Langkah kakiku terdengar mantap di atas lantai marmer halaman depan rumah ini. Bangunan megah bergaya Eropa klasik ini adalah milik keluarga Aristha—atau lebih tepatnya, peninggalan dari almarhumah ibu kandung Clara.Namun, sejak ibu kandung Clara meninggal tiga tahun lalu, tempat ini berubah menjadi neraka dingin bagi pemilik aslinya. Ibu tiri Clara, Helena, bersama anaknya, Olivia, perlahan-lahan menguasai seluruh isi rumah. Mereka memperlakukan Clara tak ubahnya pelayan berstatus putri pemilik rumah. Pakaian bekas, kamar paling pojok yang lembap dekat area jemuran, serta uang saku yang selalu dipotong seenaknya menjadi makanan sehari-hari Clara.Aku berhenti sejenak di depan pintu jati berukir tinggi itu, lalu menatap bayangan diriku pada pantulan kaca pintu. Rambut yang masih agak basah dan lengket akibat siraman sirup di pesta tadi, pakaian yang terlalu besar, serta kacamata yang sudah bersarang di dalam saku jas Devan."Rambut berantakan, baju seperti karung beras,
Última actualización : 2026-08-09 Leer más