LOGINEnam bulan kemudian, aku membeli sebuah rumah.Tidak besar, hanya dua kamar dan satu ruang tamu.Di sertifikat kepemilikan rumah, hanya ada namaku.Pada hari pindahan, beberapa rekan dari HRD datang membantu.Bos memberiku sebuah mesin kopi.Kasus Kak Winda juga sudah mendapatkan hasil.Dia digugat oleh perusahaan, lalu harus mengembalikan seluruh uang komisi yang diterimanya.Katanya, pada hari putusan dibacakan, dia masih memakiku karena menganggapku tidak tahu adat.Aku tidak peduli.Karena hari itu adalah hari ulang tahunku.Pukul enam malam, bel pintu berbunyi.Aku membuka pintu.Enam orang dari Keluarga Winoto berdiri di luar.Mirna juga ikut.Dia terlihat agak kurus, tetapi wajahnya tampak lebih segar dibanding sebelumnya.Ibu membawa kue.Ayah membawa bunga, gerakannya kaku seperti orang yang baru pertama kali memberikan bunga.Kak Surya membuka suara duluan."Hm, kami boleh masuk?""Siapa yang memberi tahu alamatku pada kalian?"Kak Yohan langsung menunjuk ke Kak Jefry.Kak Je
Keesokan harinya pukul 16.50, Grup Winoto berhasil mengembalikan 5,6 miliar.Uang sebesar 1,2 miliar juga diganti oleh Mirna.Dia mengundurkan diri dari jabatan sebagai penanggung jawab yayasan dan meminta maaf secara terbuka.Grup Winoto tidak menutupi masalah itu.Untuk pertama kalinya, ayahku tidak meminta kelonggaran.Pada hari proyek itu selesai, mereka menungguku di bawah gedung kantor.Ibu memegang kalung liontin giok.Dia menyerahkannya kepadaku."Ini kalungmu."Aku menerimanya."Terima kasih."Matanya memerah.Mungkin dia tidak menyangka, aku hanya bisa mengucapkan dua kata itu.Kak Yohan menaruh kunci di atas meja."Kamar lamamu sudah dibersihkan.""Semua pakaian juga sudah disesuaikan dengan ukuran pakaianmu.""Aku nggak akan tidur di kamar itu.""Cindy, kami bukan membereskan kamar untuk merayumu pulang."Dia berhenti sejenak."Kamar itu memang seharusnya dikembalikan padamu."Kak Jefry juga berkata."Obat yang dulu kuberikan kepadamu, sudah kuperiksa.""Itu kelalaianku."
Malam itu, Mirna datang ke kantorku.Resepsionis bilang, dia sudah menunggu di bawah selama dua jam.Saat aku selesai bekerja, dia sedang duduk di pojokan lobi.Tidak ditemani orang tua maupun ketiga kakakku.Dia berdiri."Kak, mari kita bicara.""Kalau soal pekerjaan, temui pengacara saja.""Ini tentang keluarga."Aku melirik jam."Sepuluh menit."Dia mengikutiku ke kedai kopi di lantai bawah.Setelah duduk, dia melepas kalung liontin giok, lalu dia berikan padaku."Ini kukembalikan.""Ini nggak ada hubungannya dengan masalah laporan keuangan.""Aku tahu."Dia mengatupkan bibir."Aku hanya ingin memberitahumu, aku nggak pernah berniat merebut barang milikmu."Aku menatapnya."Kalau begitu, kenapa kamu selalu nggak mau mengembalikan padaku?"Dia terdiam.Aku berkata lagi."Di pesta penyambutan, kamu tahu itu tempat dudukku?""Aku tahu.""Saat mengurus pindah KK, kamu tahu mereka meninggalkanku sendirian demi kamu?""Aku tahu.""Waktu kamarku dipindah, apa benar penyakitmu kambuh?"Jari
Mirna tidak menangis.Dia menatap dokumen itu selama beberapa saat sebelum berkata."Memang benar, aku pernah mengambil fotokopi kartu identitas Kakak."Ekspresi Ibu berubah."Untuk apa?""Waktu mengurus asuransi keluarga tahun lalu, petugas bilang mereka membutuhkan data seluruh anggota keluarga."Dia menoleh kepadaku."Setelah selesai, langsung kukembalikan."Alasannya terdengar masuk akal.Kak Yohan bertanya kepada manajer keuangan."Siapa yang menghubungi perusahaan konsultan itu?"Manajer keuangan membolak-balik catatan."Asisten Nona Mirna, Wendy."Mirna langsung mengeluarkan ponselnya."Kupanggil dia sekarang juga."Setengah jam kemudian, Wendy masuk ke ruang rapat.Begitu melihat formulir persetujuan pembayaran itu, wajahnya langsung pucat."Saya yang melakukannya."Mirna langsung berdiri."Wendy, kenapa kamu menggunakan nama kakakku?"Wendy menundukkan kepala."Bu Cindy bukan anggota yayasan.""Tapi Nona Mirna bilang, semua sumber daya keluarganya boleh digunakan.""Jadi, saya
Tiga hari kemudian, aku masuk ke ruang rapat Grup Winoto.Ayah duduk di kursi utama.Ketiga kakakku juga ada di sana.Mirna duduk di sebelah Ibu, masih mengenakan kalung liontin giok di lehernya.Saat melihatku, wajah Ayah agak menegang."Kamu benaran datang?""Untuk bekerja."Kak Surya bersandar di kursinya sambil tertawa."Kami nggak bisa memanggilmu pulang, tapi proyek malah bisa membuatmu datang."Aku membuka laptop."Biaya proyek dihitung per jam.""Jadi, setiap kata yang kamu ucapkan sekarang ada tarifnya."Senyuman Kak Surya langsung lenyap.Ayah mengetuk meja."Kita bahas masalah pekerjaan dulu."Grup Winoto belakangan ini bersiap untuk go public.Tim kami bertanggung jawab untuk mengaudit laporan keuangan internal dan transaksi dengan pihak-pihak terkait.Aku menampilkan dokumen di layar."Pertama, Yayasan Amal Mirna."Mirna mengangkat kepala."Ada apa dengan yayasanku?""Tahun lalu, yayasan menggalang dana sebesar 17,2 miliar.""Yang benar-benar digunakan untuk kegiatan amal
Aku tidak menoleh.Keluar dari rumah Keluarga Winoto, aku pergi ke perusahaan dengan taksi.Staf HRD sudah menunggu di ruang rapat.Melihatku datang dengan membawa koper, dia tertegun."Kamu benaran pindah dari rumah?""Hm.""Ya, sudah. Di asrama perusahaan masih ada satu kamar kosong, kamu tinggal di situ dulu, nanti biaya sewanya dipotong dari gajimu."Dia memberikan dokumen."Ini surat konfirmasi pendaftaran alamat perusahaan, tanda tangan di sini."Aku menunduk dan menandatanganinya.Tidak sampai lima menit, prosedur selesai.Staf HRD melirik ke koperku."Keluargamu nggak keberatan?""Keberatan.""Tapi, kamu tetap pindah?""Pendapat mereka nggak bisa menyelesaikan masalahku."Dia mengacungkan jempol ke arahku."Kamu ini benar-benar keras kepala."Ponsel berdering.Ayah yang menghubungiku.Aku mengangkat telepon."Cindy, pulang sekarang, maka Ayah anggap nggak terjadi apa-apa.""Semua sudah terjadi.""Kamu benar-benar mempermasalahkan kata-kata Ayah?""Nggak cuma beberapa kata."Aku







