Share

Bab 2

Penulis: Jiso
Nenek begitu sedih hingga terus menangis. Tanpa banyak bicara, dia langsung membawa pamanku ke rumah.

"Willy! Keluar kamu!"

"Kamu anggap apa Keluarga Loekman ini? Berani-beraninya kamu perlakukan keponakanku begini. Aku hajar kamu sampai mati!"

Melihat pamanku datang dengan wajah garang, ditambah Nenek yang menghampiri sambil mengacungkan tongkat, Ayah tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menarik kedua pamanku masuk ke Balai Leluhur.

Nenek kemudian merawat luka-lukaku sambil memikirkan cara untuk membawaku pergi dari desa itu.

Namun, sesaat kemudian, pamanku keluar dari Balai Leluhur dengan wajah muram.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, masing-masing langsung menamparku dengan keras.

Sebelum aku sempat bereaksi, mereka merebut tongkat dari tangan Nenek, lalu menghantamkannya ke kepalaku.

Darah mengalir hingga menutupi pandanganku.

Dengan bingung, aku menutup luka di kepalaku.

Nenek berusaha menghentikan pamanku. Namun, wajahnya langsung berubah setelah salah satu dari mereka membisikkan sesuatu kepadanya.

Setelah itu, Nenek membiarkan kedua pamanku mencengkeram kedua lenganku dan memaksaku berlutut di tanah.

"Bu, pukul dia sekuat tenaga. Hari ini, kita bunuh saja dia."

"Sampah seperti dia nggak pantas hidup di dunia ini. Kalau Kakak tahu, dia pasti akan maafin kita."

Nenek mengangkat tongkatnya. "Pukul dia sampai mati nanti aku ini yang nyerahin diri. Memangnya mereka bisa bikin apa sama aku?"

Medali jasa militer di dadanya tampak merah menyala, menciptakan pemandangan yang begitu mengerikan.

Hari itu, aku tidak tahu berapa lama mereka memukuliku. Aku hanya tahu, pada akhirnya, aku kehilangan kesadaran.

Saat terbangun, rasa sakit luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku, seolah-olah tubuhku sedang dicabik-cabik.

Begitu membuka mata, aku mendapati diriku masih terbaring di luar Balai Leluhur. Beberapa anjing liar sedang mencabik daging dari tubuhku yang penuh luka.

Sebagian kulit kepalaku bahkan sudah terkoyak.

Dengan langkah sempoyongan, aku memaksakan diri bangkit dan berjalan pulang.

Sepanjang jalan, aku tidak berani mengeluarkan suara. Ayah tidak suka keributan.

Dulu, aku juga pernah berpikir untuk tidak kembali ke desa bodoh ini.

Namun, jika selama tiga bulan aku tidak pulang, Ayah akan membawa kedua adik angkatku ke tempat kerjaku dan membuat keributan di sana.

Mereka akan berlutut di depan gedung kantorku sambil menuduhku menelantarkan keluarga.

Aku juga pernah berpikir untuk benar-benar memutuskan hubungan dengannya. Namun sekarang, semua data kependudukan sudah terhubung secara nasional.

Begitu memasang iklan pencarian orang, Ayah pasti bisa menemukanku.

Ketika pacar ketigaku mengalami hal yang sama, aku pernah melaporkannya kepada polisi.

Namun, saat polisi datang, seluruh penduduk desa justru membantu Ayah membuktikan bahwa aku berbohong.

"Dia itu kutu buku. Setiap hari cuma membaca sampai otaknya jadi nggak waras."

"Mereka ada tiga bersaudara. Dua yang lain baik-baik saja. Mana mungkin ayahnya hanya mukulin anak yang satu ini?"

"Pak Polisi, anak ini memang sejak kecil suka bohong dan mencuri. Jangan percaya perkataannya."

Aku tahu para penduduk desa membela Ayah karena statusnya sebagai kepala desa.

Aku tidak punya cara untuk melawannya.

Setelah kejadian saat aku melapor ke polisi itu, Ayah mengurungku sendirian di sebuah gua di gunung.

Tempat itu dulunya merupakan bunker perlindungan dari serangan udara. Di dalamnya dingin dan lembap.

Tidak ada apa-apa selain air.

Aku dikurung di sana selama seminggu. Ketika akhirnya dibebaskan, aku sudah nyaris pingsan.

Kali ini, saat pulang ke rumah, Ayah sudah tertidur.

Kedua adik angkatku menasihatiku agar berhenti membuat masalah dan menurut saja.

Mereka bahkan menghancurkan ponsel dan laptopku agar aku tidak bisa lagi berhubungan dengan dunia luar.

Tiba-tiba, kemarahan yang selama ini kupendam meledak begitu saja.

Aku langsung menerobos masuk ke kamar Ayah, membangunkannya, lalu menuntut penjelasan.

"Kalau memang nggak mau aku nikah, bilang saja terus terang! Kenapa malah menghasut pacarku untuk putus denganku?"

"Apa sebenarnya kesalahanku pada Ayah? Sejak kecil sampai sekarang, apa pun yang Ayah bilang selalu aku turuti. Apa itu masih belum cukup? Sebenarnya, apa lagi yang Ayah mau dari aku?"

Ayah sangat kesal karena dibangunkan. Dia bahkan langsung mengangkat sebuah bangku dan melemparkannya ke arahku.

Aku terjatuh ke lantai dan tidak bisa bergerak. Kemudian, dia melepaskan ikat pinggangnya dan melilitkannya di leherku.

"Aku ingin kamu mati! Mati saja!"

Aku meronta sekuat tenaga, tetapi sama sekali tidak bisa melepaskan diri.

Diam-diam, aku menggunakan ponsel cadangan yang kusimpan di dalam celana untuk menelepon polisi.

Saat polisi tiba, mereka melihatku terbaring tak berdaya di lantai.

Mereka langsung mengamankan Ayah dan kedua adik angkatku.

Namun, apa pun yang ditanyakan polisi, mereka tetap bungkam.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia di Balik Balai Leluhur   Bab 8

    Dialah pria pertama yang kulihat dalam rekaman video itu.Aku benar-benar terkejut.Bukankah Ayah bilang dia sudah mati? Kalau begitu, bagaimana mungkin dia masih ada di rumah sakit jiwa?Otakku yang sudah lama terasa lamban mendadak kembali bekerja, membuat kepalaku pusing dan perutku mual.Namun, keberadaan Kevin terasa seperti jarum yang terus menusuk-nusuk pikiranku.Aku jadi tidak bisa tidur dan kehilangan nafsu makan.Tengah malam, aku diam-diam menyelinap ke bangsal pria dan menemukan Kevin.Ternyata dia juga belum tidur.Begitu melihatku, dia sama sekali tidak terkejut. "Akhirnya kamu datang."Aku menatapnya dengan linglung. "Ayahku bilang kamu sudah mati. Kalau begitu, kenapa kamu masih hidup?"Kevin memberi isyarat agar aku diam, lalu menarikku bersembunyi di sebuah ruangan kecil di sudut lorong.Di sana, dia menceritakan sesuatu yang membuatku sangat terkejut.Ternyata selama ini aku sama sekali tidak pernah memukul siapa pun, apalagi melakukan sesuatu terhadap seekor babi.

  • Rahasia di Balik Balai Leluhur   Bab 7

    Setelah suasana kembali hening, semua orang meminta Ayah segera membawaku pergi.Aku benar-benar sudah putus asa.Sesampainya di desa, mereka masih berniat mengurungku di kandang babi.Aku tidak melawan. Aku hanya mengajukan satu permintaan."Biarkan aku lihat sekali lagi apa yang ada di dalam Balai Leluhur. Setelah itu, kalian boleh lakukan apa saja kepadaku."Beberapa orang itu saling berpandangan, lalu akhirnya menyetujuinya.Di dalam Balai Leluhur yang gelap gulita, lampu dinyalakan. Seketika terlihat berbagai peralatan kamera pengawas modern.Kamera-kamera itu diarahkan tepat ke kamarku.Ayah menghampiri perangkat tersebut dan mengaturnya beberapa kali. Tak lama kemudian, dia menemukan rekaman pengawasan lama dan mulai memutarnya.Dalam rekaman itu, aku sedang tidur di ranjang bersama seorang pria.Setelah pria itu tertidur lelap, aku diam-diam keluar dari kamar.Setengah jam kemudian, aku kembali sambil membawa seekor babi.Lalu, aku mulai melakukan itu terhadap babi itu.Pria it

  • Rahasia di Balik Balai Leluhur   Bab 6

    "Apa sebenarnya yang ada di dalam Balai Leluhur itu?"Aku menopang tubuh dengan kedua tangan yang terasa lumpuh, berusaha bangkit dan duduk, lalu segera mencegah polisi itu melanjutkan pertanyaannya."Nggak ada apa-apa! Jangan bertanya lagi!""Semua yang terjadi sebelumnya itu ulahku sendiri. Anggap saja aku gila."Polisi itu mengernyit. "Waktu kamu nggak sadarkan diri, kami sudah periksa seluruh tubuhmu. Selain cedera akibat benturan di kepala, nggak ada masalah apa pun pada otakmu. Kamu sehat secara mental.""Namun, tubuhmu menunjukkan bekas-bekas penganiayaan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Kami menduga kamu ada di bawah tekanan atau ancaman."Aku mati-matian memikirkan cara untuk menghilangkan kecurigaan mereka."Aku … aku sengaja lakuin itu. Aku benci Ayah, jadi aku sengaja buat luka-luka ini sendiri.""Semuanya hanya pura-pura. Nggak usah selidiki lebih jauh."Namun, sikapku justru membuat polisi makin curiga.Setelah berdiskusi, mereka bersikeras meminta Ayah memba

  • Rahasia di Balik Balai Leluhur   Bab 5

    Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat di depan mata. Berkali-kali aku mengusap mata, berharap semua itu hanya halusinasi.Namun, saat kembali membuka mata, semuanya masih terlihat jelas.Tinju Ayah dan Kakek kembali menghantam tubuhku.Kali ini, aku tidak berusaha menghindar. Aku hanya diam dan membiarkan mereka memukuliku."Bunuh saja aku. Memang aku nggak pantas hidup, apalagi disukai oleh siapa pun."Dengan putus asa, aku memejamkan mata.Awalnya, yang menghantam tubuhku hanya kepalan tangan. Kemudian mereka mulai menggunakan berbagai macam benda untuk memukuliku."Seharusnya kamu sudah mati sejak dulu. Kenapa masih hidup?""Seharusnya kamu bunuh diri saja, supaya kami nggak ikut nanggung malu karena kamu."Benar. Seharusnya aku memang bunuh diri saja. Dengan begitu, aku tidak akan menyeret siapa pun lagi ke dalam masalah.Memikirkan itu, perlahan aku bangkit dan duduk di lantai."Aku akan bunuh diri. Biarin aku pergi."Mereka menatapku dengan penuh kecurigaan. "Jangan-jangan ka

  • Rahasia di Balik Balai Leluhur   Bab 4

    Baru saja luka-lukaku selesai diobati, Kakek yang sudah lama memutuskan hubungan dengan Ayah tiba-tiba datang.Dia langsung menuju kamarku dan melihat tubuhku yang penuh luka.Setelah itu, dia berbalik dan langsung menampar Ayah."Tega kamu perlakukan anak kandungmu sendiri kayak begini. Apa kamu masih pantas disebut manusia?""Kalau hari ini kamu nggak jelasin padaku, aku nggak akan biarin kamu begitu saja!"Ayah hendak menjelaskan sesuatu, tetapi aku tidak berani membiarkan Kakek mendengarnya.Aku segera meraih tangannya. "Kakek, aku tahu Kakek lakuin ini demi aku. Tapi berjanjilah padaku, jangan pergi ke Balai Leluhur itu, ya?""Tenang saja. Kakek nggak akan ke sana."Kakek menggenggam tanganku erat."Balai Leluhur atau apa pun itu, Kakek nggak peduli. Yang Kakek peduliin hanya satu, apakah cucu perempuan Kakek disakiti atau nggak."Kakek menghela napas panjang. Air mata mengalir deras dari matanya. "Ini semua salah Kakek. Kakek gagal mendidik Ayahmu hingga dia tumbuh jadi iblis kay

  • Rahasia di Balik Balai Leluhur   Bab 3

    "Itu adat desa kami. Dia sendiri yang setuju bawa orang itu masuk untuk sembahyang. Apa pun yang terjadi di dalam, kami nggak bisa kendalikan.""Semuanya sudah ditentukan oleh takdir."Sahabatku yang datang bersama polisi hampir meledak karena marah saat melihat luka-luka di tubuhku.Dia langsung menerjang ke depan dan mencengkeram kerah baju Ayah."Dia itu putri kandungmu! Kok bisa kamu segitu tega mukulin dia sampai seperti ini?""Bukankah kalian orang desa yang kolot? Setelah mati nanti, apa kamu nggak berharap dia yang akan ngurus makam kamu? Kalau sekarang kamu pukuli dia sampai mati, nanti saat tua siapa yang akan ngurus jenazahmu?""Kalau memang kamu nggak menginginkan putri ini, jangan berkali-kali cari dia dan bawa dia pulang! Setelah dibawa pulang, malah kamu perlakukan dia bukan seperti manusia. Dasar berengsek!"Sama sepertiku, dia juga tidak mengerti kenapa Ayah ingin membunuhku, tetapi juga tidak pernah membiarkanku pergi.Polisi pun terus-menerus menanyakan alasannya.Ay

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status