เข้าสู่ระบบSejak kecil aku orang yang tidak bisa diajak kompromi, tidak peduli dengan maksud tersembunyi orang lain. Waktu SMP, ada seorang siswi sengaja menyelipkan contekan ke tanganku. "Bantu aku pegang, ada guru datang." Dia pikir aku akan panik dan memasukkan contekan itu ke dalam sakuku. Namun, aku mengangkat tangan. "Bu, barusan dia menyelipkan contekan ke tangan saya." Setelah bekerja, atasan baru mulai mengaudit laporan keuangan. Kak Winda menginjak kakiku di bawah meja sambil berbisik. "Kamu akui saja dulu. Lagipula, kamu karyawan baru, bos nggak mungkin kasih hukuman berat." Aku mengangguk, lalu berdiri sambil menatap Bos. "Yang menerima suap adalah Kak Winda." "Dia bilang karyawan baru nggak mungkin dikasih hukuman berat." "Bos, Anda juga baru di sini, bagaimana kalau Anda yang mengaku untuknya?" Sejak itu, tidak ada satu pun teman kantor yang berani membisikkan sesuatu padaku. Sampai akhirnya orang kandungku mengajakku tinggal di rumah, lalu mengadakan pesta penyambutan untukku. Tanpa memedulikan namaku di meja, Mirna duduk di antara ayah dan ibuku. Dia merangkul lengan ibuku, lalu tersenyum padaku. "Kakak, ini tempat dudukku selama 21 tahun, kamu nggak keberatan, 'kan?" Semua orang menunggu aku mengalah dan pindah duduk di samping. Aku bertanya kepada Mirna dengan serius. "Kenapa kamu menganggap aku akan keberatan?" "Apa karena ini adalah tempat duduk putri di rumah ini?" Mirna cemberut, tanpa mengatakan apa pun. Aku bertanya lagi. "Kalau ini adalah tempat duduk putri di rumah ini..." "Kamu sudah duduk di sini selama 21 tahun, bukankah seharusnya sekarang kamu kembalikan padaku?"
ดูเพิ่มเติมEnam bulan kemudian, aku membeli sebuah rumah.Tidak besar, hanya dua kamar dan satu ruang tamu.Di sertifikat kepemilikan rumah, hanya ada namaku.Pada hari pindahan, beberapa rekan dari HRD datang membantu.Bos memberiku sebuah mesin kopi.Kasus Kak Winda juga sudah mendapatkan hasil.Dia digugat oleh perusahaan, lalu harus mengembalikan seluruh uang komisi yang diterimanya.Katanya, pada hari putusan dibacakan, dia masih memakiku karena menganggapku tidak tahu adat.Aku tidak peduli.Karena hari itu adalah hari ulang tahunku.Pukul enam malam, bel pintu berbunyi.Aku membuka pintu.Enam orang dari Keluarga Winoto berdiri di luar.Mirna juga ikut.Dia terlihat agak kurus, tetapi wajahnya tampak lebih segar dibanding sebelumnya.Ibu membawa kue.Ayah membawa bunga, gerakannya kaku seperti orang yang baru pertama kali memberikan bunga.Kak Surya membuka suara duluan."Hm, kami boleh masuk?""Siapa yang memberi tahu alamatku pada kalian?"Kak Yohan langsung menunjuk ke Kak Jefry.Kak Je
Keesokan harinya pukul 16.50, Grup Winoto berhasil mengembalikan 5,6 miliar.Uang sebesar 1,2 miliar juga diganti oleh Mirna.Dia mengundurkan diri dari jabatan sebagai penanggung jawab yayasan dan meminta maaf secara terbuka.Grup Winoto tidak menutupi masalah itu.Untuk pertama kalinya, ayahku tidak meminta kelonggaran.Pada hari proyek itu selesai, mereka menungguku di bawah gedung kantor.Ibu memegang kalung liontin giok.Dia menyerahkannya kepadaku."Ini kalungmu."Aku menerimanya."Terima kasih."Matanya memerah.Mungkin dia tidak menyangka, aku hanya bisa mengucapkan dua kata itu.Kak Yohan menaruh kunci di atas meja."Kamar lamamu sudah dibersihkan.""Semua pakaian juga sudah disesuaikan dengan ukuran pakaianmu.""Aku nggak akan tidur di kamar itu.""Cindy, kami bukan membereskan kamar untuk merayumu pulang."Dia berhenti sejenak."Kamar itu memang seharusnya dikembalikan padamu."Kak Jefry juga berkata."Obat yang dulu kuberikan kepadamu, sudah kuperiksa.""Itu kelalaianku."
Malam itu, Mirna datang ke kantorku.Resepsionis bilang, dia sudah menunggu di bawah selama dua jam.Saat aku selesai bekerja, dia sedang duduk di pojokan lobi.Tidak ditemani orang tua maupun ketiga kakakku.Dia berdiri."Kak, mari kita bicara.""Kalau soal pekerjaan, temui pengacara saja.""Ini tentang keluarga."Aku melirik jam."Sepuluh menit."Dia mengikutiku ke kedai kopi di lantai bawah.Setelah duduk, dia melepas kalung liontin giok, lalu dia berikan padaku."Ini kukembalikan.""Ini nggak ada hubungannya dengan masalah laporan keuangan.""Aku tahu."Dia mengatupkan bibir."Aku hanya ingin memberitahumu, aku nggak pernah berniat merebut barang milikmu."Aku menatapnya."Kalau begitu, kenapa kamu selalu nggak mau mengembalikan padaku?"Dia terdiam.Aku berkata lagi."Di pesta penyambutan, kamu tahu itu tempat dudukku?""Aku tahu.""Saat mengurus pindah KK, kamu tahu mereka meninggalkanku sendirian demi kamu?""Aku tahu.""Waktu kamarku dipindah, apa benar penyakitmu kambuh?"Jari
Mirna tidak menangis.Dia menatap dokumen itu selama beberapa saat sebelum berkata."Memang benar, aku pernah mengambil fotokopi kartu identitas Kakak."Ekspresi Ibu berubah."Untuk apa?""Waktu mengurus asuransi keluarga tahun lalu, petugas bilang mereka membutuhkan data seluruh anggota keluarga."Dia menoleh kepadaku."Setelah selesai, langsung kukembalikan."Alasannya terdengar masuk akal.Kak Yohan bertanya kepada manajer keuangan."Siapa yang menghubungi perusahaan konsultan itu?"Manajer keuangan membolak-balik catatan."Asisten Nona Mirna, Wendy."Mirna langsung mengeluarkan ponselnya."Kupanggil dia sekarang juga."Setengah jam kemudian, Wendy masuk ke ruang rapat.Begitu melihat formulir persetujuan pembayaran itu, wajahnya langsung pucat."Saya yang melakukannya."Mirna langsung berdiri."Wendy, kenapa kamu menggunakan nama kakakku?"Wendy menundukkan kepala."Bu Cindy bukan anggota yayasan.""Tapi Nona Mirna bilang, semua sumber daya keluarganya boleh digunakan.""Jadi, saya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.