ログインDi hari jadi keempat kami berpacaran, Alvaro mengatakan akan membawaku ke Fairyland untuk merayakannya. Sahabatnya, Anita, sedang demam. Akan tetapi, Alvaro tetap bersikeras membawanya ikut bersama kami. "Dia sudah lama nantikan hari ini. Jangan kecewakan dia." Aku melihat kue hari jadi yang terlambat dua bulan, lalu mengangguk. Namun, saat memasuki taman bermain, petugas tiket memandang Alvaro dan Anita, lalu tersenyum dan menyerahkan dua stiker kepada mereka. "Pak Alvaro, Bu Anita, malam ini masih mau ambil rute Kastel Hari Jadi Ketiga? Menurut sistem, tinggal sesi foto di area kembang api yang belum kalian ambil untuk melengkapi foto bersama." Aku pun membeku di tempat. Alvaro mengambil stiker itu tanpa mengubah ekspresinya, lalu menempelkannya di gaun Anita sambil berkata kepadaku, "Ini cuma bagian dari acara yang mereka adakan. Jangan terlalu diambil hati." Anita mengenakan gaun putri yang disiapkan Alvaro secara khusus, lalu merangkul lengan Alvaro. Anita membawaku ke ujung barisan, seolah ini bukan pertama kalinya dia datang ke tempat ini. Selama parade kereta hias berlangsung, Alvaro memegang kamera untuk Anita. Ketika roller coaster meluncur, Anita menjerit dan melemparkan dirinya ke dalam pelukan Alvaro. Meskipun aku hanya ingin naik komidi putar sekali, Alvaro malah mengerutkan kening dan berujar, "Bukankah kamu selalu bilang kamu nggak muda lagi? Kenapa kamu perlu dihibur lagi sekarang?" Saat malam tiba, acara kembang api kastil akan segera dimulai. Baru saja aku tiba di tempat menonton yang sudah kupesan terlebih dahulu, aku melihat Alvaro berdiri di sana sambil menggenggam tangan Anita. Seorang staf menyerahkan buket besar mawar kepada Anita. "Bu Anita, kejutan kembang api hari jadi ketiga yang disediakan Pak Alvaro untuk Anda sudah siap." Aku menatap cupcake di tanganku, yang kubeli dengan harga 20 ribu setelah mengantre. Di sisi lain, mawar di pelukan Anita memenuhi seluruh dek observasi. Saat kembang api menyala, sederet kata muncul di layar lebar. [ Semoga Nita selalu memiliki hari ini, dan Varo selalu ada setiap tahun. ] Tanggalnya bergulir dari tiga tahun lalu. Pada tahun pertama, Anita bersandar di bahu Alvaro. Pada tahun kedua, Alvaro memasangkan pita berbentuk Mickey di rambut Anita. Pada tahun ketiga, Alvaro menunduk dan mencium kening Anita di bawah kembang api. Ternyata, kekecewaanku setiap tahun selalu bertepatan dengan kemeriahan yang Anita miliki. Kembang apinya masih indah, tetapi aku tidak memiliki keinginan untuk membuat permintaan lagi. Sebab, keinginan yang diucapkan tidak akan terwujud. Sekarang, satu-satunya keinginanku yang tersisa adalah meninggalkan Alvaro.
もっと見るPada musim semi tahun kedua, aku mengunjungi Fairyland lagi. Seorang rekanku bertanya, "Kamu pernah datang ke sini sebelumnya?"Aku menjawab, "Sekali."Dia menarikku ke arah komidi putar. "Kalau begitu, kamu pasti pernah naik ini, 'kan?"Aku tertegun sejenak, lalu menggeleng. "Nggak."Antrean hari itu sangat panjang. Kami menunggu lebih dari 40 menit. Saat giliranku tiba, aku memilih seekor kuda putih. Musik mulai mengalun, kuda-kuda kayu itu bergerak naik turun. Seorang anak yang duduk di dekat sana tertawa riang.Tiba-tiba, aku teringat kejadian tahun itu. Aku berdiri di samping Alvaro dan berkata ingin menaikinya. Namun, dia berkata, "Bukankah kamu selalu bilang kamu nggak muda lagi? Kenapa kamu perlu dihibur lagi sekarang?"Saat itu, aku benar-benar percaya bahwa menyukai hal-hal semacam itu adalah sikap kekanak-kanakan. Setelahnya, aku sadar bahwa keinginan untuk menaiki komidi putar bukanlah hal yang kekanak-kanakan. Ingin ditemani oleh orang yang kucintai juga bukan hal yang mem
Setengah tahun kemudian, aku kembali ke kota tempatku tinggal dulu untuk menghadiri pernikahan seorang teman.Saat undangan itu tiba di Kota Narken, aku menatapnya cukup lama. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk pergi.Usai acara pernikahan, aku melangkah keluar dari hotel. Melihat Alvaro berdiri di ambang pintu, langkahku terhenti sejenak. Setelah tidak berjumpa selama setengah tahun, dia terlihat jauh lebih kurus.Dulu, Alvaro paling suka mengenakan pakaian hitam. Sekarang, dia hanya memakai mantel abu-abu yang sangat biasa. Dia tidak melangkah mendekat, hanya berdiri di sana dan bertanya, "Boleh bicara sebentar?"Aku tidak menolak.Kami pergi ke sebuah minimarket di sudut jalan. Dulu, saat kami bertengkar, dia selalu membeli sebotol susu hangat di minimarket untuk menghiburku. Kali ini, dia tidak membeli apa pun.Setelah duduk, dia menyodorkan sebuah kantong kertas usang ke arahku. Di dalamnya, terdapat kemeja putih yang dulu kutinggalkan di rumah. Itu adalah kemeja yang kukenakan p
Setelahnya, Anita sempat mengunjungi Kota Narken sekali. Dia tidak mencariku. Alvaro yang memberitahuku. Hari itu, dia menungguku di lantai bawah. Untuk pertama kalinya, dia tidak melangkah mendekat."Besok, aku akan pulang."Aku mengangguk. "Emm."Dia berdiri di sana cukup lama. "Hari ini, Anita datang menemuiku."Aku sebenarnya berniat pergi. Namun, dia tiba-tiba bertanya, "Kira, apa dulu aku selalu merasa kamu sanggup menanggung beban yang lebih berat daripada dia?"Langkahku pun terhenti.Alvaro menunduk dan tersenyum. Senyumannya terlihat menyedihkan."Waktu dia nangis, aku merasa seolah-olah sesuatu yang buruk sudah menimpanya. Kamu nggak nangis, jadi aku anggap kamu baik-baik saja. Waktu dia bilang dia takut, aku akan langsung mencarinya. Waktu kamu bilang kamu sedih, aku justru minta kamu untuk lebih pengertian."Dia menatapku dan melanjutkan, "Dulu, aku kira itu karena kamu lebih dewasa darinya. Sekarang, aku sadar bukan itu alasannya. Aku memang sudah menindasmu."Mataku tiba
Alvaro tidak langsung meninggalkan Kota Narken. Dia menetap di dekat kantorku.Pada hari pertama, dia mengirimkan susu kedelai tanpa gula untukku. Aku meminta resepsionis untuk mengembalikannya. Pada hari kedua, dia mengirim obat maag yang biasa aku minum. Aku tidak menerimanya.Pada hari ketiga, dia mengirim sekotak kue mille-crepe rasa mangga. Saat melihatnya, aku tertegun beberapa detik. Kemudian, aku mengirim pesan pertama kepadanya sejak kami putus.[ Aku alergi mangga. ]Tidak sampai semenit, Alvaro menelepon. Aku tidak mengangkatnya. Jadi, dia mengirim pesan.[ Bukannya dulu kamu sering makan? ]Aku membaca pesan itu cukup lama tanpa membalasnya.Dulu, Anita sangat menyukai kue mille-crepe rasa mangga. Setiap kali, Alvaro selalu membeli dua porsi. Satu untuk Anita dan satu lagi sekalian untukku.Aku tidak ingin merusak suasana hatinya. Jadi, aku selalu memakannya sedikit. Setelah lambungku mulai terasa tidak nyaman, aku baru diam-diam membuangnya.Ternyata, Alvaro ingat aku per
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.