แชร์

BAB 5 – Roh Pusaka

ผู้เขียน: R.G. Gotama
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-10 00:09:34

Suara itu menggema begitu jelas di dalam kepalanya hingga Aksa refleks bangkit sambil mengangkat katar di depan tubuhnya.

“Siapa...?”

Ia berputar sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, tetapi yang terlihat hanya bangkai Ghazzr beberapa langkah di depannya, pasir yang menghitam oleh darah, deretan pilar batu, pecahan dinding, serta lorong-lorong gelap yang tidak menunjukkan keberadaan siapa pun.

“Siapa lagi itu? Jawab!”

Bentakannya memantul di antara pilar sebelum perlahan menghilang tanpa balasan, membuat jemarinya semakin erat mencengkeram gagang katar sambil menunggu sesuatu muncul dari kegelapan.

Beberapa saat berlalu, tetapi tetap tidak ada siapa pun.

“Barusan aku jelas mendengarnya...”

Aksa melirik katar di tangannya lalu kembali mengamati sekeliling. Suara itu terlalu jelas untuk sekadar salah dengar, tetapi setelah pertarungan melawan Ghazzr dan kehilangan begitu banyak darah, ia mulai bertanya-tanya apakah kepalanya sedang mempermainkannya.

“Apa aku mulai berhalusinasi?”

Rasa nyeri yang masih menusuk rusuk dan perih dari luka sabetan di bahu kirinya membuat Aksa mengembuskan napas pelan sebelum menurunkan katar.

“Ah... akhirnya kau terbangun juga, Rongsokan Tua.”

Katar itu langsung terangkat kembali.

Aksa menoleh cepat, tetapi tidak melihat siapa pun.

“Oi, Orang Tua. Rupanya kau masih ada.”

Kening Aksa berkerut.

Dia bukan sedang bicara denganku?

“Masih suka memprovokasi orang, ya?” lanjut suara riang itu disertai tawa kecil. “Kukira setelah sekian lama, mulutmu akan berubah.”

“Cih. Puluhan tahun berlalu, cerewetmu juga tidak berkurang sedikit pun.”

Aksa mengenali suara berat itu.

Suara yang tadi berbicara dengannya di hamparan putih.

Keduanya saling mengenal?

Ia berjalan tertatih mengitari bangkai Ghazzr sambil memperhatikan setiap celah di antara pilar, langit-langit yang sebagian telah runtuh, hingga lorong-lorong gelap di sekelilingnya, tetapi tetap tidak menemukan siapa pun.

“Di mana kalian sebenarnya?”

Tak ada jawaban.

“Hm... lukamu cukup parah.”

Aksa menoleh ke bahu kirinya dan baru menyadari bahwa meski kain di sekitar luka masih basah oleh darah, alirannya sudah jauh berkurang dibanding sebelumnya.

“Tubuhmu mulai memulihkan diri.”

Memulihkan diri?

Aksa menyentuh tepian luka dengan hati-hati. Luka itu jelas belum menutup, tetapi darah yang sebelumnya terus mengalir kini hanya merembes sedikit demi sedikit.

Suara riang tadi kembali terkekeh.

“Masih ampuh juga rupanya kekuatanmu, Orang Tua.”

“Kalau dia berada lebih dekat denganku, pemulihannya akan jauh lebih cepat.”

“Oh?” Suara riang itu terdiam sesaat. “Kau masih di jari bocah keras kepala itu?”

Aksa langsung mengangkat kepala.

Jari?

“Ha! Kukira dia sudah lebih dulu menemukanmu.”

Menemukan apa? Siapa bocah yang mereka maksud?

Semakin lama mendengar percakapan itu, semakin banyak pertanyaan memenuhi kepala Aksa hingga akhirnya kesabarannya habis.

“Siapa kalian?! Apa maksud semua yang kalian katakan tadi?”

Hening beberapa saat.

“Cih... bocah ini sama galaknya dengan bocah keras kepala itu.”

Urat di pelipis Aksa terasa berdenyut.

“Kalau kau terus bicara seenaknya—”

Kalimatnya terputus ketika pandangan di hadapannya mendadak bergoyang dan kedua lututnya kehilangan tenaga hingga ia terpaksa menancapkan katar ke pasir sebagai tumpuan agar tidak langsung roboh.

“Hah... hah...”

Bintik-bintik hitam memenuhi pandangannya hingga deretan pilar di depan berubah kabur, sementara rasa lemas menjalar ke seluruh tubuh dan membuat kedua kakinya semakin sulit menopang berat badannya.

“Oi... Bocah! Jangan pingsan dulu. Aku baru saja bangun.”

“Hm. Dia hanya kehabisan tenaga.”

“Kau yakin dia baik-baik saja, Orang Tua?”

“Oh, dia baik-baik saja selama dia berhenti memaksakan diri.”

“Hah... syukurlah.”

Aksa masih berusaha mengatur napas ketika suara berat kembali terdengar.

“Tutup lukamu lebih dulu. Kalau tidak, darahmu akan terus keluar.”

Aksa memalingkan wajah ke bahu kirinya dan melihat darah masih merembes di antara sobekan pakaian.

Benar juga.

Ia meletakkan katar di atas pasir lalu mencoba merobek bagian bawah bajunya, tetapi kain yang telah kotor oleh debu, keringat, dan darah hanya meregang di antara jemarinya.

“Ngh...”

Aksa menggigit salah satu ujung kain lalu menarik sekuat tenaga.

Srett!

Setelah sobekan terbentuk, ia menariknya lagi hingga sepotong kain terlepas, kemudian melilitkannya ke bahu kiri dengan tangan yang masih gemetar.

“Ngh!”

Rasa perih langsung menusuk ketika kain menekan luka hingga simpul pertama terlepas dari jemarinya. Aksa mencoba sekali lagi dan kembali gagal, tetapi ia mengatupkan rahang lalu memaksa kedua tangannya bekerja sampai akhirnya pada percobaan ketiga kain itu berhasil diikat cukup erat.

Darah masih membasahi kain, tetapi setidaknya tidak lagi mengalir bebas.

“Dia gigih juga, ya.”

“Hm.”

“Itu karena ayahnya berpesan agar dia tidak pernah menyerah.”

Tangan Aksa yang hendak mengambil katar seketika berhenti.

Ayah?

“Benarkah?” Suara riang itu terdengar semakin tertarik. “Bocah yang menarik.”

Aksa perlahan mengangkat wajah.

Bagaimana mereka tahu ucapan Ayah?

Ia baru hendak bertanya ketika kepalanya mendadak berdenyut keras hingga tubuhnya kembali limbung dan terpaksa bersandar pada pilar batu di sampingnya.

“Agh...”

Napas Aksa kembali tidak teratur dan pandangannya mulai berputar, tetapi di tengah rasa pening itu sebuah suara lembut yang telah bertahun-tahun tidak didengarnya muncul dalam ingatan.

Jangan panik, Aksa...

Tarik napas...

Aksa memejamkan mata lalu menarik udara perlahan melalui hidung, menahan nyeri yang menusuk rusuk sebelum mengembuskannya sedikit demi sedikit.

Hembuskan perlahan...

Ia mengulanginya beberapa kali sampai napasnya tidak lagi sependek sebelumnya.

“Setidaknya...” Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “...aku belum mati.”

Aksa membiarkan punggungnya bersandar pada pilar yang dingin, tetapi semakin lama kedua kakinya terasa semakin berat dan cahaya di hadapannya mulai berbayang.

“Orang Tua...”

“Hm?”

“Sepertinya bocah itu benar-benar kehabisan tenaga.”

“Ya.”

“Menurutmu dia akan bertahan?”

Beberapa saat berlalu sebelum suara berat itu menjawab.

“Untuk sekarang dia masih bisa bertahan. Selebihnya tergantung pada dirinya.”

“Cih... jawabanmu selalu seperti itu.”

“Rongsokan Tua.”

“Apa?”

“Kau terlalu banyak bicara.”

Tawa riang langsung memenuhi kepala Aksa.

“Setidaknya aku tidak sekaku dirimu.”

Aksa masih mampu mendengar keduanya saling mengejek, tetapi suara mereka semakin lama terdengar semakin jauh, sementara pilar-pilar di hadapannya perlahan berubah menjadi bayangan kabur.

“...Oi, Bocah.”

Suara riang itu kembali terdengar, kali ini tanpa tawa.

Aksa mencoba mengangkat kepala.

“Kau pasti bisa.”

Aksa mencoba menjawab, tetapi bibirnya hanya bergerak tanpa mengeluarkan suara sementara tubuhnya semakin berat hingga perlahan miring ke samping.

BRUK!

Sisi tubuhnya menghantam pasir dan pandangannya langsung menggelap, sementara suara-suara di sekeliling terdengar semakin jauh hingga akhirnya hilang sama sekali.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dari Budak Hina Menjadi Penakluk Gurun   BAB 7 - Makam Runtuh

    Seluruh makam kembali berguncang hebat hingga Aksa harus meregangkan kedua kakinya agar tidak kehilangan keseimbangan, sementara debu dan serpihan batu terus berjatuhan dari langit-langit dan membuat pandangannya hanya mampu menembus beberapa langkah ke depan.Di tengah kepulan debu itu, cahaya keemasan yang tadi sempat dilihatnya masih berkilau tidak jauh dari tempatnya berdiri. Aksa memicingkan mata untuk melihatnya lebih jelas dan entah kenapa warna cahaya tersebut langsung mengingatkannya pada sepasang mata keemasan lelaki tua yang baru saja ditemuinya di Myrt’al.Jangan-jangan itu...“Ambil benda itu. Kita tidak punya banyak waktu.”Suara berat yang dikenalnya membuat Aksa semakin yakin bahwa cahaya tersebut bukan sesuatu yang kebetulan berada di sana.Jadi benar...“Cih! Orang Tua ini...” Suara riang Kirlén segera menyela sebelum Aksa sempat bergerak. “Masih saja bilang ‘benda itu’. Bilang saja cincin. Dasar sok misterius.”Cincin?Aksa belum sempat mencerna ucapan itu ketika su

  • Dari Budak Hina Menjadi Penakluk Gurun   BAB 6 - Myrt'all

    Perlahan Aksa membuka mata dan mendapati hamparan putih tanpa batas kembali mengelilinginya. “Tempat ini lagi...” bisiknya pelan. Aksa baru hendak melangkah ketika butiran pasir bermunculan dari udara kosong beberapa langkah di hadapannya dan berputar semakin cepat hingga membentuk pusaran yang terus meninggi. Ia menahan napas ketika pasir itu perlahan menyusun sepasang kaki, tubuh, kedua lengan, hingga akhirnya membentuk sosok lelaki tua berjanggut panjang yang melayang beberapa jengkal di atas permukaan putih. Tubuhnya menyerupai manusia, tetapi butiran pasir terus mengalir di balik jubahnya, runtuh dari ujung lengan lalu kembali menyatu. Rambut dan janggut putihnya bergerak meski Aksa tidak merasakan embusan angin, sementara sebuah tongkat kayu tua tergenggam di tangan kanannya. Namun perhatian Aksa berhenti pada sepasang mata keemasan lelaki tua itu. Tatapannya begitu tenang hingga entah kenapa ia merasa sedang berdiri di hadapan seseorang yang telah hidup jauh lebih lama d

  • Dari Budak Hina Menjadi Penakluk Gurun   BAB 5 – Roh Pusaka

    Suara itu menggema begitu jelas di dalam kepalanya hingga Aksa refleks bangkit sambil mengangkat katar di depan tubuhnya.“Siapa...?”Ia berputar sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, tetapi yang terlihat hanya bangkai Ghazzr beberapa langkah di depannya, pasir yang menghitam oleh darah, deretan pilar batu, pecahan dinding, serta lorong-lorong gelap yang tidak menunjukkan keberadaan siapa pun.“Siapa lagi itu? Jawab!”Bentakannya memantul di antara pilar sebelum perlahan menghilang tanpa balasan, membuat jemarinya semakin erat mencengkeram gagang katar sambil menunggu sesuatu muncul dari kegelapan.Beberapa saat berlalu, tetapi tetap tidak ada siapa pun.“Barusan aku jelas mendengarnya...”Aksa melirik katar di tangannya lalu kembali mengamati sekeliling. Suara itu terlalu jelas untuk sekadar salah dengar, tetapi setelah pertarungan melawan Ghazzr dan kehilangan begitu banyak darah, ia mulai bertanya-tanya apakah kepalanya sedang mempermainkannya.“Apa aku mulai berhalusina

  • Dari Budak Hina Menjadi Penakluk Gurun   BAB 4 – Monster Ghazzr

    Tubuh makhluk itu panjang dan masif seperti batang pohon tua, seluruh permukaannya tertutup sisik cokelat kusam yang begitu menyatu dengan pasir hingga Aksa baru benar-benar melihat bentuknya setelah butiran-butiran yang menempel di tubuh itu luruh satu per satu.Kepalanya melebar di bagian belakang dengan moncong meruncing seperti mata panah, sementara sepasang mata kuning pucat menatap Aksa tanpa berkedip.“Hssss...”Aksa menahan napas ketika makhluk itu mendekatkan kepala dan mengembuskan udara panas ke wajahnya, membawa bau anyir darah dan daging busuk yang begitu menyengat hingga isi perutnya terasa naik ke tenggorokan.Tepat di bawah lehernya tumbuh sepasang kaki depan pendek namun tebal, dengan telapak lebar dan empat cakar hitam melengkung yang mencengkeram pasir kuat-kuat.“Ngh...!”Aksa berusaha menarik salah satu lengannya dari lilitan tubuh makhluk itu, tetapi gerakannya justru membuat tekanan di dada dan pinggang semakin kuat.Krekk...Rasa nyeri tajam langsung menusuk ru

  • Dari Budak Hina Menjadi Penakluk Gurun   BAB 3 – Jangan Menyerah!

    Aksa mundur selangkah ketika retakan di bawah kakinya kembali berbunyi dan garis tipis yang semula hanya membelah pasir terus memanjang melewati bukit-bukit di kejauhan, tetapi saat ia berputar mencari tempat yang masih aman, retakan lain justru bermunculan ke segala arah hingga seluruh hamparan gurun seperti sedang terbelah.“Apa lagi ini...?”KRAAAKK!!Suara retakan yang jauh lebih keras mengguncang seluruh gurun. Bukit-bukit pasir di hadapannya pecah lebih dulu, disusul langit dan matahari yang ikut retak sebelum semuanya runtuh menjadi serpihan-serpihan putih, bahkan burung pemangsa yang tadi masih terbang di kejauhan ikut lenyap bersama dunia yang baru saja mengelilinginya.Aksa refleks mengangkat kedua tangan untuk melindungi wajah, tetapi gerakannya terhenti ketika melihat telapak tangannya sendiri yang kini kasar, penuh kapalan dan bekas luka. Ranting kayu yang tadi digenggamnya telah lenyap, begitu juga tubuh kecil dan pakaian masa kanaknya, berganti dengan tubuh serta pakaia

  • Dari Budak Hina Menjadi Penakluk Gurun   BAB 2 – Aku Ingin Menjadi Penakluk Gurun!

    “Hei, Monster Pasir! Kau tidak akan bisa mengalahkanku!”“Hyaattt!”Suara riangnya menggema di antara bukit-bukit pasir. Ia mengayunkan sebatang ranting kayu ke segala arah, sibuk bertarung melawan monster khayalannya."Rasakan ini… Aku akan tebas lehermu!""Ciiiaattt!"Ranting kayu di tangannya membelah udara."Kena!""Hahaha..."Ia mengangkat ranting kayunya tinggi-tinggi."Akhirnya!""Aku menjadi Penakluk Gurun!"Tepat setelah itu, sebuah bayangan besar melintas di atas tubuhnya.Ia spontan mendongak.Seekor burung pemangsa sedang berputar rendah di langit. Rentang kedua sayapnya begitu lebar hingga setiap kali melintas, bayangannya menyapu hamparan pasir di bawah."Wah... besar sekali."Burung itu terus berputar rendah di langit, seolah sedang mengawasi sesuatu."Aksa."Mendengar namanya dipanggil, Aksa langsung menoleh dan melihat Ayah berada di atas bukit pasir sambil menunggangi seekor K'luk yang mendengus pelan sebelum mengibaskan ekornya.Wajah Aksa langsung berseri ketika me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status