Short
Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati

Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati

Von:  OktaAbgeschlossen
Sprache: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
14Kapitel
4Aufrufe
Lesen
Zur Bibliothek hinzufügen

Teilen:  

Melden
Übersicht
Katalog
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN

Zusammenfassung

Cinta Toxic

Plot Twist

Kejam

Mandiri

Girl Glow Up

Nikah Kontrak

Pernikahan

Tiwi Baskara dan Raka Surendra telah menikah selama lima tahun, tetapi Raka sudah berselingkuh selama empat setengah tahun. Daftar selingkuhannya bisa berbaris dari dalam negeri hingga luar negeri, dan kondom yang dia habiskan hampir cukup untuk mengelilingi bumi. Namun, Tiwi tak pernah membuat keributan. Dia hanya akan menyiapkan secangkir air hangat dan sebungkus kondom rasa lemon kesukaan Raka saat pria itu akan bercinta. Setelah selesai, dengan sigap dia akan menyuruh asisten rumah tangganya untuk merapikan kamar. Semua itu karena aturan pertama bagi para wanita Keluarga Baskara. Jika suami berselingkuh, dilarang marah, dilarang membuat keributan, dilarang memprotes dengan keras. Selalu utamakan kenyamanan suami. Siapa yang melanggar, harus menanggung akibatnya. Dan akibat itu, telah ditanggung Tiwi selama setengah tahun. Setengah tahun yang cukup lama hingga terukir mendalam di ingatannya. Maka, saat Raka memeluk Meisya Kaelan dan menciumnya mesra di depan semua orang, sambil berteriak ingin menikahi gadis itu. Tiwi hanya mengeluarkan permen karet rasa stroberi dari tasnya. Dia menyodorkannya dengan kedua tangan dan berkata, "Ngomong-ngomong, ciuman sambil ngunyah permen rasanya bakal lebih nikmat, lho." Semua orang bersorak riuh, mengira dia akhirnya sudah belajar menurut. Namun, mereka salah. Karena dia akan pergi ....

Mehr anzeigen

Kapitel 1

Bab 1

Semua orang langsung bersiul dan bersorak riuh.

"Keren banget kamu, Raka. Si Tiwi benar-benar udah kamu didik sampai nurut, ya. Sifatnya sekarang benar-benar kayak orang lain."

Tatapan Raka beralih ke arah Tiwi. Beberapa detik kemudian, dia mengambil permen itu, meliriknya sekilas, lalu membuangnya sembarangan.

"Aktingmu bagus banget. Mana mungkin kamu sepenurut ini?"

"Udah, ngaku aja. Kali ini kamu mau ngapain lagi?"

Tiwi menunduk, menatap permen yang tergeletak di lantai, lalu berkata pelan.

"Aku mau pulang ke kediaman lama sebentar."

Raka tidak bertanya apa tujuan Tiwi pulang ke kediaman lama, juga tidak bertanya kenapa Tiwi yang paling membenci tempat itu kali ini malah berinisiatif untuk pulang. Dia bahkan tidak bertanya bagaimana kondisi luka di wajah Tiwi. Raka hanya melambaikan tangan sembarangan dan menyetujui permintaannya begitu saja. Bahkan untuk melirik Tiwi sekali lagi pun dia malas.

Lima tahun berumah tangga, nyatanya cuma begini.

Sesampainya di kediaman lama, Tiwi langsung berlutut dan bersujud di lantai, lalu membenturkan dahinya ke lantai sambil memohon.

"Nenek, aku nggak mau menandatangani perjanjian pernikahan untuk tahun keenam. Tinggal tiga hari lagi, masa pernikahanku dengan Raka akan berakhir. Tiga hari lagi, aku akan pergi dan nggak akan pernah kembali. Aku mohon Nenek mengabulkan permintaanku."

Dulu, karena Keluarga Surendra tidak puas dengan Tiwi sebagai menantu, mereka diam-diam membuat perjanjian pernikahan dengan Tiwi tanpa sepengetahuan Raka. Perjanjian itu harus ditandatangani ulang setiap tahun saat masa berlakunya habis.

Pasal pertama perjanjian pernikahan.

Jika Raka berselingkuh di luar, itu dianggap sebagai kegagalan Tiwi dalam menjaga suaminya. Tiwi tidak hanya akan dihukum cambuk oleh Keluarga Surendra, tetapi juga kehilangan hak untuk meminta cerai. Segala keputusan dan penafsiran atas perjanjian ini sepenuhnya berada di tangan Keluarga Surendra.

Waktu pertama kali membaca pasal ini, Tiwi memang merasa sedikit tidak nyaman, tetapi rasa itu jauh kalah oleh kegembiraannya. Karena tanpa pasal ini, dia tidak akan pernah bisa menikahi Raka. Dia yakin Raka akan selalu baik padanya dan tidak akan pernah berselingkuh.

Namun sekarang, mimpi indahnya telah dihancurkan tanpa ampun oleh kenyataan. Barulah Tiwi sadar betapa naif dan bodohnya dirinya dulu.

"Pernikahan ini pada dasarnya keluargamu yang sok naik kelas, 'kan? Lagian, Raka nggak ada niatan buat cerai, kok kamu berani-beraninya ngajuin perceraian padaku?"

Tatapan Tiwi bergetar. Dia kembali membenturkan dahinya ke lantai.

"Aku mohon Nenek mengabulkannya."

Nyonya Besar Keluarga Surendra, Siti Surendra, terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang.

"Sudahlah. Kalian memang nggak cocok. Lima tahun menikah, kamu bahkan nggak memberiku satu cucu pun. Lagi pula, keluarga kami baru saja menemukan calon yang lebih cocok untuk Raka. Kalau begitu, cerai saja."

Tiwi menahan getir yang terasa di bibirnya.

Pernikahannya dengan Raka masih berjalan, tetapi Keluarga Surendra sudah sejak lama mencarikan wanita baru untuknya.

"Tiga hari lagi kamu pergi, perlu Raka antar kamu?" Siti mengalihkan pembicaraan dengan halus.

Tiwi tersenyum getir.

"Nggak usah dan nggak perlu kasih tahu Raka juga. Di hari aku pergi, dia berencana mengadakan pesta pernikahan buat Meisya. Jangan sampai aku malah ngerusak kesenangannya."

Tatapan Siti tampak rumit.

"Dulu kamu paling tergila-gila sama Raka. Kok sekarang ...."

Mata Tiwi bergetar, wajahnya memucat. Dia memaksakan diri untuk tersenyum.

"Aku udah nggak berani lagi suka sama dia."

Lima tahun lalu, saat Tiwi dan Raka baru menikah, mereka begitu mesra hingga membuat orang lain iri.

Raka rela antre berjam-jam demi membelikan kue kesukaan Tiwi saat dia tengah ngidam. Saat Tiwi kram perut sampai menggigil karena datang bulan, Raka akan menggosok-gosokkan telapak tangannya berulang kali sampai hangat, lalu menempelkannya di perut Tiwi untuk meredakan sakitnya. Begitu tahu Tiwi suka hal-hal romantis, Raka tidak pernah absen memberikan kejutan setiap hari.

Semua orang bilang, Tiwi sudah menikah dengan pria yang tepat. Raka benar-benar mencintainya setengah mati.

Namun keindahan itu selalu singkat, seperti kembang api yang meledak lalu padam dalam sekejap. Baru setengah tahun berlalu, Raka sudah tidak tahan dengan godaan di luar dan mulai berselingkuh.

Hukuman cambuk dari perjanjian pernikahan datang seperti yang telah ditetapkan, tetapi Tiwi tidak peduli.

Dia tidak percaya, hancur, menampar selingkuhan Raka, menjambak rambutnya, membuat keributan yang menggemparkan seluruh kota hingga semua orang tahu.

Keluarga Baskara murka dan mengirim orang untuk menghukumnya. Namun sebelum batang besi itu sempat menghantam tubuhnya, suara dingin Raka lebih dulu terdengar.

"Kalian berani-beraninya nindas istriku kayak gini, apa kalian mengira aku udah mati?"

Sejak saat itu, sekeras apa pun dia membuat keributan, sekejam apa pun cara dia menghajar pelakor, Keluarga Baskara yang terkenal ketat dengan aturan keluarga tak pernah ikut campur.

Selama dia membuat onar, Raka selalu melindunginya.

Sampai akhirnya Meisya muncul dan membuat segalanya jadi tak terkendali.

Seperti biasa, Tiwi kembali menggerebek pelakor, dan kali ini orangnya adalah Meisya. Detik sebelumnya, dia memperingatkan gadis itu untuk menjauh dari Raka. Detik berikutnya, tongkat besi Keluarga Baskara sudah mendarat di punggungnya.

Rasa sakit yang luar biasa membuatnya menjerit. Sebanyak 38 pukulan, seolah-olah sengaja menyindir bahwa dia hanyalah perempuan yang cuma tahu berebut cinta dan membuat keributan.

Lukanya bahkan belum sembuh, Meisya sudah datang dengan wajah penuh kebencian dan mengutuknya agar mati mengenaskan. Tiwi yang tak tahan akhirnya mendorongnya, dan malam itu juga, Keluarga Baskara melempar Tiwi dari lantai tiga.

Satu kali, dua kali, tiga kali. Makin sering hal itu terjadi, makin dalam keputusasaan merasuki hati Tiwi.

Sampai pada ke-99 kalinya, Meisya kembali datang memprovokasi dan mencekik anjing pemberian Raka sampai mati di depan matanya. Tiwi, dengan tubuh penuh luka, menyeret dirinya ke bar tempat Raka minum, lalu menangis memohon agar Raka membantunya.

Tubuh Raka dipenuhi bau alkohol. Dengan rokok terselip di bibir, dia menyeringai seenaknya. Dia bilang akan membantu Tiwi memberi pelajaran pada Meisya.

Namun dalam sekejap, Raka malah melempar Tiwi ke ruang leluhur Keluarga Baskara.

"Kalau kamu sudah mau nurut, baru kamu boleh keluar."

Kepala Tiwi langsung berdengung dan terasa berputar.

Baru saat itu dia sadar. Kenapa Keluarga Baskara yang selama bertahun-tahun tak pernah ikut campur tiba-tiba muncul saat dia memperingatkan Meisya. Kenapa saat dia menerima hukuman keluarga, menyebut nama Raka sama sekali tidak membuat Keluarga Baskara gentar.

Ternyata, semua ini ulah Raka.

Raka ingin melindungi Meisya, tetapi tak mau turun tangan sendiri. Jadi, dia menyuruh Keluarga Baskara yang menghukumnya.

Setelah enam bulan disiksa, Tiwi benar-benar sudah belajar untuk menurut. Dia tak pernah lagi mempertanyakan Raka, juga tak pernah lagi membuat keributan dengannya.

...

Setelah keluar dari kediaman lama, Tiwi naik taksi pulang.

Saat membuka pintu, pemandangan kacau dan berantakan langsung menyambutnya.

Tiwi menoleh, telapak tangannya mengepal.

"Kenapa? Cemburu lagi?"

Nada Raka terdengar ambigu, tetapi Tiwi bisa merasakan jelas sinisme di baliknya.

Raka mendengus dingin. Dia menunggu mata Tiwi memerah dan memohon agar dia berhenti, atau menampar Meisya lalu mulai berteriak dan membuat keributan.

'Persis kayak orang gila,' batin Raka menilai.

Namun kali ini, Tiwi tidak melakukannya. Dia hanya menundukkan kepala, suaranya pelan.

"Nggak kok. Aku cuma khawatir kalian kedinginan."

Luka di sekujur tubuh dan siksaan selama setengah tahun tanpa melihat cahaya matahari terus mengingatkan Tiwi pada harga yang harus dibayarnya setiap kali dia cemburu. Mana mungkin dia berani cemburu?

Dia sudah tidak berani lagi.

Raka terkekeh sinis.

"Syukurlah kalau nggak cemburu. Soalnya kalau kamu ngambek, aku harus repot-repot pergi ke Keluarga Baskara lagi."

"Sana pergi. Lihat mukamu bikin suasana jadi nggak enak."

Tiwi bangkit dengan terhuyung-huyung, berjalan pincang menaiki tangga.

Raka tidak tahu, tiga hari lagi, dia tak perlu merasa terganggu lagi.

Karena Tiwi akan benar-benar pergi.

Erweitern
Nächstes Kapitel
Herunterladen

Aktuellstes Kapitel

Weitere Kapitel

An die Leser

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Keine Kommentare
14 Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status