICU, Rosa Wijaya Hutomo, istri sah Frans, duduk di kursi tunggu dengan wajah sembab habis menangis semalaman. Rambutnya yang biasanya disasak rapi, kini berantakan. Di tangannya ada tasbih yang terus ia putar sambil berdoa. Di samping Rosa, ada Pak Hendra, pengacara keluarga dan asisten kepercayaan Frans selama 20 tahun. "Bu Rosa... Dokter bilang Pak Frans drop karena serangan jantung ringan dan hipertensi kambuh. Kelelah
Tiga hari setelah kejadian jas itu. Bandara Haneda Tokyo, pukul 15.00 sore. Hujan rintik-rintik turun membasahi landasan Bandara Haneda. Di ruang kedatangan internasional, seorang pria tinggi tegap dengan kulit sawo matang khas Indonesia berdiri dengan koper besar, wajahnya tegang dan lelah. Mahesa Adipati Lee. Setelah 3 hari tidak bisa tidur nyenyak gara-gara foto Nadin pakai jas pria lain, Mahesa akhirnya nekat. Ia mengambil cuti 1 minggu., membeli tiket pesawat Garuda Indonesia paling cepat, dan terbang 7 jam ke Tokyo tanpa memberi tahu Nadin. "Pokoknya aku harus lihat langsung siapa Haruto Takahashi itu. Aku nggak tenang, Nad. Aku harus pastikan kamu aman," gumam Mahesa sambil menarik napas dalam-dalam, menghirup udara Tokyo yang dingin. Di sisi lain kota, Tokyo Business School, Ruang Kelas 501. Hari ini adalah jadwal kedua Haruto menjadi dosen tamu. Kelas kembali penuh sesak oleh mahasiswi yang histeris. Haruto masuk dengan setelan jas hitam yang sempurna, dasi abu-abu, da
Malam hari di Tokyo, pukul 23.00. Apartemen Penthouse Takahashi Tower, lantai 55.Tokyo sudah gelap gulita, tapi lampu di ruang kerja Haruto masih menyala terang. Di atas meja kerja mahogany yang super besar, ada 3 layar monitor yang semuanya menampilkan grafik saham triliunan yen, tapi mata Haruto tidak fokus ke grafik itu sama sekali.Matanya kosong menatap jendela kaca yang memantulkan wajahnya sendiri.Di tangannya, ada sebuah kotak plester beruang yang sama persis seperti yang ia berikan kepada Nadin tadi pagi. Sisa satu kotak lagi yang tadi tidak sempat ia berikan."Nadin..." gumam Haruto pelan.Sejak pagi tadi setelah mengajar di Tokyo Business School, bayangan Nadin terus menempel di kepalanya. Cara Nadin gugup memegangi lengan jasnya yang kebesaran. Cara Nadin merah padam waktu ia bilang "Tidak semahal kamu". Cara Nadin memeluk jasnya erat-erat seperti memeluk boneka.Haruto yang biasanya bisa melupakan wanita dalam 5 detik, kali ini tidak bisa. Bahkan foto Nadin yang ada di
Pagi hari, Tokyo Business School, pukul 08.00. Hari ini kampus paling elite di Tokyo itu hebohnya luar biasa. Dari parkiran sampai lobi gedung utama, semua mahasiswi berkerumun sambil membawa HP, menjerit-jerit pelan seperti lihat idol K-Pop. "Ya ampun! Itu beneran Haruto Takahashi gak sih? CEO Takahashi Holdings Group itu lho!" "Gila! Ganteng banget aslinya! Lebih ganteng dari pada di majalah Forbes! Tinggi! Wangi!" "Katanya dia hari ini jadi dosen tamu di kelas kita! International Business Management! Aku bisa pingsan!" Di depan papan pengumuman digital, tertulis dengan huruf besar: [KELAS KHUSUS: GLOBAL BUSINESS STRATEGY - DOSEN TAMU: MR. HARUTO TAKAHASHI - CEO TAKAHASHI HOLDINGS GROUP - RUANG 501 - 09.00 WIB TOKYO TIME] Di dalam kelas 501 yang biasanya cuma diisi 30 mahasiswa, hari ini penuh sesak sampai 60 orang. Mahasiswi dari jurusan lain ikut nyempil duduk di lantai, di tangga, semua demi melihat Haruto. Hanya satu orang yang datang terlambat dan tidak tahu ada apa. N







