แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Meina
Aku membasuh wajah dengan air dingin, lalu keluar dari kamar kecil.

Di ujung koridor, Ruben sedang membayar tagihan di meja kasir.

Maria berdiri di sampingnya. Dengan begitu alami, dia mengulurkan tangan dan mengambil kunci mobil dari saku jas Ruben.

“Ruben, aku ke mobil duluan, lalu menyalakan mesin dan pemanasnya. Di luar dingin sekali.”

“Pergilah. Nyalakan juga pemanas jok penumpang depan.”

Ruben bahkan tidak mengangkat kepala. Dia masih sibuk memeriksa tagihan.

Kecocokan mereka begitu alami, seperti air yang mengalir di permukaan tanah yang datar, tanpa sedikit pun hambatan.

Aku berjalan menghampiri mereka. Kebetulan Ruben baru saja selesai membayar.

“Ayo, pulang.”

Dia melirikku sekilas.

Begitu sampai di parkiran bawah tanah, Maria sudah duduk di kursi penumpang depan. Dia menendang sepatu hak tingginya, lalu menggantinya dengan sepasang sepatu datar berbulu.

Melihatku datang, Maria tersenyum sambil meminta maaf.

“Kak, pergelangan kakiku pernah cedera, jadi tidak bisa terlalu lama memakai sepatu hak tinggi. Ruang kaki di kursi depan lebih luas, jadi aku bisa meluruskan kaki. Kakak tidak keberatan kalau aku duduk di sini, kan?”

Aku bahkan belum sempat menjawab ketika Ruben sudah membuka pintu belakang.

“Clara, kamu duduk di belakang. Pinggang Maria bermasalah. Sandaran kursi penumpang depan sudah kuatur khusus mengikuti lekuk tulang belakangnya. Kalau diubah lagi, nanti merepotkan. Lagipula hanya perjalanan setengah jam. Mengalahlah sedikit.”

Dia menggunakan kata “merepotkan” dan “mengalah” untuk menutup semua perkataanku.

Aku masuk ke kursi belakang. Mobil melaju meninggalkan parkiran.

Layar ponsel Maria menyala. Bluetooth mobil otomatis tersambung, lalu alunan musik jazz lembut mengalir dari speaker.

“Wah?” Maria menoleh pada Ruben, “Kenapa sistem mobilmu masih otomatis memprioritaskan ponselku?”

Ruben menatap jalan di depan, dan menjawab santai, “Masih seperti waktu terakhir kamu menyambungkannya. Aku belum mengubahnya. Mendengar playlist-mu juga tidak masalah. Agar kamu tidak terus bilang selera musikku kuno.”

Dia tidak memutus koneksi Bluetooth itu, dan tidak menggantinya. Dia membiarkan kesukaan Maria memenuhi ruang yang seharusnya menjadi milikku dan miliknya.

Saat lampu merah, mobil berhenti.

Maria segera membuka kotak penyimpanan di tengah, lalu mengambil sebotol hand cream.

Dia memencet sedikit ke telapak tangannya, meratakannya, lalu tanpa berpikir panjang menggenggam tangan kanan Ruben yang sedang bertumpu di setir dan mengoleskan hand cream itu ke tangannya.

“Angin musim dingin sangat kencang. Kulit punggung tanganmu sampai mengelupas.”

Ruben tidak menghindar. Dia membiarkan Maria mengusap-usap punggung tangannya.

“Aku sebentar lagi akan menikah. Kasar sedikit tidak masalah. Buat apa memakai sesuatu yang lengket begini?”

Mulutnya mengeluh, tetapi nada suaranya begitu santai dan tanpa sedikit pun kewaspadaan.

Setelah selesai, Maria mengulurkan hand cream itu ke kursi belakang, “Kak, mau pakai? Merek ini sangat melembapkan.”

Aku menatap logo yang terasa begitu familiar di kemasannya.

Bulan lalu, kulit punggung tanganku pecah-pecah karena kedinginan. Aku meminta Ruben mampir ke counter merek itu sepulang kerja untuk membelikanku.

Dia bilang terlalu merepotkan jika harus memutar ke sana. Sebagai gantinya, dia membelikanku sebungkus lotion seharga 4 ribu di minimarket dekat rumah.

Sekarang, hand cream yang dulu tidak mau dibelikan untukku itu justru tergeletak begitu alami di mobil Ruben. Milik Maria.

“Tidak perlu.”

Aku mengalihkan pandangan dan menatap ke luar jendela.

Mobil berhenti di depan apartemen Maria.

“Ruben, robot penyedot debu yang baru kubeli itu masih tidak bisa tersambung ke Bluetooth. Buku petunjuknya terlalu rumit. Naik sebentar dan bantu aku mengaturnya, ya?”

Maria membuka sabuk pengamannya. Ruben mematikan mesin.

Dia menoleh kepadaku, “Kamu tunggu di sini 10 menit. Aku naik membantu menyambungkannya ke jaringan, setelah itu aku turun.”

Sambil berkata begitu, dia mencabut kunci mobil seperti biasa. Mesin berhenti. Pemanas di dalam mobil pun mati seketika.

“Tinggalkan kuncinya.”

Aku menatapnya, “Aku mau menyalakan AC.”

Ruben mengernyit, “Cuma 10 menit. Di dalam masih ada sisa panas. Buat apa menyalakan mesin terus? Boros bensin. Sebentar lagi kita akan menikah. Jika mau menjalani kehidupan rumah tangga, harus pintar berhemat. Jangan terus-terusan manja.”

Dia dengan penuh keyakinan menggunakan kata “menjalani kehidupan rumah tangga” untuk mengajariku.

Setelah itu, dia menutup pintu mobil dan berjalan berdampingan dengan Maria masuk ke gedung.

Aku tetap duduk di kursi belakang.

10 menit ….

20 menit ….

Setengah jam ….

Sisa kehangatan di dalam mobil akhirnya benar-benar menghilang. Udara dingin menusuk seperti jarum melalui celah-celah jendela.

Aku membuka pintu mobil, memanggil taksi di pinggir jalan, lalu pulang sendiri.

Sesampainya di kamar, aku menarik koper dari bawah ranjang dan membuka lemari. Aku mulai melipat satu per satu pakaian dan memasukkannya ke dalam koper.

Di atas wastafel, produk perawatanku hanya menempati sudut kecil. Sebagian besar tempat dipenuhi berbagai parfum dan hair spray milik Ruben.

Di rak sikat gigi, ada sikat gigi elektrik berwarna biru milik Ruben. Di sebelahnya, ada satu lagi yang berwarna pink. Itu milik Maria yang tertinggal ketika dia pernah menginap di sini.

Ruben tidak mengizinkanku membuangnya. Katanya, jika lain kali Maria datang, dia masih akan memakainya.

Setengah jam. Dua koper. Seluruh 4 tahun masa mudaku selesai dikemas.

Pukul 12.30 malam, Ruben mengirimiku pesan.

[Motherboard robotnya rusak. Aku sudah membongkarnya dan mengajukan klaim servis.]

[Kamu pulang naik taksi? Kenapa tidak bilang?]

[Simpan struk taksinya, nanti kuganti. Mulai sekarang kita akan menjalani rumah tangga bersama, jangan terlalu boros.]

Aku membuka layarnya dan membalas satu kata.

[Baik.]

Lalu aku menekan lama percakapan itu dan memilih opsi hapus. Riwayat percakapan segera terhapus seluruhnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan   Bab 10

    6 bulan kemudian.Kabar tentang studio Ruben yang bangkrut mulai beredar di media sosial di dalam negeri.Tiara mengirimkan sebuah video kepadaku lewat WhatsApp.Di sebuah bar yang remang-remang, Ruben mabuk berat. Tangannya menggenggam erat cincin polos yang kebesaran itu. Pakaiannya berantakan. Setiap kali melihat seseorang, dia selalu bertanya, “Apa kamu melihat Clara? Dia paling tidak tahan kedinginan. Kenapa belum pulang?”Suara Tiara penuh dengan nada mengejek.[Katanya kemarin dia melihat berita tentang pameranmu di Valmont ….][Dia menangis semalaman di rumah yang seharusnya menjadi rumah pengantin kalian. Pagi ini, dia langsung memasang pengumuman bahwa rumah itu dijual dengan harga murah. Katanya dia mau mencarimu untuk menebus semua kesalahannya ….][Sayangnya, dia sedang tersandung masalah utang dan digugat mantan kliennya. Sekarang dia bahkan dilarang bepergian ke luar negeri ….][Seumur hidupnya, dia hanya bisa membusuk bersama kenangan masa lalu ….]“Bagaimana dengan Ma

  • Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan   Bab 9

    Bel pintu berbunyi 3 kali. Pintu terbuka.Aku berdiri di sana dengan pakaian rumahan, dan memegang secangkir kopi panas.Aku sama sekali tidak terkejut melihat Ruben. Tubuhnya jauh lebih kurus hingga wajahnya tampak tirus, sementara tatapannya dipenuhi kegilaan yang nyaris hancur.“Clara.”Dia berlutut dengan satu kaki di lantai marmer koridor yang dingin. Lalu membuka kotak beludru mahal di tangannya.Berlian pink itu memantulkan cahaya lampu koridor hingga menyilaukan mata.“Aku sudah membeli cincin pernikahan baru. Bukan cincin polos, tetapi berlian pink. Modelnya sama persis seperti yang dulu pernah kamu kirimkan kepadaku.”Suaranya sengau. Kedua tangannya sedikit gemetar.“Aku tahu dulu aku brengsek. Aku tidak dewasa, menganggap semua kebaikanmu sebagai sesuatu yang sudah seharusnya kuterima ….”“Beberapa hari ini lambungku sakit hingga rasanya hampir mati. Saat itu aku sadar, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu. Maafkanku sekali saja. Sekali saja, ya?”“Kita mulai dari awal.

  • Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan   Bab 8

    Ruben sendiri tidak tahu bagaimana dia bisa kembali ke hotel.Dia menekan perutnya dan meringkuk di atas ranjang karena kesakitan. Rasanya seperti ada pisau yang terus mengaduk-aduk isi perutnya.Dulu, Clara selalu menyelipkan sebotol kecil obat lambung ke dalam saku kiri setiap mantel yang dimilikinya.Ruben pernah mengeluh bahwa benda itu terlalu berat dan tidak ingin membawanya. Clara bahkan sampai menjahitkan tempat khusus di bagian dalam sakunya.“Lambungmu itu suatu hari bisa benar-benar membunuhmu. Bawa obatnya!”Wajahnya selalu terlihat dingin saat berkata demikian, tetapi tangannya bergerak begitu lembut.Namun sekarang ... sakunya kosong.Ruben berkeringat dingin karena kesakitan. Pandangannya bahkan mulai kabur. Dia berguling-guling di lantai, sampai tidak memiliki tenaga untuk turun membeli obat.Pada saat itulah, dia akhirnya menyadari dengan sangat jelas.Yang dibawa Clara bukan sekadar kopernya … dia membawa pergi hidupnya.Selama 4 tahun itu, dia hidup seperti seorang b

  • Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan   Bab 7

    Musim dingin di Sunhaven terasa hangat seperti musim semi.Aku bergabung dengan salah satu institusi seni visual terkemuka di sana sebagai direktur seni.Sebenarnya, 6 bulan lalu mereka sudah mengirimkan penawaran pekerjaan kepadaku. Namun saat itu, demi studio Ruben dan persiapan pernikahan kami, aku memilih menolaknya.Sekarang, aku hanya mengambil kembali sesuatu yang sejak awal memang milikku.Pukul 3 sore, aku sedang mengarahkan sesi pemotretan majalah di luar ruangan.“Direktur Owx, pencahayaannya sudah cukup?” Fotografer bertanya kepadaku dengan terbata-bata.“Gelapkan sedikit di bagian kanan. Tonjolkan garis rahang modelnya.”Aku menatap monitor di hadapanku.“Kak Clara.”Sebuah suara yang begitu serak terdengar dari belakangku.Aku tidak menoleh. Suara itu kembali terdengar, semakin dekat, disertai napas yang memburu.“Clara!”Seseorang mencengkeram lenganku dan menarikku dengan paksa.Aku menoleh. Ruben berdiri di hadapanku.Dia mengenakan kemeja tipis dan mantel. Matanya ce

  • Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan   Bab 6

    Ruben pulang ke rumah seperti orang kehilangan jiwa.Begitu membuka pintu, bubur udang dan kepiting di atas meja sudah benar-benar dingin. Di permukaannya bahkan terbentuk lapisan minyak kekuningan yang tampak amis.Dia duduk di sofa dan menatap kosong cincin polos itu.Bel pintu berbunyi.Dia langsung berdiri dan bergegas membukakan pintu, “Clara ….”Orang yang berdiri di luar ternyata Maria.Di pelukannya ada kucing yang tadi berhasil ditemukan, sementara syal kasmir seharga 46 juta masih melingkar di lehernya.“Ruben, kenapa pintumu tidak tertutup rapat?”Maria masuk begitu saja seolah itu hal yang biasa, lalu menurunkan kucingnya.“Aku tadi membeli 2 gelas cokelat panas. Wajahmu terlihat tidak baik. Apa kamu bertengkar dengan Kak Clara?”Ruben menatapnya dengan pandangan kosong. Tiba-tiba, dia teringat kejadian semalam.Aku mengatakan bahwa diriku alergi kacang.Dan Maria, yang berdiri di sampingku, dengan santai berkata bahwa laki-laki memang tidak terlalu memperhatikan hal-hal ke

  • Saat Aurora Jatuh di Tanah Tidak Bertuan   Bab 5

    Tepat pukul 12 siang, Ruben mendorong pintu rumah dengan tubuh yang masih membawa hawa dingin dari luar.Di tangannya, ada sebungkus bubur seafood yang dibawa pulang.“Clara, keluar dan makan. Aku mengantre setengah jam untuk membelikanmu bubur udang dan kepiting.”Rumah itu sunyi. Tidak ada jawaban.Gerakan Ruben saat mengganti sepatu pun terhenti.Dia meletakkan bubur itu di meja makan, lalu mendorong pintu kamar. Ranjangnya tertata rapi, tanpa sedikit pun jejak seseorang pernah tidur di sana.Pintu lemari terbuka setengah. Dia berjalan mendekat dan menyadari bahwa semua pakaian milikku telah hilang.Di atas wastafel, sikat gigi, handuk, dan seluruh produk perawatanku juga sudah lenyap tanpa tersisa.Yang tertinggal hanya tumpukan botol miliknya yang berantakan. Dan sikat gigi pink milik Maria, berdiri mencolok di sana.Wajah Ruben langsung menggelap.Dia bergegas menuju ruang tamu. Barulah saat itu dia melihat sesuatu yang tergeletak di atas meja.Selembar kertas A4, di atasnya tert

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status