分享

Bab 3

作者: Liam
Aku mulai menantikan malam senin, rabu dan jumat.

Kesadaran ini membuatku sangat panik dan membenci diri sendiri.

Di kelas saat siang hari, ketika dosen menjelaskan teori-teori yang rumit di depan, pikiranku malah melayang tanpa kendali menuju ruang kerja ayah tiri.

Aku akan teringat berulang kali pada kehangatan telapak tangannya, sentuhan ujung jarinya, serta sensasi keras dan panas saat tubuhnya menempel rapat padaku.

Setiap kali mengingat itu, gelombang panas yang familiar kembali membakar tubuhku dan area di antara kedua pahaku menjadi basah.

Aku hanya bisa merapatkan kedua paha untuk meredakan rasa hampa yang menyiksa itu, sementara pipiku tampak merona, hingga membuat teman di sebelahku heran.

Aku pasti sudah terkena pelet darinya.

Jumat malam, aku menghabiskan makan malam dengan tak fokus. Bagaikan hewan peliharaan yang menantikan panggilan majikannya, telingaku siap siaga mendengarkan pergerakan di ruang kerja.

Namun, hingga pukul sepuluh malam, ayah tiri malah tak memanggilku seperti biasanya.

Aku duduk tidak tenang, hatiku terasa gelisah seperti dicakar kucing.

Dia lupa?

Atau jangan-jangan, dia sudah bosan dengan terapi ini?

Pikiran itu membuat hatiku menegang, disusul rasa kehilangan yang aneh.

Karena tak sanggup menahannya lagi, kakiku pun tanpa sadar melangkah sendiri menuju depan pintu ruang kerja.

Pintunya agak terbuka, memancarkan cahaya lampu yang remang dari dalam.

Aku mengintip perlahan melalui celah pintu.

Ayah tiri tak sedang membaca buku dan juga tak sedang bekerja.

Dia duduk di sofa sambil menggenggam sebuah bingkai foto, memancarkan tatapan lembut bercampur duka yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Aku tak bisa melihat jelas foto di bingkai itu, hanya tampak jarinya yang terus-menerus mengelus wajah orang di dalam foto sambil bergumam sendiri,

“Erlin… ayah kangen sekali denganmu….”

Erlin?

Siapa itu?

Saat aku dilanda kebingungan, kakiku tak sengaja menyenggol pintu hingga menimbulkan suara pelan.

“Siapa?”

Johan langsung mendongak dan segera menyembunyikan bingkai foto itu ke belakang tubuhnya.

Begitu melihat diriku, raut duka di wajahnya langsung sirna, digantikan dengan kepanikan dan… kejengkelan?

“Angel? Untuk apa kamu ke sini?” tanyanya dengan nada yang agak canggung.

“Aku… aku hanya kebetulan lewat,” ujarku berbohong dengan jantung yang berdebar kencang.

Dia menatapku dengan tatapan penuh penilaian selama beberapa detik. Setelah yakin aku tak melihat apa-apa, raut wajahnya baru melunak.

“Sudah malam, cepat tidur,” katanya, sambil mengibaskan tangan seperti sedang mengusir lalat.

“Tapi… ayah.” Aku memberanikan diri, suaraku sangat pelan, terdengar seperti dengungan nyamuk, “Bukannya hari ini… jadwalnya terapi?”

Saat kalimat itu terucap, rasanya aku ingin menggigit lidahku sendiri sampai putus.

Bagaimana bisa aku setidak tahu malu ini?! Malah berinisiatif memintanya!

Raut terkejut terlintas di wajah Johan, setelah itu senyuman puas pun terukir di sudut bibirnya.

“Oh? Sepertinya Angel sudah mulai membutuhkan terapi dari ayah, ya.”

Ucapannya terasa seperti tamparan keras yang membakar pipiku.

Aku menunduk sangking malunya, rasanya ingin menghilang saat itu juga.

Dia berdiri dan melangkah mendekatiku perlahan.

Aku mundur dengan tegang hingga punggungku menempel di dinding yang dingin, tak bisa mundur lagi.

Dia mengurungku di antara tubuhnya dan dinding, kedua tangannya bertumpu di samping telingaku.

Aroma maskulinnya yang pekat langsung mengepungku dari segala arah.

“Sudah nggak sabar, ya?” Dia menundukkan kepala, bibirnya hampir menempel di telingaku, suaranya terdengar sangat serak, “Dasar rakus.”

Tubuhku gemetar hebat, kedua kakiku terasa lemas.

“Aku… nggak….” Aku mencoba membela diri.

“Nggak?” Dia terkekeh pelan, tangannya mencengkeram daguku dan memaksaku mendongak menatap matanya. Lalu dia melanjutkan, “Kalau nggak, kok tubuhmu gemetar hebat begini? Hm?”

Tangannya yang lain menyusuri lekuk pinggangku, merayap naik perlahan.

Melalui baju tidur yang tipis, telapak tangannya bagaikan kobaran api yang membakar setiap bagian kulit yang dilewatinya.

Akhirnya, tangannya berhenti di sepasang buah dadaku yang montok, meremasnya dengan tekanan yang pas.

“Ah….”

Aku tak sanggup menahannya lagi dan menjerit pelan.

Ukurannya yang pas kini berada penuh dalam genggaman tangannya.

Melalui kain baju, ujung jarinya mengelus dan memijat lembut titik sensitif di puncaknya.

“Bagian sini… juga kangen dengan ayah, ‘kan?”

Suaranya benar-benar memabukkan.

Pikiranku mendadak kosong, akal sehatku putus total.

Naluri tubuh mengalahkan rasa malu. Tanpa sadar, aku membusungkan dada, menyambut dan membalas pergerakan tangannya.

“Hm….”

Desahan tertahan yang menyiratkan nada manja bercampur tangisan keluar dari kedalaman tenggorokanku.

Mendapat balasan tanpa suara dariku, dia tampak semakin bersemangat.

Cengkeraman tangannya semakin bertenaga, meremas dan memainkannya sesuka hati.

Sensasi aneh yang ngilu, geli dan penuh gejolak meluap bagaikan gelombang pasang yang menenggelamkanku.

Aku merasa hampir tak sanggup berdiri lagi, hanya bisa menumpukan seluruh berat tubuhku padanya.

“Angel, kamu benar-benar wanita pemikat alami,” ucapnya terengah-engah sambil memuji di telingaku.

“Tubuhmu jauh lebih jujur dari yang kubayangkan dan jauh lebih… nikmat.”

Tiba-tiba, dia membuka mulut dan mengulum cuping telingaku dengan lembut.

Sentuhan basah dan hangat itu membuat seluruh tubuhku tersentak, mengalirkan sengatan listrik kuat dari ujung kepala hingga ke telapak kaki.

Aku merasakan hawa panas di antara kedua pahaku, cairan hangat menyembur keluar tanpa bisa ditahan.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya   Bab 9

    Aku tak tahu berapa lama diriku menangis, hingga tenggorokanku serak, barulah tangisanku perlahan mereda.Polisi menanyakan beberapa hal padaku secara singkat dan membuat laporan.Saat aku menceritakan kembali pengalamanku dengan terbata-bata, semua orang yang ada di lokasi langsung terdiam.Polisi wanita yang sudah agak senior melangkah mendekat, lalu mengelus kepalaku dengan iba, dia berkata, “Nak, kamu sudah menderita. Tenang saja, bajingan seperti ini nggak akan kami lepakan begitu saja.”Johan pun dibawa pergi oleh polisi.Saat dibawa pergi, dia tak lagi menatapku. Mulutnya masih terus bergumam menyebut nama ‘Erlin’.Aku tahu, dia sudah benar-benar hidup sepenuhnya di dunianya sendiri.Susan terus mendampingiku sampai fajar menyingsing.Dia membawaku pulang ke apartemennya.Itu adalah sebuah apartemen studio yang sangat bersih dan minimalis. Udara di dalam ruangan dipenuhi aroma halus yang persis seperti aroma tubuhnya.Dia mencarikan baju ganti yang bersih untukku, memasakkan bub

  • Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya   Bab 8

    Seketika, darahku seolah membeku.Senyuman ramah di wajahnya saat ini tampak jauh lebih mengerikan dari ekspresi menyeramkan mana pun.“Aku… aku haus, mau turun ke bawah untuk beli air minum,” ujarku mengarang alasan yang asal-asalan, tak berani menatap matanya karena merasa bersalah.“Benarkah?” Dia melangkah mendekatiku perlahan, pandangannya tertuju pada ransel di punggungku.“Beli air minum perlu bawa tas sebesar ini?”Seketika, hatiku seolah terjatuh ke dasar jurang.Aku ketahuan.“Kamu mau kabur dariku, ‘kan?” Suaranya masih terdengar lembut, tapi tatapan matanya sangat dingin.“Sama seperti Erlin, kalian berdua sama-sama mau meninggalkanku.”“Aku bukan dia!” ujarku membalas, mengerahkan sisa keberanian terakhirku.“Nggak apa-apa.” Dia berdiri di depanku, mengulurkan tangan dan mengelus pipiku pelan, seperti sedang mengelus guci yang berharga.“Sebentar lagi, kamu akan menjadi milikku.”Ujung jariku terasa sangat dingin, membuatku merinding ketakutan.“Profesor Peter punya cara u

  • Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya   Bab 7

    “Siapa dia?” tanyaku sambil mengangkat bingkai foto, suaraku gemetar hebat karena amarah dan rasa takut.“Dia Erlin, putriku.” Johan melangkah perlahan masuk ke ruang kerja, lalu duduk di sofa tepat di hadapanku.Dia tak menyalakan lampu, membiarkan cahaya bulan yang dingin menyinari di antara kami, bagaikan garis galaksi yang tak mungkin terseberangi.“Dia sudah meninggal lima tahun yang lalu.”“Karena apa?” desakku.“Penyakit bawaan lahir yang langka.” Suaranya menyimpan duka yang hampa, “Tubuhnya sangat lemah, selalu sakit-sakitan sejak lahir. Aku sudah coba segala cara, tapi tetap nggak bisa menyelamatkannya.”“Jadi kamu menjadikan aku sebagai penggantinya?” Aku menjerit histeris, “Semua hal yang kamu lakukan padaku, juga pernah dilakukan padanya, ‘kan?!”Johan terdiam.Diamnya adalah jawaban yang paling jelas.Tubuhku gemetar hebat menahan amarah, air mata pun menetes tanpa bisa ditahan.“Kamu benar-benar mesum! Kamu gila!” teriakku sambil menghempaskan bingkai foto itu ke lantai

  • Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya   Bab 6

    Keesokan harinya, aku pergi ke kampus dengan kantung mata yang hitam.Semua hal yang terjadi tadi malam terasa seperti mimpi buruk yang tak masuk akal.Asal memejamkan mata, aku bisa melihat wajah Johan yang menegang antara bergairah dan tersiksa, serta mulutnya yang terus memanggil nama ‘Erlin’.Setelah amarah dan rasa terhina itu mereda, yang tersisa hanyalah rasa takut dan kebingungan yang sangat dalam.Pria yang kupanggil ‘ayah’ selama belasan tahun ini sebenarnya orang seperti apa?Dan baginya, sebenarnya diriku ini dianggap apa?Aku benar-benar ingin segera tahu kebenarannya.Aku mencoba mencari ‘Johan’ dan ‘Erlin’ di internet, tapi hasilnya nihil.Sebagai dokter terkenal, berita positif dan jurnal akademis tentang Johan memang bertebaran, tapi tak ada satu pun yang menyinggung kehidupan pribadinya.Nama ‘Erlin’ juga terlalu pasaran. Ada puluhan ribu hasil pencarian dan tak ada satu pun yang tampak berhubungan dengannya.Petunjuknya seolah terputus.Dengan pikiran kacau balau, ak

  • Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya   Bab 5

    Aku mendambakan hujan lebat untuk memadamkan kobaran api di tubuhku.Dan dia adalah satu-satunya orang yang bisa memadamkanku.Napas Johan terdengar memburu dan berat, hembusannya yang panas menyapu puncak kepalaku.Kedua tangannya di samping tubuh terkepal, lalu mengendur dan terkepal lagi, seolah sedang bertarung sengit dengan pikirannya sendiri.Pada akhirnya, gairah menang melawan akal sehat.Dia menggeram rendah bagaikan seekor binatang buas. Dia tiba-tiba menopang bokongku dan menggendongku, lalu melangkah lebar menuju sofa kulit yang luas itu.Dia melemparkanku ke sofa dengan kasar, lalu menekan seluruh tubuhnya di atasku.“Angel… kamu sendiri yang memancingnya!”Suaranya terdengar penuh gairah yang terpendam lama, bercampur sedikit kegilaan.Detik berikutnya, dia mendaratkan ciumannya tanpa henti.Ciumannya tidak lagi selembut biasanya, melainkan dipenuhi sikap agresif dan dominasi.Dia melumat bibirku, lalu lidahnya menerobos masuk melalui celah gigiku, bergerak liar dan terus

  • Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya   Bab 4

    “Ayah… ayah….” Aku bergumam tanpa sadar, suaraku terdengar sangat manja dan lembut.Tepat saat kusangka dia bakal melangkah ke tahap berikutnya, dirinya malah tiba-tiba melepaskan cengkeraman dan mundur selangkah.Karena kehilangan tempat bersandar, tubuhku langsung lemas dan hampir saja merosot ke lantai.Aku membuka mata dan menatapnya dengan bingung.Terlihat dia bersandar di tepi meja kerja, dadaku bergerak naik turun terengah-engah dengan keringat yang membasahi kening.Dia menatapku, tapi kali ini sorot matanya memperlihatkan gairah yang ditahan paksa dan ada sedikit… pergolakan batin?“Sudah malam, cepat balik dan tidur,” ujarnya sambil memalingkan wajah, suaranya terdengar agak serak.“Ingat, jangan sembarangan masuk ke ruang kerjaku lagi.”Usai bicara, dia tak lagi menatapku. Dia langsung berjalan ke balik meja kerja dan duduk. Lalu mengambil sebuah buku dan berpura-pura membacanya dengan serius.Aku membeku di tempat. Gejolak panas di dalam tubuhku masih membara, tapi tiba-ti

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status