Mag-log inDahi Nina hantam lantai berulang kali.Duk! Duk! Duk!Suara benturannya terdengar berat dan menyakitkan saat dia terus memohon belas kasihanku. Nggak lama kemudian sebuah luka robek berdarah muncul di dahinya. Luka itu menyatu dengan bekas luka yang sudah membusuk di kedua pipinya.Sekarang seluruh wajahnya sudah berubah jadi pemandangan yang mengerikan, bengkak, bernanah, dan hampir nggak menyerupai wajah manusia lagi.Leon hanya bisa menatapnya saat wanita itu rendahkan diri di hadapanku. Dan akhirnya sesuatu dalam dirinya benar-benar hancur. Sisa terakhir harga dirinya runtuh begitu saja. Leon tekan dahinya ke lantai yang dingin. Suaranya terdengar serak dan putus asa."Nona Rosa, saya memang bodoh dan sombong. Saya telah sakitin Anda. Saya salah. Saya sumpah saya nggak akan pernah kayak gitu lagi. Saya nggak akan pernah remehkan siapa pun lagi. Tolong .... Tolong lepaskan saya."Aku habiskan kopi di tanganku, lalu letakkan cangkir itu dengan hati-hati di atas tatakan. Setelah itu a
Leon langsung noleh tajam. Jari tangannya yang gemetar tunjuk ke arahku. Suaranya terdengar serak dan berantakan."Ayah, dia yang lakukan itu! Dia kurung aku di ruang bawah tanah! Dia nggak biarkan aku tidur! Bahkan dia kasih aku makanan basi!"Senyum tipis perlahan muncul di sudut bibirku. Aku bersandar santai di sofa. Dengan tenang, aku angkat cangkir kopi ke bibirku."Terus," ucapku sambil menyesap kopi perlahan. "Kenapa kamu tetap habiskan semuanya dengan begitu lahap?"Setiap hari aku hanya perintahkan para penjaga kirimkan satu porsi makanan untuk Leon dan Nina. Makanan dingin yang sudah basi. Pada beberapa hari pertama, Leon ngamuk. Dia klaim dirinya adalah CEO Grup Sudirman. Dia bahkan bilang lebih baik mati kelaparan daripada sentuh makanan menjijikkan itu.Namun rasa lapar selalu punya cara untuk merendahkan orang yang paling sombong sekalipun. Pada hari ketiga Leon dan Nina sudah berebut makanan itu seperti dua hewan kelaparan. Mereka mengais setiap sisa makanan dengan jari.
Detik berikutnya ayah keluarkan sebuah pistol revolver dari saku jasnya. Ujung larasnya langsung ditempelkan ke pelipis Leon. Mata Leon membelalak penuh ketakutan. Giginya bergemeletuk hebat. Namun nggak ada satu kata pun yang berhasil keluar dari mulutnya.Lalu aku cium sesuatu. Bau yang buat aku langsung mengernyit. Sebuah noda gelap dan hangat mulai menyebar di bagian depan celananya. Cairan itu perlahan menggenang di lantai marmer tepat di bawah tubuhnya. Aku palingkan wajah dengan jijik, kemudian aku ulurkan tangan dan sentuh lengan Ayah.Aku menggeleng pelan."Ayah," ucapku lembut. "Nggak usah buang peluru untuk orang bodoh seperti dia. Dia nggak pantas buat tangan Ayah ternoda darah. Biar aku yang urus. Aku punya caraku sendiri untuk buat mereka dapat balasan atas semuanya."Aku lalu noleh ke para pengawal."Bawa mereka ke ruang bawah tanah kediaman. Kunci mereka di sana."Dua pengawal segera mengangguk. Mereka cengkeram lengan Leon dan Nina, lalu seret keduanya menuju pintu. Wa
Sejak dulu, aku bukan tipe orang yang mudah memaafkan. Dan hari ini setelah Nina permalukan aku di depan begitu banyak orang, nggak mungkin aku biarkan dia pergi tanpa bayar semua perbuatannya.Aku topang tubuhku dan perlahan bangkit dari lantai. Sedikit rasa nyeri di kedua lututku buat tubuhku sempat limbung. Ayah segera ulurkan tangan, topang lenganku agar aku nggak jatuh.Aku tarik napas dalam-dalam. Tatapanku mengunci Nina, lalu aku melangkah hampiri dia. Tanpa ragu, tanganku terangkat.Plak!Satu tamparan keras mendarat di pipinya. Lalu satu lagi. Dan satu lagi. Suara tamparan bertalu-talu menggema penuhi ruangan. Pipi Nina semakin membengkak setiap kali telapak tanganku mendarat. Sudut bibirnya pecah. Darah mulai merembes keluar dari kulit yang robek.Setelah itu aku membungkuk. Pisau cukur kecil yang tadi dia gunakan untuk lukai aku masih tergeletak di lantai. Aku pungut itu. Mata pisau berwarna perak itu masih sisakan noda darahku. Jemariku genggam gagangnya erat. Selangkah dem
Begitu aku lihat sosok Ayah muncul di ambang pintu, seluruh emosi yang selama ini aku tahan seketika runtuh. Dengan suara bergetar karena tangis, aku panggil dia, "Ayah!"Hanya dalam tiga langkah lebar, dia sudah ada di hadapanku. Dengan sekali dorong, kedua pengawal yang tahan aku langsung terpental jauh. Lalu kedua telapak tangannya yang hangat bingkai wajahku. Saat matanya lihat dua luka panjang yang menganga di pipiku, juga darah yang penuhi dagu dan leherku, pupil matanya membesar. Seluruh wajahnya jadi pucat."Rosa ...."Jempolnya usap perlahan tepi luka di pipiku, menyeka setitik darah yang masih mengalir. Jemarinya bergetar. Sorot mata itu nggak lagi simpan wibawa seorang pemimpin. Yang ada hanya kepedihan seorang ayah. Dia langsung tarik aku ke dalam pelukannya. Aku sandarkan dahi di bahunya. Begitu tubuhku tenggelam dalam pelukan yang begitu akrab itu, aku nggak sanggup lagi tahan semuanya. Tangisku pecah. Air mata bercampur darah basahi jas mahal yang dikenakannya. Di sekeli
Tanpa tunggu jawaban Leon, aku berbalik hendak pergi. Namun Nina sama sekali nggak berniat biarkan aku lolos. Merasa dapat dukungan penuh karena Leon ada di sisinya, dia hadang jalanku."Dasar jalang! Jangan harap bisa kabur! Kamu pukul aku dan permalukan aku di depan semua orang. Urusan kita belum selesai!"Aku menatapnya dingin."Terus, kamu mau apa?"Nina sunggingkan senyum penuh kemenangan, kira aku mulai ketakutan. Dia angkat tangan dan ayunkan ke arah wajahku."Aku baru akan berhenti kalau sudah puas!"Aku tangkap pergelangan tangannya di udara, lalu tangan satuku melayang cepat.Plak!Tamparan keras itu menggema penuhi ruang ganti yang seketika sunyi. Mata Nina membelalak nggak percaya. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya."Jalang! Berani-beraninya kamu pukul aku!"Aku balas dengan satu tamparan lagi, kali ini gunakan punggung tangan.Plak!"Sudah puas?" tanyaku datar.Dua tamparan itu seolah rontokkan seluruh kesombongan Nina. Sambil tutupi kedua pipinya yang mulai







