"Fa... nggak apa-apa aku tinggal pulang dulu?" Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, tetapi Hanifa masih terpaku pada layar komputer di depannya. Beberapa orang di divisi itu sudah pulang. Kini hanya tersisa dirinya, Heru yang sedang berkemas, dan Maria yang sudah siap dengan tote bag miliknya. "Nggak apa-apa, pulang dulu aja, Mar," jawab Hanifa tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Mungkin tiga puluh menit lagi aku juga sudah menyusul." Rasa berat hati dan kasihan membuat Maria masih ragu. Ia tidak tega meninggalkan sahabatnya seorang diri. Tadi, setelah laporan pertama selesai diperiksa, Shaka justru memberikan Hanifa tugas baru. Membuat proyeksi arus kas perusahaan untuk tiga bulan ke depan. Konyolnya lagi, pria itu memberikan tenggat waktu sampai besok pagi. Orang gila mana yang memberi tugas seperti itu? Hanifa saja sudah pusing tujuh keliling melihat deretan angka di layar. "Beneran nggak apa-apa nih, Fa?" Hanifa meluruhkan bahunya, lalu akhirnya menoleh.
Last Updated : 2026-09-02 Read more