Suasana di ruang perjamuan seketika menjadi sunyi.Para kerabat yang tadinya masih ingin berbasa-basi, kini semuanya menunduk sambil minum air.Senyuman di wajah Mirna membeku."Kakak, aku hanya bercanda.""Bagian mana dari leluconmu ini yang lucu?""Bukan itu maksudku.""Lalu, apa maksudmu?"Mirna menatapku beberapa detik, matanya perlahan memerah.Kakak pertama, Yohan Winoto, menghampiri dan merangkul bahu Mirna."Cindy, hari ini hari baik, jangan mempermasalahkan ucapannya.""Aku nggak mempermasalahkan ucapannya."Aku menunjuk ke kartu nama di atas meja."Tempat dudukku di sebelah Ibu, tapi dia memindahkan kartu namaku, lalu duduk di tempat dudukku, tetapi dia malah bertanya apakah aku keberatan atau nggak.""Kalian semua nggak keberatan, betul, 'kan?"Kak Yohan mengernyitkan kening."Cuma tempat duduk, bukankah duduk di mana saja itu sama saja?""Kalau begitu, kenapa dia nggak duduk di tempat duduknya sendiri?""Dia terbiasa duduk di antara Ayah dan Ibu.""Karena terbiasa, berarti
더 보기