“Duduk, Alana.” Suara Helena, ibu tiri Alana, terdengar dingin. Alana menarik kursi di meja makan. Matanya menyapu seluruh meja sebelum berhenti pada Julian. Pamannya itu duduk di sisi lain meja, tenang seperti biasa. Tidak pernah peduli. Padahal semalam Julian tampak begitu penuh rasa pada Alana Alana menarik napas. “Ada apa?” Helena meletakkan cangkir tehnya. “Kita akan membicarakan masa depanmu,” kata Helena sambil tersenyum kecil. “Aku tidak tertarik!” tolak Alana tanpa basa-basi. “Sayangnya, pendapatmu tidak terlalu penting,” kata Helena santai. Alana menatap ibu tirinya tajam. “Kalau begitu, kenapa aku dipanggil?” tanya Alana pelan. “Karena malam ini kau akan bertemu dengan calon tunanganmu.” Alana terbelalak. “Tu-tunangan? Aku tidak mau!” tolak Alana tegas. “Sudah kubilang! Pendapatmu tidak kubutuhkan. Kau hanya perlu menurut seperti biasa!” balas Helena tak kalah tinggi dari suara Alana. Alana terdiam, tetap matanya diam-diam melirik ke arah pamanny
Terakhir Diperbarui : 2026-08-12 Baca selengkapnya