แชร์

Bab 7 : Perangkap Media

ผู้เขียน: PengenJadiCEO
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-09 22:44:50

Pagi hari berikutnya, suasana kota mendadak dihebohkan oleh satu berita utama yang diunggah oleh belasan portal media gosip ternama.

Foto-fotonya terpasang di halaman depan. Foto diriku dari masa lalu—dengan kacamata tebal, tubuh membungkuk, dan pakaian lusuh—disandingkan dengan fotoku saat keluar dari toko busana mewah kemarin.

Judul beritanya dibuat sangat provokatif:

"Sisi Gelap Calon Tunangan CEO Adrian Vane: Alami Gangguan Jiwa, Siksa Ibu Tiri, dan Tega Depak Saudara Sendiri demi Harta!"

Di dalam artikel tersebut, ada wawancara singkat bersama Helena yang berpura-pura menangis tersedu-sedu, serta kutipan pernyataan dari Devan yang mengaku sebagai "korban penganiayaan mental" dan tuduhan bahwa aku mengancam akan membakar rumah mereka.

Di dalam kamar utama, aku duduk di sofa sambil membaca artikel-artikel itu melalui tablet. Mbak Rini berdiri di sampingku dengan wajah cemas dan tangan gemetaran.

"N-Nona Clara..." suara Mbak Rini bergetar. "Di luar pagar rumah... banyak sekali wartawan yang berkumpul. Nyonya Helena dan Nona Olivia sedang menyambut mereka di halaman depan..."

Aku meletakkan tablet ke meja, lalu menyandarkan tubuhku santai. Sebuah tawa renyah keluar dari bibirku.

"Serangan yang sangat amatir," gumamku sambil menggelengkan kepala. "Main media gosip? Devan dan Helena benar-benar tidak punya modal lain selain drama murahan."

"Nona tidak takut?" tanya Mbak Rini bingung melihat reaksimu yang sama sekali tidak panik.

"Takut pada dua benalu yang sedang menggali kuburan mereka sendiri?" Aku berdiri dari sofa, merapikan setelan blazer hijau zamrud (emerald green) yang kupakai pagi ini. "Mbak Rini, tolong bukakan pintu gerbang lebar-lebar. Biarkan semua media itu masuk ke halaman."

Mbak Rini membelalak kaget. "T-tapi Nona, mereka pasti akan mencecar Nona!"

"Justru itu tujuannya," kataku sambil tersenyum manis. "Panggungnya sudah disiapkan oleh Helena. Sayang sekali kalau pemeran utamanya tidak tampil."

Di halaman depan rumah keluarga Aristha, puluhan kilatan kamera dan mikrofon media sudah mengelilingi Helena dan Olivia.

Helena tampil memprihatinkan dengan mata sembap yang dipoles sedikit riasan pucat, sementara Olivia mengusap pergelangan tangannya seolah-olah masih sakit akibat perbuatanku.

"Saya... saya tidak menyangka Clara berubah seradikal ini," tangis Helena terisak di depan kamera. "Sejak berkenalan dengan pergaulan luar, dia jadi sering mengamuk, mengancam kami, dan menguasai harta peninggalan almarhumah ibunya sendiri. Kami hanya ingin Clara sembuh..."

para wartawan sibuk mencatat dan mengambil gambar, haus akan skandal besar yang melibatkan calon tunangan keluarga Vane.

Klek.

Pintu utama rumah terbuka lebar.

Semua kamera dan perhatian wartawan mendadak teralih sepenuhnya ke arah pintu. Aku melangkah keluar dengan anggun, berjalan menuruni anak tangga semen satu per satu. Postur tubuhku tegap, tatapanku tenang, dan senyuman tipis yang sangat percaya diri terukir di wajahku.

Para wartawan langsung berebutan maju melompati barisan, mengarahkan mikrofon ke arahku.

"Nona Clara! Apakah benar Anda menganiaya ibu tiri dan saudara Anda?!"

"Bagaimana tanggapan Anda mengenai tuduhan gangguan jiwa ini?!"

"Apakah ini alasan Anda mendadak memutuskan hubungan dengan saudara Devan?!"

Helena dan Olivia yang berdiri di samping kamera bertukar pandang dengan senyum kemenangan tersembunyi. Mereka mengira aku akan panik, menangis, atau mengamuk di depan media—yang justru akan membuktikan kebenaran berita bohong itu.

Tapi aku hanya berdiri tenang di hadapan puluhan kamera yang menyala.

"Selamat pagi, Rekan-rekan Media," kataku dengan suara yang sangat tenang dan jelas, sama sekali tidak ada rasa getar atau gugup. "Saya sangat berterima kasih karena kalian sudah berkumpul di sini. Karena hari ini... saya memang berniat mengadakan konferensi pers mendadak."

Para wartawan saling berbisik, kaget melihat ketenanganku.

"Soal tuduhan penganiayaan dan gangguan jiwa yang dilontarkan oleh Tante Helena dan saudara Devan..." Aku mengambil sebuah flashdisk kecil dari saku blazer-ku dan mengacungkannya ke udara. "...semua tuduhan itu adalah kebohongan yang sangat tidak berdasar."

"Bohong apa, Clara?!" potong Helena teriak dengan suara gemetar, pura-pura histeris. "Kamu jelas-jelas mengancam Mama dan menyiram Olivia!"

Aku menoleh ke arah Helena, menatapnya dengan tatapan kasihan.

"Tante Helena," kataku lantang agar terdengar ke seluruh mikrofon wartawan. "Di dalam flashdisk ini, terdapat rekaman kamera pengawas (CCTV) lengkap dari area VIP pesta dua hari lalu. Rekaman yang memperlihatkan bagaimana putri Tante, Olivia, dan Devan sedang berselingkuh di toilet VIP, lalu menyiram kepalaku dengan sirup saat aku memergoki mereka."

Seketika, riuh bisik-bisik wartawan pecah! Kamera-kamera langsung menyorot wajah Olivia yang mendadak pucat pasi bagaikan mayat.

"T-tidak! Itu bohong!" jerit Olivia histeris, wajahnya memerah padam.

"Bukan cuma itu," lanjutku tanpa memberi mereka napas. "Di dalam flashdisk ini juga ada bukti audit rekaman transaksi keuangan selama tiga tahun terakhir. Menunjukkan bagaimana Tante Helena memindahkan dana operasional rumah tangga peninggalan almarhumah ibuku ke rekening pribadinya sebesar belasan miliar rupiah untuk membiayai gaya hidup mewahnya."

Para wartawan makin menggila! Muka Helena berubah menjadi benar-benar pucat, dadanya naik turun karena serangan panik yang sangat hebat.

"Lalu mengenai kesehatan jiwaku..." Aku tersenyum tipis, merapikan kerah blazer-ku. "...pengacara pribadi keluarga Vane baru saja mendaftarkan gugatan hukum atas pencemaran nama baik, penggelapan aset, dan fitnah terencana terhadap Helena dan Devan pagi ini."

Belum sempat para wartawan mencerna kejutan besar itu, suara sirene dan rombongan mobil hitam mewah mendadak berhenti tepat di depan gerbang rumah.

Dua mobil polisi mengawal sebuah sedan hitam berpelat nomor VIP.

Pintu sedan hitam itu terbuka. Adrian Vane melangkah keluar dengan setelan jas hitamnya yang sangat dominan. Di belakangnya, lima orang pria berjas rapi yang merupakan tim pengacara hukum paling menakutkan di kota ini berjalan mengiringinya.

Kehadiran Adrian membuat seluruh media bungkam seketika. Atmosfer di halaman rumah berubah menjadi sangat menekan dan tegang.

Adrian melangkah menaiki anak tangga rumah, mengabaikan semua kamera wartawan, dan berdiri tepat di sampingku. Pria tinggi itu merengkuh pinggangku secara protektif di depan seluruh kamera media yang merekam secara langsung.

Adrian menatap tajam ke arah kamera dan para wartawan dengan pandangan dingin yang membekukan.

"Siapa pun yang berani menyebarkan rumor palsu atau menyentuh tunanganku..." suara Adrian bergetar rendah di udara, penuh ancaman yang tidak main-main. "...akan berhadapan langsung dengan seluruh tim hukum Vane Group. Dan bagi pihak yang memulai fitnah ini... siap-siap menerima surat panggilan dari kepolisian siang ini."

Tatapan tajam Adrian beralih sebentar ke arah Helena dan Olivia yang kini terduduk lemas di lantai marmer teras.

Aku menoleh pada Adrian, menyunggingkan senyum tipis. "Anda datang tepat waktu, Tuan Adrian."

Adrian menunduk sedikit, berbisik di telingaku dengan suara yang hanya bisa kudengar. "Tentu saja. Mana mungkin aku melewatkan tontonan saat kucingku sedang menghancurkan musuhnya secara elegan?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pembalasan Dendam Gadis Lugu   Bab 53 : Welcome to tokyo

    Penerbangan sembilan jam menyeberangi Samudra Pasifik membawa jet pribadi Vane Group mendarat mulus di apron VIP Bandara Haneda, Tokyo. Udara malam musim gugur yang dingin dan basah oleh sisa hujan menyambut kami begitu pintu jet dibuka.Konvoi enam mobil Lexus LM Royal Lounge warna hitam mengkilap sudah berjejer rapi di samping pesawat.Aku melangkah turun dari tangga jet dengan keanggunan mutlak. Malam ini aku mengenakan kimono-inspired trench coat warna hitam pekat berbahan wol premium dipadu dengan high heels lima inci. Di sampingku, Adrian berdiri tegap dengan mantel panjang bergaris abu-abu gelap, tangannya melingkar posesif di pinggangku, melindungiku dan Luka yang berada aman di dalam dekapan pengasuh senior di mobil belakang.Mobil membawa kami membelah gemerlap lampu neon distrik Ginza menuju Aman Tokyo—hotel paling eksklusif di mana dua lantai teratasnya telah disewa penuh oleh Vane Group untuk satu bulan ke depan.Di dalam presidential suite berdinding kayu hinoki dan kaca

  • Pembalasan Dendam Gadis Lugu   Bab 52 : Jejak gelap

    Kemenangan mutlak Vane-Aristha Group di bursa Wall Street mengguncang peta kekuatan industri teknologi global. Kekalahan dramatis Marcus Vance di hadapan komite perdagangan New York tidak hanya mempermalukan konsorsium Amerika tersebut, tetapi juga memicu efek domino yang menghancurkan. Saham Vance Global merosot tajam sebesar dua belas persen dalam satu hari perdagangan, sementara saham gabungan Vane-Aristha melesat naik mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah bursa internasional.Namun, di jajaran tertinggi persaingan bisnis tingkat dunia, kemenangan di atas kertas saham hanyalah babak awal dari pertempuran yang jauh lebih kompleks.Pagi itu, jet pribadi Vane Group membelah lautan awan menuju pantai barat Amerika Serikat. Tujuan kami adalah San Francisco, California—pusat dari jantung teknologi dunia, Silicon Valley.Di dalam presidential penthouse suite Hotel St. Regis San Francisco yang menghadap langsung ke panorama jembatan Golden Gate, suasana terasa amat hangat namun tetap

  • Pembalasan Dendam Gadis Lugu   Bab 51 : Perang dingin

    Penerbangan lintas Pasifik menuju New York berlangsung dalam atmosfer yang tenang namun sarat dengan kalkulasi strategi tingkat tinggi. Di dalam kabin VIP jet pribadi Vane Group yang kedap suara, barisan layar monitor menampilkan grafik pergerakan saham bursa Wall Street yang bergerak dinamis.Luka tidur lelap di dalam baby crib portabel berlapis beludru di sudut kabin, dijaga penuh oleh perawat senior dan sistem pengamanan internal yang luar biasa ketat.Aku duduk di hadapan meja kerja marmer ramping. Pakaian santai selama penerbangan telah berganti menjadi tailored blazer dress warna merah anggur berpotongan tegas, dipadu dengan selendang sutra hitam. Rambut hitamku disanggul modern dengan aksen klip berlian ramping, memancarkan aura keanggunan mutlak seorang pemimpin tertinggi korporasi.Klek.Adrian melangkah mendekat dari area istirahat. Pria tegap itu telah mengenakan setelan jas tuxedo kustomisasi hitam bergaris perak yang memancarkan wibawa dingin tak tersentuh. Dia melangkah

  • Pembalasan Dendam Gadis Lugu   Bab 50 : Bayangan baru

    Keberhasilan membungkam The Grand Council di Zurich menegaskan dominasi mutlak Vane-Aristha Group di pasar Eropa dan Asia Tenggara. Penggabungan dua dinasti korporasi ini telah menciptakan sebuah imperium bernilai seribu triliun rupiah yang hampir tak tersentuh. Namun, di jajaran tertinggi persaingan bisnis global, keheningan bukanlah tanda kedamaian, melainkan jeda sebelum badai baru yang lebih besar menerjang.Pagi itu, di dalam penthouse mewah Vane Tower, sinar matahari terbit memantul hangat pada dinding kaca setinggi lima meter yang menghadap ke cakrawala Jakarta. Suasana di dalam suite utama terasa amat tenang, jauh dari hiruk-pikuk papan saham yang biasa mendominasi hari-hari kami.Aku duduk di sofa kulit bernuansa krem, memangku Luka yang kini berusia sepuluh bulan. Putra kecil kami tumbuh dengan sangat sehat dan menggemaskan. Dengan helai rambut hitam halus dan sepasang mata bulat pekat yang amat mirip dengan Adrian, Luka menatap layar tablet kerjaku yang menyala dengan binar

  • Pembalasan Dendam Gadis Lugu   Bab 49 : Dewan tertinggi dan bayangan di zurich

    Laporan pergerakan The Grand Council di Zurich tidak butuh waktu lama untuk sampai ke meja kerja Adrian.Satu bulan pasca-kelahiran Luka, ruang kerja utama di penthouse Vane Tower telah diubah menjadi pusat komando intelijen tingkat tinggi. Dinding kaca dipenuhi proyeksi data arus kas internasional, sementara Rendy bersama tim peretas terbaik bekerja tanpa henti memantau pergerakan bursa Eropa.Aku duduk di sofa kulit, memangku Luka yang tertidur lelap dalam balutan selimut sutra biru muda. Usia bayi kami baru lima minggu, namun kehadirannya telah memberikan ketenangan dan kedamaian luar biasa di dalam dadaku.Adrian melangkah mendekat, melepas jas hitamnya dan menyampirkannya di sandaran sofa. Pria itu berlutut di sampingku, mengusap pipi lembut Luka dengan ibu jarinya secara sangat perlahan, lalu menatapku dengan mata hitam pekatnya yang tajam."Mereka mulai memainkan kartu pembeku saham di bursa Zurich dan Hong Kong," kata Adrian, suaranya berat dan dingin. "The Grand Council menco

  • Pembalasan Dendam Gadis Lugu   Bab 48 : Tangisan pertama diatas takhta

    Lompatan waktu tujuh bulan berlalu dengan cepat.Dunia bisnis internasional tak pernah berhenti berputar, namun fokus utama Vane-Aristha Group selama beberapa bulan terakhir sepenuhnya tertuju pada satu hal: kesehatan sang Ratu Bisnis dan calon tunggal pewaris dinasti.Malam itu, hujan gerimis mengguyur kota Jakarta.Lantai teratas Vane Memorial Hospital telah diisolasi total. Tiga tim dokter spesialis terbaik di Asia bersama belasan perawat senior bersiap di dalam ruang persalinan presidential suite. Di koridor luar yang dijaga ketat oleh pengawal pribadi bersenjata, Alexander Vane dan Duke Victor dari Prancis berjalan bolak-balik dengan raut wajah cemas.Di dalam ruang persalinan, suasana terasa amat tegang sekaligus hangat."Tarik napas dalam-dalam, Nyonya Vane! Dorong pelan-pelan!" instruksi dokter utama dengan sigap.Aku memegangi sprei dengan erat, peluh membasahi dahi dan leherku. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhku, sebuah pertarungan fisik yang benar-benar

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status