LOGINAyahku adalah Enzo Kusnadi, sang ketua mafia dari salah satu keluarga mafia paling berkuasa di Nevala. Dan aku adalah putrinya, sang putri kecil yang paling dia sayangi. Harta paling berharga dalam hidupnya. Ayah sembunyikan aku dari dunianya demi lindungi aku. Namun dia juga nggak ingin aku hidup sendirian. Karena itu, dia atur sebuah pernikahan untuk aku. Pria yang akan jadi suamiku adalah Leon Sudirman, putra dari pria terkaya di Nevala. Tampan, kaya raya, dan seorang bintang baru yang sedang bersinar di dunia bisnis. Jika dilihat dari luar dia adalah pria yang sempurna. Untuk pernikahan kita, Ayah bahkan pesan gaun pengantin khusus yang dibuat oleh seorang desainer ternama dari Milana. Hari ini adalah jadwal fitting gaunku. Namun begitu aku melangkah masuk ke butik pengantin itu, jantungku seakan berhenti berdetak. Nina Melati, teman masa kecil Leon, sedang kenakan gaun pengantinku. Saat lihat aku, senyuman kecil penuh kesombongan perlahan muncul di sudut bibirnya. Lalu dia ambil sebuah gaun pengiring pengantin putih berbahan poliester murahan dari atas meja dan lemparkan itu ke tanganku. "Pakai ini," katanya sambil angkat dagunya, seolah tempat itu adalah miliknya. "Kamu bisa pakai ini saat upacara nanti." Aku menatap kain tipis dan murahan di tanganku. Kemudian aku kembali menatapnya. Suaraku berubah jadi dingin. "Aku ini calon pengantin wanita. Kamu malah suruh aku pakai ini?" Nina tertawa kecil. Tawanya tajam dan penuh penghinaan. "Sudah, turuti aku saja dan nggak usah buat masalah. Leon sudah putuskan aku yang akan jalan menuju altar gantikan kamu. Sedangkan kamu cukup berdiri di sana seperti pengiring pengantin yang baik. Ikuti saja semuanya sampai selesai." Selama beberapa detik, aku nggak mampu berkata apa-apa. Lalu aku keluarkan HP-ku. Aku cari nomor Leon dan langsung telepon dia. Telepon itu berdering dua kali sebelum akhirnya diangkat. "Leon, soal Nina yang akan gantikan aku di altar. Apa menurutmu, kamu nggak mau jelasin ke aku?"
View MoreDahi Nina hantam lantai berulang kali.Duk! Duk! Duk!Suara benturannya terdengar berat dan menyakitkan saat dia terus memohon belas kasihanku. Nggak lama kemudian sebuah luka robek berdarah muncul di dahinya. Luka itu menyatu dengan bekas luka yang sudah membusuk di kedua pipinya.Sekarang seluruh wajahnya sudah berubah jadi pemandangan yang mengerikan, bengkak, bernanah, dan hampir nggak menyerupai wajah manusia lagi.Leon hanya bisa menatapnya saat wanita itu rendahkan diri di hadapanku. Dan akhirnya sesuatu dalam dirinya benar-benar hancur. Sisa terakhir harga dirinya runtuh begitu saja. Leon tekan dahinya ke lantai yang dingin. Suaranya terdengar serak dan putus asa."Nona Rosa, saya memang bodoh dan sombong. Saya telah sakitin Anda. Saya salah. Saya sumpah saya nggak akan pernah kayak gitu lagi. Saya nggak akan pernah remehkan siapa pun lagi. Tolong .... Tolong lepaskan saya."Aku habiskan kopi di tanganku, lalu letakkan cangkir itu dengan hati-hati di atas tatakan. Setelah itu a
Leon langsung noleh tajam. Jari tangannya yang gemetar tunjuk ke arahku. Suaranya terdengar serak dan berantakan."Ayah, dia yang lakukan itu! Dia kurung aku di ruang bawah tanah! Dia nggak biarkan aku tidur! Bahkan dia kasih aku makanan basi!"Senyum tipis perlahan muncul di sudut bibirku. Aku bersandar santai di sofa. Dengan tenang, aku angkat cangkir kopi ke bibirku."Terus," ucapku sambil menyesap kopi perlahan. "Kenapa kamu tetap habiskan semuanya dengan begitu lahap?"Setiap hari aku hanya perintahkan para penjaga kirimkan satu porsi makanan untuk Leon dan Nina. Makanan dingin yang sudah basi. Pada beberapa hari pertama, Leon ngamuk. Dia klaim dirinya adalah CEO Grup Sudirman. Dia bahkan bilang lebih baik mati kelaparan daripada sentuh makanan menjijikkan itu.Namun rasa lapar selalu punya cara untuk merendahkan orang yang paling sombong sekalipun. Pada hari ketiga Leon dan Nina sudah berebut makanan itu seperti dua hewan kelaparan. Mereka mengais setiap sisa makanan dengan jari.
Detik berikutnya ayah keluarkan sebuah pistol revolver dari saku jasnya. Ujung larasnya langsung ditempelkan ke pelipis Leon. Mata Leon membelalak penuh ketakutan. Giginya bergemeletuk hebat. Namun nggak ada satu kata pun yang berhasil keluar dari mulutnya.Lalu aku cium sesuatu. Bau yang buat aku langsung mengernyit. Sebuah noda gelap dan hangat mulai menyebar di bagian depan celananya. Cairan itu perlahan menggenang di lantai marmer tepat di bawah tubuhnya. Aku palingkan wajah dengan jijik, kemudian aku ulurkan tangan dan sentuh lengan Ayah.Aku menggeleng pelan."Ayah," ucapku lembut. "Nggak usah buang peluru untuk orang bodoh seperti dia. Dia nggak pantas buat tangan Ayah ternoda darah. Biar aku yang urus. Aku punya caraku sendiri untuk buat mereka dapat balasan atas semuanya."Aku lalu noleh ke para pengawal."Bawa mereka ke ruang bawah tanah kediaman. Kunci mereka di sana."Dua pengawal segera mengangguk. Mereka cengkeram lengan Leon dan Nina, lalu seret keduanya menuju pintu. Wa
Sejak dulu, aku bukan tipe orang yang mudah memaafkan. Dan hari ini setelah Nina permalukan aku di depan begitu banyak orang, nggak mungkin aku biarkan dia pergi tanpa bayar semua perbuatannya.Aku topang tubuhku dan perlahan bangkit dari lantai. Sedikit rasa nyeri di kedua lututku buat tubuhku sempat limbung. Ayah segera ulurkan tangan, topang lenganku agar aku nggak jatuh.Aku tarik napas dalam-dalam. Tatapanku mengunci Nina, lalu aku melangkah hampiri dia. Tanpa ragu, tanganku terangkat.Plak!Satu tamparan keras mendarat di pipinya. Lalu satu lagi. Dan satu lagi. Suara tamparan bertalu-talu menggema penuhi ruangan. Pipi Nina semakin membengkak setiap kali telapak tanganku mendarat. Sudut bibirnya pecah. Darah mulai merembes keluar dari kulit yang robek.Setelah itu aku membungkuk. Pisau cukur kecil yang tadi dia gunakan untuk lukai aku masih tergeletak di lantai. Aku pungut itu. Mata pisau berwarna perak itu masih sisakan noda darahku. Jemariku genggam gagangnya erat. Selangkah dem












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.