Arman tiba-tiba mendongak. "Kamu siapa?"Pria itu berpostur tegap, berperawakan lembut dan tampak terpelajar. "Halo, Pak Arman. Namaku Hendra, dokter rombongan kesenian ini, dan juga ... teman terdekat Ratna."Tatapan Hendra kepadanya sarat akan rasa jijik dan permusuhan, tetapi saat menatap Ratna, tatapannya begitu lembut dan penuh kasih.Bagaimana mungkin Arman tidak menyadari perasaan pria itu terhadap Ratna dan provokasi terang-terangannya?Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri dan menutupi keterpurukannya. "Ini urusan pribadiku dan Ratna. Dokter Hendra, meski teman dekat Ratna, tetap saja orang luar. Kurasa Dokter nggak berhak ikut campur."Hendra tersenyum tipis."Urusan pribadi yang Pak Arman maksud, adalah mengejar dan menghadang seseorang yang nggak ingin menemuimu, membuat keributan di tempat pertunjukan, memaksa orang lain, dan sama sekali nggak tahu diri?"Dia tersenyum, tetapi setiap katanya setajam pisau, menusuk Arman hingga tak sanggup membela diri.
Leer más