“Bunga lonceng?”Emosi yang sulit dibendung kembali bergolak jauh di lubuk hati Weni, seolah-olah dia sekali lagi kembali ke gurun luas nggak berujung itu.Di antara langit dan bumi, yang tersisa hanyalah dirinya dan suara panggilan hangat itu.Weni. Weni.Dia menatap Peter yang jalan mendekat dengan pandangan kosong. Di dalam hatinya, hanya tersisa satu keinginan, kabur.“Aku lupa bawa sesuatu!”Setelah katakan itu dengan cepat, Weni berbalik dan lari masuk ke vila. Dia sengaja ulur-ulur waktu, buka koper yang sebenarnya sudah rapi, lalu tutup lagi. Setelah acak-acak kopernya beberapa kali, barulah dia keluar. Peter lagi bicara dengan Minda.“Weni sudah selesai, kalian pergi saja. Aku nggak akan ganggu lagi.”Minda jalan mendekat sambil bawa buket bunga lonceng itu, lalu tersenyum lebar.“Peter ternyata lumayan gentleman juga, yah. Datang jemput kamu langsung, bahkan bawakan aku sebuket bunga.”Weni tanya, “Untuk kamu?”Minda mengangguk.“Iya. Tadinya aku mau ajak dia masuk minum teh,
Leer más