分享

Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya
Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya
作者: Liam

Bab 1

作者: Liam
Namaku Angel dan hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-18.

Ayah tiriku, Johan sudah menyiapkan sarapan mewah dan kue sejak pagi-pagi sekali. Senyumannya tampak jauh lebih lembut dari biasanya.

“Angel, selamat ulang tahun yang ke-18,” katanya sambil menggeser sebuah kotak cantik ke hadapanku.

“Coba dibuka, ini hadiah dari ayah.”

Dengan hati gembira, aku membukanya. Di dalamnya ada gaun putih yang cantik dengan renda di bagian kerahnya.

“Terima kasih, ayah!” Aku langsung berlari ke kamar untuk mencobanya.

Gaunnya sangat pas di badan, membuat kulitku semakin terlihat putih bersih. Potongan di bagian dada juga dengan pas membingkai lekuk tubuhku yang mulai membesar.

Sejak masuk kuliah, tubuhku tumbuh pesat seperti tunas bambu setelah hujan. Terkadang diriku sendiri sampai merasa asing dengan perubahan ini.

Terutama dua buah dada ini, yang kini menjadi beban yang manis untukku. Saat berjalan di kampus, penampilan ini selalu berhasil menarik perhatian orang-orang.

Aku berputar di depan cermin sambil tersenyum puas.

Namun, begitu keluar kamar, tiba-tiba tatapan ayah tiri malah membuatku merasa tak nyaman.

Sorot matanya seperti pemindai hangat yang merayap dari pipi, menyusuri tulang selangka dan akhirnya tertahan di dadaku yang membusung.

Tak ada kasih sayang ayah seperti biasanya di tatapannya. Yang ada malah tatapan penuh pengamatan yang sulit ditebak maksudnya.

“Angel, akhir-akhir ini kamu sering merasa capek dan wajahmu mudah memerah?” tanyanya tiba-tiba. Nada bicaranya kembali profesional dan penuh perhatian, layaknya seorang dokter.

Aku agak terkejut, lalu mengangguk tanpa sadar dan menjawab, “Iya, terkadang saat kampus suka hilang fokus, terus kalau bergerak sedikit langsung terasa gerah.”

“Hm.” Dia mengangguk dengan raut wajah yang berubah serius, lalu melanjutkan, “Kamu lagi di masa penting pertumbuhan fisik, gejala seperti ini nggak boleh diabaikan. Begini saja, biar ayah bantu memeriksamu secara menyeluruh selesai makan nanti.”

“Ke rumah sakit?” tanyaku.

“Nggak perlu, peralatan di rumah juga sudah cukup.” Dia merapikan posisi kacamata bingkai emasnya. Di balik lensa itu, matanya berkilat sekilas dan melanjutkan, “Tunggu di ruang kerja, aku ganti baju sebentar.”

Jantungku berdegup kencang, merasa ada yang aneh.

Namun, dia itu ayah tiriku. Dia seorang dokter terkenal yang membesarkanku sejak kecil. Atas dasar apa aku mencurigainya?

Sambil menahan rasa cemas, aku pun patuh dan berjalan masuk ke ruang kerja.

Aroma cairan disinfektan yang tipis bercampur bau kertas buku memenuhi ruangan, aroma familiar yang kukenal sejak kecil.

Aku duduk di kursi depan meja kerja, meremas kedua tanganku dengan gugup sampai ujung gaun putihku kusut.

Tak lama kemudian, Johan pun masuk.

Dia sudah memakai jas putih yang sangat bersih, rambutnya tertata rapi dan wajahnya dihiasi senyuman yang ramah dan profesional.

Dalam sekejap, semua kecemasanku sirna.

Dia bukan ayah tiriku, tapi Dokter Johan.

“Baiklah Angel, kita mulai,” ucapnya dengan tenang sambil berjalan mendekat.

“Kamu balik badan, membelakangiku.”

Aku patuh dan membalikkan badan menghadap rak buku yang dingin.

“Tegakkan badanmu, rileks.”

Suaranya seolah punya sihir, membuat tubuhku yang tadinya tegang perlahan menjadi rileks.

Sepasang tangan besar yang hangat dan kering menempel di punggungku. Melalui kain gaun yang tipis, aku bisa merasakan dengan jelas tekstur telapak tangan dan kehangatannya.

“Hm, tulang belakangmu agak miring sedikit, ini gara-gara posisi duduk yang salah biasanya.” Jarinya menekan ruas demi ruas tulang belakangku ke arah bawah.

Setiap kali dia menekan satu titik, tubuhku gemetar pelan.

Rasanya aneh sekali, pegal dan geli, seperti ada aliran listrik halus yang melintas.

“Tarik napas dalam-dalam,” perintahnya.

Aku menarik napas, membuat dadaku bergerak naik turun.

Tangannya bergerak menyusuri tulang rusukku, lalu tanpa sengaja ujung jarinya menyentuh tepi dadaku.

“Ah….” Suara teriakan kecil terlepas dari tenggorokanku dan tubuhku langsung menjadi kaku.

“Jangan tegang, aku hanya periksa pernapasan dan perkembangan tulang rusukmu.” Suaranya tetap tenang tanpa emosi sedikit pun.

“Lingkar dadamu berkembang sangat baik, bahkan… di atas rata-rata seusiamu.”

Pipiku rasanya langsung membara panas.

Maksudnya dadaku besar?

Pemeriksaan apa-apaan ini?

Rasa malu yang luar biasa bergejolak di dalam hati. Aku ingin kabur, tapi kedua kakiku terasa berat seperti ditimbun timah.

“Sudah, sekarang baringlah di sofa sana,” katanya sambil menarik tangan kembali.

Sofa kulit yang lebar itu terasa dingin saat bersentuhan dengan kulitku melalui gaun, membuat bulu kudukku merinding.

Aku berbaring di sana, pasrah seperti ikan di atas talenan.

Johan berdiri di samping sofa, menatapku dari atas.

Tatapannya kembali tertuju pada dadaku yang montok dan kali ini, tak disembunyikan sedikit pun.

“Angel, angkat gaunmu sedikit ke atas. Aku mau periksa bagian perutmu.”

Pikiranku menjadi kosong. Aku pun reflek menuruti perintahnya.

Aku memejamkan mata, tak berani menatapnya. Bulu mataku yang panjang gemetar sangking tegangnya.

Tangannya memegang perutku yang rata, sementara kehangatan telapak tangannya seolah mampu membakar tubuhku.

Berpusat di pusar, jarinya membuat gerakan memutar pelan dengan tekanan yang pas, semakin lama semakin melebar keluar.

“Gerakan ususmu agak lambat, belakangan ini pencernaanmu kurang lancar, ya?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk asal-asalan. Seluruh indraku kini terfokus pada tangannya yang sedang memegangku.

Terasa kapalan kasar di jarinya. Setiap kali menyapu kulitku, selalu menimbulkan getaran di sekujur tubuhku.

Rasa geli dan aneh itu semakin menjadi-jadi, menyebar dari perut ke seluruh tubuh.

Napasku mulai memburu dan bagian dalam tubuhku rasanya seperti terbakar.

Tangannya perlahan bergeser semakin ke bawah, menyentuh area perut bagian bawah.

Itu adalah ujung dari gaunku, sekaligus area paling sensitif di tubuhku.

Ujung jarinya berhenti hanya beberapa sentimeter dari area terlarang itu, lalu menekan pelan.

“Di sini sakit, nggak?” tanyanya.

Seluruh tubuhku tersentak. Sensasi lemas yang tak terlukiskan menjalar dari tulang ekor langsung menuju kepala.

Aku merasa ada sesuatu yang mulai keluar tanpa kendali di antara kedua pahaku.

“Nggak… nggak sakit…” jawabku dengan suara pelan seperti dengungan nyamuk, menyiratkan nada manja bercampur tangis yang bahkan tak kusadari.

“Hm, sepertinya bukan masalah organ.” Dia tampak puas melihat reaksiku, lalu menambah sedikit tekanan pada jarinya.

Aku menggigit bibir bawah erat-erat, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun.

Aliran hangat di dalam tubuhku semakin bergejolak, seolah hendak menjebol bendungan.

Aku merasa hampir tenggelam oleh sensasi asing ini.

“Angel, detak jantungmu cepat sekali, wajahmu juga sangat merah.” Dia akhirnya menarik tangannya dan berdiri tegap, lalu menyimpulkan dengan gaya yang ‘profesional’, “Suhu tubuhmu juga agak tinggi. Diagnosis awal, ini adalah gangguan saraf otonom akibat ketidakseimbangan hormon di masa pubertas.”

Aku terengah-engah, pikiranku kacau balau.

Saraf otonom? Ketidakseimbangan hormon?

Yang kutahu, rasa yang kualami barusan… sangat aneh, memalukan, tapi juga….

Sepertinya agak nikmat.

“Ini fenomena biologis yang wajar, nggak perlu terlalu khawatir.” Suara Johan menarik kembali kesadaranku.

Dia membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke telingaku. Hembusan napas hangatnya mengenai daun telingaku, terasa geli.

“Tapi, tubuhmu memang… sangat sensitif.” Suaranya jadi sangat pelan, terdengar agak serak dan mesra, “Sepertinya kita perlu melakukan terapi lanjutan untuk memulihkan kondisimu.”

Dia menegakkan badan, lalu melemparkan tatapan penuh makna tersirat yang membuat jantungku berdebar kencang.

Dia mengulurkan tangan, menekan pusarku pelan dengan jari telunjuknya.

“Ingat, tubuhmu sangat… aktif. Kita harus memantaunya baik-baik.”

Usai bicara, dia berbalik dan berjalan keluar dari ruang kerja, meninggalkanku terbaring sendirian di sofa dengan tubuh lemas tak berdaya.

Aku menatap langit-langit ruangan. Pikiranku terus memutar ulang kejadian barusan.

Tangannya, suaranya, aroma tubuhnya….

Serta reaksi tubuhku yang begitu memalukan.

Aku membenamkan wajahku ke bantal sofa yang empuk, merasa sangat malu dan ingin menangis.

Hadiah ulang tahun macam apa ini?

Ini jelas-jelas pelecehan yang berkedok ‘pemeriksaan medis’!

Namun, kok di saat aku merasa malu dan marah seperti ini, tubuhku malah seolah… menantikannya?

Menantikan ‘terapi lanjutan’ yang dia sebutkan itu?

Aku pasti sudah gila.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya   Bab 9

    Aku tak tahu berapa lama diriku menangis, hingga tenggorokanku serak, barulah tangisanku perlahan mereda.Polisi menanyakan beberapa hal padaku secara singkat dan membuat laporan.Saat aku menceritakan kembali pengalamanku dengan terbata-bata, semua orang yang ada di lokasi langsung terdiam.Polisi wanita yang sudah agak senior melangkah mendekat, lalu mengelus kepalaku dengan iba, dia berkata, “Nak, kamu sudah menderita. Tenang saja, bajingan seperti ini nggak akan kami lepakan begitu saja.”Johan pun dibawa pergi oleh polisi.Saat dibawa pergi, dia tak lagi menatapku. Mulutnya masih terus bergumam menyebut nama ‘Erlin’.Aku tahu, dia sudah benar-benar hidup sepenuhnya di dunianya sendiri.Susan terus mendampingiku sampai fajar menyingsing.Dia membawaku pulang ke apartemennya.Itu adalah sebuah apartemen studio yang sangat bersih dan minimalis. Udara di dalam ruangan dipenuhi aroma halus yang persis seperti aroma tubuhnya.Dia mencarikan baju ganti yang bersih untukku, memasakkan bub

  • Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya   Bab 8

    Seketika, darahku seolah membeku.Senyuman ramah di wajahnya saat ini tampak jauh lebih mengerikan dari ekspresi menyeramkan mana pun.“Aku… aku haus, mau turun ke bawah untuk beli air minum,” ujarku mengarang alasan yang asal-asalan, tak berani menatap matanya karena merasa bersalah.“Benarkah?” Dia melangkah mendekatiku perlahan, pandangannya tertuju pada ransel di punggungku.“Beli air minum perlu bawa tas sebesar ini?”Seketika, hatiku seolah terjatuh ke dasar jurang.Aku ketahuan.“Kamu mau kabur dariku, ‘kan?” Suaranya masih terdengar lembut, tapi tatapan matanya sangat dingin.“Sama seperti Erlin, kalian berdua sama-sama mau meninggalkanku.”“Aku bukan dia!” ujarku membalas, mengerahkan sisa keberanian terakhirku.“Nggak apa-apa.” Dia berdiri di depanku, mengulurkan tangan dan mengelus pipiku pelan, seperti sedang mengelus guci yang berharga.“Sebentar lagi, kamu akan menjadi milikku.”Ujung jariku terasa sangat dingin, membuatku merinding ketakutan.“Profesor Peter punya cara u

  • Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya   Bab 7

    “Siapa dia?” tanyaku sambil mengangkat bingkai foto, suaraku gemetar hebat karena amarah dan rasa takut.“Dia Erlin, putriku.” Johan melangkah perlahan masuk ke ruang kerja, lalu duduk di sofa tepat di hadapanku.Dia tak menyalakan lampu, membiarkan cahaya bulan yang dingin menyinari di antara kami, bagaikan garis galaksi yang tak mungkin terseberangi.“Dia sudah meninggal lima tahun yang lalu.”“Karena apa?” desakku.“Penyakit bawaan lahir yang langka.” Suaranya menyimpan duka yang hampa, “Tubuhnya sangat lemah, selalu sakit-sakitan sejak lahir. Aku sudah coba segala cara, tapi tetap nggak bisa menyelamatkannya.”“Jadi kamu menjadikan aku sebagai penggantinya?” Aku menjerit histeris, “Semua hal yang kamu lakukan padaku, juga pernah dilakukan padanya, ‘kan?!”Johan terdiam.Diamnya adalah jawaban yang paling jelas.Tubuhku gemetar hebat menahan amarah, air mata pun menetes tanpa bisa ditahan.“Kamu benar-benar mesum! Kamu gila!” teriakku sambil menghempaskan bingkai foto itu ke lantai

  • Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya   Bab 6

    Keesokan harinya, aku pergi ke kampus dengan kantung mata yang hitam.Semua hal yang terjadi tadi malam terasa seperti mimpi buruk yang tak masuk akal.Asal memejamkan mata, aku bisa melihat wajah Johan yang menegang antara bergairah dan tersiksa, serta mulutnya yang terus memanggil nama ‘Erlin’.Setelah amarah dan rasa terhina itu mereda, yang tersisa hanyalah rasa takut dan kebingungan yang sangat dalam.Pria yang kupanggil ‘ayah’ selama belasan tahun ini sebenarnya orang seperti apa?Dan baginya, sebenarnya diriku ini dianggap apa?Aku benar-benar ingin segera tahu kebenarannya.Aku mencoba mencari ‘Johan’ dan ‘Erlin’ di internet, tapi hasilnya nihil.Sebagai dokter terkenal, berita positif dan jurnal akademis tentang Johan memang bertebaran, tapi tak ada satu pun yang menyinggung kehidupan pribadinya.Nama ‘Erlin’ juga terlalu pasaran. Ada puluhan ribu hasil pencarian dan tak ada satu pun yang tampak berhubungan dengannya.Petunjuknya seolah terputus.Dengan pikiran kacau balau, ak

  • Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya   Bab 5

    Aku mendambakan hujan lebat untuk memadamkan kobaran api di tubuhku.Dan dia adalah satu-satunya orang yang bisa memadamkanku.Napas Johan terdengar memburu dan berat, hembusannya yang panas menyapu puncak kepalaku.Kedua tangannya di samping tubuh terkepal, lalu mengendur dan terkepal lagi, seolah sedang bertarung sengit dengan pikirannya sendiri.Pada akhirnya, gairah menang melawan akal sehat.Dia menggeram rendah bagaikan seekor binatang buas. Dia tiba-tiba menopang bokongku dan menggendongku, lalu melangkah lebar menuju sofa kulit yang luas itu.Dia melemparkanku ke sofa dengan kasar, lalu menekan seluruh tubuhnya di atasku.“Angel… kamu sendiri yang memancingnya!”Suaranya terdengar penuh gairah yang terpendam lama, bercampur sedikit kegilaan.Detik berikutnya, dia mendaratkan ciumannya tanpa henti.Ciumannya tidak lagi selembut biasanya, melainkan dipenuhi sikap agresif dan dominasi.Dia melumat bibirku, lalu lidahnya menerobos masuk melalui celah gigiku, bergerak liar dan terus

  • Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya   Bab 4

    “Ayah… ayah….” Aku bergumam tanpa sadar, suaraku terdengar sangat manja dan lembut.Tepat saat kusangka dia bakal melangkah ke tahap berikutnya, dirinya malah tiba-tiba melepaskan cengkeraman dan mundur selangkah.Karena kehilangan tempat bersandar, tubuhku langsung lemas dan hampir saja merosot ke lantai.Aku membuka mata dan menatapnya dengan bingung.Terlihat dia bersandar di tepi meja kerja, dadaku bergerak naik turun terengah-engah dengan keringat yang membasahi kening.Dia menatapku, tapi kali ini sorot matanya memperlihatkan gairah yang ditahan paksa dan ada sedikit… pergolakan batin?“Sudah malam, cepat balik dan tidur,” ujarnya sambil memalingkan wajah, suaranya terdengar agak serak.“Ingat, jangan sembarangan masuk ke ruang kerjaku lagi.”Usai bicara, dia tak lagi menatapku. Dia langsung berjalan ke balik meja kerja dan duduk. Lalu mengambil sebuah buku dan berpura-pura membacanya dengan serius.Aku membeku di tempat. Gejolak panas di dalam tubuhku masih membara, tapi tiba-ti

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status