Setelahnya, Anita sempat mengunjungi Kota Narken sekali. Dia tidak mencariku. Alvaro yang memberitahuku. Hari itu, dia menungguku di lantai bawah. Untuk pertama kalinya, dia tidak melangkah mendekat."Besok, aku akan pulang."Aku mengangguk. "Emm."Dia berdiri di sana cukup lama. "Hari ini, Anita datang menemuiku."Aku sebenarnya berniat pergi. Namun, dia tiba-tiba bertanya, "Kira, apa dulu aku selalu merasa kamu sanggup menanggung beban yang lebih berat daripada dia?"Langkahku pun terhenti.Alvaro menunduk dan tersenyum. Senyumannya terlihat menyedihkan."Waktu dia nangis, aku merasa seolah-olah sesuatu yang buruk sudah menimpanya. Kamu nggak nangis, jadi aku anggap kamu baik-baik saja. Waktu dia bilang dia takut, aku akan langsung mencarinya. Waktu kamu bilang kamu sedih, aku justru minta kamu untuk lebih pengertian."Dia menatapku dan melanjutkan, "Dulu, aku kira itu karena kamu lebih dewasa darinya. Sekarang, aku sadar bukan itu alasannya. Aku memang sudah menindasmu."Mataku tiba
Read more