Aku membasuh wajah dengan air dingin, lalu keluar dari kamar kecil.Di ujung koridor, Ruben sedang membayar tagihan di meja kasir.Maria berdiri di sampingnya. Dengan begitu alami, dia mengulurkan tangan dan mengambil kunci mobil dari saku jas Ruben.“Ruben, aku ke mobil duluan, lalu menyalakan mesin dan pemanasnya. Di luar dingin sekali.”“Pergilah. Nyalakan juga pemanas jok penumpang depan.”Ruben bahkan tidak mengangkat kepala. Dia masih sibuk memeriksa tagihan.Kecocokan mereka begitu alami, seperti air yang mengalir di permukaan tanah yang datar, tanpa sedikit pun hambatan.Aku berjalan menghampiri mereka. Kebetulan Ruben baru saja selesai membayar.“Ayo, pulang.”Dia melirikku sekilas.Begitu sampai di parkiran bawah tanah, Maria sudah duduk di kursi penumpang depan. Dia menendang sepatu hak tingginya, lalu menggantinya dengan sepasang sepatu datar berbulu.Melihatku datang, Maria tersenyum sambil meminta maaf.“Kak, pergelangan kakiku pernah cedera, jadi tidak bisa terlalu lama
Leer más