Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi

Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi

By:  Yusni AnjaniUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
14views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Demi buat kekasihnya tersenyum, sang suami tega bunuh darah daging yang tumbuh di dalam rahim Weni Kusuma. Untuk balas pengkhianatan itu, Weni incar seorang pewaris keluarga konglomerat kelas atas. Satu kali coba. Dua kali mulai goda. Pada percobaan ketiga, mereka capai sebuah kesepakatan. Tiga bulan penuh musim semi yang menggoda. Malam demi malam mereka larut dalam kemesraan, tetapi nggak satu pun dari mereka yang benar-benar serahkan hatinya. Weni incar kekuasaan besar yang dimilikinya, senjata paling tajam untuk balas suami bajingan yang telah khianati dia. Sementara pria itu incar wajah Weni yang begitu mirip dengan cinta nggak tergapai di hatinya, obat terbaik untuk redakan kerinduan yang selama ini menyiksanya. Ketika masa perjanjian berakhir, Weni berniat pisah dengan baik-baik. Namun, pria itu hilang kendali. Pria itu tekan Weni di jok belakang mobil, lalu dengan dominan sematkan cincin berlian bernilai puluhan miliar ke jarinya. Di luar jendela, hujan turun begitu deras. Napas Weni tersengal, sementara akal sehatnya terus ingatkan, “Pak Peter, aku masih menikah.” “Nggak masalah. Lagian, ini bukan pertama kalinya aku temani kamu selingkuh.” … Jika Tuhan memang sudah pertemukan kita, maka kamu dan aku adalah pasangan yang ditakdirkan untuk saling melengkapi. Namun, jika Tuhan pilih untuk menutup mata, aku nggak keberatan rebut kamu dengan paksa dan seret kamu untuk tenggelam dalam malam musim semi yang penuh gejolak bersamaku.

View More

Chapter 1

Bab 1

Sebulan setelah alami keguguran yang nggak terduga, Weni Kusuma dapati kalau suaminya selingkuh.

Jam satu dini hari.

Weni kembali terbangun dengan terkejut karena mimpi buruk. Lagi-lagi, dalam mimpinya, dia lihat anaknya yang belum sempat lahir.

Setelah kembali dari kamar mandi, tanpa sengaja dia lihat HP-nya Lukas Lukmanto yang tergeletak di sisi bantal lagi menyala, terangi sudut kecil di samping tempat tidur. Weni raih dan buka HP itu.

Seseorang dengan nama panggilan “Putri Tidur” baru saja kirimi beberapa foto.

Seorang gadis muda duduk di sudut bar, menopang dagu dengan sebelah tangan. Tatapannya tampak begitu merana, sementara di hadapannya berjejer aneka minuman berwarna-warni. Nggak lama kemudian, serangkaian pesan muncul.

[Bukannya kamu bilang bakal terus terang ke dia? Kegugurannya sudah sebulan lalu. Sampai kapan kamu masih mau pertimbangkan perasaannya?]

Kepala Weni seketika langsung berdengung.

Dia dan Lukas baru nikah selama tiga bulan!

Weni lihat percakapan di atasnya.

Selain beberapa obrolan sehari-hari, topik yang paling sering muncul ternyata adalah tentang dirinya.

[Katamu orang yang kamu cintai itu aku. Setidaknya kamu harus buktikan itu, kan? Kamu mau nggak tinggalkan istri barumu itu dan temani aku pergi ke luar negeri selama setengah bulan?]

Tanggal pesan itu ternyata tepat pada hari pernikahan mereka.

Weni masih ingat dengan jelas gimana saat itu Lukas peluk dia dengan lembut dan minta maaf. Katanya, perusahaan tugaskan dia pergi ke luar negeri selama setengah bulan dan dia benar-benar nggak bisa tolak itu. Karena paham kalau karier Lukas lagi dalam masa perkembangan, Weni akhirnya batalkan rencana bulan madu mereka.

Selama setengah bulan itu, Lukas selalu kasih tahu dia tentang kegiatannya tiga kali sehari, nggak pernah lalai sekalipun.

‘Benar-benar pintar ngatur waktu!’

[Aku dengar dia lagi hamil? Jangan-jangan kamu sudah nggak niat ceraikan dia?”

[Sebenarnya kamu mau buat aku tunggu sampai kapan? Apa aku harus tunggu sampai anak kalian lahir?]

[Maaf. Aku benar-benar nggak nyangka kamu sampai buat dia keguguran demi aku. Tunggu sampai kondisinya sedikit baikan, baru kita bicara tentang perceraian.]

[Lukas, aku cinta kamu. Aku bisa tunggu kamu .…]

Setiap kata itu bagaikan binatang buas nggak kasatmata yang mencabik-cabik daging dan darah Weni. Tangannya cengkeram HP itu erat-erat. Seluruh tubuhnya terasa membeku, sementara rasa sakit yang nggak tertahankan menjalar ke setiap tulang dan persendiannya. Dia masih ingat, nggak lama setelah Lukas berangkat untuk perjalanan dinas, Weni tahu kalau dirinya hamil. Saat itu, Weni begitu bahagia sampai hampir kehilangan akal sehatnya. Begitu tahu kabar itu, Lukas segera pulang untuk temani dia periksa kandungan dan beli berbagai perlengkapan bayi. Namun sebulan lalu, ketika Weni turun untuk jalan-jalan, ada orang yang nggak sengaja tabrak dia. Dan begitu saja, anak mereka pergi untuk selamanya. Awalnya, Weni kira semua itu cuma kecelakaan tragis.

Lukas tiba-tiba balikkan tubuhnya. Weni buru-buru letakkan HP itu dan kembali berbaring, pura-pura nggak terjadi apa-apa. Dua menit kemudian, dia dengar Lukas nyalakan HP-nya. Sesaat setelah itu, terdengar suara gemerisik orang lagi pakai baju. Weni pura-pura baru terbangun.

“Sudah malam gini, kamu mau ke mana?”

Lukas tundukkan kepalanya dan kecup keningnya dengan lembut. Suaranya terdengar tenang saat lagi bujuk dia, “Perusahaan ada urusan mendesak. Aku harus pergi urus. Kamu nggak perlu tunggu aku.”

Nggak lama kemudian, suara pintu ditutup terdengar dari luar. Weni segera bangkit, pakai jaket , lalu panggil taksi.

“Pak, tolong antar aku ke Bar Hola.”

Mobil berhenti di depan bar. Bahkan sebelum Weni sempat turun, dia sudah lihat Lukas seret gadis muda itu keluar dengan langkah lebar. Lukas dorong gadis itu hingga tubuhnya terhuyung di samping mobil. Tatapannya dipenuhi kegelisahan sekaligus kepedihan.

“Demi kamu, aku sudah buat dia keguguran! Aku mesti gimana lagi untuk buktikan perasaanku ke kamu?!”

Seolah baru saja dipukul keras di kepalanya, seluruh tubuh Weni terasa mati rasa. Telinganya berdenging hebat. Namun yang terjadi berikutnya bahkan lebih menyakitkan. Lukas cengkeram leher gadis itu, lalu cium dia dengan penuh gairah. Keduanya berciuman di pinggir jalan, sulit dipisahkan, seolah mereka adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta hingga hilang kendali.

Weni hanya bisa menatap tanpa berkedip ketika Lukas masukkan gadis itu ke kursi penumpang depan, kemudian setir mobil pergi.

“Pak, ikuti mobil itu.”

Taksi itu ikuti kendaraan Lukas hingga berhenti di sebuah hotel. Weni saksikan dari jauh ketika Lukas gendong gadis itu masuk ke hotel, pesan kamar, lalu bawa dia ke lantai atas.

Weni keluarkan HP-nya dan telepon Lukas. Panggilan itu langsung diputus. Beberapa saat kemudian, Lukas hanya balas dua kata:

[Lagi sibuk]

Bahkan dia nggak sempat kasih tanda titik. Dalam sekejap, Weni merasa seolah seluruh daging dan darah di tubuhnya telah dikosongkan, sisakan kerangka yang rapuh dan nggak berdaya. Bahkan suaranya terdengar lemah, seperti kehilangan seluruh kekuatan untuk bernapas.

Perselingkuhan itu sudah begitu jelas. Tapi kalau gitu, apa maksudnya dengan “buat dia keguguran”?

Sesampainya di rumah, Weni buka kamar bayi yang selama ini terkunci. Dia kumpulkan semua obat dan suplemen yang masih tersisa sejak masa kehamilannya, lalu bawa ke rumah sakit. Angin malam berembus dingin dan menusuk tulang. Weni duduk membisu di depan rumah sakit sepanjang malam, seperti bunga yang telah layu sebelum sempat mekar.

Begitu dokter mulai kerja pagi itu, dia segera serahkan semua barang itu untuk diperiksa.

“Nona Weni, isi botol ini adalah sejenis obat aborsi yang sudah nggak dipakai lagi di dalam negeri. Namun karena efeknya nggak terlalu kuat, kemungkinan besar kegugurannya nggak akan berlangsung sempurna, tetap butuh tindakan kuret. Saya harus ingatkan Anda. Kalau memang nggak mau anak ini, sebaiknya lakukan prosedur aborsi yang resmi. Jangan minum obat-obatan semacam ini. Jika sampai terjadi perdarahan hebat, Anda sendiri yang akan tanggung akibatnya.”

Weni keluar dari rumah sakit dengan langkah gontai, seperti orang yang kehilangan jiwanya. Setiap langkah terasa seperti menginjak ujung pisau dengan kaki telanjang. Rasa sakitnya begitu hebat sampai pandangannya berulang kali jadi hitam. Kenangan tentang hari kegugurannya kembali muncul dengan begitu jelas. Dia masih ingat gimana dirinya hanya bisa saksikan darah hangat mengalir dari tubuhnya. Dokter bilang anaknya sudah nggak ada dan dia harus segera jalani operasi kuret. Alat medis yang dingin dimasukkan ke dalam tubuhnya, lalu bergerak bolak-balik di dalam rahim seperti mesin penggiling daging. Anak yang belum sempat terbentuk sempurna itu dihancurkan, lalu dikeluarkan dari dalam tubuhnya.

Weni menjerit berkali-kali di ruang operasi karena tahan sakit. Semuanya terasa seperti ada di neraka. Namun siksaan yang begitu mengerikan itu, ternyata hanya bukti cinta yang diberikan Lukas ke sang “Putri”.

Tubuh Weni akhirnya ambruk dan dia terduduk di tanah. Rasa terhina, putus asa, dan kebencian kembali menyerbu dirinya sekaligus. Dia nangis hingga seluruh tubuhnya gemetar. Saat itu, dia berharap bisa mencincang Lukas jadi seribu bagian!

“Nyonya Weni? Kamu nggak apa-apa?”

Weni dongakkan kepalanya. Dengan mata berkabut oleh air mata, dia menatap pria yang berdiri di hadapannya. Pria itu kenakan kemeja dan setelan jas. Lengan kemejanya digulung hingga siku, perlihatkan sebuah jam tangan mewah di pergelangan tangannya. Jas luarnya disampirkan santai di lekukan lengannya. Pria itu tampak santai, tetapi tetap pancarkan keanggunan yang sulit diabaikan.

Peter Pangestu. Presiden Grup Pangestu, perusahaan tempat Lukas kerja.

Enam bulan lalu, Peter adakan pesta ulang tahun di atas kapal pesiar. Lukas bawa dia ikut hadiri pesta itu. Saat Weni sedang rapikan riasannya di sebuah kamar, Peter yang mabuk tanpa sengaja masuk ke sana. Karena salah kenali orang, Peter tekan dia ke dinding dan cium Weni dengan paksa, sambil bilang kalau Weni begitu kejam.

Weni nggak pernah berani ceritakan kejadian itu ke siapa pun. Seminggu kemudian, Lukas dapat promosi.

Saat ini, sebuah kalimat yang sering diucapkan Lukas tiba-tiba terlintas di benaknya, “Soal apa aku bisa nggak masuk ke jajaran petinggi Grup Pangestu, semuanya hanya bergantung pada satu kalimat dari Pak Peter.”

Hati Weni bergetar. Sebuah pikiran yang begitu gelap perlahan muncul di benaknya. Kalau ingin cincang seorang bajingan jadi ribuan bagian, hal terpenting adalah temukan pisau yang tepat untuk lakukan itu.

“Nyonya Weni?”

“Nggak apa-apa. Akhir-akhir ini aku nggak bisa tidur, jadi aku datang ke rumah sakit untuk periksa.”

Ketika Weni bangkit, tiba-tiba pergelangan kakinya terkilir dan tubuhnya terhuyung ke depan.

“Hati-hati!”

Pria itu dengan sigap tangkap tubuhnya. Lengannya yang kokoh segera lingkari pinggang Weni, tahan dia agar nggak jatuh. Aroma lembut kayu cendana seketika selimuti tubuh Weni.

“Keseleo?”

Weni angkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan mata Peter yang hitam pekat, sedalam tinta.

“Nggak tahu. Agak sakit.”

Weni perlahan berdiri. Dengan bantuan Peter, dia putar pergelangan kakinya dengan hati-hati.

Peter kembali tanya, “Lukas di mana? Kok dia nggak temani kamu ke sini?”

Jari-jari Weni yang putih dan ramping perlahan menyeka sisa air mata di sudut matanya.

Suaranya terdengar tenang.

“Katanya perusahaan punya urusan mendesak yang harus dia urus. Tadi malam dia pergi ke kantor untuk lembur semalaman. Sampai sekarang belum pulang.”

Tangan pria yang melingkari pinggang rampingnya sedikit mengencang. Sepasang mata hitamnya yang dalam pancarkan secercah rasa terkejut.

Weni balik tanya, “Pak Peter datang ke rumah sakit sepagi ini untuk jenguk orang atau .…”

“Urus sedikit urusan pribadi.”

“Oh … kalau gitu .…”

Peter tiba-tiba tambahkan, “Sudah selesai kok. Aku juga sudah mau balik.”

Weni tertegun selama dua detik. Tangannya yang menggantung di sisi tubuh cengkeram ujung rok. Dia telan ludah dengan gugup sebelum ucapkan kalimat yang hendak disampaikannya.

Peter menatapnya tanpa berkedip. Di dasar matanya, secercah cahaya yang sulit dijelaskan melintas dan entah gimana pancarkan daya tarik yang menggoda.

Untuk sesaat jantung Weni seakan berhenti berdetak. Akhirnya, dia buka mulut.

“Pak Peter, bisa nggak kamu antar aku pulang? Aku datangnya naik taksi. Sekarang sudah masuk jam ramai, jadi sepertinya akan sulit dapat taksi lagi. Lagian, pergelangan kakiku memang masih agak sakit.”

Weni ucapkan semuanya dalam satu tarikan napas. Tatapannya penuh keberanian yang rasanya nyaris agak nekat. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.

“Bisa.”

Di tengah keheningan, suara pria itu terdengar begitu jelas dan lembut. Lembut seperti sehelai bulu yang usap perlahan ujung hatinya, buat dia merasa geli dan berdebar.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status