Share

Sarapan Penuh Racun

Penulis: Luz Picillya
last update Tanggal publikasi: 2026-08-12 13:50:03

“Duduk, Alana.”

Suara Helena, ibu tiri Alana, terdengar dingin.

Alana menarik kursi di meja makan. Matanya menyapu seluruh meja sebelum berhenti pada Julian. Pamannya itu duduk di sisi lain meja, tenang seperti biasa. Tidak pernah peduli. Padahal semalam Julian tampak begitu penuh rasa pada Alana

Alana menarik napas. “Ada apa?”

Helena meletakkan cangkir tehnya.

“Kita akan membicarakan masa depanmu,” kata Helena sambil tersenyum kecil.

“Aku tidak tertarik!” tolak Alana tanpa basa-basi.

“Sayangnya, pendapatmu tidak terlalu penting,” kata Helena santai.

Alana menatap ibu tirinya tajam.

“Kalau begitu, kenapa aku dipanggil?” tanya Alana pelan.

“Karena malam ini kau akan bertemu dengan calon tunanganmu.”

Alana terbelalak.

“Tu-tunangan? Aku tidak mau!” tolak Alana tegas.

“Sudah kubilang! Pendapatmu tidak kubutuhkan. Kau hanya perlu menurut seperti biasa!” balas Helena tak kalah tinggi dari suara Alana.

Alana terdiam, tetap matanya diam-diam melirik ke arah pamannya dan berharap meminta pembelaan. Namun sayangnya, Julian diam tak peduli.

“Kau akan bertunangan dengan keluarga Valerad, segera,” final Helena tak mau dibantah.

“Aku tidak pernah menyetujuinya!” Alana tertawa sinis. “Menarik. Ayah sudah meninggal, tapi kalian masih merasa berhak mengatur seluruh hidupku.”

Helena langsung menatap tajam ke arah Alana.

“Jangan bawa-bawa Ayahmu,” desis Helena dingin.

“Kenapa? Takut dia mendengar bagaimana kalian memperlakukan putrinya?” tantang Alana sinis.

“Alana!”

“Dia bahkan belum lama meninggal, dan sekarang kalian sudah menjualku untuk kepentingan bisnis!” seru Alana.

“Jaga mulutmu!” Helena menunjuk Alana tepat di wajahnya. “Kalau kau bisa melakukan sesuatu untuk keluarga ini, mengapa harus membantah!”

“Apa masih kurang cukup semua harta kekayaan yang Ayah tinggalkan untuk kalian? Sampai kalian masih mau menjualku!” Air mata Alana jatuh tepat di lengannya.

Ruangan mendadak sunyi. Julian meletakkan cangkirnya dan melirik sedikit ke arah Alana tanpa bicara.

“Cukup drama paginya.” Helena memotong suasana. “Kamu tidak punya pilihan Alana!”

“Kalau aku tetap menolak?” tantang Alana.

“Kau akan kehilangan semuanya!” Helena mengancam dengan santai.

Alana mengerutkan kening. “Maksudnya?”

“Kartu kreditmu, mobilmu, apartemen yang ayahmu tinggalkan. Semua akan diambil alih sebagai jaminan keluarga,” jawab Helena memperjelas maksudnya.

Mata Alana membesar, lalu kedua tangannya mengepal dengan begitu kuat. “Tapi itu milikku! Ayah meninggalkannya untukku bukan untuk keluarga!”

“Sekarang berada dibawah pengelolaan keluarga. Dan aku yang paling berhak memutuskan semuanya!” tegas Helena mutlak.

Alana tertawa pendek. “Jadi aku harus menikah dengan pria yang bahkan tidak kukenal hanya karena kalian takut aku mengambil kembali hakku?”

Helena tersenyum miring.

“Anggap saja ini kesempatan untuk belajar menjadi wanita yang tahu diri,” bisik Helena sinis.

Alana berdiri dengan kasar.

“Aku tidak akan menikah dengannya!” tegas Alana.

“Kau akan datang malam ini.”

“Tidak!”

“Kau akan datang!” Keduanya saling berteriak. Helena cukup kaget karena gadis yang biasanya patuh kini mulai berontak.

“Tidak!” Alana tak mau mengalah.

Helena menatapnya tajam. “Kalau kau tidak datang, semua akses ke rekeningmu akan kututup hari ini.”

Alana menelan ludah. Tak menjawab lagi. Tatapannya tajam, tapi dia memilih untuk duduk kembali.

“Baik. Kalau itu mau kalian!”

Helena tersenyum puas. “Bagus! Jadilah anak penurut.”

Julian yang sejak tadi tak peduli akhirnya melirik Alana. Hanya sepersekian detik. Namun Alana menangkapnya seperti ada tatapan itu berbeda.

Bukan dingin. Bukan juga peduli. Lebih seperti sebuah peringatan. Alana mengerutkan kening.

Helena sibuk mengambil roti tanpa melihat interaksi antara Julian dan Alana.

“Acara dimulai pukul tujuh malam. Jangan membuat keluarga ini malu,” kata Helena lebih tenang dari sebelumnya.

Alana tidak menjawab.

Wajah Alana tiba-tiba tegang saat di bawah meja, sebuah kaki mengelus betis hingga pahanya.

Mata Alana memandang Julian dengan tajam sekaligus panik, sedangkan Julian tetap memasang wajah datar. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Bibir Julian bergerak pelan. “Jangan terima pertunangan itu.”

Alana menahan napas dengan wajah memerah.

“Paman akan membantuku?” bisik Alana tanpa suara.

Julian tersenyum sinis. “Aku hanya tidak suka melihat sesuatu yang seharusnya menjadi milik keluargaku jatuh ke tangan orang lain.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dalam Dekapan Adik Ayahku   Penyelidikan Berbahaya

    “Dokumen itu jelas sudah ada yang mengincarnya Alana.”Julian melepas pelukannya dan mengusap rambut Alana lembut. “Dia hanya menunggu kamu lengah untuk mengambilnya.” Alana diam, otaknya masih terus mengaitkan beberapa hal yang mungkin memicu. Tatapan matanya tajam, wajahnya tegang. Brankasnya dibobol! Tapi bukan bobol paksa, melainkan ada orang yang tahu pola yang Alana buat. Artinya orang itu memang sudah lama menunggu Alana lengah. Alana menatap Julian penuh curiga, tapi kemudian tatapannya melebar.“Nggak mungkin kalau dia! jelas dia di hotel bersamaku.” Alana mulai ragu. “Tapi, bisa saja dia menyuruh orang lain bukan! Gak ada yang nggak mungkin untuk seorang Julian.” Alana terus bermonolog dalam hati. Dia ingin percaya kalau itu bukan Julian, tapi..Julian mengangkat pandangan. Menatap Alana lebih lekat. “Kamu masih meragukanku?”Alana diam, hanya menggelengkan kepala pelan. Dia benar-benar masih ragu.“Ini lebih buruk!” dengus Julian. “Tapi aku akan membuktikannya padamu.” Ju

  • Dalam Dekapan Adik Ayahku   Bukti yang Hilang

    "Tidak... tidak mungkin. Ke mana perginya semua ini?!"Alana berdiri sendirian di depan brankas yang menganga kosong, tangannya gemetar meraba-raba setiap sudut rak kecil di dalamnya, berharap matanya salah lihat. Map coklat berisi bukti-bukti tentang Helena. Berkas itu satu-satunya harapan untuk membongkar kebenaran di balik kematian ayahnya. Tapi sekarang berkas itu lenyap tanpa jejak.Alana masih mengenakan gaun pestanya. Semalam, dia hanya berganti piyama yang disediakan hotel. Dia kembali kerumah dan langsung mendapati brankas kamarnya menganga. Isinya hilang."Sial, sial, sial!" Alana memukul dinding di sampingnya, napasnya memburu. “Pola brankas sengaja ku buat rumit. Kombinasi tanggal lahir mama dan hari kematian Ayah. Seharusnya tidak ada orang yang tahu, kecuali…!” Alana membulatkan mata lebar. Dia langsung berlari mencari satu-satunya orang yang mungkin tahu kombinasi pola brankas selain dirinya.“Dimana Om sembunyikan berkas berisi bukti-bukti itu Om!”Pintu ruang kerja Ju

  • Dalam Dekapan Adik Ayahku   Kamar Hotel Rahasia

    “Duduk!”Pintu suite hotel tertutup rapat. Alana masih berdiri di dekat pintu. Tangannya mengepal, napasnya belum teratur sejak kejadian di pesta tadi.“Duduk Alana!” Julian melepaskan jasnya dan meletakkannya di sofa.“A-aku bisa berdiri.”“Alana…” Nada Julian membuat Alana akhirnya berjalan ke sofa. Ia duduk, tetapi tubuhnya masih tegang. “Kenapa kita di sini?” tanya Alana ragu dan penuh waspada.“Karena kalau kau kembali ke mansion malam ini, Helena akan langsung memaksamu menikahi Gerald,” jawab Julian jujur. “Setelah dia melihat aku melindungimu, Helena akan melakukan banyak cara agar kau tetap bisa menjadi bidak caturnya.”“Aku tidak takut! Nyaliku sudah cukup besar sekarang untuk melawannya,” balas Alana enteng. Julian menatapnya tajam. “Kau bisa langsung diseret paksa ke rumah keluarga Valerad! Apa kau siap?” tanya Julian.Alana terdiam. Jelas dia tak akan pernah siap. Kalau memang Alana punya nyali besar, tak mungkin dia meminta perlindungan dari Julian.Julian mengambil seg

  • Dalam Dekapan Adik Ayahku   Jebakan Di Pesta Korporat

    "Kenapa kau diam saja?"Alana menoleh. Helena sudah berdiri di sampingnya dengan senyum tipis."Aku sedang menikmati pestanya Ibu," jawab Alana datar.Helena terkekeh. "Menikmati?" Matanya menyapu Alana dari atas sampai bawah."Kau seharusnya bersyukur karena aku masih mau membawamu ke acara seperti ini.""Aku tidak pernah meminta dibawa." Wajah Alana tampak menahan kesal sebab Helena terlalu berisik.Helena langsung mencengkeram lengan Alana dengan kasar. "Jangan membuat masalah malam ini!” tegas Helena mengancam.Alana menarik tangannya cepat. "Justru Ibu yang terus membuat masalah!” Senyum Helena menghilang. "Kau masih keras kepala." Helena tak terima. Dia kaget Alana sekarang lebih berani melawan."Aku hanya tidak suka dipermalukan,” balas Alana sambil menghela napas berat."Oh, begitu?" Helena mengangkat gelasnya."Kalau begitu… mari kita lihat seberapa kuat mentalmu!” Alana mengernyit. "Apa maksud Ibu?"Helena tidak menjawab, justru ia berjalan menuju sekelompok sosialita dan

  • Dalam Dekapan Adik Ayahku   Dominasi Di Ruang Kerja

    “Om Julian!”Julian tak menjawab. Dia justru menarik Alana melewati lorong menuju ruang kerja pribadinya, sedangkan Alana berusaha melepaskan tangannya, tetapi cengkeramannya terlalu kuat.“Apa-apaan ini Om!” Alana meronta, tapi sulit lepas.Pintu ruang kerja terbuka.Brak!Julian mendorongnya masuk sebelum menutup pintu dengan keras. “Kamu sudah gila?”Tatapan Julian gelap. “Aku yang seharusnya bertanya begitu.”“Apa maksudmu?!” Alana mundur selangkah. Dia tahu posisinya tak aman.“Gerald!”Alana terdiam sesaat. Lalu ia tertawa sinis.“Jadi ini masalahnya?”Julian melangkah mendekat. “Aku melihat tangannya menyentuhmu.”“Lalu?” Alana mendongak menantang.“Lalu kau membiarkan tangan itu menyentuhmu!” Julian geram, matanya makin tajam dan wajahnya semakin dingin.“Aku tidak meminta dia menyentuhku.”“Tapi, kau juga tidak menjauh!”Alana menatap Julian tak percaya.“Jadi, sekarang aku harus meminta izin kepadamu setiap kali seseorang berdiri terlalu dekat denganku?” Alis Alana naik sebe

  • Dalam Dekapan Adik Ayahku   Ancaman Dari Masa Lalu

    "Hm.. Jadi ini rumah calon istriku.”Alana yang baru menuruni anak tangga langsung mengerutkan keningnya saat melihat seorang pria asing masuk ke dalam apartemen tanpa izin.“Siapa yang mengizinkan kamu masuk?” tanya Alana sambil mengerutkan kening dan menatap pria itu sinis.Gerald Bryan Valerad tersenyum. Setelan mahal melekat sempurna di tubuhnya. Wajahnya tampan, tetapi senyum congkaknya membuat Alana langsung berhenti melangkah. Gerald memandang sekeliling mansion, lalu berhenti tepat di wajah Alana.“Selamat pagi calon istriku. Mengapa rumah semewah ini terlihat sangat sepi pagi ini?” balasnya santai, seolah cukup merendahkan Alana.“Siapa yang mengizinkan kamu masuk!” Alana mengulangi pertanyaannya, membuat Gerald tertawa kecil. “Aku tidak perlu izin!” Gerald berjalan mendekat. Langsung berdiri tepat di depan Alana yang masih diam di anak tangga terakhir. “Aku calon suamimu, apakah aku masih perlu izin untuk datang kesini?”“Aku belum menyetujuinya!” balas Alana ketus sambi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status