Share

Bab 2

Author: Liz
Pesta penyambutan yang kunantikan selama tiga tahun, pada akhirnya hancur dalam satu jam.

Ketika aku kembali ke rumah Keluarga Winoto, Mirna sedang bersandar di sofa sambil minum air.

Ibu duduk di sampingnya sambil menepuk-nepuk punggungnya, sementara ketiga kakakku mengelilinginya, seolah-olah dia baru saja keluar dari ruang gawat darurat.

Setelah melepas sepatu, Ibu memanggilku, "Cindy, kemarilah dan minta maaf pada Mirna."

Aku mendekat sambil bertanya, "Kenapa aku harus minta maaf?"

Gerakan Ibu terhenti.

Kak Surya mencibir, "Haruskah kami menjelaskan secara detail agar kamu paham?"

"Ya, kalau nggak dijelaskan, takutnya permintaan maafku percuma."

Aku menatap Kak Surya.

"Apa alasannya karena aku bertanya kenapa dia mengambil tempat dudukku? Atau karena aku nggak berinisiatif memberikan tempat dudukku padanya?"

Kak Surya berdiri.

"Lagi-lagi sikapmu seperti ini. Kamu selalu mempermasalahkan semuanya, sampai membuat kami semua merasa malu."

"Siapa pun yang bicara nggak masuk akal, dia sendiri yang malu, apa masalahnya?"

"Rumah ini bukan untuk membicarakan siapa yang benar atau salah."

"Lalu, di rumah ini untuk membicarakan apa?"

"Perasaan!"

Aku menatap Kak Surya, lalu bertanya lagi, "Selama tiga tahun aku tinggal di sini, kamu tiga kali merayakan ulang tahun Mirna, sedangkan pesta ulang tahunku, kamu nggak pernah datang."

"Perasaan yang kamu maksud itu, perasaan kalian terhadap Mirna?"

Wajah Kak Surya langsung memerah.

"Aku ada urusan waktu itu."

Sambil menghitung jari, aku berkata, "Pertama, kamu temani Mirna menonton konser. Kedua, Mirna berkelahi dengan temannya. Ketiga, kucing peliharaan Mirna belum makan."

"Dari ketiga hal itu, yang mana yang ada hubungannya denganmu?"

Kak Surya tidak bisa membantah.

Mirna menaruh gelas, lalu berkata dengan suara pelan, "Kakak mengingat semuanya dengan jelas."

"Tentu saja."

"Ulang tahunku hanya sekali dalam setahun."

Ibuku tampak canggung. "Cindy, jangan karena dulu kami menghabiskan lebih banyak waktu menemani Mirna, lalu kamu mengungkit satu per satu sekarang."

"Bukan dulu."

"Ulang tahunku terakhir kali baru dua bulan lalu."

Suasana di ruang tamu menjadi hening kembali.

Kak Yohan tidak tahan lagi, dia mendorong sebuah kotak ke hadapanku. "Pesta penyambutanmu nggak berjalan dengan baik, ini untukmu."

Aku membuka kotak, di dalamnya ada sebuah kalung mutiara.

Ekspresi Mirna langsung berubah.

Mirna tanpa sadar memegang lehernya, di sana tergantung sebuah kalung liontin berbentuk kancing lambang keselamatan.

Aku pernah melihatnya.

Saat pertama kali Ibu mengunjungiku, Ibu membawa foto kalung itu dan berkata.

"Ini kalung yang dipersiapkan khusus untuk putri Keluarga Winoto. Kamu menghilang saat masih kecil, jadi Ibu terus menyimpan kalung ini untukmu."

Aku menunjuk ke leher Mirna. "Kenapa kalungku dipakai Mirna?"

Ibu langsung menjelaskan.

"Mirna pernah mengalami sakit parah saat usianya 18 tahun. Demi untuk menenangkannya, Ibu suruh dia pakai kalung itu dulu."

"Berapa lama?"

"Tiga tahun."

"Kapan dikembalikan?"

Mirna segera ingin melepas kalungnya, tetapi ibuku menahannya.

"Cindy, itu hanya kalung liontin. Kalau kamu menyukainya, Ibu bisa belikan lagi."

"Kalung giokku ada banyak. Yang kupertanyakan, kenapa semua barang yang Ibu simpan untukku, malah diberikan padanya?"

Mata Ibu memerah. "Waktu itu, Ibu pikir nggak bisa menemukanmu lagi."

"Tapi, sekarang Ibu sudah menemukanku."

Aku menatap Mirna. "Kenapa kamu masih nggak mengembalikan kalung itu padaku?"

Air mata Mirna jatuh. "Aku kembalikan pada Kakak."

"Mirna! Ini hadiah pemberian Ibu untukmu, kamu nggak perlu kembalikan."

Aku mengangguk, lalu menaruh kembali kalung mutiara ke atas meja. "Aku sudah mengerti sekarang."

Ibu tertegun. "Kamu mengerti apa?"

"Kalung liontin itu bukan disimpan untukku."

"Kalung mutiara ini juga bukan sebagai pengganti."

"Kalian hanya memberiku barang baru karena berharap aku nggak menanyakan keberadaan barang lamaku."

Kebetulan ayahku baru masuk ruangan. Saat mendengar kalimat terakhirku, ayahku mengernyit. "Apa lagi yang kamu ributkan?"

Kak Surya yang duluan menjawab, "Dia memaksa meminta kembali kalung liontin yang dipakai Mirna."

"Aku nggak memaksa."

Aku mengoreksinya.

"Aku hanya memastikan kalung itu milikku atau bukan. Kalau bukan, aku nggak mau. Kalau ternyata itu milikku, kalung itu seharusnya dikembalikan."

"Apa penjelasanku masih kurang bisa dipahami?"

Ayahku terdiam sejenak, lalu berkata, "Bahas masalah kalung liontin nanti saja."

"Besok kita urus dulu pindah KK-mu."

Aku menatap ayahku.

Setelah tiga tahun tinggal di rumah Keluarga Winoto, domisiliku masih tercatat di tempat tinggalku sebelumnya di sebuah kabupaten kecil.

Setiap kali kutanya, mereka selalu bilang proses untuk mengubahnya sangat merepotkan.

Mirna tertawa kecil.

"Setelah Kakak sekian lama tinggal di sini, akhirnya KK Kakak baru dipindah ke sini."

Aku bertanya padanya.

"Kenapa kamu bilang 'akhirnya'?"

Senyumnya memudar.

"Aku ikut senang untuk Kakak."

"Tapi kamu bilang 'akhirnya', berarti kamu tahu sudah diundur lama."

"Lalu, kamu tahu alasan kenapa diundur selama itu?"

Mirna mengalihkan pandangannya.

Ibuku langsung menyela.

"Besok kita sekeluarga menemanimu mengurusnya."

Aku memastikan sekali lagi.

"Ayah, Ibu, dan ketiga kakak?"

Kak Yohan mengangguk.

"Semuanya ikut."

Kak Surya duduk bersandar di sofa, nada suaranya terdengar kesal.

"Bukankah cuma pindah KK? Memangnya perlu kami semua ikut?"

"Perlu."

Aku menatap mereka.

"Karena aku nggak mau besok tiba-tiba ada yang beralasan sakit perut, pusing, atau belum kasih makan kucing."

Wajah Mirna memucat.

Ibu memegang tanganku.

"Nggak akan."

"Kali ini, kita semua harus ikut."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anak Kandung Selalu Jadi Pilihan Kedua   Bab 10

    Enam bulan kemudian, aku membeli sebuah rumah.Tidak besar, hanya dua kamar dan satu ruang tamu.Di sertifikat kepemilikan rumah, hanya ada namaku.Pada hari pindahan, beberapa rekan dari HRD datang membantu.Bos memberiku sebuah mesin kopi.Kasus Kak Winda juga sudah mendapatkan hasil.Dia digugat oleh perusahaan, lalu harus mengembalikan seluruh uang komisi yang diterimanya.Katanya, pada hari putusan dibacakan, dia masih memakiku karena menganggapku tidak tahu adat.Aku tidak peduli.Karena hari itu adalah hari ulang tahunku.Pukul enam malam, bel pintu berbunyi.Aku membuka pintu.Enam orang dari Keluarga Winoto berdiri di luar.Mirna juga ikut.Dia terlihat agak kurus, tetapi wajahnya tampak lebih segar dibanding sebelumnya.Ibu membawa kue.Ayah membawa bunga, gerakannya kaku seperti orang yang baru pertama kali memberikan bunga.Kak Surya membuka suara duluan."Hm, kami boleh masuk?""Siapa yang memberi tahu alamatku pada kalian?"Kak Yohan langsung menunjuk ke Kak Jefry.Kak Je

  • Anak Kandung Selalu Jadi Pilihan Kedua   Bab 9

    Keesokan harinya pukul 16.50, Grup Winoto berhasil mengembalikan 5,6 miliar.Uang sebesar 1,2 miliar juga diganti oleh Mirna.Dia mengundurkan diri dari jabatan sebagai penanggung jawab yayasan dan meminta maaf secara terbuka.Grup Winoto tidak menutupi masalah itu.Untuk pertama kalinya, ayahku tidak meminta kelonggaran.Pada hari proyek itu selesai, mereka menungguku di bawah gedung kantor.Ibu memegang kalung liontin giok.Dia menyerahkannya kepadaku."Ini kalungmu."Aku menerimanya."Terima kasih."Matanya memerah.Mungkin dia tidak menyangka, aku hanya bisa mengucapkan dua kata itu.Kak Yohan menaruh kunci di atas meja."Kamar lamamu sudah dibersihkan.""Semua pakaian juga sudah disesuaikan dengan ukuran pakaianmu.""Aku nggak akan tidur di kamar itu.""Cindy, kami bukan membereskan kamar untuk merayumu pulang."Dia berhenti sejenak."Kamar itu memang seharusnya dikembalikan padamu."Kak Jefry juga berkata."Obat yang dulu kuberikan kepadamu, sudah kuperiksa.""Itu kelalaianku."

  • Anak Kandung Selalu Jadi Pilihan Kedua   Bab 8

    Malam itu, Mirna datang ke kantorku.Resepsionis bilang, dia sudah menunggu di bawah selama dua jam.Saat aku selesai bekerja, dia sedang duduk di pojokan lobi.Tidak ditemani orang tua maupun ketiga kakakku.Dia berdiri."Kak, mari kita bicara.""Kalau soal pekerjaan, temui pengacara saja.""Ini tentang keluarga."Aku melirik jam."Sepuluh menit."Dia mengikutiku ke kedai kopi di lantai bawah.Setelah duduk, dia melepas kalung liontin giok, lalu dia berikan padaku."Ini kukembalikan.""Ini nggak ada hubungannya dengan masalah laporan keuangan.""Aku tahu."Dia mengatupkan bibir."Aku hanya ingin memberitahumu, aku nggak pernah berniat merebut barang milikmu."Aku menatapnya."Kalau begitu, kenapa kamu selalu nggak mau mengembalikan padaku?"Dia terdiam.Aku berkata lagi."Di pesta penyambutan, kamu tahu itu tempat dudukku?""Aku tahu.""Saat mengurus pindah KK, kamu tahu mereka meninggalkanku sendirian demi kamu?""Aku tahu.""Waktu kamarku dipindah, apa benar penyakitmu kambuh?"Jari

  • Anak Kandung Selalu Jadi Pilihan Kedua   Bab 7

    Mirna tidak menangis.Dia menatap dokumen itu selama beberapa saat sebelum berkata."Memang benar, aku pernah mengambil fotokopi kartu identitas Kakak."Ekspresi Ibu berubah."Untuk apa?""Waktu mengurus asuransi keluarga tahun lalu, petugas bilang mereka membutuhkan data seluruh anggota keluarga."Dia menoleh kepadaku."Setelah selesai, langsung kukembalikan."Alasannya terdengar masuk akal.Kak Yohan bertanya kepada manajer keuangan."Siapa yang menghubungi perusahaan konsultan itu?"Manajer keuangan membolak-balik catatan."Asisten Nona Mirna, Wendy."Mirna langsung mengeluarkan ponselnya."Kupanggil dia sekarang juga."Setengah jam kemudian, Wendy masuk ke ruang rapat.Begitu melihat formulir persetujuan pembayaran itu, wajahnya langsung pucat."Saya yang melakukannya."Mirna langsung berdiri."Wendy, kenapa kamu menggunakan nama kakakku?"Wendy menundukkan kepala."Bu Cindy bukan anggota yayasan.""Tapi Nona Mirna bilang, semua sumber daya keluarganya boleh digunakan.""Jadi, saya

  • Anak Kandung Selalu Jadi Pilihan Kedua   Bab 6

    Tiga hari kemudian, aku masuk ke ruang rapat Grup Winoto.Ayah duduk di kursi utama.Ketiga kakakku juga ada di sana.Mirna duduk di sebelah Ibu, masih mengenakan kalung liontin giok di lehernya.Saat melihatku, wajah Ayah agak menegang."Kamu benaran datang?""Untuk bekerja."Kak Surya bersandar di kursinya sambil tertawa."Kami nggak bisa memanggilmu pulang, tapi proyek malah bisa membuatmu datang."Aku membuka laptop."Biaya proyek dihitung per jam.""Jadi, setiap kata yang kamu ucapkan sekarang ada tarifnya."Senyuman Kak Surya langsung lenyap.Ayah mengetuk meja."Kita bahas masalah pekerjaan dulu."Grup Winoto belakangan ini bersiap untuk go public.Tim kami bertanggung jawab untuk mengaudit laporan keuangan internal dan transaksi dengan pihak-pihak terkait.Aku menampilkan dokumen di layar."Pertama, Yayasan Amal Mirna."Mirna mengangkat kepala."Ada apa dengan yayasanku?""Tahun lalu, yayasan menggalang dana sebesar 17,2 miliar.""Yang benar-benar digunakan untuk kegiatan amal

  • Anak Kandung Selalu Jadi Pilihan Kedua   Bab 5

    Aku tidak menoleh.Keluar dari rumah Keluarga Winoto, aku pergi ke perusahaan dengan taksi.Staf HRD sudah menunggu di ruang rapat.Melihatku datang dengan membawa koper, dia tertegun."Kamu benaran pindah dari rumah?""Hm.""Ya, sudah. Di asrama perusahaan masih ada satu kamar kosong, kamu tinggal di situ dulu, nanti biaya sewanya dipotong dari gajimu."Dia memberikan dokumen."Ini surat konfirmasi pendaftaran alamat perusahaan, tanda tangan di sini."Aku menunduk dan menandatanganinya.Tidak sampai lima menit, prosedur selesai.Staf HRD melirik ke koperku."Keluargamu nggak keberatan?""Keberatan.""Tapi, kamu tetap pindah?""Pendapat mereka nggak bisa menyelesaikan masalahku."Dia mengacungkan jempol ke arahku."Kamu ini benar-benar keras kepala."Ponsel berdering.Ayah yang menghubungiku.Aku mengangkat telepon."Cindy, pulang sekarang, maka Ayah anggap nggak terjadi apa-apa.""Semua sudah terjadi.""Kamu benar-benar mempermasalahkan kata-kata Ayah?""Nggak cuma beberapa kata."Aku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status