Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku

Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku

last updateLast Updated : 2026-09-02
By:  ORI GAMIIUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Lima tahun menjalani pernikahan tanpa cinta membuat Hanifa Artha Medina terbiasa menelan kecewa seorang diri. Ia bertahan meski suaminya tak pernah memperlakukannya sebagai seorang istri. Hingga suatu hari, masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur justru kembali muncul di hadapannya. Shaka Astara Gavindra. Lelaki yang pernah menjadi cinta terbesar dalam hidupnya. Namun, siapa sangka pria itu kini kembali sebagai kepala divisi baru di perusahaan tempat Hanifa bekerja. Dan yang lebih menyakitkan, Shaka bukan lagi lelaki hangat yang dulu selalu membuat jantungnya berdebar. Tatapannya kini berubah dingin. Sikapnya kaku. Bahkan setiap perkataannya seolah menyimpan luka dan dendam yang tidak pernah Hanifa mengerti.

View More

Chapter 1

Bab 1. Tidak bisa hamil

"Barusan ibu tanya, kamu sudah positif hamil belum?"

Pertanyaan Prabu membuat tubuh Hanifa membeku. Tas yang hendak ia letakkan di meja menggantung di udara.

Usia pernikahan Hanifa Artha Medina dan Prabu Abhimanggala sudah menginjak usia lima tahun. Namun sampai sekarang, bayi kecil yang mereka tunggu belum juga hadir.

Wanita mana yang tak menginginkan anak? Hanifa pun ingin. Sangat ingin malah.

Hanya saja takdir seolah belum berpihak pada mereka.

"Semua itu bukan kuasaku, kan, Mas?" ucap Hanifa menahan emosi. "Kalau anak bisa dicetak dari tepung, dari kemarin juga sudah aku buat."

Tas di tangannya akhirnya ia letakkan begitu saja di atas meja. Tanpa menunggu jawaban, Hanifa melangkah ke kamar mandi.

Pintu tertutup pelan setelah ia masuk, membawa semua sesak yang memenuhi dadanya.

Begitu sendirian, tubuhnya merosot di balik pintu. Kepalanya tertunduk dalam. Dan bulir air mata jatuh satu per satu.

Keputusannya menikah meninggalkan penyesalan yang dalam. Hanifa seperti terperangkap dalam situasi yang terus memojokkannya.

Semua berawal dari kisah cintanya yang berakhir tanpa penjelasan. Kekasihnya dulu memilih melanjutkan kuliah ke Singapura, lalu menghilang begitu saja tanpa kabar.

Tahun demi tahun Hanifa menunggu, berharap suatu hari lelaki itu kembali. Namun tak pernah ada pesan, atau pun penjelasan. Lelaki itu hilang bak ditelan bumi.

Ia bahkan pernah datang ke rumah sang kekasih. Namun hasilnya nihil. Rumah itu kosong, dan seluruh keluarganya sudah pindah entah ke mana.

Hingga di usia dua puluh lima tahun, Hanifa akhirnya dijodohkan dengan lelaki pilihan ayahnya.

Sayangnya, pernikahan itu tak membawa ketenangan. Prabu jarang memberi kenyamanan, apalagi kehangatan. Ia hanya seorang lelaki patriarki yang selalu ingin dilayani dan tak ingin dibantah.

Dan yang paling menyakitkan, hati Hanifa ternyata masih tertinggal pada cinta pertamanya. Shaka Astara Gavindra.

Kepala Hanifa semakin menunduk hingga menyentuh lututnya. Tangisnya tertahan di antara kedua lengan yang menopang dahinya.

Lima tahun ia jalani semuanya seorang diri. Tak ada tempat bercerita, apa lagi pundak untuk bersandar. Ibunya sudah meninggal, dan setiap kali ia mencoba mengadu pada ayahnya, justru ia yang disalahkan.

Jika Hanifa memiliki keberanian, mungkin ia sudah pergi sejauh mungkin dari semua ini.

Namun kalimat terakhir ibunya sebelum meninggal selalu menahannya.

"Kalau suamimu tidak selingkuh, tidak KDRT, kamu harus terus berbakti, Nak."

Sepenggal kalimat itu seperti belenggu yang terus mengikatnya. Padahal, pada kenyataannya Hanifa hampir tak sanggup menjalaninya lagi.

Brak! Brak!

"Fa... sudah belum? Lama amat di kamar mandi!"

"Iya, Mas."

Gedoran keras di pintu dan suara lantang itu membuat Hanifa buru-buru bangkit. Ia segera menuju wastafel dan membasuh wajahnya. Setelah itu pakaiannya ia lepaskan, lalu keran shower ia buka sekadar membasahi tubuh.

Begitu tubuhnya sedikit basah, Hanifa langsung meraih handuk. Ia mengeringkan diri seadanya sebelum berjalan keluar, dan berpura-pura seolah baru selesai mandi.

"Kebiasaan! Kalau di kamar mandi lama!" gerutu Prabu sambil melirik kesal begitu Hanifa keluar.

Hanifa berhenti di tempatnya berdiri. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memejamkan mata.

Ia hanya perlu bersabar sedikit lagi. Semoga saja ia masih mampu.

Saat Prabu mulai mandi, Hanifa segera mengenakan pakaian rumahan. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sebentar lagi waktu makan malam Prabu.

Seperti biasa, ketika Prabu keluar kamar, semua makanan harus sudah siap di meja. Ia tak suka jika disuruh menunggu.

Hanifa berjalan ke dapur. Ia membuka kulkas dan mengambil boks berisi ayam ungkep yang ia masak kemarin.

Namun tepat saat ia menyalakan kompor, suara bel rumah berbunyi. Hanifa buru-buru mematikan kompor kembali dan berlari menuju pintu utama.

"Lama banget bukanya sih, Fa. Ibu sudah pegal berdiri."

Damayanti, ibu dari suaminya, berdiri dengan wajah masam di depan pintu begitu Hanifa membuka pintu. Di belakangnya ada Himawan, suaminya.

"Maaf, Bu. Tadi Ifa lagi nyalain kompor."

"Alasan!" Damayanti langsung menerobos masuk. Tangannya menenteng beberapa boks makanan.

Hanifa beralih pada Himawan dan mencium tangannya dengan takzim. Setelah itu lelaki itu menyusul istrinya masuk ke dalam.

"Astaga... Ifa! Ayam goreng lagi, ayam goreng lagi!" Damayanti mencibir begitu melihat boks berisi ayam ungkep di meja dapur. "Memangnya nggak ada menu lain?"

"Yang simpel saja, Bu. Kebetulan aku sama Mas Prabu juga baru pulang kerja."

"Alasan lagi kamu!" Damayanti mendecak. "Lama-lama jadi istri nggak becus."

Wanita itu terus mengomel.

"Setahu Ibu, uang belanja yang dikasih Prabu itu banyak. Tapi kamu nggak bisa manfaatin. Mending kasih saja ke Ibu. Biar Ibu yang jamin makanan Prabu."

Deg!

Dada Hanifa langsung mencelos. Ia ingin menyangkal, tetapi mulutnya terasa kelu.

Setiap bulan, Prabu hanya memberinya uang belanja satu juta rupiah. Memang semua kebutuhan rumah ditanggung Prabu, tetapi uang berlimpah yang Damayanti bayangkan tak pernah sampai ke tangannya.

Bahkan untuk kebutuhannya sendiri, Hanifa harus membelinya dengan uangnya sendiri.

"Nih lihat, Ibu saja yang suaminya cuma pensiunan masih bisa masak enak."

Damayanti membuka boks berukuran sedang yang ia bawa. Begitu tutupnya terangkat, udang balado pete dan brokoli cah jamur langsung menggoda mata siapa pun yang melihatnya.

Hanifa terdiam. Ia menatap makanan itu tanpa berkata apa pun.

Bukan karena ia tertarik, tetapi rasa sesak di dadanya semakin menekan.

Ia sudah berusaha semaksimal mungkin menjadi istri sekaligus wanita karier. Bahkan ia setuju ketika Prabu tak menginginkan ART di rumah mereka. Semua pekerjaan rumah ia yang mengerjakan. Namun tetap saja, di mata mereka semua, ia selalu terlihat salah dan tidak becus.

"Loh, Bu. Ke sini kok nggak bilang-bilang?"

Suara Prabu terdengar mendekat. Rupanya ia sudah selesai mandi.

Damayanti melirik sinis ke arah Hanifa, lalu berjalan ke rak piring dan mengambil tiga buah.

"Ibu kebetulan masak makanan kesukaanmu, makanya sengaja datang ke sini."

Mata Prabu langsung berbinar melihat hidangan di meja. Ia segera duduk di kursi makan dengan wajah penuh minat.

"Sekarang makan, ya. Yang banyak."

Hanifa buru-buru mengambil teflon nasi dan meletakkannya di atas meja makan.

Himawan ikut duduk. Damayanti langsung mengisi piring suaminya dengan makanan yang ia bawa. Setelah itu piring Prabu, lalu piringnya sendiri.

Hanifa membeku di tempatnya berdiri. Lagi-lagi ia merasa tersisih. Seolah keberadaannya di rumah itu tak dianggap.

"Lagian... apes banget kamu, Prabu," ujar Damayanti santai sambil mulai menyuap makanannya. "Punya istri nggak bisa masak, eh nggak bisa hamil juga."

Ucapan itu jatuh seperti sebuah tamparan keras.

***

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status