แชร์

Bab 6. Paket

ผู้เขียน: ORI GAMII
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-02 15:08:51

"Sayang... kok lama, sih?"

Langkah Hanifa seketika terhenti.

Di hadapan mereka berdiri seorang wanita cantik dengan penampilan anggun. Begitu melihat Shaka, wanita itu langsung menghampirinya dan bergelayut mesra di lengan pria tersebut.

Hanifa terpaku. Untuk pertama kalinya sejak pagi tadi, ia baru melihat senyum yang begitu jelas di bibir Shaka. Senyum yang bahkan tidak sekali pun lelaki itu tunjukkan di depan siapa pun semenjak kakinya menginjak perusahaan ini.

"Sorry... tadi banyak kerjaan. Tahu sendiri, ini hari pertamaku masuk." Suara Shaka terdengar lembut saat berbicara kepada wanita itu. Bahkan tangannya kemudian melingkar di pinggang ramping sang wanita.

Hanifa tercekat. Ada sesuatu yang perlahan menghimpit dadanya. Sebuah perasaan sakit yang ia tak tahu darimana datangnya.

Dan lebih lama melihat pemandangan di hadapannya membuat napasnya terasa berat. Ia pun segera mengalihkan pandangan.

Jadi... inikah alasan Shaka menyuruh Hanifa pulang saat itu juga hingga pria itu menunggunya?

Apakah Shaka sengaja ingin memperlihatkan kemesraan mereka?

Atau, apakah lelaki itu memang ingin memperlihatkan kepadanya bahwa hidupnya sekarang sudah jauh lebih baik?

Hanifa langsung menggenggam tali tasnya erat-erat.

Padahal, seingatnya, ia tidak pernah melakukan sesuatu yang seharusnya membuat Shaka membencinya.

Kepergian lelaki itu beberapa tahun lalu justru menjadi hal yang paling sering membuatnya menangis. Hanifa bahkan selalu berharap Shaka kembali. Hingga akhirnya ia menyerah.

Dan sekarang lelaki itu berdiri di hadapannya dengan kehidupan yang tampaknya sudah sempurna dan seolah sedang mengejeknya.

Sementara dirinya?

Masih terjebak dalam pernikahan yang membuatnya bahkan tak tahu bagaimana rasanya dicintai.

Hanifa menarik napas dalam-dalam. Ia tidak seharusnya merasa seperti ini dan tidak berhak merasa cemburu.

Shaka sudah menjalani hidupnya sendiri. Begitu pula dirinya.

Namun, melihat senyum hangat Shaka kepada wanita lain tetap membuat sesuatu di dalam dada Hanifa terasa remuk.

Dan Hanifa mulai berpikir bahwa mungkin sejak pagi ia salah memahami tatapan dingin lelaki itu.

Mungkin bukan karena Shaka ingin menghindarinya atau justru membencinya., Akan tetapi, Shaka memang sedang menjaga hati wanita lain, sehingga ia tidak menciptakan keakraban dengan Hanifa.

Tak ingin lebih lama merasakan getir yang perlahan memenuhi dadanya, Hanifa akhirnya memilih pergi.

"Maaf, permisi... Saya duluan," pamitnya.

Shaka hanya mengangguk singkat.

Hanifa pun berbalik dan melangkahkan kaki menjauh dari mereka.

Namun, setelah beberapa langkah, telinganya masih menangkap suara manja wanita itu dari belakang dan disusul tawa Shaka.

Tawa yang begitu ringan dan riang. Dan tawa itu yang sudah lama tidak pernah Hanifa dengar.

Langkah Hanifa sempat terhenti. Namun, ia tidak menoleh. Ia hanya kembali menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan menuju pintu keluar.

Mungkin, inilah cara Tuhan menjawab doanya.

Sudah waktunya Hanifa berhenti memikirkan lelaki itu. Dan mungkin Tuhan sedang menunjukkan bahwa Shaka bukan lagi bagian dari jalan hidupnya.

Hanifa menundukkan wajah. Meski hatinya terasa perih, ia mencoba tersenyum kecil.

"Selamat tinggal, Shaka dan masa lalu," lirihnya hanya untuk dirinya sendiri.

Lalu Hanifa melangkah keluar dari gedung itu, membawa luka lama yang perlahan mulai ia sadari harus ia lepaskan.

–––

Gerimis mulai turun saat Hanifa baru saja tiba di rumah. Setelah memarkirkan motornya, ia segera bergegas menuju pintu utama dan membuka tas untuk mengambil kunci.

Namun, tepat saat tangannya memutar kunci, suara dari arah pagar membuat Hanifa menoleh.

Seorang kurir berdiri di sana sambil membawa sebuah boks berukuran sedang.

“Paket, Mbak!” panggil sang kurir.

Hanifa segera menutup kepalanya dengan tas yang dibawanya, lalu berlari kecil menuju pagar. Ia menerima paket tersebut dan menunggu sang kurir mengambil dokumentasi sebagai bukti penerimaan sebelum kembali ke teras.

Hanifa menatap boks di tangannya dengan dahi sedikit berkerut.

“Apa ini?” gumamnya pada diri sendiri.

Seingatnya, ia tidak sedang menunggu paket apa pun. Atau mungkin paket itu milik Prabu?

Ia hanya mengangkat bahu. Rasa penasarannya tidak cukup besar untuk membuatnya memikirkan hal itu lebih jauh. Bisa jadi memang Prabu yang memesan sesuatu.

Lagipula, ia sudah tidak terlalu peduli dengan apa pun yang dibeli atau dilakukan suaminya.

Hanifa memilih membuka pintu dan masuk ke dalam rumah, lalu meninggalkan boks itu di atas meja dekat ruang tamu.

Mandi menjadi kegiatan pertama yang Hanifa pilih. Tubuhnya terasa lengket, sementara kepalanya cukup penat setelah seharian menatap layar komputer dengan tugas yang Shaka berikan.

Ia berharap guyuran air dingin bisa sedikit meredakan sesak yang sejak tadi memenuhi pikirannya.

Setelah meletakkan tas, Hanifa langsung masuk ke kamar mandi. Ia berdiri di bawah shower dengan mata terpejam setelah membuka semua pakaiannya. Air pun perlahan membasahi rambut hingga tubuhnya, membawa rasa dingin yang perlahan membuatnya tenang.

Namun, baru saja ketenangan itu muncul, sebuah suara justru tiba-tiba berkelebat dalam ingatannya.

“Shaka, jangan ngebut! Hahaha...”

Hanifa membuka mata. Kenangan itu datang bagai petir yang menyambar.

Bayangan Shaka yang mengendarai sepeda motor, sementara dirinya duduk di belakang sambil memeluk pinggang lelaki itu, kembali memenuhi kepalanya. Saat itu hujan turun sangat deras. Mereka bahkan tertawa sepanjang perjalanan karena Shaka sengaja menerobos hujan alih-alih mencari tempat berteduh.

Hal sederhana yang seharusnya sudah lama terkubur itu ternyata masih tersimpan begitu jelas dalam ingatannya.

Bibir Hanifa perlahan melengkung membentuk senyum.

Namun, tanpa ia sadari, air mata ikut mengalir di pipinya, menyatu dengan air shower hingga tak lagi bisa dibedakan.

“Shaka...” bisiknya lirih.

Hanifa menundukkan kepalanya. Ia mengusap wajah untuk segera mengenyahkan apa pun yang masih memenuhi pikirannya saat ini.

Apalagi Shaka mungkin sudah memiliki kekasih, atau bahkan tadi yang bersamanya adalah istrinya. Sehingga memikirkan lelaki itu lagi rasanya tidak pantas.

“Oke, Ifa. Lupakan Shaka. Meski kamu tak bahagia, tapi kamu nggak boleh merusak kebahagiaan orang lain.”

Tarikan napas panjang terdengar, kemudian Hanifa kembali fokus menyelesaikan mandinya.

Dan beberapa menit kemudian, ia keluar dengan tubuh yang lebih segar. Hanifa mengenakan bathrobe yang tersedia di kamar mandi itu, lalu mengusap rambutnya dengan handuk kecil.

Namun baru saja Hanifa membuka pintu kamar mandi hendak keluar, suara teriakan Prabu tiba-tiba menggelegar dari ruang tamu.

“Hanifa!”

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (18)
goodnovel comment avatar
Elly Julita
kenapa tuh si prabu triak triak, ishhh ishhh
goodnovel comment avatar
melati 🌸
kalo liat flashback nya semanis ini, macam ada something yg buat mereka pisah, bisa jd ada salah paham nih,. btw si prabu ngapa dah tereak mulu, mau jd hantuu kau prab, beneran gendeng lakik 1 ini. aduh hani, cukup sudah kau bertahan.
goodnovel comment avatar
Marimar
salah paham deh Shaka ini
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku    Bab 82 Mual

    “Bunda, dari mana saja? Kenapa teleponku nggak diangkat?” Shaka langsung menghampiri Rina. Ada sedikit kekhawatiran di wajahnya, tetapi juga rasa lega karena akhirnya bisa menemukan bundanya. Rina tersenyum dengan santai. Ia mengangkat kedua kantong belanjaannya, kemudian baru menjawab, “Bunda tadi ada sedikit urusan. Maaf, ya, sampai membuatmu menunggu.” “Urusan apa, Bun? Aku sudah menelepon Bunda berkali-kali.” “Dih, lebay kamu. Bunda baik-baik saja, kok.” Shaka mengembuskan napas lega. Ia memang sudah menduga bahwa bundanya tidak mengalami sesuatu yang buruk, tetapi sikap Rina yang tak kunjung menjawab telepon tetap membuatnya khawatir. Barulah setelah itu, Shaka teringat bahwa Rose masih berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia menoleh lalu mengenalkan perempuan itu. “Oh, iya. Bunda, kenalkan, ini Rose.” Rina mengalihkan pandangan kepada perempuan yang baru saja disebut putranya. Ia memasang senyum ramah, seolah-olah mereka baru pertama kali bertemu. “Rose?” Rose te

  • Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku    Bab 81 Sial!

    Shaka keluar dari toilet setelah hampir sepuluh menit berada di sana. Sejak tadi, ia terus memperhatikan ponselnya, dan menanti panggilan dari Bundanya, sama seperti yang terjadi siang tadi ketika Rina menguji Hanifa. Namun, hingga ia memutuskan untuk keluar, ponselnya tak kunjung berdering. Tidak ada panggilan maupun pesan baru dari Rina. Shaka mengembuskan napas pelan, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh area lantai dua. Ia berharap bisa menemukan keberadaan Bundanya, tetapi sosok wanita itu tak kunjung terlihat. Hingga matanya menangkap sosok Rose yang sedang duduk di sebuah kursi sambil sibuk memainkan ponsel. Shaka segera menghampirinya. Sesekali, pandangannya masih menyapu area sekitar, dan mencari keberadaan Rina. Namun, setelah memastikan bahwa Bundanya tidak berada di dekat Rose, ia mulai mengernyit. “Apa Bunda belum ketemu Rose?” gumamnya pelan. Rose yang sejak tadi fokus pada ponselnya akhirnya mengangkat wajah ketika menyadari ada seseorang yang mendekat. Begitu

  • Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku    Bab 80 Sifat Rose

    Trik yang dilakukan Rina siang tadi kepada Hanifa, kini kembali ia gunakan untuk menguji Rose ketika mereka pulang dari kantor. Dengan begitu, ia bisa bersikap adil dalam menilai kedua perempuan tersebut, terutama bagaimana cara mereka mengendalikan emosi dan menyikapi masalah yang terjadi. Setelah menerima pesan dari Shaka bahwa putranya sudah berada di toilet dan meninggalkan Rose di lantai dua, pandangan Rina langsung beredar menyusuri area lantai dua. Sebelumnya, Shaka juga sudah mengirimkan foto Rose agar ibunya tidak salah mengenali perempuan yang akan ditemuinya. Rina terus mengamati orang-orang yang berlalu-lalang hingga matanya menangkap sosok wanita dengan kemeja merah marun dan rok span selutut. Seketika, senyum lebar terbit di bibirnya. Targetnya sudah berada tepat di depan mata. Sama seperti ketika bertemu Hanifa tadi, Rose juga sedang mencari tempat duduk untuk menunggu Shaka. Bedanya, perempuan itu tampak sibuk dengan ponsel di tangannya, bahkan sesekali menge

  • Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku    Bab 79 Merasa cocok

    Tujuh menit kemudian, Hanifa kembali dengan napas sedikit terengah. Ia berlari kecil sambil membawa sebuah kantong plastik berisi semangka yang baru dibelinya. “Maaf, Bu, lama menunggu. Tadi saya harus mengantre di kasir,” ujarnya begitu tiba di hadapan wanita yang masih duduk di bangku panjang. Hanifa mengeluarkan semangka dari kantong plastik, lalu menyerahkannya kepada wanita itu. “Ini, Bu. Saya sudah menggantinya dengan yang baru. Coba diperiksa dulu, siapa tahu ada yang kurang berkenan.” Rina menerima semangka tersebut, kemudian memeriksanya sekilas sebelum mengangguk. “Sudah bagus. Terima kasih, ya.” “Sama-sama, Bu. Saya juga minta maaf karena tadi kurang berhati-hati.” “Sudahlah, nggak apa-apa. Namanya juga kecelakaan. Untung kamu mau bertanggung jawab.” Hanifa tersenyum kecil. “Iya, Bu. Apalagi Ibu bilang semangka itu untuk anak Ibu. Sayang kalau anak Ibu dikasih semangka rusak dan nggak bisa dimakan.” Rina menatap perempuan di hadapannya dengan saksama. Diam-

  • Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku    Bab 78 Pebinor

    Perintah Shaka benar-benar menjadi kenyataan keesokan harinya. Tepat lima belas menit sebelum jam istirahat makan siang, lelaki itu menghampiri meja Hanifa dan langsung memintanya ikut. Maria yang melihat kejadian itu tak tampak terkejut. Ia hanya mengembuskan napas berat sambil memperhatikan keduanya. Dugaannya semakin kuat bahwa Shaka sebenarnya masih menyimpan perasaan kepada Hanifa. Namun, Maria tak berani menyampaikan kecurigaannya secara langsung kepada sang sahabat, terlebih ketika Hanifa masih menghadapi prahara dalam rumah tangganya. Sementara itu, Hanifa bahkan tak diberi kesempatan untuk menolak. Mau tak mau, ia mengikuti Shaka menuju mobil. Sepanjang perjalanan hingga mereka tiba di mal terdekat, Hanifa hanya diam sambil menatap jalanan di luar jendela. Sesekali, ia melirik Shaka yang fokus menyetir, dan berharap lelaki itu berbaik hati menjelaskan tujuan mereka. Sayangnya, Shaka sama sekali tak membuka suara. "Ayo, turun," ujar Shaka begitu mobilnya memasuki area

  • Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku    Bab 77 Pesan Shaka

    Setelah pergi bersama Maria, Hanifa tak langsung pulang ke rumah. Ia justru berbelok menuju rumah ayahnya. Tak peduli jika Prabu akan marah atau mungkin mengomelinya nanti, yang pasti malam ini Hanifa hanya ingin melakukan apa yang ia mau tanpa harus memikirkan perasaan suaminya.Setelah makan malam, Hanifa, Yudi, dan Siti duduk bersama di ruang keluarga. Meski waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, Hanifa masih enggan beranjak pulang."Nanti pulangnya Ayah yang antar, ya, Fa."Hanifa yang sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya akhirnya menoleh."Nggak usah, Yah. Ifa pulang sendiri aja.""Ini sudah malam, lho."Hanifa tertawa kecil. "Malam apanya? Jalanan juga masih ramai, kok. Ayah nggak perlu khawatir."Semenjak mengetahui kisah hidup Hanifa yang sebenarnya, sikap Yudi memang mulai melunak. Pria itu tak lagi bersikap dingin seperti dahulu. Bahkan, kini ia tak segan menunjukkan perhatiannya dengan mengirim pesan dan menanyakan keadaan putrinya.Meski begitu, Y

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status