LOGINSetelah membatalkan tiket pesawat ke Aveline yang sudah susah payah kudapatkan sejak 6 bulan lalu, customer service-nya tampak kebingungan. “Penerbangan ini hanya menyisakan 2 kursi. Anda yakin ingin membatalkannya?” Aku mengangguk, “Yakin.” Kami sudah berpacaran selama 4 tahun dan setiap bulan Februari, suamiku selalu terbang ke Aveline. Katanya untuk proyek fotografi. Di media sosialnya, yang dia unggah hanya foto gletser dan aurora. Aku pernah bilang bahwa aku juga ingin melihat aurora. Namun setiap kali, dia hanya tersenyum dan berkata bahwa di sana terlalu dingin, menyuruhku tetap di rumah dan menunggunya pulang dengan patuh. Sampai kemarin, ketika aku membantu membereskan hard disk lamanya, di sana ada sebuah folder terenkripsi bernama “Februari”. Saat kubuka, isinya penuh foto seorang gadis yang sama, berdiri di bawah aurora. Cahaya dan bayangannya begitu lembut. Bahkan helai rambut gadis itu terlihat begitu jelas, berkilau diterpa cahaya. Sementara satu-satunya foto yang pernah dia ambil untukku adalah foto di depan kompleks apartemen. Membelakangi cahaya, fokusnya kabur. Aku sampai menyipitkan mata, dan wajahku pun tidak terlihat jelas. Waktu itu dia bahkan tertawa dan berkata, “Yang penting masih bisa kelihatan.” Dadaku terasa getir. Ternyata bukan karena dia tidak pandai memotret orang. Dia hanya tidak pernah mau memotretku dengan sungguh-sungguh. Selama 4 tahun, dia terus mengejar aurora. Dan di sisinya, selalu ada orang yang sama. Sedangkan cahaya terjauh yang pernah kulihat dalam hidupku, hanyalah foto Aveline yang dia kirimkan kepadaku tanpa banyak berpikir.
View More6 bulan kemudian.Kabar tentang studio Ruben yang bangkrut mulai beredar di media sosial di dalam negeri.Tiara mengirimkan sebuah video kepadaku lewat WhatsApp.Di sebuah bar yang remang-remang, Ruben mabuk berat. Tangannya menggenggam erat cincin polos yang kebesaran itu. Pakaiannya berantakan. Setiap kali melihat seseorang, dia selalu bertanya, “Apa kamu melihat Clara? Dia paling tidak tahan kedinginan. Kenapa belum pulang?”Suara Tiara penuh dengan nada mengejek.[Katanya kemarin dia melihat berita tentang pameranmu di Valmont ….][Dia menangis semalaman di rumah yang seharusnya menjadi rumah pengantin kalian. Pagi ini, dia langsung memasang pengumuman bahwa rumah itu dijual dengan harga murah. Katanya dia mau mencarimu untuk menebus semua kesalahannya ….][Sayangnya, dia sedang tersandung masalah utang dan digugat mantan kliennya. Sekarang dia bahkan dilarang bepergian ke luar negeri ….][Seumur hidupnya, dia hanya bisa membusuk bersama kenangan masa lalu ….]“Bagaimana dengan Ma
Bel pintu berbunyi 3 kali. Pintu terbuka.Aku berdiri di sana dengan pakaian rumahan, dan memegang secangkir kopi panas.Aku sama sekali tidak terkejut melihat Ruben. Tubuhnya jauh lebih kurus hingga wajahnya tampak tirus, sementara tatapannya dipenuhi kegilaan yang nyaris hancur.“Clara.”Dia berlutut dengan satu kaki di lantai marmer koridor yang dingin. Lalu membuka kotak beludru mahal di tangannya.Berlian pink itu memantulkan cahaya lampu koridor hingga menyilaukan mata.“Aku sudah membeli cincin pernikahan baru. Bukan cincin polos, tetapi berlian pink. Modelnya sama persis seperti yang dulu pernah kamu kirimkan kepadaku.”Suaranya sengau. Kedua tangannya sedikit gemetar.“Aku tahu dulu aku brengsek. Aku tidak dewasa, menganggap semua kebaikanmu sebagai sesuatu yang sudah seharusnya kuterima ….”“Beberapa hari ini lambungku sakit hingga rasanya hampir mati. Saat itu aku sadar, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu. Maafkanku sekali saja. Sekali saja, ya?”“Kita mulai dari awal.
Ruben sendiri tidak tahu bagaimana dia bisa kembali ke hotel.Dia menekan perutnya dan meringkuk di atas ranjang karena kesakitan. Rasanya seperti ada pisau yang terus mengaduk-aduk isi perutnya.Dulu, Clara selalu menyelipkan sebotol kecil obat lambung ke dalam saku kiri setiap mantel yang dimilikinya.Ruben pernah mengeluh bahwa benda itu terlalu berat dan tidak ingin membawanya. Clara bahkan sampai menjahitkan tempat khusus di bagian dalam sakunya.“Lambungmu itu suatu hari bisa benar-benar membunuhmu. Bawa obatnya!”Wajahnya selalu terlihat dingin saat berkata demikian, tetapi tangannya bergerak begitu lembut.Namun sekarang ... sakunya kosong.Ruben berkeringat dingin karena kesakitan. Pandangannya bahkan mulai kabur. Dia berguling-guling di lantai, sampai tidak memiliki tenaga untuk turun membeli obat.Pada saat itulah, dia akhirnya menyadari dengan sangat jelas.Yang dibawa Clara bukan sekadar kopernya … dia membawa pergi hidupnya.Selama 4 tahun itu, dia hidup seperti seorang b
Musim dingin di Sunhaven terasa hangat seperti musim semi.Aku bergabung dengan salah satu institusi seni visual terkemuka di sana sebagai direktur seni.Sebenarnya, 6 bulan lalu mereka sudah mengirimkan penawaran pekerjaan kepadaku. Namun saat itu, demi studio Ruben dan persiapan pernikahan kami, aku memilih menolaknya.Sekarang, aku hanya mengambil kembali sesuatu yang sejak awal memang milikku.Pukul 3 sore, aku sedang mengarahkan sesi pemotretan majalah di luar ruangan.“Direktur Owx, pencahayaannya sudah cukup?” Fotografer bertanya kepadaku dengan terbata-bata.“Gelapkan sedikit di bagian kanan. Tonjolkan garis rahang modelnya.”Aku menatap monitor di hadapanku.“Kak Clara.”Sebuah suara yang begitu serak terdengar dari belakangku.Aku tidak menoleh. Suara itu kembali terdengar, semakin dekat, disertai napas yang memburu.“Clara!”Seseorang mencengkeram lenganku dan menarikku dengan paksa.Aku menoleh. Ruben berdiri di hadapanku.Dia mengenakan kemeja tipis dan mantel. Matanya ce












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.