Aku menatap mata Adrian sejenak. Baru setelah itu aku menyadari, dia benar-benar serius.Aku langsung membalas dengan nada menyindir, "Adrian, meskipun kamu mau menjadi selingkuhanku, aku juga nggak sudi. Memangnya bagian mana dari dirimu yang bisa menandingi suamiku?"Bahkan setelah aku berkata sejelas itu, Adrian tetap tidak mau menyerah."Menurutmu, apa yang membuatnya begitu baik? Aku bisa belajar."Aku sempat tertegun.Adrian yang dulu selalu angkuh, dingin, dan merasa dirinya berada di atas segalanya ....Kini justru mengucapkan kata-kata seperti itu.Sayangnya, semuanya sudah terlambat.Aku menatapnya sambil berujar dengan sungguh-sungguh."Dia baik dalam segala hal karena dia adalah Peter. Kamu nggak akan pernah bisa menyamainya."Cahaya terakhir yang tersisa di mata Adrian akhirnya benar-benar padam.Sementara itu, kesabaranku juga sudah habis."Cepat pergi. Kalau kamu masih nggak mau keluar, aku akan memanggil orang."Namun bukannya pergi, Adrian justru mengulurkan tangan dan
Read more