Share

Bab 2

Author: Vesper Shaw
Aku noleh ke arah datangnya suara itu dan lihat seorang pria berparas tampan berdiri di ambang pintu. Empat pengawal berbaju hitam berjajar rapi di belakangnya.

Hari itu dia kenakan setelan jas abu-abu arang yang dijahit sempurna ikuti lekuk tubuhnya. Dengan tinggi hampir 190 cm, sosoknya langsung curi perhatian di mana pun dia berdiri. Wajahnya tampak sempurna, seolah baru keluar dari sampul majalah mode.

Kalau harus cari kekurangannya, mungkin hanya satu, tatapan matanya yang sedingin es ketika mengarah ke aku. Dia melangkah masuk. Bunyi sepatu kulitnya bergema pelan namun berat di atas lantai marmer yang mengilap.

"Nina," ujarnya dengan nada nggak sabar. "Aku suruh kamu ke sini untuk coba gaun pengantin, bukan buat keributan di depan umum. Kenapa kamu malah berkelahi dan bikin malu diri sendiri?"

Ekspresi Nina berubah seketika. Dia langsung pasang wajah memelas, bibirnya mengerucut manja.

"Leon, dia yang mulai duluan! Dia hina aku, terus mau coba rebut gaun ini dari aku!"

Aku amati pria yang berdiri di hadapanku.

"Jadi kamu Leon?" tanyaku. "Calon suamiku?"

"Iya. Aku Leon Sudirman."

Dia noleh menatapku. Nada suaranya tetap dingin nggak ada sedikit pun kehangatan. Aku buka mulut untuk perkenalkan diri.

"Senang ketemu dengan kamu. Aku …."

Namun dia angkat tangan, potong ucapanku begitu saja, "Nggak perlu. Aku sama sekali nggak tertarik tahu kamu siapa."

Sesaat aku sampai ragu dengan pendengaranku sendiri.

Apa aku salah dengar?

Aku adalah putri tunggal Keluarga Kusnadi, putri yang paling disayangi dalam keluarga penguasa dunia mafia Nevala. Namun calon suamiku sendiri berani bicara seperti itu ke aku bahkan sebelum pernikahan kita dimulai? Benar-benar keterlaluan.

"Leon," kataku, berusaha jaga nada suaraku tetap tenang meski amarah terus membakar dalam dada. "Aku tahu kita memang belum pernah ketemu sebelumnya, dan aku juga tahu pernikahan ini hasil kesepakatan ayah kita. Tapi menurutmu apa nggak kasar potong pembicaraan orang seperti itu?"

Kata-kataku buat raut acuh di wajahnya perlahan menghilang. Dia melirikku dari sudut matanya. Senyum mengejek terukir tipis di ujung bibirnya.

"Kasar?" katanya sambil terkekeh dingin. "Rosa, coba ngaca dulu. Apa kamu beneran pikir dirimu pantas dapat pria seperti aku?"

Tatapannya kembali menyapu tubuhku dari ujung kepala hingga kaki, sweter rajut sederhana, celana jins, dan sepatu datar yang aku pakai.

Di ruangan yang dipenuhi gaun-gaun rancangan desainer kelas dunia, penampilanku memang tampak seperti turis yang salah masuk tempat.

Dia mendengus sinis.

"Biar aku jelaskan supaya kamu benar-benar ngerti. Kalau bukan karena ayahku paksa aku nikah sama kamu, aku nggak bakal lirik kamu sedetik pun. Gadis yang nggak punya latar belakang, nggak punya kemampuan, yang cuma bisa andalkan wajah cantik."

Beberapa kata terakhir dia sengaja ucapkan dengan suara yang lebih keras, seolah sengaja agar semua orang di ruangan itu bisa dengar.

"Dan jangan salah paham. Nikah dengan Keluarga Sudirman nggak akan pernah buat kamu jadi bagian dari kita. Aku nggak akan pernah sentuh kamu. Sekarang nggak. Kelak pun nggak akan pernah."

Aku tahu dia sama sekali nggak tahu siapa diriku sebenarnya. Dan sejujurnya, aku juga nggak tertarik berdebat dengan dia. Aku lambaikan tangan dengan acuh. Senyum tipis sempat tersungging di bibirku.

"Karena kamu sudah jelaskan semuanya, aku juga nggak akan paksa. Tapi ada satu hal .... Kalau gitu, nggak ada gunanya lanjutkan pernikahan kita, kan?"

Sebenarnya aku berharap kita bisa akhiri semuanya secara baik-baik. Namun pria ini sama sekali nggak mau dengar. Mungkin di matanya, aku cuma lagi ngambek.

"Rosa, nggak usah pura-pura jual mahal di depanku!"

Dia melangkah maju hingga berdiri tepat di hadapanku. Tubuhnya yang tinggi menjulang buat bayangannya tutupi seluruh tubuhku.

"Kamu tahu nggak berapa banyak wanita di Nevala yang mati-matian ingin nikah dengan Keluarga Sudirman?"

Bukannya marah, aku justru tertawa pelan.

"Leon, aku nggak peduli apa yang diinginkan wanita lain. Yang jelas, aku sama sekali nggak ingin berurusan dengan kamu. Dan soal Keluarga Sudirman yang begitu kamu banggakan …. Bagiku, mereka bukan siapa-siapa."

Begitu kalimat itu meluncur dari bibirku, seluruh ruang ganti langsung gempar.

"Astaga! Gadis itu beneran sudah gila! Berani banget bicara seperti itu ke Tuan Leon, apa dia gila?!" seru salah seorang pegawai butik sambil tutup mulutnya karena nggak percaya.

"Iya! Leon itu pria idaman seluruh wanita di Nevala, kaya, ganteng, tinggi, dan tubuhnya sempurna. Perempuan bodoh ini nggak sadar kalau dia beruntung banget. Kesempatan seumur hidup malah disia-siakan!" sahut pegawai lain sambil gelengkan kepalanya.

"Aku bahkan rela pakai karung sampah kalau itu syarat supaya bisa nikah dengan Keluarga Sudirman," gumam seseorang lirih. "Itu sama saja seperti menangkan lotre."

Bisik-bisik terus bermunculan dari segala penjuru. Namun aku sama sekali nggak peduli dengan itu. Di Nevala, nama Keluarga Sudirman memang sangat disegani. Kerajaan bisnis mereka membentang hampir ke seluruh negeri.

Tetapi di hadapan kekuasaan yang sesungguhnya, semua harta itu hanyalah deretan angka yang nggak berarti.

Aku masih ingat dengan jelas Anthony Sudirman, ayah Leon, kepala Keluarga Sudirman, raja bisnis yang disegani di setiap ruang rapat, tundukkan kepala dengan penuh hormat di hadapan ayahku.

Dengan tangan di dada, dia pernah janji kalau Leon akan jaga aku dan perlakukan aku dengan baik. Barangkali sampai detik ini pun dia belum tahu kalau putranya sendiri, baru saja hancurkan satu-satunya hubungan yang bisa angkat Keluarga Sudirman ke puncak yang nggak pernah mereka bayangkan, dengan tangannya sendiri.

"Rosa!"

Nada suara Leon meninggi. Untuk pertama kalinya, amarah yang benar-benar nyata tampak menyala di kedua matanya.

"Aku tanya untuk terakhir kalinya." Tatapannya menusuk lurus ke arahku. "Apa kamu beneran mau batalkan pernikahan ini?"

Aku balas tatapannya tanpa gentar. Lalu, perlahan namun mantap, aku mengangguk.

"Pasti."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Putri Kesayangan Sang Ketua Mafia   Bab 8

    Dahi Nina hantam lantai berulang kali.Duk! Duk! Duk!Suara benturannya terdengar berat dan menyakitkan saat dia terus memohon belas kasihanku. Nggak lama kemudian sebuah luka robek berdarah muncul di dahinya. Luka itu menyatu dengan bekas luka yang sudah membusuk di kedua pipinya.Sekarang seluruh wajahnya sudah berubah jadi pemandangan yang mengerikan, bengkak, bernanah, dan hampir nggak menyerupai wajah manusia lagi.Leon hanya bisa menatapnya saat wanita itu rendahkan diri di hadapanku. Dan akhirnya sesuatu dalam dirinya benar-benar hancur. Sisa terakhir harga dirinya runtuh begitu saja. Leon tekan dahinya ke lantai yang dingin. Suaranya terdengar serak dan putus asa."Nona Rosa, saya memang bodoh dan sombong. Saya telah sakitin Anda. Saya salah. Saya sumpah saya nggak akan pernah kayak gitu lagi. Saya nggak akan pernah remehkan siapa pun lagi. Tolong .... Tolong lepaskan saya."Aku habiskan kopi di tanganku, lalu letakkan cangkir itu dengan hati-hati di atas tatakan. Setelah itu a

  • Putri Kesayangan Sang Ketua Mafia   Bab 7

    Leon langsung noleh tajam. Jari tangannya yang gemetar tunjuk ke arahku. Suaranya terdengar serak dan berantakan."Ayah, dia yang lakukan itu! Dia kurung aku di ruang bawah tanah! Dia nggak biarkan aku tidur! Bahkan dia kasih aku makanan basi!"Senyum tipis perlahan muncul di sudut bibirku. Aku bersandar santai di sofa. Dengan tenang, aku angkat cangkir kopi ke bibirku."Terus," ucapku sambil menyesap kopi perlahan. "Kenapa kamu tetap habiskan semuanya dengan begitu lahap?"Setiap hari aku hanya perintahkan para penjaga kirimkan satu porsi makanan untuk Leon dan Nina. Makanan dingin yang sudah basi. Pada beberapa hari pertama, Leon ngamuk. Dia klaim dirinya adalah CEO Grup Sudirman. Dia bahkan bilang lebih baik mati kelaparan daripada sentuh makanan menjijikkan itu.Namun rasa lapar selalu punya cara untuk merendahkan orang yang paling sombong sekalipun. Pada hari ketiga Leon dan Nina sudah berebut makanan itu seperti dua hewan kelaparan. Mereka mengais setiap sisa makanan dengan jari.

  • Putri Kesayangan Sang Ketua Mafia   Bab 6

    Detik berikutnya ayah keluarkan sebuah pistol revolver dari saku jasnya. Ujung larasnya langsung ditempelkan ke pelipis Leon. Mata Leon membelalak penuh ketakutan. Giginya bergemeletuk hebat. Namun nggak ada satu kata pun yang berhasil keluar dari mulutnya.Lalu aku cium sesuatu. Bau yang buat aku langsung mengernyit. Sebuah noda gelap dan hangat mulai menyebar di bagian depan celananya. Cairan itu perlahan menggenang di lantai marmer tepat di bawah tubuhnya. Aku palingkan wajah dengan jijik, kemudian aku ulurkan tangan dan sentuh lengan Ayah.Aku menggeleng pelan."Ayah," ucapku lembut. "Nggak usah buang peluru untuk orang bodoh seperti dia. Dia nggak pantas buat tangan Ayah ternoda darah. Biar aku yang urus. Aku punya caraku sendiri untuk buat mereka dapat balasan atas semuanya."Aku lalu noleh ke para pengawal."Bawa mereka ke ruang bawah tanah kediaman. Kunci mereka di sana."Dua pengawal segera mengangguk. Mereka cengkeram lengan Leon dan Nina, lalu seret keduanya menuju pintu. Wa

  • Putri Kesayangan Sang Ketua Mafia   Bab 5

    Sejak dulu, aku bukan tipe orang yang mudah memaafkan. Dan hari ini setelah Nina permalukan aku di depan begitu banyak orang, nggak mungkin aku biarkan dia pergi tanpa bayar semua perbuatannya.Aku topang tubuhku dan perlahan bangkit dari lantai. Sedikit rasa nyeri di kedua lututku buat tubuhku sempat limbung. Ayah segera ulurkan tangan, topang lenganku agar aku nggak jatuh.Aku tarik napas dalam-dalam. Tatapanku mengunci Nina, lalu aku melangkah hampiri dia. Tanpa ragu, tanganku terangkat.Plak!Satu tamparan keras mendarat di pipinya. Lalu satu lagi. Dan satu lagi. Suara tamparan bertalu-talu menggema penuhi ruangan. Pipi Nina semakin membengkak setiap kali telapak tanganku mendarat. Sudut bibirnya pecah. Darah mulai merembes keluar dari kulit yang robek.Setelah itu aku membungkuk. Pisau cukur kecil yang tadi dia gunakan untuk lukai aku masih tergeletak di lantai. Aku pungut itu. Mata pisau berwarna perak itu masih sisakan noda darahku. Jemariku genggam gagangnya erat. Selangkah dem

  • Putri Kesayangan Sang Ketua Mafia   Bab 4

    Begitu aku lihat sosok Ayah muncul di ambang pintu, seluruh emosi yang selama ini aku tahan seketika runtuh. Dengan suara bergetar karena tangis, aku panggil dia, "Ayah!"Hanya dalam tiga langkah lebar, dia sudah ada di hadapanku. Dengan sekali dorong, kedua pengawal yang tahan aku langsung terpental jauh. Lalu kedua telapak tangannya yang hangat bingkai wajahku. Saat matanya lihat dua luka panjang yang menganga di pipiku, juga darah yang penuhi dagu dan leherku, pupil matanya membesar. Seluruh wajahnya jadi pucat."Rosa ...."Jempolnya usap perlahan tepi luka di pipiku, menyeka setitik darah yang masih mengalir. Jemarinya bergetar. Sorot mata itu nggak lagi simpan wibawa seorang pemimpin. Yang ada hanya kepedihan seorang ayah. Dia langsung tarik aku ke dalam pelukannya. Aku sandarkan dahi di bahunya. Begitu tubuhku tenggelam dalam pelukan yang begitu akrab itu, aku nggak sanggup lagi tahan semuanya. Tangisku pecah. Air mata bercampur darah basahi jas mahal yang dikenakannya. Di sekeli

  • Putri Kesayangan Sang Ketua Mafia   Bab 3

    Tanpa tunggu jawaban Leon, aku berbalik hendak pergi. Namun Nina sama sekali nggak berniat biarkan aku lolos. Merasa dapat dukungan penuh karena Leon ada di sisinya, dia hadang jalanku."Dasar jalang! Jangan harap bisa kabur! Kamu pukul aku dan permalukan aku di depan semua orang. Urusan kita belum selesai!"Aku menatapnya dingin."Terus, kamu mau apa?"Nina sunggingkan senyum penuh kemenangan, kira aku mulai ketakutan. Dia angkat tangan dan ayunkan ke arah wajahku."Aku baru akan berhenti kalau sudah puas!"Aku tangkap pergelangan tangannya di udara, lalu tangan satuku melayang cepat.Plak!Tamparan keras itu menggema penuhi ruang ganti yang seketika sunyi. Mata Nina membelalak nggak percaya. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya."Jalang! Berani-beraninya kamu pukul aku!"Aku balas dengan satu tamparan lagi, kali ini gunakan punggung tangan.Plak!"Sudah puas?" tanyaku datar.Dua tamparan itu seolah rontokkan seluruh kesombongan Nina. Sambil tutupi kedua pipinya yang mulai

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status