Setelah ‘pemeriksaan’ hari itu, aku sengaja menghindari ayah tiri selama beberapa hari berturut-turut.Setiap kali melihatnya, ingatan tentang apa yang terjadi di ruang kerja hari itu mendadak berputar kembali dan pippiku pun terasa panas membara tanpa bisa dikendalikan.Namun, hal yang ditakutkan pun terjadi juga.Rabu malam, tepat setelah mandi dan keluar dengan gaun tidur katun yang agak longgar, aku melihat Johan sudah berdiri di depan pintu kamarku.“Angel,” panggilnya. Raut wajahnya masih sama seperti biasa, ramah dan tenang.“Sudah waktunya terapimu dimulai.”Jantungku rasanya seperti terbanting. Jariku reflek mencengkeram kusen pintu dengan erat.“Ayah… aku, aku merasa kondisiku sudah membaik, nggak perlu terapi lagi,” tolakku terbata-bata.“Jangan sembarangan.” Keningnya berkerut, dengan nada tegas yang tak menerima bantahan, dia berkata, “Hal seperti ini nggak bisa hanya pakai perasaan. Tubuhmu butuh perawatan medis yang terukur. Ayo, ke ruang kerja.”Aku tak berani melawan,
閱讀更多