Setiap kali dia mengucapkan satu kalimat, raut wajah Arsa makin pucat sepotong, tubuhnya gemetaran makin hebat."Sekarang," Kirana menatapnya, di dalam matanya akhirnya ada seberkas riak yang sangat tipis, yaitu sejenis kesedihan dan kelelahan yang sangat mendalam setelah pencerahan total, "kamu bilang kamu mencintaiku?"Wanita itu tersenyum sangat tipis, senyuman itu pucat dan hancur berantakan, seolah-olah di detik berikutnya bakal menyebar tertiup angin."Tapi cintaku, sudah dari dulu dalam sikap dingin, keraguan, pelepasan, dan luka yang kamu berikan berkali-kali, tergerus habis sedikit demi sedikit, terkuras kering, dan mati total."Wanita itu membalikkan badan, mau pergi meninggalkan tempat ini. Segala hal di sini, termasuk pria ini, membuatnya merasa sangat sesak."Kirana!" Arsa mendadak menerjang maju, menggunakan seluruh tenaganya memeluk kakinya, bagaikan seorang anak kecil yang tanpa sandaran, menangis histeris dengan suara keras, "Jangan pergi! Mohon kamu kasih aku satu kes
Baca selengkapnya