Nenek begitu sedih hingga terus menangis. Tanpa banyak bicara, dia langsung membawa pamanku ke rumah."Willy! Keluar kamu!""Kamu anggap apa Keluarga Loekman ini? Berani-beraninya kamu perlakukan keponakanku begini. Aku hajar kamu sampai mati!"Melihat pamanku datang dengan wajah garang, ditambah Nenek yang menghampiri sambil mengacungkan tongkat, Ayah tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menarik kedua pamanku masuk ke Balai Leluhur.Nenek kemudian merawat luka-lukaku sambil memikirkan cara untuk membawaku pergi dari desa itu.Namun, sesaat kemudian, pamanku keluar dari Balai Leluhur dengan wajah muram.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, masing-masing langsung menamparku dengan keras.Sebelum aku sempat bereaksi, mereka merebut tongkat dari tangan Nenek, lalu menghantamkannya ke kepalaku.Darah mengalir hingga menutupi pandanganku.Dengan bingung, aku menutup luka di kepalaku.Nenek berusaha menghentikan pamanku. Namun, wajahnya langsung berubah setelah salah satu dari mereka membisikk
Baca selengkapnya