INICIAR SESIÓNZara, cewek gaul yang tidak pernah mau diinjak orang, mati konyol akibat tersedak boba. Bukannya pergi ke alam baka, jiwanya justru masuk ke dalam tubuh Clara—cewek sembilan belas tahun yang polos, penakut, dan selalu ditindas oleh ibu tiri, saudara tiri, serta pacar racunnya. Semua orang mengira Clara akan terus menangis dan pasrah. Namun saat mereka mencoba merundungnya lagi, Clara yang sekarang tidak ragu membalas dengan gertakan tajam, kecerdasan, dan ketenangan ala cewek pemberani. "Kalian pikir aku masih cewek penakut yang mudah dimanfaatkan? Maaf, seleraku bukan barang bekas!" Di tengah aksinya merebut kembali hak serta hartanya, perubahan drastis Clara justru menarik perhatian Adrian Vane—CEO dingin yang paling ditakuti dan disegani di kota. Adrian yang tadinya ingin membatalkan perjodohan mereka, kini justru makin penasaran dengan sosok Clara yang baru.
Ver másDingin, lengket, dan beraroma sirup manis yang sangat pekat.
Aku mengedipkan mata beberapa kali, merasakan cairan lengket merembes dari atas kepala, mengalir melewati dahi, lalu membasahi kacamata tebal yang kupakai. Tenggorokanku gatal luar biasa. Momen terakhir yang kuingat sebelum semuanya gelap hanya satu: aku—Zara—sedang tersedak boba di dalam mobil saat macet parah. Harusnya aku sudah meninggal saat itu. Namun begitu mengusap wajah dengan telapak tangan, pandanganku bukannya tertuju pada jalanan kota, melainkan pada lantai marmer mengilap dan deretan sepatu mahal di sekelilingku. "Clara! Kamu dengar tidak, sih?! Kenapa kamu berani-beraninya menatap Kak Olivia seperti itu?!" Suara melengking itu membuat telingaku berdenging seketika. Di depanku, berdiri seorang cewek bergaun merah ketat dengan riasan tebal. Tangannya memegang gelas kaca kosong yang baru saja dipakai untuk menyiram kepalaku. Di samping cewek itu, berdiri seorang cowok bersetelan jas mahal yang menatapku dengan ekspresi jijik. Tiba-tiba, ingatan asing mendadak masuk ke dalam kepalaku. Clara. Cewek sembilan belas tahun yang sangat polos dan penakut. Dia anak tunggal dari pemilik asli harta keluarga Aristha. Namun semenjak ibunya meninggal tiga tahun lalu, hidupnya berubah menjadi seperti di neraka. Dia diperlakukan tak ubahnya pelayan di rumah sendiri oleh ibu tiri dan saudara tirinya—Olivia, cewek bergaun merah ini. Sedangkan cowok di sebelahnya bernama Devan. Pacar toxic Clara yang baru saja ketahuan selingkuh dengan Olivia di area VIP pesta malam ini. Jika ini Clara yang asli, saat ini dia pasti sudah menunduk, menangis gemetaran, lalu meminta maaf padahal dialah korban di sini. Tapi sayangnya... yang mendiami tubuh ini sekarang adalah Zara. Cewek yang sejak dulu paling tidak suka diinjak-injak oleh orang lain. Aku mengusap pipi dengan ujung jari, lalu membetulkan letak kacamata tebal yang merosot di hidung. Mataku menatap wajah Olivia dengan datar. Melihatku tenang, Olivia bukannya merasa bersalah, malah makin emosi. "Punya mata dipakai, Clara! Kenapa menatapku seperti itu?! Kamu sengaja mau membuatku dan Devan malu di depan umum, ya?!" "Olivia, sudah..." Devan melangkah maju, berpura-pura menjadi pahlawan. Muka cowok itu kelihatan sangat jijik melihatku. "Clara, kamu jangan makin membuat malu. Dari awal aku mau pacaran denganmu itu cuma karena kasihan. Kamu tuh membosankan, kusam, dan sama sekali tidak ada menariknya dibanding Olivia. Sekarang kamu malah membuat keributan di pesta ini?" Aku diam saja, sibuk mengumpulkan fakta. Orang-orang di aula pesta yang tadinya sibuk mengobrol mulai menoleh. Mereka berbisik-bisik sambil menertawakanku. Bagi orang-orang kaya di sini, Clara memang hanya bahan cemoohan yang mudah dihina. Aku mengembuskan napas panjang, lalu terkekeh pelan. Tawa pendek itu terdengar sangat jelas di tengah heningnya ruangan. Olivia dan Devan langsung membelalak, bingung melihat reaksiku yang sama sekali tidak sesuai dengan dugaan mereka. "Kenapa kamu tertawa?" Olivia melotot. "Kamu gila, ya?!" Emosi yang memuncak membuat Olivia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Dia berniat melayangkan tamparan keras ke wajahku untuk memuaskan egonya. Namun sebelum telapak tangannya menyentuh pipiku, tanganku bergerak lebih cepat. Greb! Aku mengunci pergelangan tangan Olivia di udara. Cengkeramanku kencang, memotong ayunan tangannya secara instan. "A-apa-apaan ini?!" Olivia meringis kaget. Dia mencoba menarik tangannya kembali, tapi cengkeramanku makin mengunci. Aku memajukan wajahku sedikit, menatap matanya dengan tajam dari balik kacamata tebal yang kotor. "Bicara yang sopan, Olivia. Suaramu bising, membuat telingaku sakit." "Clara! Lepaskan tangan Olivia!" Devan membentakku sambil melangkah maju hendak mendorong bahuku. Tanpa menoleh ke arah Devan, tangan kiriku mengibas kasar, menepis tangan Devan sebelum sempat menyentuh bajuku. "Jangan sentuh aku," kataku dingin. Suaraku tidak tinggi, tapi ancamannya terasa sangat jelas. "Pakaianku memang lengket kena sirup, tapi setidaknya bajuku tidak sebau kelakuan kalian berdua." Devan membeku di tempat. Wajahnya syok berat. Dia tidak pernah melihat Clara yang biasanya penakut dan hobi menunduk bisa berbicara dengan nada sesantai dan sedingin ini. "Kamu..." Olivia meringis, wajahnya pucat karena pergelangan tangannya mulai ngilu. "Clara, lepaskan! Sakit!" Aku menghempaskan tangannya dengan kasar sampai Olivia terhuyung ke belakang. Untung saja Devan cepat menahan pinggangnya. "Devan," panggilku sambil melangkah maju satu langkah. Devan refleks menahan napas, dadanya membusung mencoba menutupi rasa gugupnya. "A-apa? Kamu mau minta maaf sekarang?" Aku tersenyum tipis. Senyuman sinis yang membuat Devan mendadak merinding. "Mulai detik ini, kita putus," kataku tanpa ragu sedikit pun. "Dan buat kamu, Olivia... terima kasih sudah menampung sampah dari hidupku. Seleramu ternyata memang sekelas barang bekas." "Clara Aristha!" jerit Devan, wajahnya memerah padam karena merasa harga dirinya diinjak-injak di depan banyak orang. "Maksudmu apa, hah?! Siapa yang barang bekas?! Kamu tuh cuma cewek kusam yang tidak berguna!" Aku tidak sudi melayani bentakan Devan lagi. Dengan santai, aku melepas kacamata tebal yang kotor ini. Sudah buram, tidak ada gunanya lagi. Sambil melangkah maju, aku menyelipkan gagang kacamata kotor itu tepat di kantong jas bagian depan milik Devan. Aku menepuk-nepuk bahu jasnya dua kali, seolah-olah sedang membersihkan debu. "Simpan kacamata ini. Biar kamu bisa bercermin dan sadar diri," bisikku tepat di telinganya. Seketika, seluruh aula pesta hening total. Orang-orang yang tadinya berbisik-bisik langsung bungkam. Mereka melongo melihat cewek yang selama ini dianggap paling lemah dan penakut, baru saja meratakan pasangan selingkuh itu tanpa perlu emosi meledak-ledak. Di balkon lantai dua yang remang-remang, seorang cowok berjas mahal berdiri sambil memegang gelas minumannya. Adrian—CEO muda paling berkuasa di kota ini—melanjutkan tegukan minumannya. Matanya yang tajam mengawasi dari atas sejak awal keributan. "Tuan Adrian," bisik asistennya di samping. "Bukankah itu... Nona Clara? Cewek yang dijodohkan dengan Anda?" Adrian tidak langsung menjawab. Matanya tetap mengawasi cewek di bawah sana yang sekarang sibuk merapikan rambut basahnya dengan jari tangan, sama sekali tidak peduli pada ratusan mata yang memperhatikannya. Aura cewek itu berubah total. Tidak ada lagi tubuh bungkuk penakut atau tatapan mata yang selalu gelisah. Yang berdiri di sana sekarang adalah cewek yang sangat tenang, namun memancarkan bahaya yang nyata. Bibir Adrian tertarik tipis. "Menarik," gumam Adrian pelan. "Sejak kapan kelinci penakut itu berubah jadi kucing yang tahu cara mencakar?" Di bawah sana, aku tidak peduli pada siapa pun lagi. Aku membalikkan badan, membusungkan dada, lalu berjalan santai menembus kerumunan orang yang langsung memberikanku jalan. Malam ini baru pemanasan. Sekarang waktunya aku pulang ke rumah keluarga Aristha dan membereskan dua benalu lainnya.Pagi hari di kantor pusat Aristha Group diwarnai oleh ketegangan yang tertahan. Berita tentang masuknya Blackwood Capital ke dalam jajaran pemegang saham minoritas sudah menyebar luas di kalangan pimpinan divisi.Di ruang rapat eksekutif lantai teratas, para anggota dewan komisaris sudah berkumpul.Di ujung meja, duduk Helena dengan pakaian serba hitam yang mewah, dilapisi perhiasan emas tebal di leher dan jemarinya. Wajahnya yang dulu terpukul saat diusir kini terpoles penuh percaya diri, menyunggingkan senyuman culas seolah-olah dia telah merebut kembali takhtanya.Di samping Helena, duduk pengacara pribadinya yang membawa tumpukan dokumen legalitas kepemilikan saham.Klek.Pintu rapat terbuka lebar.Aku melangkah masuk dengan balutan blazer suit warna merah marun yang pas di tubuh, dipadu dengan sepatu high heels hitam yang berdentang tegas di atas lantai granit. Di sampingku, Adrian melangkah mendampingi. Kehadiran sosok CEO Vane Group yang tinggi tegap dan berwajah dingin itu lan
Penandatanganan megakontrak bernilai lima puluh triliun rupiah di Istana Al-Mansoor berjalan tanpa hambatan. Keberhasilanku membungkam Sheikh Rashid membuat nama Aristha Group makin berkibar di kancah bisnis internasional. Keesokan harinya, jet pribadi Vane Group meluncur membelah awan menuju Jakarta. Setelah perjalanan udara yang cukup panjang dan melelahkan, kami akhirnya mendarat di apron VIP Bandara Soekarno-Hatta. Udara hangat khas Jakarta menyambut saat aku dan Adrian melangkah keluar dari pintu pesawat. "Akhirnya kembali ke rumah," gumamku sambil merapikan blazer hitam bergaris emas yang kupakai. Adrian melangkah di sampingku, tangannya melingkar posesif di pinggangku seperti biasa. "Istirahatlah dulu malam ini. Persiapan pernikahan kita sudah mencapai delapan puluh persen, dan kau tidak boleh tampak lelah saat memilih gaun pengantin besok." Aku terkekeh renyah, menyunggingkan senyuman miring yang menawan. "Tuan Vane, cewek yang baru saja melibas Sheikh Rashid di Dubai ti
Kata-kata Sheikh Rashid yang sarat akan prasangka dan meremehkan bergema dingin di tengah aula megah Istana Al-Mansoor. Keheningan pekat seketika menyelimuti para tamu VIP.Pangeran Malik mengernyitkan alis, hendak melangkah maju untuk memotong ucapan pamannya. "Paman Rashid, reputasi Aristha Group dan kualifikasi Clara sudah—""Biarkan saya yang menjawab, Pangeran Malik," potongku tenang namun tegas.Aku melangkah maju dua tapak, berdiri tegap tepat di hadapan Sheikh Rashid. Tidak ada ketakutan, rasa ragu, apalagi rasa minder di dalam mataku. Senyuman miring yang anggun dan sarat akan dominasi terukir indah di bibirku."Sheikh Rashid," kataku dengan suara jernih yang memantul di pilar-pilar marmer istana. "Tradisi dan usia memang membawa kearifan. Tapi di dunia pasar modal dan logistik global modern, yang menentukan keberhasilan bukanlah jenis kelamin atau berapa lama seseorang memegang takhta... melainkan angka, kecepatan, dan efisiensi."Sheikh Rashid memicing
Malam gala dinner di Istana Al-Mansoor berlangsung di sebuah aula megah berarsitektur Timur Tengah klasik. Pilar-pilar marmer putih dihiasi ukiran emas tipis, sementara pendar lampu kristal gantung memantulkan kemewahan kelas atas yang tiada tanding.Aku melangkah masuk ke dalam aula istana berdampingan dengan Adrian.Malam ini aku mengenakan gaun malam black satin berpotongan tegas yang dipadu dengan selendang emas tipis bertekstur modern. Perhiasan berlian simpel melingkar di leherku, menegaskan aura keanggunan seorang pemimpin wanita berkelas. Di sampingku, Adrian tampil sangat gagah dengan setelan tuxedo hitam khas bangsawan, tatapannya dingin dan tajam mengawasi sekeliling.Kehadiran kami langsung menarik perhatian para tamu VIP—terdiri dari para pengusaha minyak, diplomat internasional, dan anggota keluarga kerajaan Dubai."Direktur Clara, Tuan Adrian... selamat datang," sapa Pangeran Malik yang melangkah menghampiri kami.Malam ini Pangeran Malik mengenaka
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.