Share

Bab 3

Penulis: Liz
Esok paginya pukul sembilan, kami tiba di kantor administrasi kependudukan.

Mirna juga ikut.

Dia bilang ingin menyaksikan sendiri aku resmi menjadi putri Keluarga Winoto.

Petugas menerima dokumen. Di tengah pemeriksaan, petugas mendongak dan bertanya kepada ayahku.

"Masih kurang berkas bukti tes DNA."

Ayahku menoleh ke arah Kak Yohan.

"Bukankah kamu sudah kusuruh menyiapkan semua dokumennya?"

Kak Yohan mencari di dalam map, ekspresinya langsung berubah.

"Aku taruh di meja ruang kerja."

Kak Surya tidak tahan lagi, lalu berkata.

"Kami semua sudah datang, apa nggak bisa diurus dulu?"

Petugas menggelengkan kepala.

"Kalau dokumen nggak lengkap, kami nggak bisa masukkan ke dalam sistem."

Mirna segera berkata.

"Semua salahku."

"Gara-gara semalam Kak Yohan bantu aku mencari obat, mungkin dia lupa."

Aku melirik Mirna.

"Kenapa itu salahmu?"

Dia tertegun.

"Aku hanya asal bicara saja."

"Kak Yohan yang membantumu mencari obat, dia juga yang lupa bawa dokumen."

"Kamu bilang itu salahmu, apa kamu ingin menanggung kesalahannya?"

"Atau ingin memperingatkanku kalau dia rela melupakan dokumenku demi merawatmu?"

Kak Yohan langsung mengerutkan kening.

"Cindy, dia nggak sejahat yang kamu pikirkan."

"Lalu, apa maksud dari ucapannya barusan?"

"Dia menyalahkan diri sendiri."

"Dia nggak menyentuh dokumen, ngapain dia menyalahkan diri?"

Kak Yohan kesal dengan pertanyaanku.

"Cukup, aku yang salah, puas?"

"Baiklah."

Aku mencatat dokumen yang kurang di ponselku.

"Nanti sore kita urus lagi."

Kak Surya memutar mata.

"Kamu ini paling nggak bisa diajak kompromi."

"Ini menyangkut KK-ku."

"Kalau aku nggak tegas, siapa yang mau bersikap tegas untukku?"

Semua terdiam.

Ayah menyuruh sopir mengambil dokumen yang tertinggal di rumah.

Kami menunggu di lobi selama dua puluh menit, ponsel Mirna berbunyi.

Dia melirik sekilas, tiba-tiba wajahnya memucat.

"Bu, aku balik dulu."

Ibuku menariknya.

"Ada apa?"

"Nggak ada apa-apa."

Dia makin bilang tidak ada apa-apa, air matanya yang menetes makin deras.

Kak Jefry mengambil ponselnya.

Di layar tampak tangkapan layar dari rekaman CCTV yang dikirim oleh manajemen properti.

Beberapa petugas sedang memindahkan barang dari kamar Mirna.

Ibu segera menoleh ke Ayah.

"Siapa yang menyuruh memindahkan barang dari kamar Mirna?"

Ayahku tertegun sejenak.

"Semalam, aku menyuruh kepala pelayan untuk membersihkan kamar masa kecil Cindy."

Mirna menggigit bibir.

"Nggak apa-apa."

"Kamar itu memang sejak awal kamarnya Kakak."

"Barang-barangku dibuang saja."

Ibuku langsung panik.

"Siapa yang bilang mau membuang barang-barangmu?"

Mirna mengambil tas, lalu berjalan menuju ke pintu keluar.

Kak Yohan dan Kak Surya ingin mengejarnya.

Kak Jefry melirikku.

"Mirna mengidap gangguan kecemasan, kalau kamarnya tiba-tiba diutak-atik, penyakitnya kambuh."

"Kamu 'kan dokter, temani saja dia itu cukup."

Aku melirik ke kedua kakak lainnya.

"Kalian juga bisa mengobati gangguan kecemasan?"

Kak Surya geram.

"Dia menangis seperti itu, kamu masih ingin menghalangi kami?"

"Aku nggak menghalangi."

"Aku hanya memastikan. Kemarin kalian semua janji akan menemaniku terus, lalu kenapa sekarang kalian mau pergi?"

Langkah ibuku langsung terhenti.

"Cindy, masalah KK masih bisa diurus nanti sore."

"Mirna sekarang tampak sangat sedih."

"Aku sekarang juga sangat sedih."

Ibuku tertegun.

Aku bertanya kepada Ibu.

"Kenapa saat dia sedang sedih, kalian langsung pergi menghiburnya?"

"Saat aku sedang sedih, kenapa kalian tunda sampai nanti sore?"

"Karena dia sedang sakit."

"Jadi, hanya karena dia sakit, semua urusanku itu nggak penting buat kalian, benar, 'kan?"

Ibuku menggerakkan bibirnya.

Mirna tiba-tiba berjongkok, mencengkeram dada dengan napas tersengal-sengal.

Sekarang tidak ada yang menjawabku.

Ibu dan ketiga kakakku menghampiri dan mengelilingi Mirna.

Ayah menerima panggilan telepon dari perusahaan, jadi minggir ke samping.

Tidak lama kemudian, mereka membawa Mirna keluar dari lobi kantor administrasi kependudukan.

Sebelum pergi, ayah menoleh ke arahku.

"Kamu tunggu di sini sampai sopir yang membawa dokumen itu datang."

"Setelah urusan selesai, kami akan menyusul ke sini."

"Berapa lama?"

"Jangan terlalu perhitungan."

"Kasih aku waktu perkiraan."

Wajah ayahku tampak muram.

"Mana Ayah tahu!"

Pintu lift di depan mereka tertutup.

Petugas yang memegang tumpukan dokumen yang kuberikan, bertanya dengan hati-hati.

"Masih mau tetap diproses?"

Aku melirik ke luar pintu kaca.

Mobil mereka sudah tidak ada.

Mereka berenam yang katanya akan menemaniku sampai pulang, pada akhirnya semuanya pergi sekarang.

Aku mengambil kembali formulir pendaftaran.

Petugas mengira aku batal mengurus KK.

"Dokumen Anda boleh ditinggal dulu di sini, lain kali silakan datang mengurusnya lagi."

"Nggak perlu."

Aku merobek halaman yang menyatakan pindah KK Keluarga Winoto.

"Permisi tanya."

"Kalau saya nggak jadi pindah KK Keluarga Winoto."

"Apakah ada alamat lain yang boleh saya gunakan untuk memindahkan KK dari tempat asal?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Anak Kandung Selalu Jadi Pilihan Kedua   Bab 10

    Enam bulan kemudian, aku membeli sebuah rumah.Tidak besar, hanya dua kamar dan satu ruang tamu.Di sertifikat kepemilikan rumah, hanya ada namaku.Pada hari pindahan, beberapa rekan dari HRD datang membantu.Bos memberiku sebuah mesin kopi.Kasus Kak Winda juga sudah mendapatkan hasil.Dia digugat oleh perusahaan, lalu harus mengembalikan seluruh uang komisi yang diterimanya.Katanya, pada hari putusan dibacakan, dia masih memakiku karena menganggapku tidak tahu adat.Aku tidak peduli.Karena hari itu adalah hari ulang tahunku.Pukul enam malam, bel pintu berbunyi.Aku membuka pintu.Enam orang dari Keluarga Winoto berdiri di luar.Mirna juga ikut.Dia terlihat agak kurus, tetapi wajahnya tampak lebih segar dibanding sebelumnya.Ibu membawa kue.Ayah membawa bunga, gerakannya kaku seperti orang yang baru pertama kali memberikan bunga.Kak Surya membuka suara duluan."Hm, kami boleh masuk?""Siapa yang memberi tahu alamatku pada kalian?"Kak Yohan langsung menunjuk ke Kak Jefry.Kak Je

  • Anak Kandung Selalu Jadi Pilihan Kedua   Bab 9

    Keesokan harinya pukul 16.50, Grup Winoto berhasil mengembalikan 5,6 miliar.Uang sebesar 1,2 miliar juga diganti oleh Mirna.Dia mengundurkan diri dari jabatan sebagai penanggung jawab yayasan dan meminta maaf secara terbuka.Grup Winoto tidak menutupi masalah itu.Untuk pertama kalinya, ayahku tidak meminta kelonggaran.Pada hari proyek itu selesai, mereka menungguku di bawah gedung kantor.Ibu memegang kalung liontin giok.Dia menyerahkannya kepadaku."Ini kalungmu."Aku menerimanya."Terima kasih."Matanya memerah.Mungkin dia tidak menyangka, aku hanya bisa mengucapkan dua kata itu.Kak Yohan menaruh kunci di atas meja."Kamar lamamu sudah dibersihkan.""Semua pakaian juga sudah disesuaikan dengan ukuran pakaianmu.""Aku nggak akan tidur di kamar itu.""Cindy, kami bukan membereskan kamar untuk merayumu pulang."Dia berhenti sejenak."Kamar itu memang seharusnya dikembalikan padamu."Kak Jefry juga berkata."Obat yang dulu kuberikan kepadamu, sudah kuperiksa.""Itu kelalaianku."

  • Anak Kandung Selalu Jadi Pilihan Kedua   Bab 8

    Malam itu, Mirna datang ke kantorku.Resepsionis bilang, dia sudah menunggu di bawah selama dua jam.Saat aku selesai bekerja, dia sedang duduk di pojokan lobi.Tidak ditemani orang tua maupun ketiga kakakku.Dia berdiri."Kak, mari kita bicara.""Kalau soal pekerjaan, temui pengacara saja.""Ini tentang keluarga."Aku melirik jam."Sepuluh menit."Dia mengikutiku ke kedai kopi di lantai bawah.Setelah duduk, dia melepas kalung liontin giok, lalu dia berikan padaku."Ini kukembalikan.""Ini nggak ada hubungannya dengan masalah laporan keuangan.""Aku tahu."Dia mengatupkan bibir."Aku hanya ingin memberitahumu, aku nggak pernah berniat merebut barang milikmu."Aku menatapnya."Kalau begitu, kenapa kamu selalu nggak mau mengembalikan padaku?"Dia terdiam.Aku berkata lagi."Di pesta penyambutan, kamu tahu itu tempat dudukku?""Aku tahu.""Saat mengurus pindah KK, kamu tahu mereka meninggalkanku sendirian demi kamu?""Aku tahu.""Waktu kamarku dipindah, apa benar penyakitmu kambuh?"Jari

  • Anak Kandung Selalu Jadi Pilihan Kedua   Bab 7

    Mirna tidak menangis.Dia menatap dokumen itu selama beberapa saat sebelum berkata."Memang benar, aku pernah mengambil fotokopi kartu identitas Kakak."Ekspresi Ibu berubah."Untuk apa?""Waktu mengurus asuransi keluarga tahun lalu, petugas bilang mereka membutuhkan data seluruh anggota keluarga."Dia menoleh kepadaku."Setelah selesai, langsung kukembalikan."Alasannya terdengar masuk akal.Kak Yohan bertanya kepada manajer keuangan."Siapa yang menghubungi perusahaan konsultan itu?"Manajer keuangan membolak-balik catatan."Asisten Nona Mirna, Wendy."Mirna langsung mengeluarkan ponselnya."Kupanggil dia sekarang juga."Setengah jam kemudian, Wendy masuk ke ruang rapat.Begitu melihat formulir persetujuan pembayaran itu, wajahnya langsung pucat."Saya yang melakukannya."Mirna langsung berdiri."Wendy, kenapa kamu menggunakan nama kakakku?"Wendy menundukkan kepala."Bu Cindy bukan anggota yayasan.""Tapi Nona Mirna bilang, semua sumber daya keluarganya boleh digunakan.""Jadi, saya

  • Anak Kandung Selalu Jadi Pilihan Kedua   Bab 6

    Tiga hari kemudian, aku masuk ke ruang rapat Grup Winoto.Ayah duduk di kursi utama.Ketiga kakakku juga ada di sana.Mirna duduk di sebelah Ibu, masih mengenakan kalung liontin giok di lehernya.Saat melihatku, wajah Ayah agak menegang."Kamu benaran datang?""Untuk bekerja."Kak Surya bersandar di kursinya sambil tertawa."Kami nggak bisa memanggilmu pulang, tapi proyek malah bisa membuatmu datang."Aku membuka laptop."Biaya proyek dihitung per jam.""Jadi, setiap kata yang kamu ucapkan sekarang ada tarifnya."Senyuman Kak Surya langsung lenyap.Ayah mengetuk meja."Kita bahas masalah pekerjaan dulu."Grup Winoto belakangan ini bersiap untuk go public.Tim kami bertanggung jawab untuk mengaudit laporan keuangan internal dan transaksi dengan pihak-pihak terkait.Aku menampilkan dokumen di layar."Pertama, Yayasan Amal Mirna."Mirna mengangkat kepala."Ada apa dengan yayasanku?""Tahun lalu, yayasan menggalang dana sebesar 17,2 miliar.""Yang benar-benar digunakan untuk kegiatan amal

  • Anak Kandung Selalu Jadi Pilihan Kedua   Bab 5

    Aku tidak menoleh.Keluar dari rumah Keluarga Winoto, aku pergi ke perusahaan dengan taksi.Staf HRD sudah menunggu di ruang rapat.Melihatku datang dengan membawa koper, dia tertegun."Kamu benaran pindah dari rumah?""Hm.""Ya, sudah. Di asrama perusahaan masih ada satu kamar kosong, kamu tinggal di situ dulu, nanti biaya sewanya dipotong dari gajimu."Dia memberikan dokumen."Ini surat konfirmasi pendaftaran alamat perusahaan, tanda tangan di sini."Aku menunduk dan menandatanganinya.Tidak sampai lima menit, prosedur selesai.Staf HRD melirik ke koperku."Keluargamu nggak keberatan?""Keberatan.""Tapi, kamu tetap pindah?""Pendapat mereka nggak bisa menyelesaikan masalahku."Dia mengacungkan jempol ke arahku."Kamu ini benar-benar keras kepala."Ponsel berdering.Ayah yang menghubungiku.Aku mengangkat telepon."Cindy, pulang sekarang, maka Ayah anggap nggak terjadi apa-apa.""Semua sudah terjadi.""Kamu benar-benar mempermasalahkan kata-kata Ayah?""Nggak cuma beberapa kata."Aku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status