LOGINLima tahun menjalani pernikahan tanpa cinta membuat Hanifa Artha Medina terbiasa menelan kecewa seorang diri. Ia bertahan meski suaminya tak pernah memperlakukannya sebagai seorang istri. Hingga suatu hari, masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur justru kembali muncul di hadapannya. Shaka Astara Gavindra. Lelaki yang pernah menjadi cinta terbesar dalam hidupnya. Namun, siapa sangka pria itu kini kembali sebagai kepala divisi baru di perusahaan tempat Hanifa bekerja. Dan yang lebih menyakitkan, Shaka bukan lagi lelaki hangat yang dulu selalu membuat jantungnya berdebar. Tatapannya kini berubah dingin. Sikapnya kaku. Bahkan setiap perkataannya seolah menyimpan luka dan dendam yang tidak pernah Hanifa mengerti.
View More"Barusan ibu tanya, kamu sudah positif hamil belum?"
Pertanyaan Prabu membuat tubuh Hanifa membeku. Tas yang hendak ia letakkan di meja menggantung di udara. Usia pernikahan Hanifa Artha Medina dan Prabu Abhimanggala sudah menginjak usia lima tahun. Namun sampai sekarang, bayi kecil yang mereka tunggu belum juga hadir. Wanita mana yang tak menginginkan anak? Hanifa pun ingin. Sangat ingin malah. Hanya saja takdir seolah belum berpihak pada mereka. "Semua itu bukan kuasaku, kan, Mas?" ucap Hanifa menahan emosi. "Kalau anak bisa dicetak dari tepung, dari kemarin juga sudah aku buat." Tas di tangannya akhirnya ia letakkan begitu saja di atas meja. Tanpa menunggu jawaban, Hanifa melangkah ke kamar mandi. Pintu tertutup pelan setelah ia masuk, membawa semua sesak yang memenuhi dadanya. Begitu sendirian, tubuhnya merosot di balik pintu. Kepalanya tertunduk dalam. Dan bulir air mata jatuh satu per satu. Keputusannya menikah meninggalkan penyesalan yang dalam. Hanifa seperti terperangkap dalam situasi yang terus memojokkannya. Semua berawal dari kisah cintanya yang berakhir tanpa penjelasan. Kekasihnya dulu memilih melanjutkan kuliah ke Singapura, lalu menghilang begitu saja tanpa kabar. Tahun demi tahun Hanifa menunggu, berharap suatu hari lelaki itu kembali. Namun tak pernah ada pesan, atau pun penjelasan. Lelaki itu hilang bak ditelan bumi. Ia bahkan pernah datang ke rumah sang kekasih. Namun hasilnya nihil. Rumah itu kosong, dan seluruh keluarganya sudah pindah entah ke mana. Hingga di usia dua puluh lima tahun, Hanifa akhirnya dijodohkan dengan lelaki pilihan ayahnya. Sayangnya, pernikahan itu tak membawa ketenangan. Prabu jarang memberi kenyamanan, apalagi kehangatan. Ia hanya seorang lelaki patriarki yang selalu ingin dilayani dan tak ingin dibantah. Dan yang paling menyakitkan, hati Hanifa ternyata masih tertinggal pada cinta pertamanya. Shaka Astara Gavindra. Kepala Hanifa semakin menunduk hingga menyentuh lututnya. Tangisnya tertahan di antara kedua lengan yang menopang dahinya. Lima tahun ia jalani semuanya seorang diri. Tak ada tempat bercerita, apa lagi pundak untuk bersandar. Ibunya sudah meninggal, dan setiap kali ia mencoba mengadu pada ayahnya, justru ia yang disalahkan. Jika Hanifa memiliki keberanian, mungkin ia sudah pergi sejauh mungkin dari semua ini. Namun kalimat terakhir ibunya sebelum meninggal selalu menahannya. "Kalau suamimu tidak selingkuh, tidak KDRT, kamu harus terus berbakti, Nak." Sepenggal kalimat itu seperti belenggu yang terus mengikatnya. Padahal, pada kenyataannya Hanifa hampir tak sanggup menjalaninya lagi. Brak! Brak! "Fa... sudah belum? Lama amat di kamar mandi!" "Iya, Mas." Gedoran keras di pintu dan suara lantang itu membuat Hanifa buru-buru bangkit. Ia segera menuju wastafel dan membasuh wajahnya. Setelah itu pakaiannya ia lepaskan, lalu keran shower ia buka sekadar membasahi tubuh. Begitu tubuhnya sedikit basah, Hanifa langsung meraih handuk. Ia mengeringkan diri seadanya sebelum berjalan keluar, dan berpura-pura seolah baru selesai mandi. "Kebiasaan! Kalau di kamar mandi lama!" gerutu Prabu sambil melirik kesal begitu Hanifa keluar. Hanifa berhenti di tempatnya berdiri. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memejamkan mata. Ia hanya perlu bersabar sedikit lagi. Semoga saja ia masih mampu. Saat Prabu mulai mandi, Hanifa segera mengenakan pakaian rumahan. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sebentar lagi waktu makan malam Prabu. Seperti biasa, ketika Prabu keluar kamar, semua makanan harus sudah siap di meja. Ia tak suka jika disuruh menunggu. Hanifa berjalan ke dapur. Ia membuka kulkas dan mengambil boks berisi ayam ungkep yang ia masak kemarin. Namun tepat saat ia menyalakan kompor, suara bel rumah berbunyi. Hanifa buru-buru mematikan kompor kembali dan berlari menuju pintu utama. "Lama banget bukanya sih, Fa. Ibu sudah pegal berdiri." Damayanti, ibu dari suaminya, berdiri dengan wajah masam di depan pintu begitu Hanifa membuka pintu. Di belakangnya ada Himawan, suaminya. "Maaf, Bu. Tadi Ifa lagi nyalain kompor." "Alasan!" Damayanti langsung menerobos masuk. Tangannya menenteng beberapa boks makanan. Hanifa beralih pada Himawan dan mencium tangannya dengan takzim. Setelah itu lelaki itu menyusul istrinya masuk ke dalam. "Astaga... Ifa! Ayam goreng lagi, ayam goreng lagi!" Damayanti mencibir begitu melihat boks berisi ayam ungkep di meja dapur. "Memangnya nggak ada menu lain?" "Yang simpel saja, Bu. Kebetulan aku sama Mas Prabu juga baru pulang kerja." "Alasan lagi kamu!" Damayanti mendecak. "Lama-lama jadi istri nggak becus." Wanita itu terus mengomel. "Setahu Ibu, uang belanja yang dikasih Prabu itu banyak. Tapi kamu nggak bisa manfaatin. Mending kasih saja ke Ibu. Biar Ibu yang jamin makanan Prabu." Deg! Dada Hanifa langsung mencelos. Ia ingin menyangkal, tetapi mulutnya terasa kelu. Setiap bulan, Prabu hanya memberinya uang belanja satu juta rupiah. Memang semua kebutuhan rumah ditanggung Prabu, tetapi uang berlimpah yang Damayanti bayangkan tak pernah sampai ke tangannya. Bahkan untuk kebutuhannya sendiri, Hanifa harus membelinya dengan uangnya sendiri. "Nih lihat, Ibu saja yang suaminya cuma pensiunan masih bisa masak enak." Damayanti membuka boks berukuran sedang yang ia bawa. Begitu tutupnya terangkat, udang balado pete dan brokoli cah jamur langsung menggoda mata siapa pun yang melihatnya. Hanifa terdiam. Ia menatap makanan itu tanpa berkata apa pun. Bukan karena ia tertarik, tetapi rasa sesak di dadanya semakin menekan. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin menjadi istri sekaligus wanita karier. Bahkan ia setuju ketika Prabu tak menginginkan ART di rumah mereka. Semua pekerjaan rumah ia yang mengerjakan. Namun tetap saja, di mata mereka semua, ia selalu terlihat salah dan tidak becus. "Loh, Bu. Ke sini kok nggak bilang-bilang?" Suara Prabu terdengar mendekat. Rupanya ia sudah selesai mandi. Damayanti melirik sinis ke arah Hanifa, lalu berjalan ke rak piring dan mengambil tiga buah. "Ibu kebetulan masak makanan kesukaanmu, makanya sengaja datang ke sini." Mata Prabu langsung berbinar melihat hidangan di meja. Ia segera duduk di kursi makan dengan wajah penuh minat. "Sekarang makan, ya. Yang banyak." Hanifa buru-buru mengambil teflon nasi dan meletakkannya di atas meja makan. Himawan ikut duduk. Damayanti langsung mengisi piring suaminya dengan makanan yang ia bawa. Setelah itu piring Prabu, lalu piringnya sendiri. Hanifa membeku di tempatnya berdiri. Lagi-lagi ia merasa tersisih. Seolah keberadaannya di rumah itu tak dianggap. "Lagian... apes banget kamu, Prabu," ujar Damayanti santai sambil mulai menyuap makanannya. "Punya istri nggak bisa masak, eh nggak bisa hamil juga." Ucapan itu jatuh seperti sebuah tamparan keras. ***"Sayang... kok lama, sih?" Langkah Hanifa seketika terhenti. Di hadapan mereka berdiri seorang wanita cantik dengan penampilan anggun. Begitu melihat Shaka, wanita itu langsung menghampirinya dan bergelayut mesra di lengan pria tersebut. Hanifa terpaku. Untuk pertama kalinya sejak pagi tadi, ia baru melihat senyum yang begitu jelas di bibir Shaka. Senyum yang bahkan tidak sekali pun lelaki itu tunjukkan di depan siapa pun semenjak kakinya menginjak perusahaan ini. "Sorry... tadi banyak kerjaan. Tahu sendiri, ini hari pertamaku masuk." Suara Shaka terdengar lembut saat berbicara kepada wanita itu. Bahkan tangannya kemudian melingkar di pinggang ramping sang wanita. Hanifa tercekat. Ada sesuatu yang perlahan menghimpit dadanya. Sebuah perasaan sakit yang ia tak tahu darimana datangnya. Dan lebih lama melihat pemandangan di hadapannya membuat napasnya terasa berat. Ia pun segera mengalihkan pandangan. Jadi... inikah alasan Shaka menyuruh Hanifa pulang saat itu juga hingga
"Fa... nggak apa-apa aku tinggal pulang dulu?" Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, tetapi Hanifa masih terpaku pada layar komputer di depannya. Beberapa orang di divisi itu sudah pulang. Kini hanya tersisa dirinya, Heru yang sedang berkemas, dan Maria yang sudah siap dengan tote bag miliknya. "Nggak apa-apa, pulang dulu aja, Mar," jawab Hanifa tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Mungkin tiga puluh menit lagi aku juga sudah menyusul." Rasa berat hati dan kasihan membuat Maria masih ragu. Ia tidak tega meninggalkan sahabatnya seorang diri. Tadi, setelah laporan pertama selesai diperiksa, Shaka justru memberikan Hanifa tugas baru. Membuat proyeksi arus kas perusahaan untuk tiga bulan ke depan. Konyolnya lagi, pria itu memberikan tenggat waktu sampai besok pagi. Orang gila mana yang memberi tugas seperti itu? Hanifa saja sudah pusing tujuh keliling melihat deretan angka di layar. "Beneran nggak apa-apa nih, Fa?" Hanifa meluruhkan bahunya, lalu akhirnya menoleh.
"Siapa yang bertanggung jawab atas laporan ini?" Suara lantang Shaka langsung membuat beberapa kepala menoleh. Setelah sesi perkenalan di ruang rapat selesai, semua orang kembali ke pekerjaan masing-masing. Baru sekitar sepuluh menit berlalu, suara Shaka kembali menggema di ruang divisi keuangan dan sontak membuat suasana kerja yang semula tenang berubah tegang. Shaka menatap mereka satu per satu. "Saya tanya sekali lagi. Siapa yang bertanggung jawab atas laporan ini?" Ia meletakkan berkas di atas salah satu meja dengan sedikit hentakan. Beberapa karyawan saling lirik. Maria yang duduk di dekat Hanifa bahkan langsung menegakkan punggungnya. Hanifa memperhatikan berkas di tangan Shaka, hingga akhirnya menyadari laporan apa yang sedang dibawa lelaki itu. Itu laporan yang ia periksa. Perlahan, Hanifa berdiri dari kursinya. "Saya, Pak." Tatapan Shaka langsung mengarah kepadanya. "Kamu?" "Iya, Pak." Hanifa mengangguk. Shaka mengambil kembali laporan tersebut, lal
Aroma gosong tiba-tiba menguar dari dapur. Hanifa tersentak ketika bau itu menusuk hidungnya. Ia langsung menoleh ke arah kompor dan seketika matanya membulat melihat asap kehitaman mengepul dari wajan kecil yang sedang digunakannya untuk menggoreng ayam. "Astaga!" Buru-buru Hanifa berlari menghampiri kompor. Tangannya langsung mematikan api sebelum mengangkat wajan dari atasnya. Asap masih mengepul, dan membuat Hanifa terbatuk kecil. Ia mengembuskan napas lega, lalu refleks memegangi dadanya yang berdebar. "Hampir saja..." Rumahnya nyaris terbakar karena ia justru larut dalam lamunan. Dengan lesu, Hanifa menatap ayam yang sudah berubah kecokelatan hingga hampir kehitaman itu. Bibirnya mengembuskan napas panjang. Sejak pagi, pikirannya memang tidak bisa tenang. Ucapan-ucapan semalam terus berputar di kepalanya. Bahkan ketika mencoba melakukan pekerjaan rumah seperti biasa, bayangan itu masih saja muncul. Untung Prabu sudah berangkat ke rumah Damayanti sejak pagi b
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.