Namun, keesokan harinya pagi-pagi sekali, ibu Mario datang mencariku.Bibi Ratna duduk di sofa dan berbicara dengan nada tidak berdaya sekaligus menyayangkan keadaan."Sakila, Mario kemarin seharian seperti kehilangan semangat. Dia mengurung diri di kamar, nggak makan dan nggak tidur. Bahkan sampai sekarang, pilihan universitasnya sendiri masih kosong dan belum juga diisi.""Kalian berdua bertengkar, ya?""Sudah bertahun-tahun kalian bersama. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik saja. Jangan saling ngambek."Aku menggeleng pelan dengan wajah tenang."Bibi, kami nggak bertengkar. Kami cuma sudah sama-sama dewasa. Aku juga sudah punya pemikiran dan pilihan hidupku sendiri. Aku nggak mau terus terikat pada siapa pun, menjadi bayang-bayang seseorang."Bibi Ratna menatapku dan menghela napas, sepertinya memahami maksudku.Setelah mengantar Bibi Ratna pergi, aku membuka ponsel dan melihat-lihat media sosial.Dalam sekejap, aku melihat unggahan terbaru Winona di media sosial.Foto yang diun
Read more