Aku noleh ke arah datangnya suara itu dan lihat seorang pria berparas tampan berdiri di ambang pintu. Empat pengawal berbaju hitam berjajar rapi di belakangnya.Hari itu dia kenakan setelan jas abu-abu arang yang dijahit sempurna ikuti lekuk tubuhnya. Dengan tinggi hampir 190 cm, sosoknya langsung curi perhatian di mana pun dia berdiri. Wajahnya tampak sempurna, seolah baru keluar dari sampul majalah mode.Kalau harus cari kekurangannya, mungkin hanya satu, tatapan matanya yang sedingin es ketika mengarah ke aku. Dia melangkah masuk. Bunyi sepatu kulitnya bergema pelan namun berat di atas lantai marmer yang mengilap."Nina," ujarnya dengan nada nggak sabar. "Aku suruh kamu ke sini untuk coba gaun pengantin, bukan buat keributan di depan umum. Kenapa kamu malah berkelahi dan bikin malu diri sendiri?"Ekspresi Nina berubah seketika. Dia langsung pasang wajah memelas, bibirnya mengerucut manja."Leon, dia yang mulai duluan! Dia hina aku, terus mau coba rebut gaun ini dari aku!"Aku amati
Read more