Share

Rahasia di Balik Balai Leluhur
Rahasia di Balik Balai Leluhur
Author: Jiso

Bab 1

Author: Jiso
"Perempuan sehina ini masih kalian pelihara? Kalau aku jadi kalian, dari dulu sudah aku buang!"

"Om, kalian sudah begitu baik sama aku. Anggap saja ini caraku membalas kebaikan kalian. Aku akan bunuh dia sekarang juga!"

Jeff menerjang ke arahku. Dia menjatuhkanku ke tanah, lalu mencekik leherku dengan sekuat tenaga.

Aku meronta sekuat mungkin, tetapi tenagaku sama sekali tidak sebanding dengannya.

"Jeff, membunuh itu melanggar hukum!"

"Membunuh perempuan kayak kamu sama saja dengan nyingkirin sampah masyarakat!"

Dia sama sekali tidak menghiraukan perkataanku. Lututnya bahkan menghantam perutku dengan brutal.

Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari perut bagian bawahku hingga aku benar-benar kehilangan tenaga untuk melawan.

Napasku makin lemah. Aku bahkan bisa merasakan kematian perlahan menyelimutiku.

Akhirnya, Jeff melepaskan tangannya. Namun sebelum pergi, dia masih sempat menendangku dua kali dengan keras.

"Sampah! Cepat atau lambat, akan kubunuh kamu!"

Begitu dia pergi, aku baru saja berusaha bangkit dari lantai ketika Ayah datang dan langsung menendangku hingga terpental.

Aku tidak melawan saat dia memukuliku karena tahu itu tidak akan ada gunanya.

Dia adalah kepala desa. Saat dia memukuli seseorang, tak seorang pun berani menghentikannya.

Selama setengah jam, aku dipukul dan diinjak-injak olehnya.

Tiga tulang rusuk dan dua jariku patah.

Aku masih ingat dengan jelas. Sejak usia dua puluh tahun, ketika pertama kali membawa calon suamiku pulang untuk bersembahyang kepada leluhur, kejadian seperti ini sudah terjadi sepuluh kali.

Setiap mantan pacarku yang masuk ke Balai Leluhur selalu memutuskanku begitu keluar dari sana.

Bahkan ada yang, seperti Jeff tadi, berusaha membunuhku.

Di hadapan orang-orang, Ayah selalu mengatakan bahwa aku membawa sial dan telah membuat leluhur murka. Itulah sebabnya semua ini terjadi.

Katanya, untuk meredakan kemarahan para leluhur, dia harus memberiku pelajaran.

Awalnya, aku tidak ingin percaya bahwa Balai Leluhur itu benar-benar memiliki kekuatan seperti itu.

Namun, begitu banyak pacarku mengalami hal yang sama selama sepuluh tahun terakhir.

Pada akhirnya, aku terpaksa memercayainya.

Meski begitu, semua ini justru membuat rasa penasaranku terhadap Balai Leluhur makin besar.

Aku bahkan diam-diam mengirim pesan kepada beberapa sahabatku untuk menanyakan apakah di kampung halaman mereka pernah terjadi hal aneh seperti ini.

[Nggak ada. Di tempat kami, semua orang justru masuk ke Balai Leluhur untuk sembahyang.]

[Kami juga sering ngadain kegiatan di sana. Aku belum pernah dengar ada orang yang berubah drastis setelah keluar dari Balai Leluhur.]

[Diana, jangan-jangan ayahmu lakuin sesuatu di dalam Balai Leluhur itu? Bukankah sejak kecil dia memang nggak suka sama kamu? Bagaimana kalau kamu masuk sendiri dan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi?]

Aku juga merasa itulah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini.

Namun, sekeras apa pun aku memohon, Ayah selalu mengatakan bahwa Balai Leluhur hanya boleh dimasuki laki-laki untuk bersembahyang. Aku tidak punya hak untuk masuk.

Jika terlalu banyak bertanya, yang kudapat hanya pukulan.

Anehnya, dia tidak pernah bersikap seperti itu di hadapan kedua adik angkatku.

Aku bahkan pernah curiga bahwa aku bukan anak kandungnya.

Namun, aku diam-diam melakukan tes DNA dan hasilnya menunjukkan bahwa aku memang putri kandungnya.

Aku juga sempat berpikir bahwa dia membenciku karena dia membenci Ibuku.

Namun, Ibu sudah meninggal bertahun-tahun lalu. Sejak saat itu, Ayah hidup seorang diri.

Siapa pun yang mencoba menjodohkannya, selalu ditolaknya.

"Sepanjang hidupku, satu-satunya orang yang paling kucintai cuma Shani. Selain dia, aku nggak akan nikahi siapa pun."

Semua orang mengenal Ayah sebagai suami yang paling setia kepada istrinya dan ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya.

Karena itu, tidak ada yang memercayai perkataanku.

Mereka juga tidak percaya ketika aku bilang dia pernah berniat memukulku sampai mati.

Karena tidak punya pilihan lain, aku hanya bisa menelepon Nenek.

Saat melakukan panggilan video, aku memperlihatkan kepadanya semua luka di tubuhku.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Rahasia di Balik Balai Leluhur   Bab 8

    Dialah pria pertama yang kulihat dalam rekaman video itu.Aku benar-benar terkejut.Bukankah Ayah bilang dia sudah mati? Kalau begitu, bagaimana mungkin dia masih ada di rumah sakit jiwa?Otakku yang sudah lama terasa lamban mendadak kembali bekerja, membuat kepalaku pusing dan perutku mual.Namun, keberadaan Kevin terasa seperti jarum yang terus menusuk-nusuk pikiranku.Aku jadi tidak bisa tidur dan kehilangan nafsu makan.Tengah malam, aku diam-diam menyelinap ke bangsal pria dan menemukan Kevin.Ternyata dia juga belum tidur.Begitu melihatku, dia sama sekali tidak terkejut. "Akhirnya kamu datang."Aku menatapnya dengan linglung. "Ayahku bilang kamu sudah mati. Kalau begitu, kenapa kamu masih hidup?"Kevin memberi isyarat agar aku diam, lalu menarikku bersembunyi di sebuah ruangan kecil di sudut lorong.Di sana, dia menceritakan sesuatu yang membuatku sangat terkejut.Ternyata selama ini aku sama sekali tidak pernah memukul siapa pun, apalagi melakukan sesuatu terhadap seekor babi.

  • Rahasia di Balik Balai Leluhur   Bab 7

    Setelah suasana kembali hening, semua orang meminta Ayah segera membawaku pergi.Aku benar-benar sudah putus asa.Sesampainya di desa, mereka masih berniat mengurungku di kandang babi.Aku tidak melawan. Aku hanya mengajukan satu permintaan."Biarkan aku lihat sekali lagi apa yang ada di dalam Balai Leluhur. Setelah itu, kalian boleh lakukan apa saja kepadaku."Beberapa orang itu saling berpandangan, lalu akhirnya menyetujuinya.Di dalam Balai Leluhur yang gelap gulita, lampu dinyalakan. Seketika terlihat berbagai peralatan kamera pengawas modern.Kamera-kamera itu diarahkan tepat ke kamarku.Ayah menghampiri perangkat tersebut dan mengaturnya beberapa kali. Tak lama kemudian, dia menemukan rekaman pengawasan lama dan mulai memutarnya.Dalam rekaman itu, aku sedang tidur di ranjang bersama seorang pria.Setelah pria itu tertidur lelap, aku diam-diam keluar dari kamar.Setengah jam kemudian, aku kembali sambil membawa seekor babi.Lalu, aku mulai melakukan itu terhadap babi itu.Pria it

  • Rahasia di Balik Balai Leluhur   Bab 6

    "Apa sebenarnya yang ada di dalam Balai Leluhur itu?"Aku menopang tubuh dengan kedua tangan yang terasa lumpuh, berusaha bangkit dan duduk, lalu segera mencegah polisi itu melanjutkan pertanyaannya."Nggak ada apa-apa! Jangan bertanya lagi!""Semua yang terjadi sebelumnya itu ulahku sendiri. Anggap saja aku gila."Polisi itu mengernyit. "Waktu kamu nggak sadarkan diri, kami sudah periksa seluruh tubuhmu. Selain cedera akibat benturan di kepala, nggak ada masalah apa pun pada otakmu. Kamu sehat secara mental.""Namun, tubuhmu menunjukkan bekas-bekas penganiayaan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Kami menduga kamu ada di bawah tekanan atau ancaman."Aku mati-matian memikirkan cara untuk menghilangkan kecurigaan mereka."Aku … aku sengaja lakuin itu. Aku benci Ayah, jadi aku sengaja buat luka-luka ini sendiri.""Semuanya hanya pura-pura. Nggak usah selidiki lebih jauh."Namun, sikapku justru membuat polisi makin curiga.Setelah berdiskusi, mereka bersikeras meminta Ayah memba

  • Rahasia di Balik Balai Leluhur   Bab 5

    Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat di depan mata. Berkali-kali aku mengusap mata, berharap semua itu hanya halusinasi.Namun, saat kembali membuka mata, semuanya masih terlihat jelas.Tinju Ayah dan Kakek kembali menghantam tubuhku.Kali ini, aku tidak berusaha menghindar. Aku hanya diam dan membiarkan mereka memukuliku."Bunuh saja aku. Memang aku nggak pantas hidup, apalagi disukai oleh siapa pun."Dengan putus asa, aku memejamkan mata.Awalnya, yang menghantam tubuhku hanya kepalan tangan. Kemudian mereka mulai menggunakan berbagai macam benda untuk memukuliku."Seharusnya kamu sudah mati sejak dulu. Kenapa masih hidup?""Seharusnya kamu bunuh diri saja, supaya kami nggak ikut nanggung malu karena kamu."Benar. Seharusnya aku memang bunuh diri saja. Dengan begitu, aku tidak akan menyeret siapa pun lagi ke dalam masalah.Memikirkan itu, perlahan aku bangkit dan duduk di lantai."Aku akan bunuh diri. Biarin aku pergi."Mereka menatapku dengan penuh kecurigaan. "Jangan-jangan ka

  • Rahasia di Balik Balai Leluhur   Bab 4

    Baru saja luka-lukaku selesai diobati, Kakek yang sudah lama memutuskan hubungan dengan Ayah tiba-tiba datang.Dia langsung menuju kamarku dan melihat tubuhku yang penuh luka.Setelah itu, dia berbalik dan langsung menampar Ayah."Tega kamu perlakukan anak kandungmu sendiri kayak begini. Apa kamu masih pantas disebut manusia?""Kalau hari ini kamu nggak jelasin padaku, aku nggak akan biarin kamu begitu saja!"Ayah hendak menjelaskan sesuatu, tetapi aku tidak berani membiarkan Kakek mendengarnya.Aku segera meraih tangannya. "Kakek, aku tahu Kakek lakuin ini demi aku. Tapi berjanjilah padaku, jangan pergi ke Balai Leluhur itu, ya?""Tenang saja. Kakek nggak akan ke sana."Kakek menggenggam tanganku erat."Balai Leluhur atau apa pun itu, Kakek nggak peduli. Yang Kakek peduliin hanya satu, apakah cucu perempuan Kakek disakiti atau nggak."Kakek menghela napas panjang. Air mata mengalir deras dari matanya. "Ini semua salah Kakek. Kakek gagal mendidik Ayahmu hingga dia tumbuh jadi iblis kay

  • Rahasia di Balik Balai Leluhur   Bab 3

    "Itu adat desa kami. Dia sendiri yang setuju bawa orang itu masuk untuk sembahyang. Apa pun yang terjadi di dalam, kami nggak bisa kendalikan.""Semuanya sudah ditentukan oleh takdir."Sahabatku yang datang bersama polisi hampir meledak karena marah saat melihat luka-luka di tubuhku.Dia langsung menerjang ke depan dan mencengkeram kerah baju Ayah."Dia itu putri kandungmu! Kok bisa kamu segitu tega mukulin dia sampai seperti ini?""Bukankah kalian orang desa yang kolot? Setelah mati nanti, apa kamu nggak berharap dia yang akan ngurus makam kamu? Kalau sekarang kamu pukuli dia sampai mati, nanti saat tua siapa yang akan ngurus jenazahmu?""Kalau memang kamu nggak menginginkan putri ini, jangan berkali-kali cari dia dan bawa dia pulang! Setelah dibawa pulang, malah kamu perlakukan dia bukan seperti manusia. Dasar berengsek!"Sama sepertiku, dia juga tidak mengerti kenapa Ayah ingin membunuhku, tetapi juga tidak pernah membiarkanku pergi.Polisi pun terus-menerus menanyakan alasannya.Ay

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status