Share

Bab 4

Penulis: Jiso
Baru saja luka-lukaku selesai diobati, Kakek yang sudah lama memutuskan hubungan dengan Ayah tiba-tiba datang.

Dia langsung menuju kamarku dan melihat tubuhku yang penuh luka.

Setelah itu, dia berbalik dan langsung menampar Ayah.

"Tega kamu perlakukan anak kandungmu sendiri kayak begini. Apa kamu masih pantas disebut manusia?"

"Kalau hari ini kamu nggak jelasin padaku, aku nggak akan biarin kamu begitu saja!"

Ayah hendak menjelaskan sesuatu, tetapi aku tidak berani membiarkan Kakek mendengarnya.

Aku segera meraih tangannya. "Kakek, aku tahu Kakek lakuin ini demi aku. Tapi berjanjilah padaku, jangan pergi ke Balai Leluhur itu, ya?"

"Tenang saja. Kakek nggak akan ke sana."

Kakek menggenggam tanganku erat.

"Balai Leluhur atau apa pun itu, Kakek nggak peduli. Yang Kakek peduliin hanya satu, apakah cucu perempuan Kakek disakiti atau nggak."

Kakek menghela napas panjang. Air mata mengalir deras dari matanya. "Ini semua salah Kakek. Kakek gagal mendidik Ayahmu hingga dia tumbuh jadi iblis kayak sekarang. Tenang saja, besok Kakek akan bawa kamu pergi dari sini."

Aku bersandar dalam pelukan Kakek dan menangis sepuasnya.

"Kakek, jangan sekali-kali pergi ke Balai Leluhur itu .…"

Kakek mengangkat tangan dan bersumpah. "Kakek pasti nggak akan pergi."

Selama ini, Kakek selalu menepati ucapannya. Mendengar janjinya, aku pun merasa jauh lebih tenang.

Aku tertidur sambil memeluk tangannya yang kasar dan dipenuhi kapalan.

Namun, keesokan paginya, begitu membuka mata, aku langsung merasa ada yang tidak beres.

Rumah terasa begitu sunyi. Bukan sekadar sunyi tapi kesunyian yang membuat suasananya terasa muram dan mati.

Aku meraba-raba jalan keluar dari kamar.

Begitu sampai di ruang tamu, kulihat seluruh keluargaku sudah duduk di sana dengan wajah serius.

Saat mendengar suaraku, mereka serempak menoleh ke arahku.

Namun, Kakek yang semalam menemaniku sudah tidak ada di sana.

"Kakek di mana? Kenapa dia nggak ada?"

Ayah menatapku dengan dingin. "Dasar anak kurang ajar. Sekarang kamu sudah pandai ngadu, ya?"

Salah satu suami adikku memandangku dari atas ke bawah dengan tatapan penuh penghinaan. "Penampilanmu saja yang terlihat baik. Ternyata kamu sampah seperti itu."

"Pantas saja setiap pria yang mau nikahin kamu langsung pergi setelah tahu kebenarannya. Kalau aku jadi mereka, aku juga akan jijik."

Suami adikku yang lain bahkan langsung meludahiku. "Pergi! Jangan ngalangin pandanganku!"

"Kalau dari awal aku tahu kamu kakaknya, aku nggak akan sudi nikahin adikmu. Ngebayanginnya saja sudah bikin malu."

Mendengar itu, salah satu adik perempuanku langsung naik pitam.

Dia menghampiriku, menjambak rambutku, lalu membenturkan kepalaku ke dinding. "Semua ini gara-gara kamu! Gara-gara kamu, aku hampir saja cerai dengan Ivan!"

Aku berusaha melepaskan diri, tetapi adikku yang lain justru ikut datang dan menahanku.

Setelah memukuliku, mereka malah tertawa saat melihat darah berceceran di lantai.

"Ayah, harus kita apain dia?"

Aku berusaha melepaskan diri dari tangan mereka, lalu merangkak menuju pintu.

Dari reaksi mereka, aku sudah tahu bahwa mereka benar-benar berniat membunuhku.

Kalau tidak segera kabur, aku pasti akan mati.

Saat berhasil merangkak hingga ke pintu, aku berpapasan dengan Kakek yang baru kembali. Seolah menemukan satu-satunya harapan, aku langsung memeluk kakinya.

"Kakek, tolong aku! Mereka mau bunuh aku!"

Namun, Kakek yang semalam masih begitu lembut kepadaku justru langsung mendorongku menjauh.

Seolah jijik, dia bahkan menepuk-nepuk bagian pakaiannya yang sempat kusentuh.

"Memang pantas."

Aku tertegun. Dengan mata memerah, aku hanya bisa menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Kakek … apa Kakek pergi ke Balai Leluhur?"

Dia menunduk dan menatapku. Sorot matanya dingin, bahkan terasa mengerikan. "Kalau Kakek nggak lihat sendiri, gimana Kakek bisa tahu bahwa kamu perempuan serendah ini?"

"Tapi Kakek janji nggak akan pergi ke sana. Bukankah Kakek bilang aku orang yang paling Kakek sayangi? Kenapa Kakek bohongin aku?"

Pada saat itu, harapan terakhirku benar-benar hancur.

Seperti orang gila, aku bangkit dari lantai dan menuntut penjelasan dari mereka semua.

"Kalaupun kalian benci aku dan ingin bunuh aku, setidaknya biarkan aku mati setelah aku tahu kebenarannya!"

"Aku mau masuk ke Balai Leluhur itu. Kalaupun harus mati, setidaknya aku mau mati setelah tahu semuanya!"

Mereka saling berpandangan. Pada akhirnya, Kakek mengangguk.

Menjelang senja, Ayah membawaku masuk ke Balai Leluhur.

Tidak ada satu pun lampu yang dinyalakan. Di dalam, semuanya gelap gulita.

Namun, saat melihat apa yang ada di hadapanku, aku langsung terpaku.

"Pantas saja … pantas saja nggak ada yang mau nikah sama aku. Ternyata karena .…"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia di Balik Balai Leluhur   Bab 8

    Dialah pria pertama yang kulihat dalam rekaman video itu.Aku benar-benar terkejut.Bukankah Ayah bilang dia sudah mati? Kalau begitu, bagaimana mungkin dia masih ada di rumah sakit jiwa?Otakku yang sudah lama terasa lamban mendadak kembali bekerja, membuat kepalaku pusing dan perutku mual.Namun, keberadaan Kevin terasa seperti jarum yang terus menusuk-nusuk pikiranku.Aku jadi tidak bisa tidur dan kehilangan nafsu makan.Tengah malam, aku diam-diam menyelinap ke bangsal pria dan menemukan Kevin.Ternyata dia juga belum tidur.Begitu melihatku, dia sama sekali tidak terkejut. "Akhirnya kamu datang."Aku menatapnya dengan linglung. "Ayahku bilang kamu sudah mati. Kalau begitu, kenapa kamu masih hidup?"Kevin memberi isyarat agar aku diam, lalu menarikku bersembunyi di sebuah ruangan kecil di sudut lorong.Di sana, dia menceritakan sesuatu yang membuatku sangat terkejut.Ternyata selama ini aku sama sekali tidak pernah memukul siapa pun, apalagi melakukan sesuatu terhadap seekor babi.

  • Rahasia di Balik Balai Leluhur   Bab 7

    Setelah suasana kembali hening, semua orang meminta Ayah segera membawaku pergi.Aku benar-benar sudah putus asa.Sesampainya di desa, mereka masih berniat mengurungku di kandang babi.Aku tidak melawan. Aku hanya mengajukan satu permintaan."Biarkan aku lihat sekali lagi apa yang ada di dalam Balai Leluhur. Setelah itu, kalian boleh lakukan apa saja kepadaku."Beberapa orang itu saling berpandangan, lalu akhirnya menyetujuinya.Di dalam Balai Leluhur yang gelap gulita, lampu dinyalakan. Seketika terlihat berbagai peralatan kamera pengawas modern.Kamera-kamera itu diarahkan tepat ke kamarku.Ayah menghampiri perangkat tersebut dan mengaturnya beberapa kali. Tak lama kemudian, dia menemukan rekaman pengawasan lama dan mulai memutarnya.Dalam rekaman itu, aku sedang tidur di ranjang bersama seorang pria.Setelah pria itu tertidur lelap, aku diam-diam keluar dari kamar.Setengah jam kemudian, aku kembali sambil membawa seekor babi.Lalu, aku mulai melakukan itu terhadap babi itu.Pria it

  • Rahasia di Balik Balai Leluhur   Bab 6

    "Apa sebenarnya yang ada di dalam Balai Leluhur itu?"Aku menopang tubuh dengan kedua tangan yang terasa lumpuh, berusaha bangkit dan duduk, lalu segera mencegah polisi itu melanjutkan pertanyaannya."Nggak ada apa-apa! Jangan bertanya lagi!""Semua yang terjadi sebelumnya itu ulahku sendiri. Anggap saja aku gila."Polisi itu mengernyit. "Waktu kamu nggak sadarkan diri, kami sudah periksa seluruh tubuhmu. Selain cedera akibat benturan di kepala, nggak ada masalah apa pun pada otakmu. Kamu sehat secara mental.""Namun, tubuhmu menunjukkan bekas-bekas penganiayaan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Kami menduga kamu ada di bawah tekanan atau ancaman."Aku mati-matian memikirkan cara untuk menghilangkan kecurigaan mereka."Aku … aku sengaja lakuin itu. Aku benci Ayah, jadi aku sengaja buat luka-luka ini sendiri.""Semuanya hanya pura-pura. Nggak usah selidiki lebih jauh."Namun, sikapku justru membuat polisi makin curiga.Setelah berdiskusi, mereka bersikeras meminta Ayah memba

  • Rahasia di Balik Balai Leluhur   Bab 5

    Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat di depan mata. Berkali-kali aku mengusap mata, berharap semua itu hanya halusinasi.Namun, saat kembali membuka mata, semuanya masih terlihat jelas.Tinju Ayah dan Kakek kembali menghantam tubuhku.Kali ini, aku tidak berusaha menghindar. Aku hanya diam dan membiarkan mereka memukuliku."Bunuh saja aku. Memang aku nggak pantas hidup, apalagi disukai oleh siapa pun."Dengan putus asa, aku memejamkan mata.Awalnya, yang menghantam tubuhku hanya kepalan tangan. Kemudian mereka mulai menggunakan berbagai macam benda untuk memukuliku."Seharusnya kamu sudah mati sejak dulu. Kenapa masih hidup?""Seharusnya kamu bunuh diri saja, supaya kami nggak ikut nanggung malu karena kamu."Benar. Seharusnya aku memang bunuh diri saja. Dengan begitu, aku tidak akan menyeret siapa pun lagi ke dalam masalah.Memikirkan itu, perlahan aku bangkit dan duduk di lantai."Aku akan bunuh diri. Biarin aku pergi."Mereka menatapku dengan penuh kecurigaan. "Jangan-jangan ka

  • Rahasia di Balik Balai Leluhur   Bab 4

    Baru saja luka-lukaku selesai diobati, Kakek yang sudah lama memutuskan hubungan dengan Ayah tiba-tiba datang.Dia langsung menuju kamarku dan melihat tubuhku yang penuh luka.Setelah itu, dia berbalik dan langsung menampar Ayah."Tega kamu perlakukan anak kandungmu sendiri kayak begini. Apa kamu masih pantas disebut manusia?""Kalau hari ini kamu nggak jelasin padaku, aku nggak akan biarin kamu begitu saja!"Ayah hendak menjelaskan sesuatu, tetapi aku tidak berani membiarkan Kakek mendengarnya.Aku segera meraih tangannya. "Kakek, aku tahu Kakek lakuin ini demi aku. Tapi berjanjilah padaku, jangan pergi ke Balai Leluhur itu, ya?""Tenang saja. Kakek nggak akan ke sana."Kakek menggenggam tanganku erat."Balai Leluhur atau apa pun itu, Kakek nggak peduli. Yang Kakek peduliin hanya satu, apakah cucu perempuan Kakek disakiti atau nggak."Kakek menghela napas panjang. Air mata mengalir deras dari matanya. "Ini semua salah Kakek. Kakek gagal mendidik Ayahmu hingga dia tumbuh jadi iblis kay

  • Rahasia di Balik Balai Leluhur   Bab 3

    "Itu adat desa kami. Dia sendiri yang setuju bawa orang itu masuk untuk sembahyang. Apa pun yang terjadi di dalam, kami nggak bisa kendalikan.""Semuanya sudah ditentukan oleh takdir."Sahabatku yang datang bersama polisi hampir meledak karena marah saat melihat luka-luka di tubuhku.Dia langsung menerjang ke depan dan mencengkeram kerah baju Ayah."Dia itu putri kandungmu! Kok bisa kamu segitu tega mukulin dia sampai seperti ini?""Bukankah kalian orang desa yang kolot? Setelah mati nanti, apa kamu nggak berharap dia yang akan ngurus makam kamu? Kalau sekarang kamu pukuli dia sampai mati, nanti saat tua siapa yang akan ngurus jenazahmu?""Kalau memang kamu nggak menginginkan putri ini, jangan berkali-kali cari dia dan bawa dia pulang! Setelah dibawa pulang, malah kamu perlakukan dia bukan seperti manusia. Dasar berengsek!"Sama sepertiku, dia juga tidak mengerti kenapa Ayah ingin membunuhku, tetapi juga tidak pernah membiarkanku pergi.Polisi pun terus-menerus menanyakan alasannya.Ay

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status