Usai berkata seperti itu, Ratna berbalik dan langsung melangkah pergi, tetapi tubuhnya menabrak dada bidang seseorang.Hendra tersenyum tipis di sudut bibirnya, mengambil alih barang bawaan dari tangan Ratna."Ayo jalan, waktunya mepet."Apa Hendra ... mendengar ucapannya barusan?Ratna terpaku, membiarkan Hendra menuntunnya naik ke mobil.Mobil melaju dengan tenang, Ratna saking gugupnya bahkan tak berani mengangkat kepala.Setelah menahan diri cukup lama, barulah dia berhasil mengeluarkan sepatah kata, "Dokter Hendra, kamu ... kamu datangnya kapan?"Suara Hendra terdengar lembut dan menenangkan."Semua yang kamu bilang tadi, aku udah denger."Napas Ratna tercekat. "Bukan, maksud aku bukan gitu ....""Justru itu maksudku."Hendra memotongnya, nadanya serius dan tulus."Aku ingin menjalin hubungan yang serius sama kamu. Hubungan yang tujuannya menikah, bukan sekadar iseng.""Ratna, aku tahu kamu pernah terluka. Tapi, aku beda dengan Arman. Aku sudah memutuskan buat milih kamu. Di hatik
Leer más