Short
Putri Kesayangan Sang Ketua Mafia

Putri Kesayangan Sang Ketua Mafia

By:  Vesper ShawCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Ayahku adalah Enzo Kusnadi, sang ketua mafia dari salah satu keluarga mafia paling berkuasa di Nevala. Dan aku adalah putrinya, sang putri kecil yang paling dia sayangi. Harta paling berharga dalam hidupnya. Ayah sembunyikan aku dari dunianya demi lindungi aku. Namun dia juga nggak ingin aku hidup sendirian. Karena itu, dia atur sebuah pernikahan untuk aku. Pria yang akan jadi suamiku adalah Leon Sudirman, putra dari pria terkaya di Nevala. Tampan, kaya raya, dan seorang bintang baru yang sedang bersinar di dunia bisnis. Jika dilihat dari luar dia adalah pria yang sempurna. Untuk pernikahan kita, Ayah bahkan pesan gaun pengantin khusus yang dibuat oleh seorang desainer ternama dari Milana. Hari ini adalah jadwal fitting gaunku. Namun begitu aku melangkah masuk ke butik pengantin itu, jantungku seakan berhenti berdetak. Nina Melati, teman masa kecil Leon, sedang kenakan gaun pengantinku. Saat lihat aku, senyuman kecil penuh kesombongan perlahan muncul di sudut bibirnya. Lalu dia ambil sebuah gaun pengiring pengantin putih berbahan poliester murahan dari atas meja dan lemparkan itu ke tanganku. "Pakai ini," katanya sambil angkat dagunya, seolah tempat itu adalah miliknya. "Kamu bisa pakai ini saat upacara nanti." Aku menatap kain tipis dan murahan di tanganku. Kemudian aku kembali menatapnya. Suaraku berubah jadi dingin. "Aku ini calon pengantin wanita. Kamu malah suruh aku pakai ini?" Nina tertawa kecil. Tawanya tajam dan penuh penghinaan. "Sudah, turuti aku saja dan nggak usah buat masalah. Leon sudah putuskan aku yang akan jalan menuju altar gantikan kamu. Sedangkan kamu cukup berdiri di sana seperti pengiring pengantin yang baik. Ikuti saja semuanya sampai selesai." Selama beberapa detik, aku nggak mampu berkata apa-apa. Lalu aku keluarkan HP-ku. Aku cari nomor Leon dan langsung telepon dia. Telepon itu berdering dua kali sebelum akhirnya diangkat. "Leon, soal Nina yang akan gantikan aku di altar. Apa menurutmu, kamu nggak mau jelasin ke aku?"

View More

Chapter 1

Bab 1

Ayahku yang atur pernikahan ini untuk aku. Jika dia sampai tahu Leon telah permalukan aku seperti ini, tamatlah riwayat pria itu. Aku nggak ingin persulit Leon. Kalau saja dia tunjukkan penyesalan yang tulus, mungkin aku masih bersedia anggap semua ini nggak pernah terjadi.

Keheningan selimuti ujung telepon selama dua detik. Lalu terdengar tawa lirih yang dingin dari balik pengeras suara.

"Kamu minta penjelasan? Ngapain aku harus jelaskan ke kamu?" Suara Leon dipenuhi penghinaan, seolah-olah dia sedang bicara ke seorang pelayan. "Rosa, yang tentukan siapa calon pengantinku itu aku. Tugasmu cuma datang ke Kantor Catatan Sipil dan tandatangani akta nikah. Ngerti?"

"Leon, apa menurutmu nggak keterlaluan biarkan wanita lain gantikan aku di pernikahan kita?" kataku dengan suara tenang, meski amarah di dadaku terus membara. "Memang kita belum pernah bertemu langsung, tapi aku tetap calon istrimu. Setidaknya kamu bisa tunjukkan sedikit rasa hormat, bukannya ...."

Belum sempat aku selesaikan kalimatku, sambungan telepon itu sudah diputus. Nada sambung yang panjang berdenging di telingaku, menusuk seperti jarum. Aku menatap layar HP tanpa berkedip, sementara rasa nggak percaya perlahan gerogoti dadaku.

Leon benar-benar sangat berani ... berani-beraninya dia tutup teleponku begitu saja.

Nina Melati terkekeh sinis. Dia silangkan tangan di dada sambil bersandar santai di kusen pintu.

"Ganti saja gaunnya, Nona Rosa. Dengan status Keluarga Sudirman di Nevala, seharusnya kamu bersyukur dikasih kesempatan nikah dengan keluarga mereka."

Tatapannya menyapu penampilanku dari atas ke bawah, sweter rajut sederhana yang aku pakai, juga jins usang yang sudah sangat nyaman dipakai. Aku memang jarang sekali tinggalkan kawasan kediaman keluarga. Isi lemariku sebagian besar cuma pakaian rumahan yang nyaman, nyaris nggak ada baju mewah. Di matanya, aku pasti terlihat seperti gadis biasa yang mendadak dapat keberuntungan nikahi pria kaya.

"Aku mau gaun pengantinku dikembalikan," ucapku datar. "Dan aku nggak akan pakai gaun murahan punyamu itu."

Aku angkat tangan, lalu tunjuk salah seorang staf yang berdiri nggak jauh dari kita.

"Kalau kamu terus paksa, aku akan suruh pegawai toko itu lepas gaun yang lagi kamu pakai sekarang juga, terus usir kamu keluar."

Senyum Nina justru semakin lebar. Hak sepatunya berdetak di atas lantai marmer saat dia datang mendekat hingga berdiri tepat di hadapanku. Ujung kukunya yang terawat nyaris sentuh hidungku.

"Nggak usah berani-berani ngancam aku. Ini Nevala. Wilayah Keluarga Sudirman. Kamu benar-benar berpikir ada orang di sini yang akan belain kamu?"

Nada suaranya semakin keras di setiap kata. Dia lontarkan kalimat-kalimat itu dengan begitu cepat hingga percikan ludahnya terasa kena di wajahku.

Tanganku mengepal di sisi tubuh. Kuku-kukuku menancap dalam ke telapak tangan. Namun aku tetap menatapnya dengan sorot mata dingin tanpa sedikit pun alihkan pandangan.

Aku mendengus pelan.

"Bahkan Keluarga Sudirman yang begitu kamu banggakan pun tetap harus tunduk ke orang yang lebih berkuasa."

Begitu kata-kata itu keluar dari mulutku, Nina langsung dorong aku dengan keras. Tubuhku terhuyung mundur dua langkah sebelum punggungku hantam sudut besi rak pajangan. Rasa nyeri seketika menjalar hingga ke tulang belikatku.

"Memangnya kamu pikir kamu ini siapa?!" jeritnya melengking. Suaranya begitu nyaring hingga beberapa pegawai spontan noleh ke arah kita. "Ini peringatan terakhirku. Ganti gaun sialan itu sekarang juga, atau aku buat kamu nggak sempat lihat matahari terbit besok!"

Ancamannya hanya buat sudut bibirku terangkat bentuk senyum tipis.

Seumur hidup aku tumbuh di balik tembok kediaman keluarga. Aku nyaris nggak pernah muncul di hadapan publik. Belum pernah ada orang yang berani ancam aku secara langsung seperti ini.

Api di dadaku semakin berkobar. Aku luruskan punggung, menatap tepat ke matanya, lalu ucapkan setiap kata dengan perlahan dan penuh penekanan.

"Silakan. Coba saja."

Di belakang kita, salah seorang pegawai terkesiap pelan. Dia mendekat ke rekannya lalu berbisik, "Ya Tuhan. Dia sudah gila, yah? Berani sekali melawan Nona Nina. Semua orang tahu Tuan Leon sangat manjakan dia. Wanita itu benar-benar cari mati."

"Ini cuma soal gaun," gumam pegawai yang lain. "Kenapa harus dibesar-besarkan? Kalau pernikahannya batal, bukannya dia sendiri yang bakal kehilangan segalanya?"

"Iya. Bisa nikah dengan Keluarga Sudirman itu seperti menangkan lotre. Memangnya siapa peduli siapa yang jalan menuju altar?"

Bisik-bisik mereka semakin ramai terdengar.

Seringai Nina makin melebar. Dia miringkan kepala sambil selipkan sehelai rambut ikalnya ke belakang telinga.

"Lihat?" katanya penuh kemenangan. "Gadis bukan siapa-siapa seperti kamu, nggak punya uang, nggak punya koneksi, cuma andalkan wajah cantik, masih mimpi jadi pengantin Keluarga Sudirman? Sadar diri dong."

Aku tarik napas panjang. Kemarahan di dalam dadaku belum padam, tetapi kini berubah jadi sesuatu yang jauh lebih dingin dan jauh lebih tajam. Aku pernah lihat wajah-wajah seperti mereka. Aku tahu persis manusia macam apa yang sedang aku hadapi.

"Nina," panggilku tenang. Suaraku terdengar datar namun tegas. "Untuk terakhir kalinya, lepaskan gaun pengantinku."

"Persetan dengan kamu!" Nina memaki.

Namun dia belum puas. Dia gulung lengan bajunya, terjang ke arahku, lalu ulurkan kedua tangan untuk jambak rambutku. Aku geser tubuh tepat pada waktunya. Jemarinya hanya menyapu ujung telingaku sebelum cengkeram udara kosong.

"Kenapa?" tanyaku dingin. "Kamu nggak bisa hadapi perbedaan pendapat tanpa main tangan?"

Nina kembali serang berkali-kali. Namun setiap pukulannya selalu meleset. Wajahnya memerah karena kesal. Dia hentakkan hak sepatunya ke lantai dengan geram.

"Dasar jalang!" desisnya. "Coba menghindar sekali lagi, kamu bakal nyesal! Aku akan telepon Leon sekarang juga!"

Dia terus pancing emosiku, berkali-kali tanpa henti. Aku nggak balas serang dia. Aku hanya terus menghindar. Bukan karena aku takut dengan dia. Melainkan karena sebelum tinggalkan kediaman keluarga, Ayah telah minta aku untuk janji.

"Setiap perkataan dan tindakanmu wakili nama Keluarga Kusnadi," kata ayah waktu itu. "Jangan cari masalah di luar."

Aku memang bukan petarung jalanan. Kalau nggak tahan diri, aku akan akhiri semuanya hanya dengan satu gerakan. Keluargaku ajari aku cara membunuh, bukan cara berkelahi.

Lihat aku terus menghindar, Nina kira aku takut. Kilatan kejam melintas di matanya. Dia raih sebuah vas bunga dari meja di sampingnya, angkat tinggi-tinggi, siap hantamkan itu ke kepalaku.

Tepat pada saat itu, sebuah suara menggelegar terdengar dari arah pintu.

"Berhenti!"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status