Pada detik selanjutnya, terdengar suara yang merdu."Dimas, kenapa kamu ada di sini?""Astaga, kenapa badanmu basah?"Aku menoleh dan melihat Nadia, wanita yang nyaris menjadi istriku. Hatiku terasa begitu getir.Jadi, dia masih peduli padaku, bukan?Tubuh yang semula basah kuyup dan menggigil karena air laut yang dingin pun perlahan terasa sedikit lebih hangat.Baru saja aku hendak berkata, tetapi Nadia justru menamparku dengan keras."Kamu pikir membuat dirimu terlihat malang kayak begitu, aku akan lebih memperhatikanmu, 'kah? Jangan konyol!""Kamu membuat keributan di acara nikahanku, aku tidak akan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja!"Usai berkata, dia mencekik leherku dengan kuat hingga tubuh bagian atasku tergantung di luar dek kapal.Rasa sesak pun menyelimutiku. Akan tetapi, aku sama sekali tidak meronta.Aku hanya berpikir, bagus juga kalau mati seperti ini.Sebab itu, aku memejamkan mata dan bersiap menerima kematian dengan tenang. Namun, Nadia justru mulai panik.Men
Read more