Kalimatnya belum selesai, Raka sudah membantingkan ponselnya keras-keras ke wajah Meisya."Masih berani nanya kenapa?"Begitu melihat layar ponsel yang terlempar itu, Meisya langsung paham semuanya. Tatapannya bergetar, buru-buru hendak meraih tangan Raka."Raka, ini salah paham. Percaya sama aku. Aku bisa jelasin semuanya.""Cukup!" Raka menepisnya dengan tidak sabar. "Kamu pikir mempermainkanku itu seru, ya?""Kamu bener-bener bikin aku muak."Setelah itu, Raka berbalik dengan jengkel, lalu melambaikan tangan, memberi isyarat kepada para pengawal untuk bertindak. Segala siksaan dan penderitaan yang dulu dialami Tiwi, kini ditimpakan seluruhnya pada Meisya.Jeritan pilu menggema di depan pintu bar."Aku salah, Raka. Aku benar-benar salah." Meisya merangkak mendekat, berusaha meraih kaki Raka sambil memohon ampun, suaranya serak. "Aku mohon, jangan pukul aku lagi ...."Namun, permohonan itu tak ada gunanya sama sekali. Yang menyambutnya justru hantaman tongkat besi yang lebih keras da
Read more