Share

Bab 5

Author: Meina
Tepat pukul 12 siang, Ruben mendorong pintu rumah dengan tubuh yang masih membawa hawa dingin dari luar.

Di tangannya, ada sebungkus bubur seafood yang dibawa pulang.

“Clara, keluar dan makan. Aku mengantre setengah jam untuk membelikanmu bubur udang dan kepiting.”

Rumah itu sunyi. Tidak ada jawaban.

Gerakan Ruben saat mengganti sepatu pun terhenti.

Dia meletakkan bubur itu di meja makan, lalu mendorong pintu kamar. Ranjangnya tertata rapi, tanpa sedikit pun jejak seseorang pernah tidur di sana.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan   Bab 10

    6 bulan kemudian.Kabar tentang studio Ruben yang bangkrut mulai beredar di media sosial di dalam negeri.Tiara mengirimkan sebuah video kepadaku lewat WhatsApp.Di sebuah bar yang remang-remang, Ruben mabuk berat. Tangannya menggenggam erat cincin polos yang kebesaran itu. Pakaiannya berantakan. Setiap kali melihat seseorang, dia selalu bertanya, “Apa kamu melihat Clara? Dia paling tidak tahan kedinginan. Kenapa belum pulang?”Suara Tiara penuh dengan nada mengejek.[Katanya kemarin dia melihat berita tentang pameranmu di Valmont ….][Dia menangis semalaman di rumah yang seharusnya menjadi rumah pengantin kalian. Pagi ini, dia langsung memasang pengumuman bahwa rumah itu dijual dengan harga murah. Katanya dia mau mencarimu untuk menebus semua kesalahannya ….][Sayangnya, dia sedang tersandung masalah utang dan digugat mantan kliennya. Sekarang dia bahkan dilarang bepergian ke luar negeri ….][Seumur hidupnya, dia hanya bisa membusuk bersama kenangan masa lalu ….]“Bagaimana dengan Ma

  • Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan   Bab 9

    Bel pintu berbunyi 3 kali. Pintu terbuka.Aku berdiri di sana dengan pakaian rumahan, dan memegang secangkir kopi panas.Aku sama sekali tidak terkejut melihat Ruben. Tubuhnya jauh lebih kurus hingga wajahnya tampak tirus, sementara tatapannya dipenuhi kegilaan yang nyaris hancur.“Clara.”Dia berlutut dengan satu kaki di lantai marmer koridor yang dingin. Lalu membuka kotak beludru mahal di tangannya.Berlian pink itu memantulkan cahaya lampu koridor hingga menyilaukan mata.“Aku sudah membeli cincin pernikahan baru. Bukan cincin polos, tetapi berlian pink. Modelnya sama persis seperti yang dulu pernah kamu kirimkan kepadaku.”Suaranya sengau. Kedua tangannya sedikit gemetar.“Aku tahu dulu aku brengsek. Aku tidak dewasa, menganggap semua kebaikanmu sebagai sesuatu yang sudah seharusnya kuterima ….”“Beberapa hari ini lambungku sakit hingga rasanya hampir mati. Saat itu aku sadar, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu. Maafkanku sekali saja. Sekali saja, ya?”“Kita mulai dari awal.

  • Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan   Bab 8

    Ruben sendiri tidak tahu bagaimana dia bisa kembali ke hotel.Dia menekan perutnya dan meringkuk di atas ranjang karena kesakitan. Rasanya seperti ada pisau yang terus mengaduk-aduk isi perutnya.Dulu, Clara selalu menyelipkan sebotol kecil obat lambung ke dalam saku kiri setiap mantel yang dimilikinya.Ruben pernah mengeluh bahwa benda itu terlalu berat dan tidak ingin membawanya. Clara bahkan sampai menjahitkan tempat khusus di bagian dalam sakunya.“Lambungmu itu suatu hari bisa benar-benar membunuhmu. Bawa obatnya!”Wajahnya selalu terlihat dingin saat berkata demikian, tetapi tangannya bergerak begitu lembut.Namun sekarang ... sakunya kosong.Ruben berkeringat dingin karena kesakitan. Pandangannya bahkan mulai kabur. Dia berguling-guling di lantai, sampai tidak memiliki tenaga untuk turun membeli obat.Pada saat itulah, dia akhirnya menyadari dengan sangat jelas.Yang dibawa Clara bukan sekadar kopernya … dia membawa pergi hidupnya.Selama 4 tahun itu, dia hidup seperti seorang b

  • Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan   Bab 7

    Musim dingin di Sunhaven terasa hangat seperti musim semi.Aku bergabung dengan salah satu institusi seni visual terkemuka di sana sebagai direktur seni.Sebenarnya, 6 bulan lalu mereka sudah mengirimkan penawaran pekerjaan kepadaku. Namun saat itu, demi studio Ruben dan persiapan pernikahan kami, aku memilih menolaknya.Sekarang, aku hanya mengambil kembali sesuatu yang sejak awal memang milikku.Pukul 3 sore, aku sedang mengarahkan sesi pemotretan majalah di luar ruangan.“Direktur Owx, pencahayaannya sudah cukup?” Fotografer bertanya kepadaku dengan terbata-bata.“Gelapkan sedikit di bagian kanan. Tonjolkan garis rahang modelnya.”Aku menatap monitor di hadapanku.“Kak Clara.”Sebuah suara yang begitu serak terdengar dari belakangku.Aku tidak menoleh. Suara itu kembali terdengar, semakin dekat, disertai napas yang memburu.“Clara!”Seseorang mencengkeram lenganku dan menarikku dengan paksa.Aku menoleh. Ruben berdiri di hadapanku.Dia mengenakan kemeja tipis dan mantel. Matanya ce

  • Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan   Bab 6

    Ruben pulang ke rumah seperti orang kehilangan jiwa.Begitu membuka pintu, bubur udang dan kepiting di atas meja sudah benar-benar dingin. Di permukaannya bahkan terbentuk lapisan minyak kekuningan yang tampak amis.Dia duduk di sofa dan menatap kosong cincin polos itu.Bel pintu berbunyi.Dia langsung berdiri dan bergegas membukakan pintu, “Clara ….”Orang yang berdiri di luar ternyata Maria.Di pelukannya ada kucing yang tadi berhasil ditemukan, sementara syal kasmir seharga 46 juta masih melingkar di lehernya.“Ruben, kenapa pintumu tidak tertutup rapat?”Maria masuk begitu saja seolah itu hal yang biasa, lalu menurunkan kucingnya.“Aku tadi membeli 2 gelas cokelat panas. Wajahmu terlihat tidak baik. Apa kamu bertengkar dengan Kak Clara?”Ruben menatapnya dengan pandangan kosong. Tiba-tiba, dia teringat kejadian semalam.Aku mengatakan bahwa diriku alergi kacang.Dan Maria, yang berdiri di sampingku, dengan santai berkata bahwa laki-laki memang tidak terlalu memperhatikan hal-hal ke

  • Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan   Bab 5

    Tepat pukul 12 siang, Ruben mendorong pintu rumah dengan tubuh yang masih membawa hawa dingin dari luar.Di tangannya, ada sebungkus bubur seafood yang dibawa pulang.“Clara, keluar dan makan. Aku mengantre setengah jam untuk membelikanmu bubur udang dan kepiting.”Rumah itu sunyi. Tidak ada jawaban.Gerakan Ruben saat mengganti sepatu pun terhenti.Dia meletakkan bubur itu di meja makan, lalu mendorong pintu kamar. Ranjangnya tertata rapi, tanpa sedikit pun jejak seseorang pernah tidur di sana.Pintu lemari terbuka setengah. Dia berjalan mendekat dan menyadari bahwa semua pakaian milikku telah hilang.Di atas wastafel, sikat gigi, handuk, dan seluruh produk perawatanku juga sudah lenyap tanpa tersisa.Yang tertinggal hanya tumpukan botol miliknya yang berantakan. Dan sikat gigi pink milik Maria, berdiri mencolok di sana.Wajah Ruben langsung menggelap.Dia bergegas menuju ruang tamu. Barulah saat itu dia melihat sesuatu yang tergeletak di atas meja.Selembar kertas A4, di atasnya tert

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status