LOGINAlana menolak pertunangan yang dipaksakan ibu tirinya dengan Gerald, seorang pria dari keluarga aristokrat. Dalam keputusasaan, ia meminta perlindungan Julian, adik angkat mendiang ayahnya. Julian berjanji akan membantunya memberikan perlindungan atas paksaan pertunangan itu. Namun, kedekatan mereka perlahan berubah menjadi perasaan yang seharusnya tidak pernah ada. Mereka tahu hubungan itu terlarang, tetapi semakin berusaha menjauh, semakin sulit bagi keduanya untuk saling melepaskan. Ketika keluarga mulai mencurigai hubungan mereka, Alana dan Julian harus memilih: mengorbankan cinta mereka atau melawan semua orang demi tetap bersama.
View More"Apa yang sedang kau lakukan?"
Alana membulatkan matanya dengan lebar dan jantungnya berpacu dengan cepat. Dengan pelan dia berbalik melihat ke arah sumber suara, padahal saat menyelinap tadi tak ada seorangpun di jam dua dini hari ini. Di ambang pintu berdiri Julian Starling. Jasnya masih basah. Rambutnya acak-acakan karena hujan. Di tangannya ada koper. Matanya menatap lurus ke arah Alana dengan tajam dan penuh intimidasi. Julian pulang lebih cepat. Otak Alana kosong selama dua detik, lalu instingnya bekerja. Ia langsung menyembunyikan map yang baru saja ia curi di belakang punggungnya. "A-aku... aku cuma—” “Beraninya kau masuk ke ruanganku tanpa seizinku!” hardik Julian tajam. Alana membeku di tempat dan tak berani bergerak. Julian menutup pintu perlahan tanpa mengalihkan pandangannya dari Alana. Pria itu berjalan perlahan. Setiap langkah sepatu kulitnya menghantam lantai terdengar jelas di tengah suara hujan. Julian berhenti tepat di depan Alana. Jaraknya kurang dari sepuluh sentimeter dan Alana bisa mencium bau hujan, cologne mahal, dan amarah pada Julian. Julian menatap Alana dari atas sampai bawah. Dia tersenyum miring saat melihat pakaian yang dikenakan oleh Alana. Wanita itu mengenakan piyama tipis yang membentuk lekuk tubuhnya, lalu rambutnya tergerai seadanya. "Menyelinap di jam satu malam, Alana?” dengusnya sinis. “Kembalikan apa yang sudah kau curi!” "Aku bukan mencuri!" Alana mendongak dan memberanikan diri mengelak "Itu hak Ayahku." “Tidak mencuri?” Julian tersenyum sinis dan mengejek. “Kau mengendap masuk ke ruanganku tanpa seizinku, lalu mengambil sesuatu dari laci mejaku. Apa itu bukan sebuah pencurian?” tanya Julian sinis. “Sudah ku katakan, aku hanya mengambil apa yang menjadi hak Ayahku!” bentak Alana. "Berikan!” "Tidak!” tolak Alana kekeh sambil berusaha menjaga apa yang memang menjadi miliknya. Dalam sekali gerakan, Julian mencengkram pergelangan tangan Alana dan membenturkannya ke dinding. DUK! Punggung Alana menghantam dinding, membuat napas Alana tercekat dan map yang ada di tangannya hampir terjatuh. Julian menarik pergelangan tangan Alana, lalu tangan kanannya melingkar dengan sensual di pinggang ramping Alana. "Jangan pernah mengujiku, Alana." bisik Julian di telinga Alana. "Kau masih sembilan belas tahun. Aku bisa memenjarakanmu sekarang juga." Alana memejamkan mata sedetik. Rasa takut melanda, tetapi amarah dan keberaniannya memintanya untuk tetap melawan. Enam belas tahun ia hidup di bawah bayang-bayang keluarga tirinya yang memperlakukannya semena-mena. Sedangkan Julian, dia adalah wali sahnya yang seharusnya melindunginya. Tapi, pria itu malah diam tak peduli. Alana mengepalkan kedua tangannya dengan kua. Kali ini, untuk pertama kalinya dia memberontak. Dia harus bergerak untuk menyelamatkan dirinya. Alana membuka mata, lalu menatap tepat pada mata Julian. Dengan satu tangan yang masih bebas, Alana mengangkat map itu dan menunjukkannya tepat di depan wajah Julian. "Kalau aku anak kecil..." Suara Alana bergetar, tapi tegas. "Lalu kenapa Om takut aku membaca ini?" tanya Alana menantang. Alana membuktikan kalau dia bukan lagi anak kecil yang bisa dibentak dan disuruh diam. Sedang Julian, pria itu mengeraskan rahangnya karena melihat wanita itu melawannya dengan berani. Di luar, petir menyambar. Menerangi wajah mereka berdua yang hanya berjarak beberapa senti. Dan di saat itu juga, Alana sadar. Ia baru saja menyalakan api yang tidak akan bisa dipadamkan. “Kamu sedang bermain di jalur yang tidak seharusnya bocah kecil!” “Aku tidak peduli! Aku muak dengan semua rahasia yang sengaja kalian tutupi dariku!” kata Alana nyalang. “Ini rumahku, tapi aku seperti berada di neraka. Aku ditindas, tapi kau hanya diam Om Julian…” lirih Alana. Julian mencengkram pinggang Alana lebih kuat, menarik tubuh kecil itu hingga lebih dekat dengannya. Alana meringis kesakitan, tapi dia tak mau menyerah. “Jangan pernah membuatku melakukan apa yang selama ini kutahan!”“Dokumen itu jelas sudah ada yang mengincarnya Alana.”Julian melepas pelukannya dan mengusap rambut Alana lembut. “Dia hanya menunggu kamu lengah untuk mengambilnya.” Alana diam, otaknya masih terus mengaitkan beberapa hal yang mungkin memicu. Tatapan matanya tajam, wajahnya tegang. Brankasnya dibobol! Tapi bukan bobol paksa, melainkan ada orang yang tahu pola yang Alana buat. Artinya orang itu memang sudah lama menunggu Alana lengah. Alana menatap Julian penuh curiga, tapi kemudian tatapannya melebar.“Nggak mungkin kalau dia! jelas dia di hotel bersamaku.” Alana mulai ragu. “Tapi, bisa saja dia menyuruh orang lain bukan! Gak ada yang nggak mungkin untuk seorang Julian.” Alana terus bermonolog dalam hati. Dia ingin percaya kalau itu bukan Julian, tapi..Julian mengangkat pandangan. Menatap Alana lebih lekat. “Kamu masih meragukanku?”Alana diam, hanya menggelengkan kepala pelan. Dia benar-benar masih ragu.“Ini lebih buruk!” dengus Julian. “Tapi aku akan membuktikannya padamu.” Ju
"Tidak... tidak mungkin. Ke mana perginya semua ini?!"Alana berdiri sendirian di depan brankas yang menganga kosong, tangannya gemetar meraba-raba setiap sudut rak kecil di dalamnya, berharap matanya salah lihat. Map coklat berisi bukti-bukti tentang Helena. Berkas itu satu-satunya harapan untuk membongkar kebenaran di balik kematian ayahnya. Tapi sekarang berkas itu lenyap tanpa jejak.Alana masih mengenakan gaun pestanya. Semalam, dia hanya berganti piyama yang disediakan hotel. Dia kembali kerumah dan langsung mendapati brankas kamarnya menganga. Isinya hilang."Sial, sial, sial!" Alana memukul dinding di sampingnya, napasnya memburu. “Pola brankas sengaja ku buat rumit. Kombinasi tanggal lahir mama dan hari kematian Ayah. Seharusnya tidak ada orang yang tahu, kecuali…!” Alana membulatkan mata lebar. Dia langsung berlari mencari satu-satunya orang yang mungkin tahu kombinasi pola brankas selain dirinya.“Dimana Om sembunyikan berkas berisi bukti-bukti itu Om!”Pintu ruang kerja Ju
“Duduk!”Pintu suite hotel tertutup rapat. Alana masih berdiri di dekat pintu. Tangannya mengepal, napasnya belum teratur sejak kejadian di pesta tadi.“Duduk Alana!” Julian melepaskan jasnya dan meletakkannya di sofa.“A-aku bisa berdiri.”“Alana…” Nada Julian membuat Alana akhirnya berjalan ke sofa. Ia duduk, tetapi tubuhnya masih tegang. “Kenapa kita di sini?” tanya Alana ragu dan penuh waspada.“Karena kalau kau kembali ke mansion malam ini, Helena akan langsung memaksamu menikahi Gerald,” jawab Julian jujur. “Setelah dia melihat aku melindungimu, Helena akan melakukan banyak cara agar kau tetap bisa menjadi bidak caturnya.”“Aku tidak takut! Nyaliku sudah cukup besar sekarang untuk melawannya,” balas Alana enteng. Julian menatapnya tajam. “Kau bisa langsung diseret paksa ke rumah keluarga Valerad! Apa kau siap?” tanya Julian.Alana terdiam. Jelas dia tak akan pernah siap. Kalau memang Alana punya nyali besar, tak mungkin dia meminta perlindungan dari Julian.Julian mengambil seg
"Kenapa kau diam saja?"Alana menoleh. Helena sudah berdiri di sampingnya dengan senyum tipis."Aku sedang menikmati pestanya Ibu," jawab Alana datar.Helena terkekeh. "Menikmati?" Matanya menyapu Alana dari atas sampai bawah."Kau seharusnya bersyukur karena aku masih mau membawamu ke acara seperti ini.""Aku tidak pernah meminta dibawa." Wajah Alana tampak menahan kesal sebab Helena terlalu berisik.Helena langsung mencengkeram lengan Alana dengan kasar. "Jangan membuat masalah malam ini!” tegas Helena mengancam.Alana menarik tangannya cepat. "Justru Ibu yang terus membuat masalah!” Senyum Helena menghilang. "Kau masih keras kepala." Helena tak terima. Dia kaget Alana sekarang lebih berani melawan."Aku hanya tidak suka dipermalukan,” balas Alana sambil menghela napas berat."Oh, begitu?" Helena mengangkat gelasnya."Kalau begitu… mari kita lihat seberapa kuat mentalmu!” Alana mengernyit. "Apa maksud Ibu?"Helena tidak menjawab, justru ia berjalan menuju sekelompok sosialita dan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.