Hanifa kembali duduk di kursinya setelah selesai makan siang dan bertemu dengan Alden, saudara Maria. Semua penjelasan lelaki itu tentang perceraian masih bisa ia cerna dengan mudah. Jika ingin mengajukan perceraian, Hanifa sudah memiliki alasan yang cukup kuat dan kemungkinan bisa segera diproses. Namun, ia masih mencoba memikirkannya kembali. Apakah ini benar-benar keputusan yang tepat? Atau ada jalan tengah lain yang bisa ia ambil. Sementara waktu, ia ingin melupakannya sejenak. Pekerjaan sudah menunggunya, dan ia harus fokus kembali. Baru saja hendak menyalakan komputernya, suara Sarah membuatnya menoleh. “Mbak Ifa, dipanggil Pak Bos.” Tak heran, Hanifa memilih berdiri. Sekarang, ketika ada kesalahan atau komplain, Hanifa lah yang selalu Shaka cari. Namun, ketika hendak melangkah, kepalanya tiba-tiba terasa berat. Dunia di sekelilingnya seolah berputar. Dan tangannya langsung menahan sisi meja agar ia tak jatuh. Hanifa menarik napas dalam, lalu memejamkan mata se
Última actualización : 2026-09-05 Leer más