Short
Anak Kandung Selalu Jadi Pilihan Kedua

Anak Kandung Selalu Jadi Pilihan Kedua

By:  LizCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
2.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sejak kecil aku orang yang tidak bisa diajak kompromi, tidak peduli dengan maksud tersembunyi orang lain. Waktu SMP, ada seorang siswi sengaja menyelipkan contekan ke tanganku. "Bantu aku pegang, ada guru datang." Dia pikir aku akan panik dan memasukkan contekan itu ke dalam sakuku. Namun, aku mengangkat tangan. "Bu, barusan dia menyelipkan contekan ke tangan saya." Setelah bekerja, atasan baru mulai mengaudit laporan keuangan. Kak Winda menginjak kakiku di bawah meja sambil berbisik. "Kamu akui saja dulu. Lagipula, kamu karyawan baru, bos nggak mungkin kasih hukuman berat." Aku mengangguk, lalu berdiri sambil menatap Bos. "Yang menerima suap adalah Kak Winda." "Dia bilang karyawan baru nggak mungkin dikasih hukuman berat." "Bos, Anda juga baru di sini, bagaimana kalau Anda yang mengaku untuknya?" Sejak itu, tidak ada satu pun teman kantor yang berani membisikkan sesuatu padaku. Sampai akhirnya orang kandungku mengajakku tinggal di rumah, lalu mengadakan pesta penyambutan untukku. Tanpa memedulikan namaku di meja, Mirna duduk di antara ayah dan ibuku. Dia merangkul lengan ibuku, lalu tersenyum padaku. "Kakak, ini tempat dudukku selama 21 tahun, kamu nggak keberatan, 'kan?" Semua orang menunggu aku mengalah dan pindah duduk di samping. Aku bertanya kepada Mirna dengan serius. "Kenapa kamu menganggap aku akan keberatan?" "Apa karena ini adalah tempat duduk putri di rumah ini?" Mirna cemberut, tanpa mengatakan apa pun. Aku bertanya lagi. "Kalau ini adalah tempat duduk putri di rumah ini..." "Kamu sudah duduk di sini selama 21 tahun, bukankah seharusnya sekarang kamu kembalikan padaku?"

View More

Chapter 1

Bab 1

Suasana di ruang perjamuan seketika menjadi sunyi.

Para kerabat yang tadinya masih ingin berbasa-basi, kini semuanya menunduk sambil minum air.

Senyuman di wajah Mirna membeku.

"Kakak, aku hanya bercanda."

"Bagian mana dari leluconmu ini yang lucu?"

"Bukan itu maksudku."

"Lalu, apa maksudmu?"

Mirna menatapku beberapa detik, matanya perlahan memerah.

Kakak pertama, Yohan Winoto, menghampiri dan merangkul bahu Mirna.

"Cindy, hari ini hari baik, jangan mempermasalahkan ucapannya."

"Aku nggak mempermasalahkan ucapannya."

Aku menunjuk ke kartu nama di atas meja.

"Tempat dudukku di sebelah Ibu, tapi dia memindahkan kartu namaku, lalu duduk di tempat dudukku, tetapi dia malah bertanya apakah aku keberatan atau nggak."

"Kalian semua nggak keberatan, betul, 'kan?"

Kak Yohan mengernyitkan kening.

"Cuma tempat duduk, bukankah duduk di mana saja itu sama saja?"

"Kalau begitu, kenapa dia nggak duduk di tempat duduknya sendiri?"

"Dia terbiasa duduk di antara Ayah dan Ibu."

"Karena terbiasa, berarti dia boleh merebut tempat duduk orang lain?"

Kak Yohan tidak bisa menjawabku, akhirnya ibuku meraih tanganku.

"Cindy, Mirna sudah duduk bersama kami sejak kecil. Dia nggak bermaksud jahat."

"Aku nggak bilang dia punya maksud jahat."

"Aku hanya bertanya, kapan dia beranjak dari sana."

Ibu memegangku dengan erat, Mirna segera berdiri dan berkata, "Aku pergi."

"Kakak adalah putri kandung Keluarga Winoto, aku memang seharusnya nggak duduk di sini."

Dia mendorong kursi ke belakang dengan mata memerah, suara kaki kursi bergesekan dengan lantai memekikkan telinga.

Baru berjalan dua langkah, ibuku langsung mengejarnya. "Mirna, bukan ini maksud Ibu."

"Tubuhmu sedang nggak sehat, jangan pikir macam-macam."

Kakak keduaku, Jefry Winoto, juga mengadang di depannya, sedangkan kakak ketigaku, Surya Winoto, langsung menatapku sambil bertanya, "Kamu puas sekarang?"

Aku menatap mereka. "Dia mengambil tempat dudukku, aku hanya tanya kapan dia mengembalikannya, kenapa malah aku dituduh menindasnya?"

Ekspresi Kak Surya langsung muram.

"Kamu jelas-jelas tahu dia paling takut diusir dari Keluarga Winoto, tapi kamu malah menggunakan statusmu sebagai anak kandung untuk menyakitinya."

"Dia sendiri yang mengungkit soal status anak kandung, bukan aku. Dia yang mengatakannya, kenapa aku yang dituduh menyakitinya?"

Kak Surya hendak mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya tidak bisa mengatakan sepatah kata pun.

Mirna memegang dada, napasnya tiba-tiba menjadi cepat.

"Maaf, ini salahku, nggak seharusnya aku datang ke pesta penyambutan hari ini."

"Kalianlah keluarga yang sebenarnya, aku pergi saja."

Dia berbalik dan berlari keluar.

Ibu dan ketiga kakakku semua mengejarnya.

Ayahku, Erik Winoto, masih duduk di kursi utama, wajahnya tampak muram.

"Cindy, kamu sudah kembali ke rumah Keluarga Winoto selama tiga tahun, kenapa masih belum bisa rukun sama keluargamu?"

Aku menatap empat tempat duduk kosong sambil menjawab, "Hari ini pesta penyambutanku, 'kan?"

"Tentu saja."

"Lalu, kenapa mereka semua pergi?"

Ayah mengusap pelipisnya. "Mirna sedang nggak enak badan."

"Kak Jefry 'kan dokter, cukup dia saja yang mengejar Mirna."

"Ibumu mengkhawatirkan kondisi Mirna."

"Bagaimana dengan Kak Yohan dan Kak Surya?"

Ayahku tidak menjawab. Setelah menunggu sejenak, aku bertanya lagi.

"Di pesta penyambutan, putri kandung dan putri angkat terjadi konflik."

"Semua keluarga mengejar putri angkat."

"Jadi, sebenarnya siapa yang mau kalian sambut hari ini?"

Ayahku menggebrak meja.

"Cukup!"

Aku mengangguk. "Oke."

Ayahku tertegun sejenak.

Selama tiga tahun tinggal di rumah Keluarga Winoto, ini pertama kalinya aku tidak meneruskan perdebatan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status