ログインDi dunia yang menentukan kekuatan berdasarkan level dan sihir, ia terlahir sebagai putra Raja Iblis dengan level nol, dianggap sebagai iblis terlemah. Namun, di balik kelemahannya tersembunyi kekuatan misterius yang perlahan membuatnya semakin kuat. Semakin tinggi levelnya, semakin banyak wanita cantik yang tertarik. Dari level nol ia akan naik menuju puncak. Apa tujuan sebenarnya? Menjadi Raja Iblis atau justru menaklukkan hati para wanita sepanjang jalan?
もっと見る"Dia sudah lahir!"
Seorang pelayan keluar dari kamar persalinan dengan wajah tegang.
Para bangsawan iblis yang sejak tadi menunggu langsung berdiri.
"Putra Yang Mulia?"
"Benar."
Bagaimana hasil pemeriksaannya?"
Pelayan itu terdiam. Wajahnya semakin pucat. "Level ...." Menelan ludah, "Level nol."
Ruangan langsung sunyi. Namun, hanya sejenak dan mulai terdengar bisikan di antara para bangsawan iblis.
"Mustahil."
"Putra Raja Iblis?"
"Level nol?"
"Bagaimana? Siapa yang akan meneruskan tahta?"
Tak ada yang berani mengatakan terlalu keras. Semua orang memikirkan, bagaimana bisa putra raja iblis ternyata adalah yang terlemah? Budak saja tertinggi level sepuluh, para bangsawan terhormat berlomba-lomba menjadi level tiga puluh, raja-raja muda level lima puluh, dan ada satu level yang tidak pernah dianggap keberadaannya, yaitu level nol. Tidak memiliki mana dan bakat sihir. Semua bangsawan jadi panik, apakah ini awal kehancuran Kerajaan Iblis yang paling ditakuti di seantero jagad ini?
Di kamar, seorang pria bertanduk hitam, berdiri di samping ranjang, namanya Azreal. Raja Iblis yang selama puluhan tahun ditakuti seluruh benua. Tatapannya tajam saat melihat bayi kecil sedang berada dalam pelukan istrinya. "Periksa lagi."
Pelayan segera mengeluarkan kristal sihir, cahaya biru memenuhi ruangan, semua orang tak bersuara seolah udara pun ikut berhenti bergerak.
[Pemeriksaan status dimulai]
Beberapa detik kemudian, tulisan muncul.
Nama : Tidak diketahui
Ras : Iblis
Level : 0
Mana : 0
Kekuatan : 0
Bakat Sihir : Tidak terdeteksi
Azreal mengepalkan tangannya. "Gunakan kristal tingkat tinggi."
"Su-sudah, Yang Mulia."
"Hasilnya?"
Pelayan itu menunduk, "Te-tetap level nol."
Hening. Hanya detik jam yang berani bersuara.
Seraphina, istri Azreal memandang suaminya, "Apakah kau kecewa?"
Azreal tidak langsung menjawab, dia mendekati bayi itu, anehnya bukannya menangis, bayi itu malah membalas tatapannya dengan mata merah kecil yang berbinar, lalu tersenyum padanya. Dia menyentuh dahi bayi itu, "Dia anakku." Berdiam cukup lama, lalu menatap seluruh pelayan, "Siapa pun yang berani menghina putraku," Aura dingin langsung memenuhi ruangan, "akan berhadapan denganku."
"Baik, Yang Mulia." jawab pelayan serentak.
Namun, tak seorang pun mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam pikiran bayi tersebut.
'Di mana aku?' Mengingat-ingat kehidupan sebelumnya. Sebuah kecelakaan, kemudian gelap, dan sekarang ... dia terbangun sebagai bayi? 'Jadi aku reingkarnasi? Apa aku sedang demam? Apa kebanyakan nonton film? Main game? Ah! Kepalaku sakit sekali. Apa aku kebanyakan minum?'
Tiba-tiba terdengar suara aneh di kepalanya.
[Sinkronisasi selesai.]
[Selamat datang, Host.]
Bayi itu terdiam. 'Host?'
Sebuah layar transparan muncul dalam pikirannya.
[Nama : Belum ditentukan]
[Ras : Iblis]
[Level : 0]
[Kekuatan : 0]
[Mana : 0]
[Bakat : Tidak terdeteksi]
Dia terdiam cukup lama. 'Aku level nol? Apa ini? Aku bayi yang tidak bisa melakukan apa-apa disebut level nol? Aku bayi iblis? Apa artinya aku seorang iblis sekarang?'
Lalu muncul tulisan lain lagi.
[Kemampuan khusus ditemukan.]
Mata bayi itu seolah membesar. 'Kemampuan khusus?'
[Nama : Kael]
[Kemampuan menyerap dan menganalisis kekuatan makhluk lain (Devour).]
'Heh?!' Kael tergelak dengan apa yang baru saja dibacanya. 'Kalau begitu, level nol bukan berarti aku akan tetap lemah. Ada nol, lalu satu, lalu dua, lalu tiga.' Kael malah terbahak-bahak.
Tiba-tiba kristal sihir di dekat ranjang bergertar. Retakan kecil muncul.
'Krak!'
Azreal langsung menoleh, "Apa itu?"
Retakan semakin melebar. 'Prang!' Kristal tersebut pecah. Semua orang terkejut. Azreal menatap bayinya, bayi kecil itu hanya tersenyum polos. Tidak seorang pun tahu, bayi baru lahir dengan level nol itu, suatu hari nanti akan membuat semua orang menyesal telah menganggapnya lemah.
***
Sepuluh tahun berlalu. Di Kerajaan Iblis, nama Kael dikenal hampir semua orang, bukan karena kekuatannya, dia dikenal sebagai Putra Raja Iblis Level Nol. "Hei, lihat! Itu Kael!"
"Putra Yang Mulia?"
"Benar."
"Katanya dia tidak bisa menggunakan sihir." Bisikan-bisikan terdengar setiap kali Kael melewati lorong istana.
Kael sudah terbiasa. Dia berjalan santai tanpa memedulikan mereka, rambut hitam yang sedikit berantakan, sepasang tanduk kecil mulai tumbuh di kepalanya, dan mata merahnya semakin terang jika terlihat di kegelapan. Sepuluh tahun dan statusnya masih sama.
[Nama : Kael]
[Ras : Iblis]
[Level : 0]
[Kekuatan : 0]
[Mana : 0]
Kael menghela napas, "Sepuluh tahun dan masih saja nol." Menyimpan kembali kristal sihir miliknya. Azreal memberinya kristal sihir khusus untuk mendeteksi level, dia juga giat berlatih apa pun agar levelnya naik, dan hasilnya tetap saja sama. Kael duduk di bawah pohon besar di taman istana, melihat makhluk kecil mendekat, menyentuh untuk menggunakan kemampuan Devour-nya diam-diam. Bukan hanya makhluk kecil, monster lemah, tanaman memiliki mana, dia akan menyentuh untuk menyerap mana mereka. Itu adalah satu-satu hal yang disembunyikan karena sebanyak apa dia menggunakan Devour, levelnya tak pernah naik sedikit pun.
[Devour berhasil.]
[Mana diserap : 1]
Kael tersenyum. "Sedikit demi sedikit. Kapan kau akan menjadi bukit?" Tertawa dan mencari makhluk kecil lain di sekitarnya.
"Kael!"
Teriakan itu cukup kencang sampai membuat Kael menoleh. Gadis kecil berambut merah tengah berlari ke arahnya. Usianya sekitar sembilan tahun, putri salah satu bangsawan iblis yang sering berkunjung ke istana, Lyria.
"Kau bersembunyi lagi?"
"Siapa yang bersembunyi? Tidak."
"Kalau begitu kenapa duduk sendirian?"
Kael mengangkat bahu bersamaan. membiarkan Lyria duduk di sampingnya, dan dia kembali menyibukkan diri.
"Kael."
"Hm?"
"Apa benar kamu tidak bisa sihir?"
Kael diam. Dia bosan karena terlalu banyak orang menanyakan hal seperti itu padanya. Namun, tak menjawab Lyria juga tidak mungkin, "Benar."
Lyria mengerutkan kening, "Lalu kenapa kamu tidak sedih?"
Kael tersenyum tipis, "Karena aku masih hidup."
Lyria terdiam sejenak, lalu tersenyum, "Jawabanmu aneh."
Kael malah tertawa karenanya.
Seorang pria muda datang dari arah istana, "Kael!" Langkah kakinya yang berisik dan suara lantang itu, membuat Kael dan Lyria menoleh. Itu adalah Ravian, putra salah satu jenderal kerajaan, usianya tiga belas tahun, dan levelnya dua belas. Jauh di atas Kael. Dia berkacak pinggah menghadap Kael dan Lyria, "Aku dengar kau masih level nol."
Kael tak menjawab. Dia kembali melanjutkan kesibukannya.
"Ayo bertarung denganku!"
Lyria berdiri, "Jangan! Kata ibuku bertarung itu tidak baik."
Ravian malah tertawa, "Aku hanya ingin melihat seberapa lemah putra Raja Iblis."
Kael menatap Ravian, tidak marah, tidak juga takut, dia malah tersenyum, "Kalau aku menolak?"
Ravian mengangkat tangannya, sebuah bola api muncul di telapak tangannya, "Kalau begitu aku akan membuatmu menerimanya."
Lyria yang ketakutan mundur menjauh, meninggalkan Kael yang tetap duduk di posisi tadi, dan bola api itu melesat ke arah Kael, "Kael!"
BOOM!
Langit menggelap, garis bintang berwarna ungu semakin membesar di langit, Evelyn berdiri di tengah aula dengan mata nyalangnya menatap ke penyusup. "Jangan menyentuhnya." Gema suara itu membuat pada menyusup bergeming. "Evelyn? Kau masih hidup?" Kael menoleh ke Evelyn, energi gadis itu naik pesat, tetapi tetap tak bisa dideteksi. "Pergi!" Petir keunguan menyambar-nyambar di langit akademi. Tiga menyusup menoleh ke Kael, "Anak level nol. Aku akan datang kembali!" Menghilang bersamaan dengan debu yang memenuhi akademi. Lyria berlari mendekati Kael, "Kau terluka?" Menggeleng, "Hanya luka kecil. Jangan kawatir." "Tentu saja aku khawatir, bagaimana kalau kau terluka, dan mati?" "Kau pikir aku akan mati semudah itu?" "Aku tidak tahu. Aku hanya takut kamu mati." Kael tersenyum, "Memangnya kenapa kalau aku mati?" "Nanti siapa yang akan menggangguku? Berteman denganku? Yang-" Kael langsung mengacak rambut Lyria, "Aku tidak akan mati semudah itu." Evelyn menarik Kael,
Kael mencobanya, tetapi kristal itu tidak mengeluarkan cahaya apa pun, dia hanya merasakan hangat di telapak tangannya."Mana-nya juga nol? Benar-benar level nol." Murid lain tertawa.Kael menarik tangan dan menatap gurunya."Tidak perlu dipaksakan." Guru menyuruh Kael kembali ke tempat duduk, "Selanjutnya."Kael masih memegangi tangannya.[Kristal mana terdeteksi.][Energi tersedia.][Devour dapat digunakan.]Dia malah baru tahu kalau kristal pun energinya bisa diserap. Setelah pelajaran selesai, Kael berjalan sendiri ke taman belakang, dia akan membuka sistem di kepalanya, sepertinya ada yang belum diketahui."Kael."Saat menoleh, Evelyn sudah berdiri di belakang Kael, "Kau menguntitku?""Tidak.""Kalau tidak kenapa kau ada di sini?""Aku hanya ingin menawarkan sesuatu." Evelyn mengeluarkan kotak kecil dan menyodorkannya ke Kael, "Kristal sihir, ini hadiah pertemanan kita, kuharap kamu menerimanya."Kael mengerutkan kening, "Kenapa kau memberikannya padaku?""Anggap saja hadiah. Sia
Kael mengepalkan tangan kali ini. "Baik. Mari kita mulai."Lyria menoleh, "Kael? Dia level 17.""Jangan kawatir." Kael maju menuju arena diikuti Darian, beberapa peserta berkumpul di sekitar arena, guru yang bertugas mengawasi berdiri di tengah."Pertarungan berakhir jika salah satu menyerah atau tidak mampu melanjutkan." Darian mengangkat tangan dan api mulai muncul, "Jangan salahkan aku kalau kamu terluka."Kael hanya berdiam diri.[Terget terdeteksi.][Nama : Darian.][Level : 17]Tersenyum kecil. Kael tahu persis apa yang akan terjadi setelah ini.Darian menyerang. BOOM! Sebuah bola api melesat, Kael yang menghindar, membuat bola api itu menghantam tanah. Darian menyerang lagi dan lagi, Kael terus bergerak cepat, lebih cepat dari yang bisa dilakukan oleh level nol."Dia cepat sekali. Sangat seru! Aku mulai bingung harus mendukung siapa." kasak-kusuk di pinggir arena.Darian marah, "Berhenti menghindar!"Kael tersenyum, "Kalau kau bisa menangkapku, aku akan berhenti."Darian mengge
Bentakan itu membuat Kael menunduk diam.Seraphina malah tertawa kecil, "Bairkan dia istirahat, Sayang."Azreal menoleh, "Seraphina!""Anak kita baru sepuluh tahun." Seraphina mendekati Kael dan memeluk putranya, "Kalau Kael belum mau cerita, jangan dipaksa." Mengangkat wajah putranya dan tersenyum."Terima kasih, Ibu."Seraphina mengusap kepala Kael, mengecup, dan membiarkan Kael pergi."Kael." Azreal merendahkan lagi nada bicaranya."Ya, Ayah?" Kael berhenti di tengah jalan sebelum masuk ke kamarnya.Aura samar berbau naga yang dari tadi terus menganggu, membuat Azreal semakin khawatir, "Mulai besok kau tidak boleh pergi ke Hutan Arken sendirian."Kael mengangguk, "Baik, Ayah." Sesampainya di kamar, Kael memeriksa levelnya lagi, dia heran karena masih saja nol, "Padahal aku sudah lebih kuat. Apa yang salah? Kenapa angka itu tidak berubah?"[Misi tersembunyi telah terbuka.][Menantang takdir.][Syarat : Mencapai kekuatan yang tidak dapat diukur oleh Sistem Dunia.][Hadiah : Tidak dik












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.