Share

Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan
Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan
Author: Meina

Bab 1

Author: Meina
Saat aku sedang mengemasi barang-barang, dia menelepon. Suaranya terdengar tergesa-gesa.

“Bukankah kamu sudah lama ingin melihat aurora? Kenapa malah membatalkan tiketnya?”

Namun aku langsung memutuskan telepon.

Aveline terlalu jauh. Aurora terlalu dingin.

Jika dia tidak bersedia menempuh perjalanan demiku, maka aku akan berjalan sendiri menuju tempat yang memiliki cahaya.

....

Setengah jam kemudian, Ruben pulang.

“Clara, beli lagi tiketnya. Jangan merajuk.”

“Tidak perlu.”

Aku mendorong hard disk lama itu ke sudut meja.

“Selama 4 tahun, setiap bulan Februari kamu mengambil 3.200 foto di Aveline. Dia sampai berganti pakaian sebanyak 24 kali.”

Ruben terdiam sejenak.

“Maria paham tentang komposisi. Menjadikannya modelku lebih praktis.”

“Sepraktis itu sampai kamu harus mengedit cahaya di helaian rambutnya?”

“Itu bagian dari pekerjaan.”

Dia melepas mantelnya lalu duduk di sofa, “Kamu harus mempermasalahkan urusan pekerjaan?”

Aku tidak menjawab lalu berjalan ke dekat pintu dan membuka laci sebelah kiri. Di dalamnya tergeletak seuntai kunci dengan gantungan kelinci.

“Ini kunci siapa?”

Ruben melirik sekilas.

“Punya Maria. Kunci pintu sidik jarinya sering kehabisan daya, jadi dia menitipkan kunci cadangan kepadaku.”

“Sidik jari di rumahnya kehabisan daya, tetapi kunci cadangannya justru disimpan di rumah kita?”

“Hanya sekalian saja. Jangan terlalu banyak berpikir.”

Bulan lalu, hujan deras turun tengah malam. Sepulang kerja, aku tidak mendapatkan taksi dan memintanya menjemputku.

Dia hanya berkata, “Sudah terlalu malam. Besok pagi aku ada pemotretan. Kamu pesan mobil sendiri saja.”

Hari itu aku menunggu selama 2 jam di depan gedung kantor.

Sementara di media sosial Maria, ada sebuah foto sebuah payung hitam menaungi kepalanya.

Tulisannya ….

[Seberapa deras pun hujannya aku tidak takut, karena penyelamat andalanku sudah datang ….]

Payung itu adalah payung yang selalu disimpan Ruben di mobilnya.

“Aku tidak jadi pergi.”

Aku mengembalikan paspor ke dalam laci, “Aveline terlalu dingin. Aku memang tidak tahan.”

Ruben menghela napas dan mengusap keningnya.

“Kamu kenapa lagi? Aku bahkan sudah berjanji menjadikan Aveline sebagai tujuan bulan madu kita. Kamu masih ingin aku melakukan apa?”

Aku menatapnya, “Kamu membawaku tahun ini karena dia pergi ke Valmont untuk melanjutkan studinya dan tidak punya waktu, kan?”

Ruben tidak menjawab. Diam adalah jawabannya.

Karena kamera miliknya sedang kehilangan sosok yang biasa ada di dalam bingkai, barulah giliranku tiba.

Ponselnya berdering. Ibunya yang menelepon.

Ruben mengangkatnya.

“Ruben, bagaimana? Perabotan untuk rumah pengantin kalian sudah dipilih?”

“Belum. Besok aku akan pergi melihat-lihat.”

“Tidak usah. Maria sudah membantu memilih sofa dan meja ruang tamu kalian 2 hari lalu. Gaya minimalis Italia. Bagus sekali.”

Tanganku yang sedang memegang gelas terhenti di udara.

“Bibi,” kataku. “Itu rumah yang akan kami tempati setelah menikah.”

Suara di seberang telepon terdiam sejenak.

“Oh, Clara juga ada di sana? Selera Maria memang lebih bagus darimu. Kamu biasanya membeli barang-barang berbahan kain yang terlihat murahan dan tidak pantas dipajang.”

Aku menatap Ruben.

Dia menundukkan kepala, sibuk membalas pesan dan tanpa sedikit pun berniat membelaku.

Aku memutuskan teleponnya.

Ruben mengerutkan kening, “Kenapa harus berbicara seperti itu pada ibuku? Maria punya selera bagus. Memangnya kenapa kalau dia membantu memilih?”

“Baik. Suruh dia saja yang pilih.”

Aku berbalik dan masuk ke kamar. Ruben mengikutiku dan menatap punggungku.

“Besok kita pilih cincin pernikahan. Tentukan waktunya.”

“Aku tidak punya waktu.”

“Clara, sudah cukup. Menikahlah dengan tenang dan jalani hidup dengan baik. Kenapa harus membuat semuanya serumit ini?”

Layar ponselnya menyala. Sebuah pesan dari Maria ….

[Valmont turun salju hari ini. Dingin sekali ….]

Ruben mengambil ponselnya dan membalas dengan pesan suara.

“Pakai baju yang lebih tebal. Mana baju musim dingin yang kukirim itu?”

Nada suaranya lembut, disertai sedikit teguran.

Musim dingin tahun lalu, aku pernah bilang ingin membeli jaket bulu angsa panjang.

Dia berkata, “Kamu setiap hari naik MRT. Buat apa pakai yang setebal itu? Sudah, jangan berlebihan.”

Aku berbalik dan menatapnya, “Ruben, sebenarnya kenapa kamu mau menikah denganku?”

Dia bahkan tidak mengangkat kepalanya, “Kepribadianmu tenang, cocok untuk dijadikan istri.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan   Bab 10

    6 bulan kemudian.Kabar tentang studio Ruben yang bangkrut mulai beredar di media sosial di dalam negeri.Tiara mengirimkan sebuah video kepadaku lewat WhatsApp.Di sebuah bar yang remang-remang, Ruben mabuk berat. Tangannya menggenggam erat cincin polos yang kebesaran itu. Pakaiannya berantakan. Setiap kali melihat seseorang, dia selalu bertanya, “Apa kamu melihat Clara? Dia paling tidak tahan kedinginan. Kenapa belum pulang?”Suara Tiara penuh dengan nada mengejek.[Katanya kemarin dia melihat berita tentang pameranmu di Valmont ….][Dia menangis semalaman di rumah yang seharusnya menjadi rumah pengantin kalian. Pagi ini, dia langsung memasang pengumuman bahwa rumah itu dijual dengan harga murah. Katanya dia mau mencarimu untuk menebus semua kesalahannya ….][Sayangnya, dia sedang tersandung masalah utang dan digugat mantan kliennya. Sekarang dia bahkan dilarang bepergian ke luar negeri ….][Seumur hidupnya, dia hanya bisa membusuk bersama kenangan masa lalu ….]“Bagaimana dengan Ma

  • Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan   Bab 9

    Bel pintu berbunyi 3 kali. Pintu terbuka.Aku berdiri di sana dengan pakaian rumahan, dan memegang secangkir kopi panas.Aku sama sekali tidak terkejut melihat Ruben. Tubuhnya jauh lebih kurus hingga wajahnya tampak tirus, sementara tatapannya dipenuhi kegilaan yang nyaris hancur.“Clara.”Dia berlutut dengan satu kaki di lantai marmer koridor yang dingin. Lalu membuka kotak beludru mahal di tangannya.Berlian pink itu memantulkan cahaya lampu koridor hingga menyilaukan mata.“Aku sudah membeli cincin pernikahan baru. Bukan cincin polos, tetapi berlian pink. Modelnya sama persis seperti yang dulu pernah kamu kirimkan kepadaku.”Suaranya sengau. Kedua tangannya sedikit gemetar.“Aku tahu dulu aku brengsek. Aku tidak dewasa, menganggap semua kebaikanmu sebagai sesuatu yang sudah seharusnya kuterima ….”“Beberapa hari ini lambungku sakit hingga rasanya hampir mati. Saat itu aku sadar, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu. Maafkanku sekali saja. Sekali saja, ya?”“Kita mulai dari awal.

  • Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan   Bab 8

    Ruben sendiri tidak tahu bagaimana dia bisa kembali ke hotel.Dia menekan perutnya dan meringkuk di atas ranjang karena kesakitan. Rasanya seperti ada pisau yang terus mengaduk-aduk isi perutnya.Dulu, Clara selalu menyelipkan sebotol kecil obat lambung ke dalam saku kiri setiap mantel yang dimilikinya.Ruben pernah mengeluh bahwa benda itu terlalu berat dan tidak ingin membawanya. Clara bahkan sampai menjahitkan tempat khusus di bagian dalam sakunya.“Lambungmu itu suatu hari bisa benar-benar membunuhmu. Bawa obatnya!”Wajahnya selalu terlihat dingin saat berkata demikian, tetapi tangannya bergerak begitu lembut.Namun sekarang ... sakunya kosong.Ruben berkeringat dingin karena kesakitan. Pandangannya bahkan mulai kabur. Dia berguling-guling di lantai, sampai tidak memiliki tenaga untuk turun membeli obat.Pada saat itulah, dia akhirnya menyadari dengan sangat jelas.Yang dibawa Clara bukan sekadar kopernya … dia membawa pergi hidupnya.Selama 4 tahun itu, dia hidup seperti seorang b

  • Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan   Bab 7

    Musim dingin di Sunhaven terasa hangat seperti musim semi.Aku bergabung dengan salah satu institusi seni visual terkemuka di sana sebagai direktur seni.Sebenarnya, 6 bulan lalu mereka sudah mengirimkan penawaran pekerjaan kepadaku. Namun saat itu, demi studio Ruben dan persiapan pernikahan kami, aku memilih menolaknya.Sekarang, aku hanya mengambil kembali sesuatu yang sejak awal memang milikku.Pukul 3 sore, aku sedang mengarahkan sesi pemotretan majalah di luar ruangan.“Direktur Owx, pencahayaannya sudah cukup?” Fotografer bertanya kepadaku dengan terbata-bata.“Gelapkan sedikit di bagian kanan. Tonjolkan garis rahang modelnya.”Aku menatap monitor di hadapanku.“Kak Clara.”Sebuah suara yang begitu serak terdengar dari belakangku.Aku tidak menoleh. Suara itu kembali terdengar, semakin dekat, disertai napas yang memburu.“Clara!”Seseorang mencengkeram lenganku dan menarikku dengan paksa.Aku menoleh. Ruben berdiri di hadapanku.Dia mengenakan kemeja tipis dan mantel. Matanya ce

  • Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan   Bab 6

    Ruben pulang ke rumah seperti orang kehilangan jiwa.Begitu membuka pintu, bubur udang dan kepiting di atas meja sudah benar-benar dingin. Di permukaannya bahkan terbentuk lapisan minyak kekuningan yang tampak amis.Dia duduk di sofa dan menatap kosong cincin polos itu.Bel pintu berbunyi.Dia langsung berdiri dan bergegas membukakan pintu, “Clara ….”Orang yang berdiri di luar ternyata Maria.Di pelukannya ada kucing yang tadi berhasil ditemukan, sementara syal kasmir seharga 46 juta masih melingkar di lehernya.“Ruben, kenapa pintumu tidak tertutup rapat?”Maria masuk begitu saja seolah itu hal yang biasa, lalu menurunkan kucingnya.“Aku tadi membeli 2 gelas cokelat panas. Wajahmu terlihat tidak baik. Apa kamu bertengkar dengan Kak Clara?”Ruben menatapnya dengan pandangan kosong. Tiba-tiba, dia teringat kejadian semalam.Aku mengatakan bahwa diriku alergi kacang.Dan Maria, yang berdiri di sampingku, dengan santai berkata bahwa laki-laki memang tidak terlalu memperhatikan hal-hal ke

  • Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan   Bab 5

    Tepat pukul 12 siang, Ruben mendorong pintu rumah dengan tubuh yang masih membawa hawa dingin dari luar.Di tangannya, ada sebungkus bubur seafood yang dibawa pulang.“Clara, keluar dan makan. Aku mengantre setengah jam untuk membelikanmu bubur udang dan kepiting.”Rumah itu sunyi. Tidak ada jawaban.Gerakan Ruben saat mengganti sepatu pun terhenti.Dia meletakkan bubur itu di meja makan, lalu mendorong pintu kamar. Ranjangnya tertata rapi, tanpa sedikit pun jejak seseorang pernah tidur di sana.Pintu lemari terbuka setengah. Dia berjalan mendekat dan menyadari bahwa semua pakaian milikku telah hilang.Di atas wastafel, sikat gigi, handuk, dan seluruh produk perawatanku juga sudah lenyap tanpa tersisa.Yang tertinggal hanya tumpukan botol miliknya yang berantakan. Dan sikat gigi pink milik Maria, berdiri mencolok di sana.Wajah Ruben langsung menggelap.Dia bergegas menuju ruang tamu. Barulah saat itu dia melihat sesuatu yang tergeletak di atas meja.Selembar kertas A4, di atasnya tert

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status