“Ahh, Kael. Sakit, pe-lan-pelan.” Lyria mencengkeram selimut.Kael tersenyum, “Ya, sempit sekali. Aku suka.” Maju mundur lebih pelan, tak sekeras tadi, meski dalamnya lebih disukai dari posisi yang lain. Setelah Lyria terbiasa, Kael merangkul leher Lyria, mengajak tubuh itu agar berdiri sejajar dengannya.Lyria yang menumpu dengan lutut, meraih kepala Kael di belakangnya, “Oughh, Kael, ahhh, oughhh. Ini, aahhh, gila, aahhhh, ouughh.”“Kau menyukainya? Katakan, apa kau menyukainya?”Lyria mengangguk, “Yahh, yaahhh, aku menyukainya, Kael. Ouughhh.”“Kalau begini, apa kau menyukainya?” Kael mengangkat kaki kanan Lyria sambil te4us menghujam.“Aaahh, oougghhh, Kael, aku, aku, aaahhh.” Tubuh Lyria mengejang untuk kedua kalinya.Kael tersenyum lebar, membantu Lyria berbaring terlentang, dan mengungkung kembali. Satu kecupan mendarat di kening Lyria yang berkeringat.Lyria tersenyum dan mendorong Kael menjauh, “Kael, aku....” Tak sanggup mengutarakan apa yang tengah dirasakan.Kael mengecup
Last Updated : 2026-09-25 Read more