Short
Duka di Bawah Sinar Rembulan

Duka di Bawah Sinar Rembulan

Oleh:  IolaTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
24Bab
121Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Hari Arsa Prabawa resmi diangkat menjadi perdana menteri, kalimat pertama yang dia ucapkan kepada Kirana saat kembali ke kediaman adalah keinginan untuk menikahi Maya Kusuma sebagai istri yang setara statusnya. Kirana mengangguk dengan tenang. Sejak saat itu, dia tampak berubah menjadi orang yang berbeda. Dulu, mendengar Arsa melirik pelayan wanita mana pun saja sudah membuatnya sesak napas cukup lama. Kini, dia mengurus sendiri upacara pernikahan dengan sangat megah dan teliti, bahkan jauh lebih meriah daripada perayaan pernikahannya sendiri dahulu. Dulu, dia selalu mencari alasan untuk mengantarkan sup dan kue ke ruang kerja Arsa, kini, dia hidup menyendiri dan tidak pernah lagi muncul di hadapannya. Dulu, dia berdandan rapi setiap hari sambil berharap mendapat sedikit perhatian Arsa, kini, dia tampil polos tanpa riasan, mengurung diri di kamar, bahkan saat Arsa melangkah masuk ke pekarangannya dan hendak menciumnya, dia dengan lembut mendorong Arsa keluar! "Aku lagi datang bulan hari ini, takut tidak bisa melayani dengan baik. Maya barusan masuk kediaman dan sangat membutuhkan kasih sayang serta pendampingan kamu, sebaiknya kamu pergi ke pekarangan Maya saja."

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Gerakan Arsa terhenti, dia menegakkan tubuhnya lalu menatap Kirana. Cahaya lilin menari-nari di wajah wanita itu, wajah yang biasanya selalu tersenyum penuh cinta kepadanya itu kini hanya menyisakan ketenangan yang dingin dan penuh jarak.

"Kirana, bulan ini aku datang ke tempatmu 10 kali dan kamu selalu beralasan lagi datang bulan. Apa kamu pikir aku tidak bisa mengingat tanggal datang bulanmu, atau kamu pikir aku mudah dibodohi?"

Kirana mengangkat pandangannya, tatapannya jernih dan dingin, "Aku tidak berani, aku memang lagi tidak enak badan, entah kenapa datang bulan bisa datang berkali-kali. Lagian, Maya baru saja masuk kediaman, memang lagi membutuhkan banyak pendampinganmu. Kamu juga sudah seharusnya lebih sering pergi ke tempatnya."

Arsa tertegun oleh sikap Kirana yang tidak bisa dibujuk itu, rasa sesak yang tertahan lama di dadanya kian bergejolak.

Dia menatap Kirana cukup lama sebelum menghela napas dalam-dalam dengan nada yang sedikit melunak, "Soal Maya, aku tentu akan pergi ke sana. Tapi hari ini, aku akan bermalam di tempatmu. Bulan ini aku menemani Maya setiap hari, kalau aku tidak menginap di kamarmu lagi, desas-desus di seluruh kediaman ini bisa menenggelamkanmu sampai mati."

Kirana justru menggelengkan kepalanya dengan lembut, kembali mundur satu langkah untuk merenggangkan jarak, "Aku tidak peduli perkataan orang lain. Lagian ... aku tidak cuma lagi datang bulan, beberapa hari lalu juga terkena angin dingin dan belum sembuh, takut menularkan penyakit ke kamu."

Arsa mengangkat pandangannya, tapi melihat wajah Kirana merona merah dan napasnya teratur, tidak ada tanda-tanda sakit sedikit pun!

"Kirana Adipura!" Arsa memanggil nama lengkapnya, suaranya mulai diselimuti kemarahan, "Kamu masih merajuk karena masalah waktu itu, ya?"

"Ya, aku mengakui dulu di dalam hatiku cuma ada Maya. Tapi, setelah masalah ayahmu waktu itu, aku sudah bilang, mulai sekarang aku akan memperlakukanmu sama seperti dia. Sebenarnya apa lagi yang tidak membuatmu puas? Kamu sebenarnya mau apa?"

"Kamu terlalu banyak berpikir, aku cuma lagi tidak enak badan hari ini, jadi tidak bisa melayanimu, itu saja."

Lagi-lagi seperti ini! Lagi-lagi bersikap keras kepala dan acuh tak acuh seperti ini!

Arsa merasa seperti memukul kapas, amarah yang membara tidak memiliki tempat pelampiasan hingga membuat dadanya terasa sesak dan sakit.

"Baik." Dia menekan amarahnya dengan suara yang keras dan dingin, "Kalau begitu aku akan datang lagi besok."

"Besok juga jangan datang." Kirana menyela kalimatnya hampir seketika, "Aku besok harus pergi ke aula doa untuk berdoa dan membaca kitab suci seharian buat ayah."

"Kalau begitu lusa."

"Lusa juga tidak bisa, aku sudah janji dengan penjahit untuk mengejar pembuatan beberapa pakaian musim gugur."

"Tiga hari lagi!"

"Tiga hari lagi ... tubuhku sepertinya belum pulih." Kirana mengangkat pandangannya menatap Arsa, mengucapkan kata demi kata dengan sangat jelas, "Kamu, sebaiknya ... tidak usah datang lagi. Tempatku dingin dan diselimuti penyakit, sungguh tidak berani mengotori tubuhmu yang mulia. Karena kamu dan Maya saling mencintai, nantinya kamu bisa anggap aku tidak ada, tidak perlu memikirkan gengsi apa pun, bermalamlah di pekarangan Maya setiap hari, aku tidak akan ada penyesalan atau keluhan sedikit pun."

"Kamu!" Arsa benar-benar disulut kemarahan oleh perkataan Kirana, dadanya naik turun dengan hebat, badai yang menakutkan berkumpul di matanya, "Kirana! Kamu sengaja, tidak? Sisa hidup ini masih sangat panjang, apa kamu berencana terus mengusirku seperti ini seumur hidupmu? Sekarang Kediaman Panglima sudah hancur, kamu sudah tidak punya sandaran lagi, apa untungnya merajuk seperti ini ke aku?"

Kirana menatap alis dan mata Arsa yang tampan seperti dewa tapi kini dipenuhi ketajaman karena amarah, hatinya justru tenang tanpa penyesalan.

"Aku tidak lagi merajuk. Kamu suka Maya, kelak hidup rukun dan saling mencintai hingga beruban bersamanya saja. Aku ... akan tahu diri dan tidak akan ganggu kalian."

Arsa menatapnya lekat-lekat, seolah-olah baru pertama kali benar-benar mengenal wanita yang sudah dia nikahi selama lima tahun, tapi tidak pernah dia simpan di dalam hati ini.

Tatapan mata Kirana terlalu tenang, terlalu tenang hingga membuat hatinya gelisah, seolah-olah ada hal penting yang sedang menghilang dengan cepat di tempat yang tidak bisa dia lihat.

"Baik!" Arsa mengibaskan lengannya dengan keras, sosok punggungnya tampak kaku dipenuhi amarah yang membumbung tinggi, "Kirana, aku harap kamu mengingat kata-kata yang kamu ucapkan hari ini! Jangan menyesal!"

Pintu kamar dihempaskan olehnya dengan keras hingga menimbulkan suara yang menggelegar, menggetarkan debu di atas balok kayu hingga berjatuhan.

Kirana berdiri di tempat semula tanpa bergerak sedikit pun.

Baru setelah suara langkah kaki itu benar-benar menghilang di luar pekarangan, dia berjalan perlahan ke tepi meja lalu duduk, menuangkan secangkir teh yang sudah dingin untuk dirinya sendiri, lalu meminumnya perlahan.

Rasa dingin mengalir turun melewati tenggorokannya, membekukannya hingga dia sedikit menggigil.

Di luar jendela, samar-samar terdengar suara bisikan beberapa pelayan wanita yang sengaja dipelankan.

"Lihatlah, bertengkar lagi. Entah apa yang dipikirkan nyonya, padahal dari awal sudah tidak disukai oleh Tuan Arsa, sekarang keluarga orang tuanya juga sudah hancur, bukannya cari cara untuk merebut kembali hati Tuan Arsa, malah terus-menerus mengusirnya ...."

"Benar sekali, kalau menurutku kelak kediaman ini akan menjadi punya Nyonya Maya. Kita harus cepat-cepat cari cara untuk pindah dari pekarangan ini. Melayani majikan yang tidak punya masa depan, bisa dapat kejayaan apa?"

"Betul itu! Kamu lihat Nyonya Maya baru berapa hari masuk istana? Tuan Arsa sudah memanjakannya seperti mutiara di telapak tangan! Mutiara dari Laut Selatan, rempah-rempah dari Wilayah Barat, dikirim ke pekarangannya bagaikan air mengalir! Dengar-dengar kemarin bahkan sengaja mengundang pelayan dari istana untuk membuat masakan Josinga, hanya karena dia asal bicara bilang mau makan!"

"Sst! Pelankan suaramu! Nyonya belum tidur!"

"Takut apa? Dia sekarang saja tidak bisa melindungi dirinya sendiri, memangnya bisa lakukan apa sama kita? Kalau menurutku, cepat-cepat pergi jilat Nyonya Maya itu yang paling benar, siapa tahu masih bisa ikut menikmati keuntungan ...."

Suara-suara itu perlahan menjauh.

Kirana menggenggam cangkir teh yang dingin, ujung jarinya memucat, tapi wajahnya tetap tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

Baru setelah seekor burung merpati pos abu-abu mengepakkan sayapnya dan mematuk ambang jendela dengan lembut, dia berdiri lalu berjalan mendekat, melepas tabung bambu kecil yang terikat di kaki merpati, lalu membuka gulungan kertas di dalamnya.

Itu adalah surat dari ayah yang dikirim dari perbatasan.

Tulisannya berantakan, membawa rasa kasar dari angin dan pasir perbatasan.

[Nak, apa kamu baik-baik saja? Mengenai masalah bercerai, Ayah sudah memikirkannya berulang kali, tetap merasa tidak bisa dibenarkan. Hukum kekaisaran kita mengatur, kalau pihak pria tidak menulis surat cerai dan pihak wanita mengajukan cerai secara mandiri, wanita itu harus pergi ke Balai Pengadilan Kota untuk menerima hukuman berguling di atas papan paku! Peluang hidupnya sangat kecil dan rasa sakitnya tidak tertahankan! Ayah sangat menyesal, dulu tidak seharusnya menggunakan kekuasaan untuk menekan dan memaksa Arsa menikahimu hingga menyusahkanmu sampai seperti ini! Ayah berharap kamu berpikir lagi, jangan pernah impulsif! Ayah di perbatasan masih bisa melindungi diri sendiri, tidak usah khawatir.]

Hukuman berguling di atas papan paku ....

Kirana menatap kata-kata itu, ujung jarinya gemetar sedikit.

Namun, dia segera tenang kembali, mendekatkan kertas surat itu ke cahaya lilin, melihatnya menggulung sedikit demi sedikit, menghitam, lalu berubah menjadi abu.

Sakit yang tidak tertahankan?

Dia berpikir, sesakit apa pun, tidak akan lebih sakit daripada mencintai Arsa tapi melihat hati dan matanya hanya berisi orang lain.

Sesakit apa pun, tidak akan lebih sakit daripada melihat dengan mata kepala sendiri ayahnya difitnah dan dibuang ke pengasingan, sementara dirinya tidak memiliki jalan untuk memohon pertolongan.

Dia sudah memikirkannya dengan sangat matang.

Dia ingin bercerai!

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
24 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status