“Kenapa... kau melakukan ini, Razzaq?”Suara Aksa terdengar lirih, sarat ketidakpercayaan atas apa yang baru saja terjadi.Darah terus menetes dari luka sabetan di bahu kirinya. Tetes demi tetes jatuh ke lantai batu berukir di bawah kakinya, meninggalkan noda merah di antara pahatan kuno.Beberapa langkah di depannya, Razzaq berdiri tanpa sepatah kata. Sebilah Syamir hitam, senjata melengkung yang mereka temukan di ruang penyimpanan makam Raja Kiano, tergenggam erat di tangannya. Rajah merah di sepanjang bilahnya berdenyut perlahan, seolah hidup.“Jawab aku...” Suara Aksa kembali bergetar. “Kenapa kau melakukan ini pada sahabatmu sendiri?”Razzaq tetap diam. Aksa menatapnya lekat, berusaha menemukan sosok Razzaq yang selama ini dikenalnya. Namun tatapan itu terasa asing. Tidak ada keraguan, tidak pula penyesalan. Yang tersisa hanyalah sorot mata dingin tanpa belas kasihan.Ingatan Aksa seketika kembali pada kejadian beberapa saat sebelumnya, saat Razzaq memaksa ikut meski tahu tiga bu
Last Updated : 2026-08-09 Read more