Wolfey tidak menjawab perkataanku.Dia hanya diam-diam membaringkanku kembali, merapikan selimut di sudut-sudutnya, lalu berbalik dan pergi.Aku mendengar suara sesuatu yang pecah di luar pintu istana. Mungkin vas bunga, atau entah benda apa.Setelahnya, semua kembali sunyi.Sejak saat itu, waktuku untuk sadar semakin singkat.Terkadang saat membuka mata, hari masih terang di luar jendela. Ketika kembali membuka mata, malam sudah larut.Namun, setiap kali aku terbangun, Wolfey selalu ada di sana.Kadang dia duduk di kursi di samping ranjang. Kadang dia tertidur dengan kepala bersandar di tepi ranjang dan alisnya berkerut erat, bibirnya tampak menggumamkan sesuatu dalam tidur.“Ana ... Jangan pergi ....”Tubuhnya semakin kurus membuat rahangnya semakin terlihat tajam, sementara lingkaran hitam di bawah matanya hampir menyatu dengan cekungan matanya.Suatu hari, seorang menteri datang memohon untuk bertemu di luar istana, suaranya terdengar cemas.“Raja Wolfey, laporan darurat dari perba
Read more